Rinila masih ingat kejadian di pegunungan. Dipikir-pikir, pengalaman berkuda itu seru juga. Rinila jadi mencoba kegiatan baru yang selama ini tak pernah dilakukannya. Walau ujung-ujungnya memalukan. Seharusnya ia berterima kasih pada Bias atas sindirannya. Kalau Bias tak menyindirnya, mungkin Rinila tak akan pernah tergerak untuk mencoba berkuda.
Tapi, justru itu. Kenapa harus dengan sindiran?
Rinila merasa sikap Bias sangat menyebalkan. Jauh berbeda dengan saat mereka bertemu di Kota Pelangi. Saat itu, Bias bicarabaik-baik padanya, meminta maaf karena menabrak pundaknya, mengulurkan tangan mengajak berkenalan bahkan memberikan kartu nama yang sekarang entah terselip dimana. Rinila semakin yakin Bias ingin membalas sikap Rinila yang tak acuh padanya waktu di Kota Pelangi dulu.
Hu uh! Rinila mengenyakkan omelette-nya yang telah dingin dengan garpu.
*
*
*
Siang menjelang sore, Rinila keluar kamar. Tumben sepi pada ke mana orang-orang? Masa sih tidur siang semua? Rinila membuka kulkas, mengambil s**u. Sayup-sayup didengarnya suara kecipak-kecipuk air. Dari ruang keluarga yang dibatasi pintu kaca bertirai tipis, Rinila melihat seseorang di kolam renang di halaman belakang rumahnya. Dibukanya pintu agar bisa melihat lebih jelas. Bias yang berenang!
Panas-panas begini berenang? Dasar stres, pikir Rinila. Dikasih kulit terang malah ingin gelap. Rinila mendadak tegang ketika melihat Bias keluar dari kolam renang menuju ruang keluarga tempat dirinya berada. Bias mengenakan two piece swimsuit. d**a bidangnya tercetak jelas di baju renang yang basah. Rinila jengah, menutup pintu pelan-pelan, berjingkat-jingkat kembali ke kamar sebelum Bias mengetahui Rinila ada di sana.
"Rinila!"
Terlambat!
Bias memergokinya.
Duh, gimana, nih? Rinila cepat-cepat menguasai diri. Ia menghirup napas panjang lalu menghadap Bias. Rinila menyandarkan sebelah pundak ke dinding, seakan tak perduli. Mengunyah apel dengan gaya cool, padahal jantungnya gelagapan.
"What are you doing here?" tanya Bias.
'Nothing," sahut Rinila cepat.
"Bilang saja kamu ingin melihatku," tebak Bias.
Rinila hampir tersedak mendengarnya, "Aku tidak ada urusan denganmu!"
"Are you sure, Nona Manja?" Bias tertawa.
"Hei, berhenti menyebutku manja!" tukas Rinila kesal.
"Memang begitu kenyataannya," timpal Bias.
"Kamu baru beberapa hari menginap di sini lalu seenaknya menyebutku manja. Apa kamu tahu aku ke kampus tanpa supir? Malah beberapa hari ini menjadi supir kalian?Aku bahkan bisa jalan-jalan ke Kota Pelangi sendirian!" Rinila membela diri meski tak yakin dengan argumen yang diutarakannya.
"Good!" ujar Bias sambil bertepuk tangan usai mendengar Rinila merepet panjang lebar. "Tapi, apa bukan manja namanya kalau sarapannya diantar ke kamar? Sama kuda takut? Olahraga malas? Tak peduli pada sekitar??
Rinila benar-benar kesal sekarang. Walau di sudut hatinya yang terdalam membenarkan semua perkataan Bias. Namun, ia tak mau serta-merta mengiyakan Bias.
"Apa maksudmu dengan tak peduli pada sekitar?"
"Apa kamu tahu Mas Yusuf meninggal tadi pagi?" tohok Bias.
"What?" Rinila membelalakkan mata.
Bagi Bias, mata itu sangat indah, meski tengah membelalak sekalipun.
"Mama mana?" tanya Rinila lagi.
"Melayat. Mommy ku."
"Kenapa aku tak diberi tahu?"
"Kamarmu sudah diketuk berkali-kali, Nona Manja, tapi tak juga dibuka. Kamu tidur atau pingsan, sih?" olok Bias.
"Bi Sinta?"
"Tadi izin ke luar sebentar."
"Jadi, cuma kamu yang ada di rumah sekarang?"
"Berdua dong Nona, denganmu."
"Apa pedulimu padaku?"
"Tentu saja aku peduli. Pertama, kau adalah sepupuku. Kedua, mamamu menyuruhku menjaga anak satu-satunya yang tidur sampai pingsan," ejek Bias lagi lalu tergelak.
Rinila jangkel bukan main melihat sikap Bias. Merasa tak bisa menangkis kata-kata Bias, Rinila berlari menuju kamar lalu menguncinya. Bias mengulum senyum melihat Rinila pergi. Jika dipikir-pikir, apa yang ia lakukan tadi memang keterlaluan sekali. Namun, itu memang salah satu "misi"-nya pada Rinila. Bias tersenyum simpul.
Sungguh, berat mencegah diri untuk tak menghampiri Rinila tadi. Wajah Rinila bersih tanpa polesan, justru memancarkan kecantikannya. Walau hanya mengenakan celana pendek dan kaos. Rinila tetap terlihat ramping semampai. Untunglah, Bias berhasil menahan diri. Rinila adalah sepupunya, meski sepupu jauh. Ia tak ingin Rinila menganggapnya lelaki kurang ajar. Ia ingin hubungan dengan Rinila berjalan alami.
*
*
*
Dikamarnya, Rinila menumpahkan kekesalan pada Bias dengan memukul-mukul bantalnya yang tak bersalah. Puas memukul-mukul, Rinila duduk tercenung di tepi tempat tidur. la menghela napas, melangkah ke balkon di luar kamar. Angin sore menepuk-nepuk pipinya. Rinila bisa melihat kolam renang dengan jelas dari tempatnya berdiri. Sudah tak ada Bias di sana. Rinila melemparkan pandangan ke rimbun pohon bambu yang terletak jauh di belakang rumahnya.
Walau kesal, Rinila mencoba berpikir jernih. la merenungi pertengkarannya dengan Bias beberapa menit lalu. Semakin direnungi, semakin hatinya tak bisa memungkiri kebenaran kata-kata Bias tadi. Bagaimana mungkin Rinila tak menyadari bahwa dirinya memang manja? Dan, childish.
Rinila bertanya-tanya dalam hati, mengapa emosinya sering tersulut saat Bias menyindirnya? Mengapa egonya acap kali terculut jika Bias meremenkannya.
Bisa jadi Rinila terlalu sensitif. Bukankah seharusnya Rinila senang? Kalimat-kalimat Bias menunjukkan Bias perhatian padanya, hanya penyampaiannya saja yang terasa pahit. Pikiran itu membuat hati Rinila mekar. Namun, untuk apa Bias memperhatikan dirinya? Apa karena aku sepupunya?
Drrt. Drrtt. Smartphone-nya bergetar. Rinila bergegas kekamar. Meraih smartphone-nya. Ina menelepon.Kebetulan yang sempurna.
"Tumben nelpon, Ceu?" tanya Rinila setelah mengucapkan salam. "Biasanya Chatan saja."
"Kangen denger suara kamu yang cempreng."
"Makasih pujiannya," ujar Rinila, juga sarkastis.
Diseberang, Nining tertawa."Lagi ngapain, Bo?"
"Ngng ... lagi mikirin cowok cakep," pancing Rinila
"Haaa? Kemajuan! Siapa? Dokter Gaung?" tanya Ina antusias.
"Ya ampun, memangnya di dunia ini cuma dokter Gaung-mu itu yang cakep?" tanya Rinila retorik.
Nining kembali tertawa.
"Seriously, aku lagi suntuk, nih!" keluh Rinila. "Bisa
ketemuan besok?"
"Boleh juga," sahut Ina. "Di klinik, ya!"
"Tidak ada tempat lain apa?"
"Deu, mentang-mentang sudah mau lulus, bawaannya sudah malas ke klinik, ya?" canda Ina. "Lagian, masa kamu tidak kangen sama ...."
"Sama siapa?" kejar Rinila.
"Ama Dokter Gaung!" goda Ina lalu tertawa ala mak lampir.
"Busyet!Ambil gih Dokter Gaung-mu!" tandas Rinila. Mereka tergelak berdua.
*
*
*
Gaung meletakkan novel ang baru dibacanya sepertiga halaman ke meja di samping tempat tidur. la tak bisa menikmati novel itu, yang sebenarnya sudah lama nangkring di rak bukunya. Bukan karena novel itu tak bagus tetapi karena pikirannya tak bisa fokus kesana.
Sudah lebih dari seminggu ia tak melihat Rinila. Gaung tahu, Rinila sudah menyelesaikan semua tugas, tinggal maju kesidang komprehensif. Jadi, memang kecil kemungkinannya ia akan ke klinik kecuali ada perlu yang sangat penting.
Hhh ..., Gaung mengembuskan napas, merenggangkan tubuh, melepas kacamata lalu berbaring sambil menyilangkan tangan di belakang kepala. Apa jadinya ia kalau kenal Rinila lebih lama? Beruntung ia baru sekitar setahun menjadi dosen di kampus. Jadi, baru setahun belakangan ia mengenal Rinila. Mengamatinya dari jauh secara diam-diam.
Mulanya tak ada ada yang istimewa karena ia memang tak ingin mengistimewakan mahasiswa atau mahasiswi tertentu. Gaung kerap kesal dengan mahasiswi yang suka mencari-cari perhatiannya. Itu sebabnya ia bersikap dingin dan tegas dengan para mahasiswa dan mahasiswi di KKM. Namun, Rinila berbeda. Rinila malah terkesan tak peduli dengannya. Gaung jadi penasaran. Rinila cerdas, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan baik. Sekaligus polos. Sikapnya pun penampilannya.
Gaung sekarang mengerti rasanya sakit karena rindu. Memang lebih sakit daripada sakit gigi. Dengan catatan, bukan pulpitis apalagi abses. Gaung tahu, ia belum tua. Namun, ia tak berminat menjalin hubungan tanpa status dengan lawan jenis. Masa lalu membuatnya jera. Fokusnya sekarang berubah. Mencari istri, bukan pacar, apalagi sekadar teman tapi mesra.
BERSAMBUNG
( ON NEXT CHAPTER )
"Rinila?" suara Gaung terdengar gembira. la senang sekali bisa bertemu Rinila setelah beberapa hari tak melihatnya. Rinila hari ini tampak beda. Seharusnya, sebagai mahasiswi kesehatan mengenakan rok sebagai pakaian resmi di kegiatan belajar mengajar dan praktik. Namun, karena Rinila ke klinik bukan dalam rangka kerja, sah-sah saja ia mengenakan celana panjang. Di mata Gaung, penampilan Sekar chic dan simpel. Terlihat segar dan dinamis.