Hari-hari bersama

1005 Words
"Are you okay, Rinila?" Asti mendengar embusan napas Rinila tadi. "owh, yeah fine," Rinila masih gugup tetapi Sudah siap mengemudikan kendaraan, perlahan meninggal 'kan bandara. Rinila bersyukur jarak bandara dan rumahnya tak jauh, Rinila dengan sengaja melewati jalan pintas agar terhindar dari macet. Tak sampai setegah jam mereka telah tiba di rumah. Pagar telah di buka Bi Sinta dan di depan pintu berdiri Mama Rinila yang telah menunggu mereka. "Welcome Asti," mama memeluk sepupunya itu dengan pelukan hangat. "And you, Bias!" Rinila sempat melihat mama mengering penuh arti ke arahnya. Apa-apaan sih Mama? sinar mata Rinila penuh tanya. "Mari, mari," ajak mama ramah. "Belum makan siang 'kan? Cicil masakan ku, ya!" Asti dan Bias menanggapinya dengan senyum sopan. "Makasih, Tante," ujar Bias sopan, "tapi, Bias ingin bersih-bersih dulu. Boleh ya ,Tan? "Aku juga bersih-bersih dulu saja, gerah." Asti menambah 'kan "Oh, tentu saja," sahut Mama. " Rin, tunjukan kamar Tante Asti dan Bias." Rinila patih, lalu mengajak Tante Asti dan Bias ke lantai dua untuk menunjukan kamar mereka. Rinila mengantar Tante Asti terlebih dahulu kemudian ia pun kembali mengantar Bias. "Rinila ...," panggil Bias Rinila tak langsung menjawab. Jantungnya berdetak kencang. Bias akan bilang apa? Rinila berbalik mengarah pada Bias dengan ragu. Ketika Rinila berbalik Bias sedang menatapnya. "Ya?" Dengan susah payah Rinila mengeluar 'kan kata. Ia khawatir sebaran jantungnya dapat terdengan oleh Bias "Nope," sahut Bias pendek." Remember me?" Rinila mengangguk, menunggu kalimat Bias selanjutnya tanpa kata. Merasa tak di gubris, Rinila meninggalkan kamar Bias. Rinila tak tahu, diam-diam Bias tersenyum simpul. Di kamarnya, Rinila mondar-mandir. mengigit-gigit bibir nya. Meremas-remas jemarinya. Rinila tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya, mengapa ia harus perduli pada Bias? Mengapa jantungnya berdetak lebih cepat saat bertemu Bias? Bagaimana aku akan menjadi tuan rumah dan guide yang baik jika jantungku selalu berdetak lebih cepat jika bertemu Bias. Rinila mengambil napas panjang. Tenang. Rileks. Don't panic. You can do it. Rinila meyakin 'kan dirinya sendiri. Pagi ia mulai bertugas melayani kedua keluarganya itu. Ia tak ingin jantungnya yang bertalu-talu setiap melihat adi mengacau 'kan tugasnya. Mereka ke cafe dan mall untuk berbelanja. Saat Bias sedang memilih keperluannya Asti dan Rinila menunggu lumayan lama dan mereka pun mengobrol. "Lama sekali sih anak Tante," gerutu Asti sambil melirik jam tangan. "Heran deh lihat dia belanja, yang di beli hanya satu tapi mikir nya lama banyak pertimbangan ." Rinila melihat Asti yang cemberut. "Eh, benar, lho, Rinila. Mungkin itu yang membuatnya belum nikah-nikah sampai sekarang, banyak pertimbangan sih," sambung Asti. Rinila tergelak. Di sudut hatinya yang terdalam senang mendengar Bias masih sendiri, setidaknya sekalipun mereka saudara tapi masih ada kemungkinan bisa bersama. "Cewek yang naksir dia banyak, tapi tidak ada satu pun yang nyantol di hatinya, ya itu tadi banyak pertimbangan," Asti masih terus bercerocos. Tak sadar orang yang dibicara 'kannya sudah berdiri di belakangnya. "Gosipin Bias, ya Mom?" tebak Bias sembari memeluk Asti dari belakang. Asti meronta. Rinila tergelak lagi. Hatinya hangat melihat keakraban ibu dan anak itu. * * * "Come on, Mom!" seru Bias pada Asti. "Lari." Asti berlari mengejar Bias. Rinila berlari ogah-ogahan, ketinggalan beberapa meter dibelakang mereka. Hari ini mereka melakukan jogging. Rinila melihat Bias berlari beberapa meter di depannya. Bias dengan pakaian olahraga tampak macho. Kata Asti usia Bias hampir 30 tahun. Menurut Rinila Bias lebih terlihat muda dari usia sebenarnya. Ahhh, Rinila mengibas 'kan tangannya, menghalau ' kan Bias dari pikirannya. Ia menjatuhkan pandangan pada lintasan lari yang dilaluinya. Yang menurut orang jika berlari melihat kebawah tidak akan merasa lelah. Entah teori siapa itu? Namun, waktu Rinila mempraktek 'kan, ia malah ngos-ngosan. Sewaktu lari membusungkan d**a dan memandang jauh ke depan. Ia malah bisa lari dengan enjoy. Rinila tak menyadari Bias sudah berada di sampingnya, menjajari langkah kakinya. Saat ia menoleh, Bias tengah menatap kedepan. Please don't too close, pinta Rinila dalam hati. Hari masih pagi 'kan? Masih sepi. Ia takut suara berisik dalam jantungnya terdengar Bias. Karena di lapangan itu hanya mereka bertiga dan beberapa orang lagi. Beruntungnya Rinila karena tiba-tiba Asti telah berada di tengah-tengah Rinila dan Bias. Fiuuuh, syukurlah, Rinila lega. "Lomba, yuk!" tantang Asti. "Sampai diujung sana saja!" Rinila mengikuti arah telunjuk Asti. "Kalau menang ku kasih hadiah!" "Memangnya Rinila bisa?" cemooh Bias Kuping Rinila menegak. Apa dia tak salah dengar? Bias mencemoohnya Asti pun ikut menoleh. "Aku bisa!" jawab Rinila spontan, meski ragu kecepatan kakinya bisa mengalahkan Bias yang atletis dan Asti yang jangkung. Usai Asti memberi aba-aba, Rinila meleset Bias tersenyum simpul melihat Rinila melaju. Dan berlari mengejar Rinila. Bias hampir mencapai finish. Ia pasti menjadi pemenang jika seseorang tidak menarik kausnya dari belakang. Kakinya terhenti, hampir saja terjungkal. Ternyata Asti biang kerok penghambat kemenangannya. "Rinila menaaang, yeah!" Teriak Asti lalu meleletkan lidah ke putranya kemudian berlari. Bias mengejar Asti. Mereka saling berkejar-kejaran. Bias mendahului Asti lalu menghadang jalan Asti. Tak kehabisan arah Asti berbalik arah sambil tertawa-tawa. Biar mengejar lagi dan kembali menghalangi jalan Asti. Kali ini Bias menangkap mommynya lalu mengelitikinya. "Sudah! Sudah!" jerit Asti. "Nanti Mommy ngompol, nih." Hati Rinila menghngat menyaksikan polah tingkah mereka. Keseharian Rinila dikelilingi hal-hal serius yang berpotensi menimbulkan stres. berhadapan dengan pasien, dosen dan pekerjaan klinik yang bertumpuk-tumpuk. Kehadiran Asti, terutama Bias memberi warna lain pada hari-hari Rinila belakangan ini. Rinila memperhatikan Bias dari jauh. Ehm ... Bias keren juga! Tapi Rinila masih kesal dengan cemoohannya. * * * Hari ini mereka bertiga berjalan-jalan ke daerah pegunungan. Disana dingin suhu bisa mencapai 5 derajat Celcius di pagi hari. Rinila sudah membekali diri dengan berlapis-lapis pakaian. "Kalian tidak pakai sweter atau jaket?" Rinila heran melihat Asti dan Bias yang hanya mengenakan selapis baju lengan panjang. BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) "Rinila, are you okay?" tanyanya cemas lalu membantu Rinila turun dari kuda. Rinila memeluk Asti, melepaskan melakukannya dengan menangis di pundak tantenya itu. Asti menepuk-nepuk punggung Rinila. Dadanya plong usai menangis. Ia mengusap ujung matanya yang basah. "Tadi itu lucu, ya?" Asti terkekeh. Dari sudut matanya, Rinila melihat Bias berdiri beberapa meter dari mereka. Bias memasukan tangan ke saku celana, kakinya yang mengenakan sneaker mengeruk-geruk tanah. Pandangan mereka bertemu. Rinila langsung melongos.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD