Pengakuan

1208 Words
Mulanya tak ada ada yang istimewa karena ia memang tak ingin mengistimewakan mahasiswa atau mahasiswi tertentu. Gaung kerap kesal dengan mahasiswi yang suka mencari-cari perhatiannya. Itu sebabnya ia bersikap dingin dan tegas dengan para mahasiswa dan mahasiswi di KKM. Namun, Rinila berbeda. Rinila malah terkesan tak peduli dengannya. Gaung jadi penasaran. Rinila cerdas, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan baik. Sekaligus polos. Sikapnya pun penampilannya. Gaung sekarang mengerti rasanya sakit karena rindu. Memang lebih sakit daripada sakit gigi. Dengan catatan, bukan pulpitis apalagi abses. Gaung tahu, ia belum tua. Namun, ia tak berminat menjalin hubungan tanpa status dengan lawan jenis. Masa lalu membuatnya jera. Fokusnya sekarang berubah. Mencari istri, bukan pacar, apalagi sekadar teman tapi mesra. * * * Rinila menuruni tangga dari kamarnya menuju ruang keluarga. "Cantiknya, mau ke mana, Rinila?" tanya Asti. Pujian Asti membuat Bias yang tengah membaca koran pagi mendongakkan kepala. Hatinya berdesir. Rinila dalam balutan kardigan seperti yang dilihatnya kemarin sore saja sudah memesona, apalagi Rinila pagi ini. la mengenakan blues putih polos yang panjangnya hampir mencapai lutut. Ada variasi kantong di bagian d**a. Thinbelt warna merah hitam mengitari pinggangnya. Bawahannya long pants kejingga-jinggaan. Kakinya mengenakan loafers yang senada dengan long pants-nya. Sekar terlihat santai tetapi rapi. Muda dan segar. Bias hampir lupa bernapas saat melihatnya. "Mau ke klinik," sahut Rinila pendek. "Lho, bukankah pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Asti lagi. "Mau ketemu teman," jawab Rinila singkat. "Teman apa teman?" goda Asti. Rinila menanggapi dengan senyum. Matanya melirik Bias yang duduk tak jauh darinya. Bias yang kepergok menatap Rinila, cepat-cepat mengalihkan tatapan kekoran. Godaan Asti menyulut kecemburuan di hati Bias. la bertanya-tanya, siapakah teman yang hendak Rinila temui? "Tante ikut boleh tidak?" rayu Asti. "Tante ingin melihat kampusmu sebelum liburan kami di sini usai." "Boleh, yuk Tan!" ajak Rinila. "Kamu mau ikut juga?" pertanyaan Asti ditujukan ke Bias. Rinila acuh tak acuh, padahal penasaran akan jawaban "Ikut, dong!" jawab Bias lekas-lekas, merasa mendapat jalan untui mengetahui teman yang akan Rinila temui. Kalau perempuan, no problem. Kalau yang lelaki? * * * Kehadiran Bias dan Asti di KKM cukup mengundang perhatian beberapa mahasiswi, tetapi tidak terlalu heboh karena ada juga mahasiswa asing sejak KKM membuka kelas internasional. Orang luar bukan pemandangan aneh di sana. "Tunggu di sini, ya!" saran Sekar pada Asti dan Bias. "Aku mau mencari teman dulu." "Aku ikut," sergah Bias Rinila kaget tetapi tetap memasang wajah tak peduli. la berlalu tanpa mengajak Bias. la mengira Biar gentar dengan sikapnya. Nyatanya, Bias tetap mengikuti dirinya. Asti geleng kepala melihat tingkah Rinila dan anaknya. Kayak Tom and Jerry, pikir Asti. Rinila mencari Ina ke KKM, lalu ke klinik Pedo, ke SBA, ke kantin kampus, hingga ke auditorium. Namun, Ima tak ada. "Memangnya kamu janjian di mana, sih?" tanya Bias. "Not your business," jawab Rinila, mendadak ketus. "Kenapa? Masih kesal dengan kata-kataku kemarin?" "I said,not your business!" "Judes," tukas Bias, "untung cantik." Rinila mendelik. Bias melirik. "Malah tambah cantik kalau mendelik." "Kamu!" Rinila kehilangan kata-kata. Bias tertawa. "Kenapa? Aku enggak bohong, kok. Walau judes dan mendelik-delik, kamu tetap cantik." Sebelum Bias meledek lagi, Rinila cepat-cepat pergi. la menuruni tangga, menuju KKM. Di tangga, Rinila berpapasan dengan Dokter Gaung. "Rinila?" suara Gaung terdengar gembira. la senang sekali bisa bertemu Rinila setelah beberapa hari tak melihatnya. Rinila hari ini tampak beda. Seharusnya, mahasiswi mengenakan rok sebagai pakaian resmi di kegiatan belajar mengajar dan praktik. Namun, karena Rinila ke klinik bukan dalam rangka kerja, sah-sah saja ia mengenakan celana panjang. Di mata Gaung, penampilan Rinila chic dan simpel. Terlihat segar dan dinamis. "Eh, Dokter," ujar Rinila sambil memberi hormat.Di belakangnya, Bias mengernyitkan dahi. "Kapan sidang kompre?" tanya Gaung. "Oh, belum tahu, Dok. Saya ke sini mau bertemu teman," jelas Rinila. "Bias," tiba-tiba Bias mengulurkan tangan kepada Gaung. Rinila tak menyangka Bias akan mengajak dosennya berkenalan. Gaung pun tampak terkejut, tetapi hanya sesaat. Bias mendapat sambutan ramah dari Gaung. "Gaung." "Bias Swargaloka." Keduanya saling bersalaman. Sikap mereka kaku. Mata mereka saling menilik dengan tatapan menyelidik. Mencoba menerka hubungan satu sama lain dengan Rinila. "Ini teman yang mau kamu temui?" tanya Gaung pada Rinila. Matanya menatap Rinila dan Bias bergantian. "Oh, bukan, Dok. Dia ..., " kalimat Sekar dipotong Bias. "I'm Rinila's," ucap Bias tegas. "Whose Rinila?" Gaung tak bisa menyembunyikan rasa penasaran. "Cousin, Dok," Sekar buru-buru menerangkan. Gaung ber-ooh panjang. Nada suara Gaung menyiratkan kelegaan. Kernyit di kening Bias semakin bertambah. Rinila merasa risi berada di antara Dokter Gaung dan Bias. Belum hilang rasa risinya, tiba-tiba Tommy melintas. "Hai Rinila! Lama tidak kelihatan, ke mana saja?" sapa Tommy, tak menyembunyikan rasa senang bertemu Rinila. Beberapa detik kemudian baru Tommy menyadari sesuatu. "Ehm, pagi, Dok." Dokter Gaung hanya mengangguk. "Mari, permisi, Dok!" Rinila tak ingin berlama-lama dalam situasi canggung di antara tiga orang lelaki. la segera berlalu dari hadapan Dokter Gaung dan Tommy. "Yuk, Tom!" "Tadi itu siapa?" tanya Bias, setelah merasa jarak mereka cukup jauh. Rinila takut salah dengar, tetapi telinganya menangkap nada asing di suara Bias. "Dosen," sebut Rinila pendek. "Dosen kok akrab gitu?" "Biasa aja," sahut Rinila sambil terus berjalan. "Aku melihatnya tak biasa," timpal Bias, sekarang ia menjajari Rinila. "Kamu kan baru bertemu sekali!" cetus Rinila. "Tapi, sorot mata dosenmu bicara banyak." "Is it your business?" "Sure," tegas Bias Rinila terpaku sekejap. Apa maksud Bias? Apakah ia ... cemburu? Rinila jadi penasaran. Rinila memberanikan diri bertanya, "Are you ... jealous?" "Obviously!" Rinila dan Bias serempak menghentikan langkah. Keduanya sama-sama terpana. Bias mendadak grogi. Rinila salah tingkah dan akan terus salah tingkah jika Ina tidak muncul. "Ya ampun, Booo!" seru Ina. "Aku tuh cari kamu ke KKM, ke klinik Pedo, ke SBA, ke kantin kampus sampa ke auditorium, tapi kamu malah mojok di sini." Sekar menepuk jidat mendengar protes Ina. "Terus, ngapain kamu di sini?" cetus Ina. "Katanya lagi sunt -..., eh, ini cowok yang kamu bilang cakep kemarin?" Rinila menepuk jidat untuk kedua kalinya. Bias tak menahan celetukan Ina. Demi kesopanan Rinila memperkenalkan Ina pada Bias. Padahal wajahnya sudah merah menahan malu. Gerak tubuhnya pun masih canggung. "Ini teman yang ku cari-cari tadi," kata Rinila pada Bias. Ina, ini Bias, sepupuku!" Ina melambaikan tangan pada Bias yang dibalas dengan lambaian pula oleh Bias. Sebelum lebih bawel, Rinila merangkul Ina. "Yuk, kukenalkan sama tante ku. Orangnya cantik, ramah, enak diajak ngobrol ... bla-bla-bla." "Kok gak pernah cerita kalo kamu punya sepupu sih, Booo?" protes Ina sambil berbisik, bahkan sempat-sempatnya ia menoleh ke belakang dan kembali melambaikan tangan ke Bias. "Cakep pula." Yang membuat Rinila ingin menjitaknya. Namun, bukan Ina namanya kalau tak sok kenal, sok dekat. "Kalau kamu masih tulah-toleh ke belakang, aku cubit kamu dan gak akan cerita apa pun," Rinila sok mengancam. Jarinya sudah siap mencubit pinggang Ina. "Okay, give up!" Ina menyerah. "Tapi, bentar, kamu kenapa sih, Boo? Kayaknya agak lain. Jangan bilang kalo kamu suka sama sepupu kamu! Mau dikemanain Dokter Gaung?" Kali ini Rinila benar-benar mencubit Ina. BERSAMBUNG ( ON NEXT CHAPTER ) "Kenapa bicaramu jadi berputar-putar begini? Kamu bicara tentang siapa?" Rinila tak ingin bertele-tele, la gemas melihat sikap Bias malam ini. Rinila lebih suka Bias yang lugas dan berani. Bias mondar-mandir lalu terdiam sejenak. "Tentang aku, tentang kamu .... " Rinila mendadak merasa perutnya bergejolak. Jantungnya bergemuruh saat Bias menghampiri dan duduk di hadapannya. "Please forgive me. I'm ... I'm sorry for loving you, my dear cousin." Sekar tercekat. Tenggorokannya terasa kering.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD