Gaung menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Rinila. "Kontemplasi." "Kontemplasi?" kening Rinila mengernyit. "Melihat anak-anak itu mengingatkanku untuk tak lupa bersyukur. Kadang, kita tak sempat melakukan kontemplasi. Meluangkan waktu ke sini meski hanya lima menit, lalu menyapa mereka, sudah cukup untuk membasahi hatiku yang sering gersang karena kesibukan." Rinila tak menyangka pertanyaan yang berupa satu kata dijawab dengan penjelasan panjang dan dalam oleh Dokter Gaung. Rinila meresapi kata-kata Dokter Gaung hingga ke relung hatinya. la mengorek isi hatinya. Hampir tiap hari ke sini tapi belum mengambil hikmah kehadirannya di tempat ini. "Terima kasih, Dok," ucap Rinila lirih. la sangat bersyukur Dokter Gaung sudah mengingatkannya. Rinila tak bisa membohongi hatinya,

