Bu Esther yang sudah hendak
protes segera terdiam, walau dia
juga orang yang berada tapi kalau
sudah berurusan dengan hukum
sebenarnya dia juga tidak berani.
"Bagaimana bu? kalau memang
mau diperpanjang biar saya telepon
pengacara saya sekarang?".
kata-kata Babeh Ali yang pelan dan
sangat berbeda dengan yang
selama ini terlihat, bahkan Arkan
dan Lita saja bingung dan kaget
melihat hal itu.
"Saya harap kita bisa
menyelesaikan semua dengan
kepala dingin pak, bu..... saya
mengharapkan yang terbaik apalagi
mengingat Arkan juga sudah mau
lulus sekolah, semoga tidak menjadi
masalah untuknya dalam mendapat
kelulusannya dengan baik". kata bu
Sri dengan bijak.
"Saya kembalikan kembali kepada
ibu Esther, saya tidak mengharapkan
juga tapi kalau sudah menyangkut
kebaikan untuk anak saya dan untuk
Lita dalam hal ini saya bertanggung
jawab karena mereka masih
tanggung jawab saya sebagai orang
tua, walau Arkan bersalah tapi
mendengar stalking yang dilakukan
oleh Yuli sangat membuat saya
tidak nyaman, saya akan
melaporkan atas perbuatan tidak
terpuji yang tidak menyenangkan
buat saya dan anak saya, karena
secara tidak langsung kami
diawasi". jawab Babeh Ali lagi.
Muka ibu Esther memucat dan
panik mendengar kata-kata penuh
tekanan dari babeh Ali,
kalimat-kalimat yang dia ucapkan di
awal kedatangannya menjadi
bumerang untuk dirinya sendiri
mengingat kelakukan putri
tunggalnya itu.
"Nah Yul, itulah kalau kamu terlalu
agresif segala informasi yang kamu
manfaatin dari anak buah papa si
Andi itu bikin kamu mendapat
masalah kayak gini kan?" omel bu
Esther pada putrinya di depan
semua orang yang ada di ruangan
itu.
"suuutt mama, ga usah
bilang-bilang soal Andi disini". bisik
Yuli perlahan, tapi Lita dan
mamanya Rossa sudah mendengar
dan saling berpandangan, dalam
hati mereka masing-masing
menanyakan apa "Andi"
yang dimaksud adalah orang yang
mereka kenal atau tidak.
"Biarin, biar mereka tahu, alasan
kamu yang ga masuk akal ini, kalau
sampai papa kamu tahu kalau ada
masalah seperti ini mama ga mau
bantuin kamu lagi". gerutu ibu Esther
dengan tampang kesal ke Yuli.
"Maaf bu Esther, kalau boleh tahu
Andi yang dimaksud ini adalah anak
yang saya kenal?" tanya Rossa
dengan nada gemetar sambil
memegang tangan Lita yang sangat
dingin disampingnya.
Melihat gelagat yang kurang baik bu
Sri segera meminta pembicaraan
dihentikan dan baru saja dia ingin
menghampiri bu Rossa dan Lita
secara bersamaan tidak sadarkan
diri membuat Arkan dan babenya
panik dan menelpon ambulance.
***
"Mama sih, pake acara nyebutin
Andi segala, sekarang semua jadi
berantakan deh.aku tuh udah janji
ga akan bilang siapa siapa kalau dia
yang bantuin aku untuk cari Arkan,
karena kebetulan dia juga yang jadi
penyebab trauma Lita ma, aduh
gimana yah?"
kata Yuli panik sambil mencoba
menghubungi seseorang dari
handphonenya.
Mereka berdiri didepan ruang UGD
sebuah rumah sakit yang terdekat
dari sekolah itu.
"Ya kamu udah tau gitu, kenapa
harus cari masalah? udah semua itu
salah kamu, pokoknya kalau ampe
papa kamu tau, mama beneran ga
mau belain kamu, asal kamu tau
aja yah, babenya Arkan itu adalah
salah satu investor dikantor papa
kamu tau, walau dia tidak pernah
kelihatan seperti orang kaya tadi dia
salah satu pemegang saham
tertinggi dikantor papa kamu". kata
bu Esther dengan kepanikan yang
tidak kalah besar dari putrinya.
Sementara di seberang, tampak
Arkan mondar mandir sambil
melihat ke dalam ruangan periksa
memastikan kedua ibu dan anak itu
baik-baik saja, sedangkan babenya
terlihat beberapa kali menelpon
beberapa orang yang diutusnya
untuk menyelesaikan masalah
anaknya tersebut.
Pak Agus dan bu Sri yang baru saja
tiba dari sekolah, menanyakan
keadaan ibu Rossa dan juga Lita
kepada Arkan yang hanya mendapat
jawaban gerakan dibahu tanda
mereka tidak tahu kondisinya karena
dokter belum juga keluar ruangan.
Kreet.... bunyi pintu ruangan UGD
membuat semua orang yang ada
didepan pintu spontan melihat ke
arah pintu tersebut, Pak Lundi yang
baru saja datang langsung
menghampiri dokter dan bertanya
kondisi anak dan istrinya yang
dibawa ke rumah sakit tersebut.
"Bagaimana kondisi anak dan istri
saya dok? apa mereka baik-baik
saja?" tanya pak Lundi dengan
nafas terengah-engah karena berlari
dari parkiran motor.
"Tenang dulu om, Arka menghampiri
Lundi dan memberikan minum agar
dia bisa sedikit tenang. Pak Lundi
menerima air minum dan kembali
menanyakan keadaan anaknya.
"Bapak keluarga dari bu Rossa
dan Lita? boleh saya bicara dengan
bapak di ruangan saya?" tanya
dokter itu ramah.
"Bisa dok". jawab pak Lundi masih
agak lemas.
Sepeninggal dokter dan pak Lundi,
ibu Sri dan pak Agus menghampiri
babeh Ali untuk menanyakan
kelanjutan permasalahan yang ada
tersebut.
"Babeh Ali, gimana jadinya pak?"
"apa tidak bisa di musyawarahkan
jalan keluar yang baik pak, saya baru
saja mendapat info di sekolah
kedatangan pihak kepolisian untuk
meminta info tentang kejadian hari
ini, apa betul itu Babeh yang
melaporkan?" tanya bu Sri dengan
sopan, takut menyinggung perasaan
Babeh Ali yang terlihat beda sekali
setelah kejadian diruangannya hari
ini.
"Kalau saya sih ya bu, sebenernya
ga mau ikutan masalah anak-anak,
cuma kan ibu tau sendiri kali ini
keadaanya beda saya cuma tidak
mau anak saya ga nyaman dan juga
terintimidasi dengan pengawasan
dan juga pencarian info yang
dilakukan oleh Yuli dan siapa itu
temannya yang namanya Andi".
ucap babeh Ali agak keras dan
membuat Yuli dan mamanya
menjadi pucat pasi mendengarnya.
"Siapa yang namanya Yuli?" tiba
tiba terdengar suara pak Lundi yang
sudah kembali dari ruangan dokter.
Mukanya terlihat sangat marah
sekali memandang ke semua orang
yang ada disana, Arkan langsung
menghampiri pak Lundi dan
memintanya duduk agar lebih
tenang.
"Sabar ya om, kita omongin ini
baik-baik, gimana keadaan Lita om?"
tanya Arkan pelan, mencoba
mengalihkan perhatian Lundi dari
Yuli.
Dilain sisi Yuli dan ibu Esther
sangat ketakutan dan menempel
pada dinding rumah sakit di
belakang ibu Sri untuk mencari
perlindungan, mereka terlihat sangat
pucat, bahkan ibu Esther sangat
ketakutan hingga dia menangis.
"Dia sudah berani mengungkit hal
yang sangat mengerikan yang
pernah Lita alami dalam hidup dan
kondisi Lita saat ini tidak sadarkan
diri alias koma, yang berakibat buruk
akan kesehatan istri saya juga". kata
pak Lundi pelan dengan nada yang
sangat emosi dan sedih.
"Apa salah Lita sama kamu Yuli,
kalau hanya dengan kedekatannya
dengan Arkan membuat kamu
menjadi seperti ini saya rela Arkan
dan Lita berpisah, toh dia juga belum
mendapat ijin dari saya untuk
berteman dekat. Tapi jangan ungkit
trauma itu, tolong!!!!" ucap pak Lundi
lagi sambil menangis tersedu-sedu.
Babeh Ali yang melihat hal itu
menjadi sangat marah, dan
menghampiri ibu Esther dan juga
Yuli.
"Kira-kira kalau seperti ini, apa ibu
dan Yuli bisa bertanggung jawab
apabila ada apa-apa dengan kedua
orang di dalam?" tanyanya.
"Apa sepadan pengorbanan dan
kesakitan mereka dengan kepuasan
anda mencari info tentang anak
saya?" apa itu bisa membuat kalian
puas?" tanya babeh lagi dengan
emosi.
"Hari ini juga saya pastikan kalian
berdua masuk penjara". tegas babeh
Ali dan tanpa mendengar reaksi dan
perkataan orang-orang dia pergi dari
sana dengan membawa telepon
genggamnya dan menghubungi
orang-orang kepercayaannya.
***
Didalam ruangan UGD, masih
terbaring lemah Lita dan juga ibu
Rossa, keadaan Lita yang masih
tidak sadarkan diri, bahkan
membuat Rossa yang sudah sadae
kembali pingsan mengikuti anaknya
itu.
Rossa tahu betul dan ikut
merasakan ketakutan dan kesakitan
yang Lita alami selama ini, bahkan
perjuangan pemulihan yang Lita
jalani dibantu oleh Arkan teman
dekatnya baru saja menghasilkan
kemajuan yang sangat baik, tapi
tiba-tiba dihancurkan oleh Yuli
dengan segitu mudahnya, hanya
karena rasa cintanya pada Arkan.
Kedua ranjang berisi pasien ibu
dan anak keluar dari ruangan UGD
disambut oleh Arkan yang dengan
sigap membantu mendorong sampai
keruangan rawat yang sudah di atur
oleh babeh Ali melalui staffnya.
Pak Lundi ikut mendorong kedua
ranjang yang berisi anak dan istrinya
dari wajahnya terlihat kesedihan
yang mendalam, karena baru kali ini
mengalami koma setelah masa sulit
yang dihadapinya selama ini.
Kedua ibu beranak Yuli dan bu
Esther bingung apakah ingin ikut
mengantar ke ruangan atau ingin
melarikan diri, karena sudah sangat
ketakutan. Tapi ibu Sri dan pak Agus
dengan bijak mengajak mereka agar
mengikuti dulu sampai ke ruangan
agar bisa di selesaikan dengan baik
semuanya.
Sedangkan di sekolah mereka
beberapa anggota polisi tampak
sedang mewawancara beberapa
saksi yang berkaitan dengan kasus
kekerasan dan tindakan melukai
yang dilakukan oleh Yuli dengan
menggunakan senjata tajam, Eka
yang adalah ketua OSIS ditugaskan
untuk menerima dengan baik para
anggota polisi itu serta memberikan
keterangan sesuai yang mereka
butuhkan.
****
"Ih si bego Yuli....ngapain sih
dia bawa bawa nama gue segala".
kata seorang pria dengan muka
marah setelah mendapat telepon
dari anak bosnya yang mengepalai
daerah di salah satu pusat belanja
yang besar di Asia Tenggara itu,
Andi bergegas keluar dari ruangan
tempat dia nongkrong setelah cape
mengangkat barang belanjaan di
pasar yang ramai tersebut. Dengan
ketakutan dia berjalan cepat agar
tidak sempat dapat dilacak oleh
polisi seperti yang diinfokan Yuli
kepadanya barusan ditelepon.
"Jangan bergerak!!!!" teriak
salah seorang polisi yang sudah
melihat Andi dari jarak jauh dan lari
mengejarnya, karena Andi yang tidak
menyangka secepat itu dia ketemu
masih mencoba untuk mengelak dan
menghindar.
"Loh ada apa ini pak? kok saya
dikejar kejar gini? memang salah
saya apa ya pak?" kata Andi coba
untuk mengulur waktu.
"Kamu ditahan karena dituduh
melakukan perbuatan tidak
menyenangkan yaitu pemerkosaan,
mengganggu privacy orang dengan
mengikuti dan melakukan tindakan
kekerasan seksual pada seorang
gadis di usia belia. Segala perkataan
anda akan ditindak lanjuti sesuai
dengan hukum yang berlaku" kata
polisi itu sambil menyeret Andi yang
tangannya sudah dikunci dan diberi
borgol.
Sepanjang perjalanan Andi
berteriak tanpa rasa malu dan masih
mencoba untuk melarikan diri dan
menyakiti orang yang dilewatinya
agar perhatian polisi itu jadi pecah.
Karena kesal petugas itu memukul
tengkuk Andi dan robohlah dia dan
diseret oleh 2 petugas untuk dibawa
ke kantor polisi.
*****
Disebuah kantor yang mewah
terlihat seorang pria perlente sedang
merayu dan menggoda asistennya
yang seksi ketika sedang masuk ke
ruangan untuk meminta tanda
tangannya untuk surat kontrak yang
baru saja diketik oleh asisten itu.
Dengan gaya yang genit asisten itu
juga seperti sengaja menyodorkan
tubuhnya agar dipegang dan diraba
oleh atasannya tersebut.
Kringg......."Arrgh sial... kaget
gue, ih nih handphone ngapa bikin
kaget aja sih?" teriak pria perlente
tersebut dan pada saat dia melihat
siapa yang menelpon segera dia
mengusir asistennya turun dari meja
dan keluar dari ruangan.
"yes mama..ada apa nih telepon
papa? apa mama masih butuh duit
buat belanja? apa kurang uang yang
papa kasih? kebetulan papa baru aja
dapat proyek pembebasan tanah di
Tanah Abang...papa mau bikin mall
kecil biar Yuli bisa belanja disana
sendirian ga ada yang ganggu...hehe
kenapa mama sayang kok diam aja?
kata pak Johan yang terdiam saat
disebrang sana dia mendengar istri
nya menangis dan mengadukan
kepadanya kelakuan anak semata
wayang mereka yang sudah melukai
teman sekolahnya bahkan di hari
pertama dia masuk sekolah baru.
Dan terlebih lagi saat Johan
mendengar bahwa anak buahnya
yang bernama Andi juga ditangkap
oleh polisi untuk kasus pengintaian,
dan pemerkosaan dari korban yang
selama ini diminta oleh Yuli putrinya
untuk dicarikan informasinya. Johan
yang panik mencoba mendengar
dengan perlahan setiap kata yang
diucapkan oleh istrinya itu via telpon
genggamnya.
"Duh kok sampai bawa bawa
polisi sih mam? kan mama tau kita
tuh ga boleh berurusan sama polisi,
nanti ada apa apa kita repot. Banyak
yang harus kita tutupin soalnya.
Belum lagi soal usaha papa ini" duh
emang ga bisa damai aja ma?" tanya
Johan dengan panik.
Terbayang olehnya beberapa
pejabat yang selama ini bekerja
sama dengannya dan membantunya
sampai hari ini dengan menjaga
usahanya yang memang ilegal itu.
Dengan lemas dan panik dia segera
menutup teleponnya agar tidak
makin banyak info yang dia berikan.
Dirumah sakit Esther dan juga
Yuli masih mencoba untuk merayu
babeh Ali agar mencabut tuntutan
dan mencoba meminta maaf kepada
Pak Lundi dan Rossa yang saat ini
sudah tersadar kembali, mengikuti
saran dari Johan suami dan papa
dari Yuli agar bisa berdamai tanpa
bersinggungan dengan hukum.
Babeh Ali melihat kedua ibu dan
anak yang sedang berlutut didepan
nya untuk memohon agar tidak jadi
dipenjara, melihat itu bu Sri dan pak
Agus tidak bisa berbuat banyak
karena dalam hal ini tindakan yang
sudah Yuli lakukan memang sudah
melewati batasnya, bahkan sangat
aneh untuk ukuran anak SMK bisa
seobsesi itu pada seorang pria yang
bahkan belum tentu bisa merasakan
perasaan yang sama dengannya.
Apalagi sampai membayar orang
untuk menguntit, mencari tahu dan
bahkan mengawasi kehidupan Arkan
sampai ke teman dekatnya yang
mempunyai trauma tersendiri.
"Saya ga bisa memutuskan,
saat ini prioritas saya adalah bisa
melihat Lita kembali sadar dan pulih
dan bisa tersenyum lagi, bahkan
saya akan berusaha semampu saya
untuk memberi pelajaran pada orang
yang sudah menaruh luka dalam dan
trauma dalam hidupnya agar dapat
merasakan hukuman yang setimpal
dengan perbuatannya". kata babeh
Arkan dengan lembut dan pelan.
"Gue ga akan biarkan lu bebas
Yul, sebelum ini gue pernah kasih
tau sama lu. Lu boleh ganggu hidup
gue, tapi kalau lu atau siapapun itu
orang yang lu suruh untuk ngawasin
gue bahkan lu dapatin rahasia dan
trauma terdalam sampai membuat
Lita kayak gini...gue ga akan tinggal
diam, gue akan pastikan kalian ikut
merasakan sakitnya dan takutnya
hidup dalam penjara" tambah Arkan
pada kedua ibu dan anak itu.
Karena tidak dapat membantu
apa apa ibu Sri dan pak Agus pamit
undur diri kembali ke sekolah untuk
meneruskan memberikan informasi
pada petugas yang masih ada di
sekolah, situasi sekolah saat ini
begitu mencekam, baru kali ini ramai
sekali orang dihalaman sekolah dan
semua murid tidak ada yang berani
berada diluar kelas.
"Gimana keadaannya Lita ya?"
kata Atik pada kedua sahabatnya
yang hanya ditanggapi oleh Ipeh.
"Iya yak...gue ga nyangka loh kalau
Lita punya trauma parah padahal
tuh anak keliatannya santai banget
tanpa beban. iya ga Nik?" tanya Ipeh
pada Anik yang terlihat bengong dan
pucat.
"Nik woi...napa dah lu?" kata Atik
dengan nada betawinya yang kental
"Gue liat liat lu dari tadi diem aja,
biasanya kalau soal Lita lu nomor
satu kan lu temen sebangkunya"
kata Atik lagi yang langsung dijawab
oleh Anik
"Ga Tik, Peh gue ga napa napa cuma
kaget aja liat kejadian tadi" jawab
Anik tapi terlihat sekali dia seperti
menyembunyikan sesuatu.
Atik yang penasaran melihat ke
arah Ipeh dan memberi kode yang
artinya menanyakan apakah Ipeh
tahu apa yang terjadi dan dijawab
oleh Ipeh dengan tidak tahu.
Bel sekolah berbunyi tanpa sekolah
selesai, guru matematika pak Amad
membereskan buku dan menunggu
ketua kelas memimpin doa dan
mengajak teman teman untuk
memberi salam dan bergegas keluar
kelas ke ruang guru di lantai 2.
"Nik lu ga balik?" tanya Atik ke
Anik yang hanya dijawab dengan
gelengan kepalanya.
"Gue mau latihan PMR dulu, soalnya
minggu kemarin gue udah ga latihan
jawaban Anik membuat Atik makin
curiga karena Ipeh yang anggota
PMR tidak ada latihan hari ini.
"Oh ya udah, gue ama Ipeh mau
nengokin Lita di rumah sakit, lu ga
mau ikutan?" masih berupaya untuk
mengajak si Atik ke Anik dan tetap
pada jawaban yang sama sehingga
Atik dan Ipeh berangkat berdua saja
ke rumah sakit yang kebetulan tidak
jauh dari sekolah.
*****
"Yul....pokoknya apapun yang
terjadi lu ga boleh kasih tau siapa
siapa kalau gue yang kasih tau soal
info Arkan ya. Lu udah janji sama
gue, gue ga mau nanti gue keseret
seret masalah lu padahal gue cuma
niat bantu aja karena gue benci ama
Arkan" suara seorang gadis kencang
disebrang telepon dari Yuli yang lagi
keluar ruangan untuk menunggu
papanya yang akan menyusul ke
rumah sakit untuk membantu dia
dan mamanya agar bisa bebas.
"Ya ga bisa gitulah, gue juga kan
nolongin lu balasin dendam lu, ya lu
ga bisa gitu aja ninggalin gue dong".
jawab Yuli pada penelponnya. Masih
dengan emosi Yuli mengedarkan
pandangannya di lobby rumah sakit
mencari keberadaan papanya yang
tak kunjung datang.
"Oh ternyata komplotan lu ga
cuma satu yah? tapi banyak rupanya
kata Arkan sambil merebut telepon
milik Yuli dari telinganya.
"Kembaliin hape gue, woi.....balikin
ga?" teriak Yuli takut dan khawatir
lawan bicaranya ditelepon bicara
dan terdengar oleh Arkan.
"Ga akan gue kembaliin sampai lu
nyerahin diri ke polisi biar lu masuk
penjara" kata Arkan membawa hape
Yuli masuk keruangan dan memberi
kan kepada babenya yang langsung
membuat Ibu Esther makin tegang.
"Selamat siang...kami dari
kepolisian Kebayoran lama ingin
bertemu dengan babe Ali yang telah
memberikan laporan dan tuntutan
kepada ibu Esther dan anaknya Yuli
terkait kasus penganiayaan yang
menyebabkan korban terluka dan
koma, apa betul laporan itu babeh?"
tanya seorang polisi dengan sopan.
"Betul pak..saya Arkan anak
dari babeh Ali yang sekaligus adalah
saksi dari kejadian tersebut, saya
juga adalah korban dari tindakan
pengintaian dan perbuatan tidak
menyenangkan saudari Yuli yang
membuat saya seperti di awasi dan
dibuntuti" tambah Arkan lagi.
"Apakah korban sudah bisa di
mintai keterangan?" tanya polisi itu
lagi.
"Sepertinya belum pak, seperti bisa
bapak lihat sendiri, mungkin dalam
penglihatan fisiknya dia hanya luka
dibagian leher karena goresan
senjata tajam milik Yuli, tapi dalam
psikisnya dia terganggu bahkan dia
juga terluka batin dan mentalnya
akibat perkataan dan sikap dari Yuli
tambah Arkan lagi.
"Jadi kalau memang boleh silahkan
bapak bisa membawanya ke kantor
untuk dimintain keterangan, dan lagi
saya mendengar barusan dia habis
menelpon seseorang yang mungkin
bisa membantu penyelidikan bapak".
lanjut Arkan sambil memberikan
telepon genggam milik Yuli kepada
polisi tersebut.
"Baik agar masalah ini bisa di
selesaikan dengan cepat dan baik,
saya meminta kerjasamanya ibu dan
juga saudari Yuli bisa ikut kami ke
kantor untuk dimintai keterangan".
kata polisi itu lagi
"Tapi pak, saya mau menunggu
suami saya datang, bagaimanapun
saya tidak mengerti hukum jadi biar
saya didampingi oleh suami saya,
boleh kan pak?" rayu bu Esther pada
salah satu polisi itu.
"Maaf bu, tapi lebih cepat lebih baik
ibu bisa minta suami ibu menyusul
ke kantor kami di Kebayoran Lama.
jawab polisi itu lagi.
Rossa melihat Esther dan Yuli
yang dibawa oleh kedua petugas itu
dengan lemah, sesekali dia melihat
Lita yang masih belum membuka
matanya. Pak Lundi menghampiri
babeh Ali dan Arkan dan mengajak
mereka untuk berbicara di luar
ruangan rawat istri dan anaknya.
"Babeh dan Arkan, saya ga tau
harus bilang apa sama kalian, saya
berterima kasih sekali karena kalian
mau membantu keluarga saya, saya
berdoa semoga Tuhan saja yang
membalas kebaikan kalian dengan
berkat yang melimpah..amin" kata
Lundi dengan suara bergetar lalu
memeluk Arkan dan babenya
bergantian.