Rinila tertegun sesaat. la mengira tak akan ada pembicaraan yang lebih pribadi. Nyatanya, Dokter Gaung malah blak-blakkan soal rencana masa depannya. "Kamu tak mengucapkan selamat untukku?" tanya Gaung seraya memperbaiki kacamatanya. Rinila tergeragap. "Ah, ya tentu saja. Selamat, Dok," Rinila tak bisa menahan suaranya yang juga bergetar. Tiba-tiba hidungnya terasa berair. "Aku akan mengajak ... istriku ke Pelangi," lanjut Gaung, masih dengan suara bergetar. la mengaduk-aduk teh sambil melirik ke arah Rinila, menanti reaksi Rinila. "Istri Dokter akan menyukai Pelangi," suara Rinila terdengar parau. Dadanya mendadak sesak oleh sedih. Pandangannya buram terhalang genangan air mata. Sungguh, Rinila tak ingin melanjutkan pembicaraan ini. "Ya, dia pernah bilang begitu," timpal Gaung. Rin

