Senyum penyemangat

1012 Words
Dokter Gaung memang baru datang, ia berlari-lari kecil agar cepat sampai ke ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok semampai yang kerap mengganggu pikirannya. Mimpi apa aku semalam bisa bertemu Rinila di sini? Gaung berjalan pelan, tak ingin mengaget 'kan Rinila, lalu diam-diam berdiri di sampingnya. Hidungnya bisa menghirup wangi rambut Rinila yang dibiar 'kan tergerai. Sesaat Gaung melayang sebelum sadar dirinya tengah di kantor. Matanya ikut mencari-cari pengumuman yang tengah di baca Rinila. Ketika yakin Rinila membaca info seminar, Gaung berdehem. Rinila terinjak. Matanya membulat. "Dokter!" Gaung feeling guilty. Tidak menyangka Rinila akan sangat kaget. "Ups, maaf, tidak bermaksud mengaget 'kan mu." "Oh, tidak apa-apa, Dok." Rinila mulai mengeser 'kan tubuhnya sedikit menjauh dari Gaung untuk menjaga jarak darinya. Gaung juga melakukan hal yang sama. "Tertarik menghadiri seminar itu?" "Sangat! Program-programnya menarik dan up to date." "Setuju, berminat untuk menghadiri bersama?" "Eh?" mata Rinila membulat lagi dan membuat Gaung tertawa "Maksud Dokter, kita pergi berdua?" suara Rinila terdengar khawatir. "Bisa ya, bisa juga tidak," Gaung sedikit bercanda. "Seriously, saya memang berencana akan menghadirinya. Let me know if u want to, ok?" Rinila tak bisa tak mengangguk. Saat Gaung berlalu dari hadapannya, baru Rinila ingat sesuatu dan berlari menyusul Gaung. "Dok ... Dokter!" Gaung segera menoleh "Bagaimana dengan jadwal ujian saya?" Tanya Rinila "Kamu belum tahu?" "Belum ada pengumumannya, Dok." Gaung membuka pintu ruang dosen "Singkat saya, kamu maju tanggal 5 april, sebentar saya cek lagi." Rinila mengangkat alis, Dokter Gaung hafal tanggal ujiannya? Berarti peserta ujian hanya sedikit. Jangan-jangan hanya aku yang ujian? Ngeri juga, pikir Rinila Gaung mencari berkas jadwal ujian di meja "Hanya sedikit yang ikut ujian ya, Dok?" "Lumayan. Ada satu, dua, tiga ... dua puluh lima orang, kenapa?" "Saya pikir hanya sedikit makanya Dokter hafal jadwal Ujian saya," ucap Rinila polos, matanya mengarah ke jadwal ujian yang terletak di atas meja. Rinila tak tau Gaung sempat salah tingkah mendengar kata-katanya sebelum menemu 'kan kalimat yang tepat untuk menjawab perkataan Rinila "Tentu saja saya ingat," ujar Gaung sembari mengulum senyum. "Kamu adalah salah satu mahasiswi yang akan saya uji." Rinila tak berkomentar. Gaung tak mengatakan alasan sebenarnya. Ia memang calon penguji dalam ujian yang akan diikuti Rinila. Namun, bukan karena itu ia hafal jadwal Rinila. Ia bahkan mengingat semua hal yang berhubungan dengan Rinila. * * * tanggal 5 april. Rinila Paramitha siap menghadapi ujian. Ina berada disampingnya terus, memberi dukungan dan menyemangati. "Biar kata ujian ini lebih susah dari ujian masuk kejuruan, tapi aku yakin kamu bisa, Rinila!" "Tahu dari mana ujian ini lebih susah dari ujian masuk kejuruan?" Rinila pura-pura melotot "Buktinya, kita lulus, hihihi," Ina cekikikan Rinila menyikut Ina, matanya memberi isyarat. Beberapa mahasiswa yang akan diuji melirik ke arah mereka, merasa terganggu. Ina mingkem seketika. Nama Rinila dipanggil. Ina memeluknya. "Good luck, Bo!" Dokter Gaung menahan napas ketika melihat Rinila masuk. Rinila cantik sekali pagi ini. Penampilannya sederhana saja. Dokter Gaung berusaha menunduk 'kan wajah, tetapi sulit. Ia pasti tak akan memaling ' kan wajah jika tak mendengar degen Dokter Angelina yang menjadi rekan pengujinya dalam ujian ini. Rinila duduk dengan sopan. setelah menyapa para penguji dengan percaya diri. "Pagi, Dok." Dokter Angelina dan Dokter penguji lainnya hanya mengangguk, wajahnya serius. Berbeda dengan rekan mereka , Dokter Gaung, yang tersenyum dan mengangguk. melihat hangat Dokter Gaung pada Rinila Dokter Angelina tak membuang waktu. Segera mengajukan pertanyaan pertama diikuti rekan-rekan penguji lainnya. Dokter Gaung hanya menimpali sekali-sekali. Dokter Angelina terus mencecar Rinila dengan pertanyaan, tampaknya ia masih ingat hak istimewa yang Rinila dapatkan saat hampir gagal melakukan tugasnya dan juga perlakuan Dokter Gaung yang hangat pada Rinila saat ini. Di ujian ini, ia tak ingin Rinila lulus dengan mudah. Namun, Rinila hanya sempat gugup sekali, selebihnya ia dapat menjawab semua pertanyaan dengan baik setelah melihat senyum hangat Dokter Gaung padanya. Rinila keluar ruangan dengan senyum yang mengembang, Ina yang menunggunya menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Rinila menjawab rentetan pertanyaan Ina dengan satu kalimat saja. "Ayo, ku traktir!" Ina cengar-cengir, "Aku sudah menduga, kamu pasti mentraktirku!" Rinila mengutik jidat Ina. Untung Ina cepat berkelit. Di parkiran, mereka bertemu Radit yang baru turun dari mobil. "Hai Rinila!" wajah Radit tersenyum hangat padanya. "Bahagia sekali kelihatannya?" Ina menyikut lengan Rinila lalu berbisik, "Lihat si b******k itu bahkan tidak merasa bersalah." "sebaiknya kita tak perlu menghiraukannya," balas Rinila sambil berbisik juga Ina terkekeh, "Tidak mau kangen-kangenan dulu." "Kamu saja yang kangen-kangenan, gih," sahut Rinila mencubit pinggan sahabatnya. Ina meringis, tak sempat mengelak dari cubitan Rinila. Rinila tak ingin beramah-tamah dengan Radit. Lelaki yang telah menghancurkan harapan juga hatinya. Sambil menarik lengan Ina, Rinila berujar, "Sorry, Dit, buru-buru. * * * dari dua puluh lima mahasiswa yang diuji Rinila lulus dengan nilai tertinggi. Saat Rinila tengah asyik mengobrol dengan Ina sambil berjalan menuju kantor dosen "Kita pasti bisa wisuda bareng," Tangan kiri Rinila merangkul Ina dan tangan kanannya membuka pintu "Ouch!" seru sebuah suara. Rinila kaget. Tak menyangka pintu yang dibukanya akan membentur seseorang. Rinila makin terkejut saat tahu si korban adalah Dokter Gaung. Dokter Angelina yang berada di belakangnya "Kamu tidak apa-apa, Gaung?" suara Dokter Angelina terdengar khawatir. Dokter Gaung memberi isyarat dengan tangannya bahwa ia baik-baik saja. "Eh, oh, ma ... maaf, Dok," Rinila merasa bersalah "Oh ... eh, Rinila," suara Dokter Gaung justru terdengar sangat riang. berbanding terbalik dengan wajahnya yang mengernyit kesakitan. " Tidak masalah, hanya nyut-nyutan sedikit . Oh, ya, selamat! lulus ujian 'kan?" Ina yang berdiri disamping Rinila menaikan sebelah alis. Sementara wajah Dokter Angelina tertekuk. "Hem, ya, ... terima kasih. Mari, Dok!" Rinila pamit sambil menarik tangan Ina. "Kayaknya aku ketinggalan banyak cerita, nih?" bisik Ina dengan nada sok curiga "Nothing. Eh ke kafe, yuk!" tawar Rinila, "anggap saja syukuran lulus ujian. "Apakah ada pilihan untuk menolak?" canda Ina. Rinila merangkul pundak sahabatnya. Mereka bergelak BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) Rinila mengangkat karton yang tertulis Asti Lewis. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. "Rinila?" Tanya seorang perempuan cantik Rinila mengerutkan dahi merasa tak kenal. "Tuh ..., Asti menunjuk seorang lelaki sedang melihat kebelakang, kenal ' kan ini anak Tante sepupu kamu, Bias Swargaloka." ketika anak Tante Asti menoleh, Rinila dan lelaki itu sama-sama terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD