Pertemuan Kembali

1024 Words
"Hallo, Ma!" sapa Rinilasetiba dirumah dan melihat menonton televisi di ruang keluarga. "Hai, Cantik! Mama mencium pipi Rinila yang datang memeluknya. Gimana hasil ujiannya "Lumayan, Ma." "Lulus 'kan?" "Lulus, sih. Tapi nilainya hanya 85 saja." "Bagus, dong! Kenapa nadanya sedih gitu?" "Rini terlambat daftar sidang, Ma." "Is it a problem?" "Belum tenang rasanya masih harus nunggu beberapa bulan lagi. Kalau lulus sidang masih harus nunggu oktober baru wisuda." "Mama yakin kamu pasti lulus." sahut Mama. "Eh, iya malah bagus itu." "Apanya yang bagus, Ma?" "Kamu masih punya waktu kosong beberapa bulan kedepan." "He eh, terus?" "Kamu bisa jadi guide untuk Asti." "Asti?" Tanya Rinila sembari mengambil minuman "Kamu tau Tante Asti?" Rinila mengingat-ingat. Ia menyerah, tak bisa mengingat sosok Tante Asti "Tante Asti sepupu Mama, yang nikah sama orang Jerman, terus tinggal di Jerman. Ingat?" Rinila menggeleng lalu meneguk air mineral dingin. "Dia jarang mudik, sih. Wajar kalau kamu lupa." "Terus apa hubungan sama guide?" "Tante Asti mau berlibur kesini. Kamu temani jalan-jalan. Bisa ya?" Rinila memutar bola mata. Kerjaan di klinik sudah kelar dari pada menganggur, lebih baik jadi guide. Lumayan sambil jalan-jalan. Tante Asti jadi teman jalan-jalan asyik tidak, ya? "Okay, bisa, Ma." "Good, besok kamu jemput mereka ke bandara!" "Besok?" Rinila melongo. "Wajah Tante Asti seperti apa pun aku tak tahu, Ma!" "Tulis saja besar-besar di kertas. Kamu sering lihat orang lakukan itu di bandara 'kan?" Rinila tambah bengong. * * * Rinila mengangkat kertas karton putih tertulis nama Asti Lewis. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. "Rinila?" Tanya seorang paruh baya yang masih terlihat cantik. Tulang hidung tinggi. Kulit kuning langsat. Rambut hitam. Tinggi jauh diatas Rinila sebab Rinila harus mendongkak untuk melihatnya. Rinila mengerut 'kan dahinya. Merasa tak kenal. "Aku, Asti!" Rinila menjadi waspada. Perempuan di hadapannya jauh dari bayangannya. Ia mengira Tante Asti tidak jauh beda dari mamanya. kenyataannya .... "Kamu meragukan?" Asti bertanya sembari tertawa. Ia mengeluarkan paspor dan menunjukan pada Rinila. Bukan Rinila jika tidak meneliti paspor itu dengan saksama. Rinila belum percaya. Ia menelpon mamanya. menanyakan curi-ciri Tante Asti. Hal yang sebenarnya harus ia lakukan sebelum menjemput Asti. Kini Rinila percaya perempuan di hadapannya adalah Tante Asti. Mamanya menggambarkan hal yang sama seperti yang ia lihat saat ini pada diri Asti. "Phew, finalis, you believe me!" seru Asti gembira. Mereka saling salam dan memeluk hangat. "Hehe, sorry, Tan," sesal Rinila. " Zaman sekarang, Aku tidak boleh lengah, apalagi sama orang yang baru ku temui. Asti mengangguk mengerti. "Barangnya ini saja, Tan?" Rinila menunjuk koper kecil Asti menjawab dengan anggukan. "Kalau gitu, yuk Tan!" ajak Rinila "E, e, eh, sebentar," tahan Asti, "kita tunggu anak Tante dulu, ya!" "Anak?" Rinila mengerutkan dahi lagi. Mama tidak mengatakan Tante Asti bersama anaknya. Rinila meninggalkan Asti sebentar, kembali ia menelpon mamanya. Setelah menelpon mamanya Rinila percaya dengan kata-kata Asti. "Mana anaknya, Tan?" tanya Rinila "Pesawatnya belum mendarat, masih di udara sepertinya." jawab Asti sembari tertawa. "Maksud Tante, Tante dan anak Tante berbeda pesawat?" Rinila menaikan alis "Memang kacau anak Tante. Dia ketinggalan pesawat. Ada meeting dadakan di kantornya. dibela-bela ngebut juga percuma. Pesawatnya sudah tinggal landas," tawa Asti makin lebar. Rinila mengangguk-anggukan kepala, penasaran dengan anak Tante Asti yang katanya kacau tadi. "kita tunggunya sambil ngopi di kafe, yuk Tan!" usul Rinila. Asti setuju . Di kafe, mereka larut dalam obrolan. Ternyata Tante Asti teman mengobrol yang menyenang 'kan. Sebentar saja Rinila merasa akrab dengan Tante Asti meskipun usia mereka berbeda jauh. "Aku senang ngobrol sama kamu," ujar Asti dengan mata berbinar. "Kamu seperti teman sekaligus anak untuk Tante." "Aku juga, Tan. Eh, lho? Tante 'kan punya anak?" Rinila menaik 'kan alisnya lagi. "Laki-laki," Asti setengah mengeluh. "Dia baik, sih. Tapi sejak ditugaskan ke luar kota , Tante jadi jarang ketemu dan ngobrol bareng sama dia." "Maaf, Tan! Aku tidak bermaksud ...," ucapan Rinila dipotong Asti "No problem, I'm okay." "Ya ampun, sudah jam berapa nih?" seru Rinila. "Jangan-jangan anak Tante sudah mendarat." "Astaga!" Asti sama kagetnya Mereka bergegas ke arrival gate lagi. Rinila mencari-cari cowok dengan wajah blesteran, tetapi tak ketemu. Tiba-tiba, Asti mencolek pundaknya. "Eh, Tan. Anak Tante? "Tuh ...," Asti menunjuk seorang lelaki bule yang sedang melihat ke belakang, dicoleknya lelaki itu. Kenal 'kan. Ini Anak Tante. Bias Swargaloka. Saat Anak Asti menoleh, Rinila dan lelaki itu sama-sama terkejut. Tak pernah terlintas dalam pikiran Rinila bahwa Bias Swargaloka adalah sepupunya. Tak pernah terpikir juga akan bertemu dengan lelaki itu. Rinila bahkan tak ingat nama aslinya. Hanya karena wajah itu yang sempat membuatnya tersenyum disaat ia terluka, Rinila bisa langsung mengingatnya. Ada perasaan senang yang tidak Rinila mengerti ketika bisa bersua lagi dengannya. "Kalian sudah saling mengenal?" tanya Asti, suaranya menyiratkan kebingungan. "Eh. ehm, nope!" Rinila dan Bias menjawab bersamaan. Mereka saling memalingkan wajah kearah berlawanan. Namun, Asti cukup jeli untuk menangkap semburat merah di pipi Rinila dan sikap salah tingkah anaknya. Asti tersenyum simpul. Terlebih saat dilihatnya pandangan Bias kembali terpaku ke Rinila. Asti bisa melihat binar rindu di mata Bias. Sementara Rinila masih memalingkan pandangan dari Bias. Kelihatan sekali Rinila gugup berjumpa dengan Bias. Aduh, ada apa dengan diriku? Kenapa harus deg-degan ketemu dia? Keluh Rinila dalam hati "Aku percaya diantara kalian tidak ada apppa-apppanya." Asti sengaja menekan suaranya ketika mengucapkan apa-apanya sambil menahan tawa. "Sekarang mari kita pergi dari sini!" Rinila tanggal, segera menyusul Asti. Kemudian Bias menjajari langkah mereka. "I think, I missed something here," bisik Asti pada anaknya. Bias membalas dengan mengedipkan mata "Ceritakan pada Mom!" Asti pura-pura mengancam Bias mengecup pipi Asti pelan. Rinila mendahului mereka di depan, sibuk meredakan debaran di d**a. Ia sendiri tak mengerti mengapa bisa senervous ini bertemu dengan Bias. Rinila tak bisa membayangkan bagaimana akan berinteraksi dengan Bias kalau berdu pandang pun ia tak sanggup? Sedangkan mereka akan menginap dirumah Rinila selama liburan ini. Rinila menghembus 'kan napas panjang. "Are you okay, Rinila?" Asti mendengar embusan napas Rinila tadi. "owh, yeah fine," Rinila masih gugup tetapi Sudah siap mengemudikan kendaraan, perlahan meninggal 'kan bandara. BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) Rinila mengambil napas panjang. Tenang. Rileks. Don't panic. You can do it. Rinila menyugesti diri. Pagi ini ia mulai bertugas melayani Tante Asti dan anaknya. Ia tak ingin jantungnya yang bertalu-talu setiap melihat Bias mengacau 'kan tugasnya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD