Bab VIII - Ternyata Dia

2966 Words
Bu Esther yang sudah hendak protes segera terdiam, walau dia juga orang yang berada tapi kalau sudah berurusan dengan hukum sebenarnya dia juga tidak berani. "Bagaimana bu? kalau memang mau diperpanjang biar saya telepon pengacara saya sekarang?". kata-kata Babeh Ali yang pelan dan sangat berbeda dengan yang selama ini terlihat, bahkan Arkan dan Lita saja bingung dan kaget melihat hal itu. "Saya harap kita bisa menyelesaikan semua dengan kepala dingin pak, bu..... saya mengharapkan yang terbaik apalagi mengingat Arkan juga sudah mau lulus sekolah, semoga tidak menjadi masalah untuknya dalam mendapat kelulusannya dengan baik". kata bu Sri dengan bijak. "Saya kembalikan kembali kepada ibu Esther, saya tidak mengharapkan juga tapi kalau sudah menyangkut kebaikan untuk anak saya dan untuk Lita dalam hal ini saya bertanggung jawab karena mereka masih tanggung jawab saya sebagai orang tua, walau Arkan bersalah tapi mendengar stalking yang dilakukan oleh Yuli sangat membuat saya tidak nyaman, saya akan melaporkan atas perbuatan tidak terpuji yang tidak menyenangkan buat saya dan anak saya, karena secara tidak langsung kami diawasi". jawab Babeh Ali lagi. Muka ibu Esther memucat dan panik mendengar kata-kata penuh tekanan dari babeh Ali, kalimat-kalimat yang dia ucapkan di awal kedatangannya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri mengingat kelakukan putri tunggalnya itu. "Nah Yul, itulah kalau kamu terlalu agresif segala informasi yang kamu manfaatin dari anak buah papa si Andi itu bikin kamu mendapat masalah kayak gini kan?" omel bu Esther pada putrinya di depan semua orang yang ada di ruangan itu. "suuutt mama, ga usah bilang-bilang soal Andi disini". bisik Yuli perlahan, tapi Lita dan mamanya Rossa sudah mendengar dan saling berpandangan, dalam hati mereka masing-masing menanyakan apa "Andi" yang dimaksud adalah orang yang mereka kenal atau tidak. "Biarin, biar mereka tahu, alasan kamu yang ga masuk akal ini, kalau sampai papa kamu tahu kalau ada masalah seperti ini mama ga mau bantuin kamu lagi". gerutu ibu Esther dengan tampang kesal ke Yuli. "Maaf bu Esther, kalau boleh tahu Andi yang dimaksud ini adalah anak yang saya kenal?" tanya Rossa dengan nada gemetar sambil memegang tangan Lita yang sangat dingin disampingnya. Melihat gelagat yang kurang baik bu Sri segera meminta pembicaraan dihentikan dan baru saja dia ingin menghampiri bu Rossa dan Lita secara bersamaan tidak sadarkan diri membuat Arkan dan babenya panik dan menelpon ambulance. *** "Mama sih, pake acara nyebutin Andi segala, sekarang semua jadi berantakan deh.aku tuh udah janji ga akan bilang siapa siapa kalau dia yang bantuin aku untuk cari Arkan, karena kebetulan dia juga yang jadi penyebab trauma Lita ma, aduh gimana yah?" kata Yuli panik sambil mencoba menghubungi seseorang dari handphonenya. Mereka berdiri didepan ruang UGD sebuah rumah sakit yang terdekat dari sekolah itu. "Ya kamu udah tau gitu, kenapa harus cari masalah? udah semua itu salah kamu, pokoknya kalau ampe papa kamu tau, mama beneran ga mau belain kamu, asal kamu tau aja yah, babenya Arkan itu adalah salah satu investor dikantor papa kamu tau, walau dia tidak pernah kelihatan seperti orang kaya tadi dia salah satu pemegang saham tertinggi dikantor papa kamu". kata bu Esther dengan kepanikan yang tidak kalah besar dari putrinya. Sementara di seberang, tampak Arkan mondar mandir sambil melihat ke dalam ruangan periksa memastikan kedua ibu dan anak itu baik-baik saja, sedangkan babenya terlihat beberapa kali menelpon beberapa orang yang diutusnya untuk menyelesaikan masalah anaknya tersebut. Pak Agus dan bu Sri yang baru saja tiba dari sekolah, menanyakan keadaan ibu Rossa dan juga Lita kepada Arkan yang hanya mendapat jawaban gerakan dibahu tanda mereka tidak tahu kondisinya karena dokter belum juga keluar ruangan. Kreet.... bunyi pintu ruangan UGD membuat semua orang yang ada didepan pintu spontan melihat ke arah pintu tersebut, Pak Lundi yang baru saja datang langsung menghampiri dokter dan bertanya kondisi anak dan istrinya yang dibawa ke rumah sakit tersebut. "Bagaimana kondisi anak dan istri saya dok? apa mereka baik-baik saja?" tanya pak Lundi dengan nafas terengah-engah karena berlari dari parkiran motor. "Tenang dulu om, Arka menghampiri Lundi dan memberikan minum agar dia bisa sedikit tenang. Pak Lundi menerima air minum dan kembali menanyakan keadaan anaknya. "Bapak keluarga dari bu Rossa dan Lita? boleh saya bicara dengan bapak di ruangan saya?" tanya dokter itu ramah. "Bisa dok". jawab pak Lundi masih agak lemas. Sepeninggal dokter dan pak Lundi, ibu Sri dan pak Agus menghampiri babeh Ali untuk menanyakan kelanjutan permasalahan yang ada tersebut. "Babeh Ali, gimana jadinya pak?" "apa tidak bisa di musyawarahkan jalan keluar yang baik pak, saya baru saja mendapat info di sekolah kedatangan pihak kepolisian untuk meminta info tentang kejadian hari ini, apa betul itu Babeh yang melaporkan?" tanya bu Sri dengan sopan, takut menyinggung perasaan Babeh Ali yang terlihat beda sekali setelah kejadian diruangannya hari ini. "Kalau saya sih ya bu, sebenernya ga mau ikutan masalah anak-anak, cuma kan ibu tau sendiri kali ini keadaanya beda saya cuma tidak mau anak saya ga nyaman dan juga terintimidasi dengan pengawasan dan juga pencarian info yang dilakukan oleh Yuli dan siapa itu temannya yang namanya Andi". ucap babeh Ali agak keras dan membuat Yuli dan mamanya menjadi pucat pasi mendengarnya. "Siapa yang namanya Yuli?" tiba tiba terdengar suara pak Lundi yang sudah kembali dari ruangan dokter. Mukanya terlihat sangat marah sekali memandang ke semua orang yang ada disana, Arkan langsung menghampiri pak Lundi dan memintanya duduk agar lebih tenang. "Sabar ya om, kita omongin ini baik-baik, gimana keadaan Lita om?" tanya Arkan pelan, mencoba mengalihkan perhatian Lundi dari Yuli. Dilain sisi Yuli dan ibu Esther sangat ketakutan dan menempel pada dinding rumah sakit di belakang ibu Sri untuk mencari perlindungan, mereka terlihat sangat pucat, bahkan ibu Esther sangat ketakutan hingga dia menangis. "Dia sudah berani mengungkit hal yang sangat mengerikan yang pernah Lita alami dalam hidup dan kondisi Lita saat ini tidak sadarkan diri alias koma, yang berakibat buruk akan kesehatan istri saya juga". kata pak Lundi pelan dengan nada yang sangat emosi dan sedih. "Apa salah Lita sama kamu Yuli, kalau hanya dengan kedekatannya dengan Arkan membuat kamu menjadi seperti ini saya rela Arkan dan Lita berpisah, toh dia juga belum mendapat ijin dari saya untuk berteman dekat. Tapi jangan ungkit trauma itu, tolong!!!!" ucap pak Lundi lagi sambil menangis tersedu-sedu. Babeh Ali yang melihat hal itu menjadi sangat marah, dan menghampiri ibu Esther dan juga Yuli. "Kira-kira kalau seperti ini, apa ibu dan Yuli bisa bertanggung jawab apabila ada apa-apa dengan kedua orang di dalam?" tanyanya. "Apa sepadan pengorbanan dan kesakitan mereka dengan kepuasan anda mencari info tentang anak saya?" apa itu bisa membuat kalian puas?" tanya babeh lagi dengan emosi. "Hari ini juga saya pastikan kalian berdua masuk penjara". tegas babeh Ali dan tanpa mendengar reaksi dan perkataan orang-orang dia pergi dari sana dengan membawa telepon genggamnya dan menghubungi orang-orang kepercayaannya. *** Didalam ruangan UGD, masih terbaring lemah Lita dan juga ibu Rossa, keadaan Lita yang masih tidak sadarkan diri, bahkan membuat Rossa yang sudah sadae kembali pingsan mengikuti anaknya itu. Rossa tahu betul dan ikut merasakan ketakutan dan kesakitan yang Lita alami selama ini, bahkan perjuangan pemulihan yang Lita jalani dibantu oleh Arkan teman dekatnya baru saja menghasilkan kemajuan yang sangat baik, tapi tiba-tiba dihancurkan oleh Yuli dengan segitu mudahnya, hanya karena rasa cintanya pada Arkan. Kedua ranjang berisi pasien ibu dan anak keluar dari ruangan UGD disambut oleh Arkan yang dengan sigap membantu mendorong sampai keruangan rawat yang sudah di atur oleh babeh Ali melalui staffnya. Pak Lundi ikut mendorong kedua ranjang yang berisi anak dan istrinya dari wajahnya terlihat kesedihan yang mendalam, karena baru kali ini mengalami koma setelah masa sulit yang dihadapinya selama ini. Kedua ibu beranak Yuli dan bu Esther bingung apakah ingin ikut mengantar ke ruangan atau ingin melarikan diri, karena sudah sangat ketakutan. Tapi ibu Sri dan pak Agus dengan bijak mengajak mereka agar mengikuti dulu sampai ke ruangan agar bisa di selesaikan dengan baik semuanya. Sedangkan di sekolah mereka beberapa anggota polisi tampak sedang mewawancara beberapa saksi yang berkaitan dengan kasus kekerasan dan tindakan melukai yang dilakukan oleh Yuli dengan menggunakan senjata tajam, Eka yang adalah ketua OSIS ditugaskan untuk menerima dengan baik para anggota polisi itu serta memberikan keterangan sesuai yang mereka butuhkan. **** "Ih si bego Yuli....ngapain sih dia bawa bawa nama gue segala". kata seorang pria dengan muka marah setelah mendapat telepon dari anak bosnya yang mengepalai daerah di salah satu pusat belanja yang besar di Asia Tenggara itu, Andi bergegas keluar dari ruangan tempat dia nongkrong setelah cape mengangkat barang belanjaan di pasar yang ramai tersebut. Dengan ketakutan dia berjalan cepat agar tidak sempat dapat dilacak oleh polisi seperti yang diinfokan Yuli kepadanya barusan ditelepon. "Jangan bergerak!!!!" teriak salah seorang polisi yang sudah melihat Andi dari jarak jauh dan lari mengejarnya, karena Andi yang tidak menyangka secepat itu dia ketemu masih mencoba untuk mengelak dan menghindar. "Loh ada apa ini pak? kok saya dikejar kejar gini? memang salah saya apa ya pak?" kata Andi coba untuk mengulur waktu. "Kamu ditahan karena dituduh melakukan perbuatan tidak menyenangkan yaitu pemerkosaan, mengganggu privacy orang dengan mengikuti dan melakukan tindakan kekerasan seksual pada seorang gadis di usia belia. Segala perkataan anda akan ditindak lanjuti sesuai dengan hukum yang berlaku" kata polisi itu sambil menyeret Andi yang tangannya sudah dikunci dan diberi borgol. Sepanjang perjalanan Andi berteriak tanpa rasa malu dan masih mencoba untuk melarikan diri dan menyakiti orang yang dilewatinya agar perhatian polisi itu jadi pecah. Karena kesal petugas itu memukul tengkuk Andi dan robohlah dia dan diseret oleh 2 petugas untuk dibawa ke kantor polisi. ***** Disebuah kantor yang mewah terlihat seorang pria perlente sedang merayu dan menggoda asistennya yang seksi ketika sedang masuk ke ruangan untuk meminta tanda tangannya untuk surat kontrak yang baru saja diketik oleh asisten itu. Dengan gaya yang genit asisten itu juga seperti sengaja menyodorkan tubuhnya agar dipegang dan diraba oleh atasannya