Marvel menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengirim pesan kepada bodyguardnya untuk membelikan baju kaos panjang lengan dan celana training khusus perempuan dengan tinggi badan 155 cm.
"Tunggulah di sini, saya harus bersiap-siap," ujar Marvel seraya pergi ke kamar mandi. Guna untuk menuntaskan hasratnya di sana. Ia butuh berendam air dingin sekarang.
"Om, pakaian saya ada sama Bu Fanya," kata Grace.
"Saya akan membelikan baju untukmu. Tunggulah, nanti ada orang yang akan memberinya."
Ceklek!
Marvel masuk ke dalam kamar mandi lalu kembali mengirim pesan pada Fanya untuk mengantarkan peralatan milik Grace pada bodyguardnya.
Marvel membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya lalu ia menyalakan kran air dingin di bathup dan merendamkam tubuhnya di sana.
Untuk pertama kalinya Marvel tersiksa oleh seorang gadis. Rasanya ia ingin menuntaskan dengan sabut batang saja. Tapi, tak mungkin. Karena Grace berada di 1 ruangan bersamanya. Jika nanti Grace mendengar desahan, u*****n dan erangannya, bagaimana? Marvel masih punya urat malu di sarafnya.
5 menit berendam, tapi miliknya masih saja menegang. Membuat kepala pria itu pusing tak karuan. Bagaimana ini?! Pikir Marvel menatap ke bawah.
"Ayo, tidurlah. Aku akan mengantar gadis itu pulang ke rumahnya. Jika kau masih on begini, gimana aku akan keluar dari bathup ini?" ujar Marvel seraya memijit pelipisnya. Ia pusing karena miliknya tak kunjung tidur. Padahal nanti ia harus mengantar Grace ke rumahnya. Ia juga penasaran dengan kehidupan gadis yang baru saja ia ambil first kissnya.
***
Grace yang mendapat ketukan pintu saat ia kembali memasang dressnya dengan benar, dia membuka pintu dan terlihat seorang bodyguard Marvel memberikan paperbag padanya.
"Ini pesanan Tuan Muda untuk Anda, Nona."
"Saya Pak Yudi," katanya lagi seraya memperkenalkan diri pada Grace.
Sejenak Grace berpikir bahwa pria bertubuh besar ini tadilah yang menyetir mobil. Grace menganggukkan kepala lalu menerima paperbag itu dan kembali menutup pintu kamar.
Sebelum Marvel keluar dari kamar mandi, Grace dengan tergesa-gesa memakai baju kaos dan celana training yang baru saja dibeli oleh bodyguard Marvel. Tak lupa dia memasukkan dressnya ke paperbag itu dan merapikan rambutnya. Grace mengikat rambut yang panjang dan ia kembali duduk di ranjang.
Hujan belum reda, apakah hujan ini akan reda hingga subuh?
Ting!
1 pesan masuk dari ponsel Grace.
Bunda
[Kamu di mana, Sayang? Jam berapa akan pulang?]
Ibu Grace mengirim pesan pada anak perempuannya karena malam ini sudah menunjukkan pukul 22.12 WIB.
[Sebentar lagi, Bun.]
Send!
Grace membalas pesan ibunya dengan cepat lalu mengangkat kepalanya saat terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Ia berdiri dengan wajah gelisah. Grace harus meminta tolong pada Marvel untuk mengantarnya pulang, karena jika ia mengandalkan angkutan umum mungkin sudah tak ada dan sulit dicari. Jika taksi, itu akan sangat mahal bayarannya. Walaupun Marvel sudah memberinya uang yang sangat banyak tadi.
"Mm, Om. Bisakah kau mengantarkanku pulang?" tanyanya dengan hati-hati. Takut Marvel akan marah padanya dan menolak permintaannya.
Marvel menganggukkan kepalanya dan sejenak ia terdiam. Melihat penampilan Grace yang terlihat seperti anak muda. Pakaian santai yang ia kenakan benar-benar cocok di tubuhnya yang ramping.
"By the way, terimakasih banyak Om atas bajunya ini. Saya merasa nyaman," ujar Grace yang mengetahui Marvel sedari tadi menatap tubuhnya.
"Iya," ujar Marvel singkat. Ia mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada bodyguardnya agar meninggalkan mobil miliknya di parkiran hotel karena ia akan memakai mobil itu sekarang.
Ping!
[Baik, Tuan Muda.]
Setelah mendapat balasan dari mereka. Marvel segera berjalan menuju pintu utama kamar hotel, ia mengeluarkan kunci kamar hotel dari guci kecil lalu memutar kunci tersebut setelah ia memasukkan kuncinya ke dalam engsel pintu.
Grace mengikuti Marvel dari belakang sembari melihat ponselnya yang sudah menujukkan ke menit dua puluh.
Sesampainya di parkiran mobil VVIP, orang suruhannya berjalan ke arah Marvel dan memberikan kunci mobil padanya.
"Ayo," ajak Marvel seraya membuka kunci mobil dengan remote control. Marvel duduk di kursi kemudi sementara Grace memilih duduk di kursi belakang.
"Pindah ke depan, Grace. Saya bukan supir kamu," ucap Marvel.
Grace mendesah pelan seraya meniupkan poninya lalu ia berpindah duduk ke depan dan Marvel menjalankan mobilnya.
***
Diperjalanan, Marvel maupun Grace hanya diam membisu. Marvel yang fokus mengemudikan mobilnya, sementara Grace termenung menatap ke arah jendela mobil.
Marvel sesekali menatap Grace yang berdiam diri dan kembali memfokuskan pikirannya pada jalan raya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Marvel memecahkan keheningan diantara mereka.
"Enggak ada," jawab Grace singkat dan mendapat helaan napas dari Marvel.
Sungguh, gadis ini sangat sulit ditaklukkan. Sangat berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia temui. Karyawan dan wanita malam baginya sama saja. Tetapi, Grace dia sungguh berbeda.
Ada rasa penasaran di lubuk hati Marvel. Ia ingin sekali masuk ke dalam kehidupan Grace. Tetapi, sepertinya gadis itu lebih memilih menutup dirinya dari siapapun.
Rencana awal, Marvel ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu saat berada di bawah kungkungannya. Tapi, malah Marvel yang kena imbasnya.
Dia bernafsu melihat wajah Grace dari dekat. Saat Grace memejamkan matanya di saat dia mencium Grace dan remasakan di baju kaosnya saat Marvel tak mengetahui bahwa Grace kehilangan oksigennya.
Mengulang kejadian tadi, membuat miliknya kembali menegang. Marvel menoleh ke arah Grace yang masih di dalam posisi yang sama. Marvel mencengkram erat stir mobilnya hingga muncul urat di pergelangangan tangan hingga ke punggung tangannya.
Berlama-lama di dekat Grace membuatnya kehilangan kesadaran dan ... ah, sulit dijelaskan, pikirknya.
Sesampainya di gang, Marvel kembali menanyakan di nomor berapakah rumahnya. Tetapi, Grace meminta untuk menurunkannya di mana mobil itu berada. Tentulah Marvel tak akan memberhentikan mobilnya. Ia juga penasaran dan ingin melihat gadis itu masuk ke dalam rumahnya dengan selamat.
"Di sini aja, Om," pinta Grace.
"Di depan lagi," sambung Grace setelah mendapat gelengan kepala dari Marvel.
20 detik kemudian ...
"Oke, stop."
Marvel meghentikan laju mobilnya. Terdapat sebuah rumah sederhana di samping kanan mobilnya.
Saat Grace membuka pintu mobilnya. Marvel menahan pergelangan tangan gadis itu, otomatis Grace kembali menurup pintu mobil milik Marvel dan menoleh ke arah Marvel.
Marvel tersenyum miring lalu melepas sealtbetnya, mendekatkan dirinya ke arah Grace.
Grace langsung memejamkan matanya saat mengetahui Marvel yang kembali mendekati dirinya.
'Jangan cium aku,' batin Grace.
Sementara Marvel yang melihat Grace menutup matanya saat ia mendekati wajahnya. Marvel tersenyum kecil, tanpa suara dan menikmati wajah Grace yang tengah ketakutan.
'Grace, gadis yang polos tapi pikirannya sangat liar,' batin Marvel seraya menyampingkan beberapa helaian rambut Grace yang terurai di pipinya.
Mata Grace terbuka saat merasakan sentuhan tangan Marvel yang menyentuh kulit wajahnya lalu bergerak ke belakang telinga.
Grace bergidik geli, tubuhnya bergetar menerima sentuhan Marvel. Apalagi jari-jari tangannya yang lembut dan dingin.