tersebut. Kringg......."Arrgh sial... kaget gue, ih nih handphone ngapa bikin kaget aja sih?" teriak pria perlente tersebut dan pada saat dia melihat siapa yang menelpon segera dia mengusir asistennya turun dari meja dan keluar dari ruangan. "yes mama..ada apa nih telepon papa? apa mama masih butuh duit buat belanja? apa kurang uang yang papa kasih? kebetulan papa baru aja dapat proyek pembebasan tanah di Tanah Abang...papa mau bikin mall kecil biar Yuli bisa belanja disana sendirian ga ada yang ganggu...hehe kenapa mama sayang kok diam aja? kata pak Johan yang terdiam saat disebrang sana dia mendengar istri nya menangis dan mengadukan kepadanya kelakuan anak semata wayang mereka yang sudah melukai teman sekolahnya bahkan di hari pertama dia masuk sekolah baru. Dan terlebih lagi saat Johan mendengar bahwa anak buahnya yang bernama Andi juga ditangkap oleh polisi untuk kasus pengintaian, dan pemerkosaan dari korban yang selama ini diminta oleh Yuli putrinya untuk dicarikan informasinya. Johan yang panik mencoba mendengar dengan perlahan setiap kata yang diucapkan oleh istrinya itu via telpon genggamnya. "Duh kok sampai bawa bawa polisi sih mam? kan mama tau kita tuh ga boleh berurusan sama polisi, nanti ada apa apa kita repot. Banyak yang harus kita tutupin soalnya. Belum lagi soal usaha papa ini" duh emang ga bisa damai aja ma?" tanya Johan dengan panik. Terbayang olehnya beberapa pejabat yang selama ini bekerja sama dengannya dan membantunya sampai hari ini dengan menjaga usahanya yang memang ilegal itu. Dengan lemas dan panik dia segera menutup teleponnya agar tidak makin banyak info yang dia berikan. Dirumah sakit Esther dan juga Yuli masih mencoba untuk merayu babeh Ali agar mencabut tuntutan dan mencoba meminta maaf kepada Pak Lundi dan Rossa yang saat ini sudah tersadar kembali, mengikuti saran dari Johan suami dan papa dari Yuli agar bisa berdamai tanpa bersinggungan dengan hukum. Babeh Ali melihat kedua ibu dan anak yang sedang berlutut didepan nya untuk memohon agar tidak jadi dipenjara, melihat itu bu Sri dan pak Agus tidak bisa berbuat banyak karena dalam hal ini tindakan yang sudah Yuli lakukan memang sudah melewati batasnya, bahkan sangat aneh untuk ukuran anak SMK bisa seobsesi itu pada seorang pria yang bahkan belum tentu bisa merasakan perasaan yang sama dengannya. Apalagi sampai membayar orang untuk menguntit, mencari tahu dan bahkan mengawasi kehidupan Arkan sampai ke teman dekatnya yang mempunyai trauma tersendiri. "Saya ga bisa memutuskan, saat ini prioritas saya adalah bisa melihat Lita kembali sadar dan pulih dan bisa tersenyum lagi, bahkan saya akan berusaha semampu saya untuk memberi pelajaran pada orang yang sudah menaruh luka dalam dan trauma dalam hidupnya agar dapat merasakan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya". kata babeh Arkan dengan lembut dan pelan. "Gue ga akan biarkan lu bebas Yul, sebelum ini gue pernah kasih tau sama lu. Lu boleh ganggu hidup gue, tapi kalau lu atau siapapun itu orang yang lu suruh untuk ngawasin gue bahkan lu dapatin rahasia dan trauma terdalam sampai membuat Lita kayak gini...gue ga akan tinggal diam, gue akan pastikan kalian ikut merasakan sakitnya dan takutnya hidup dalam penjara" tambah Arkan pada kedua ibu dan anak itu. Karena tidak dapat membantu apa apa ibu Sri dan pak Agus pamit undur diri kembali ke sekolah untuk meneruskan memberikan informasi pada petugas yang masih ada di sekolah, situasi sekolah saat ini begitu mencekam, baru kali ini ramai sekali orang dihalaman sekolah dan semua murid tidak ada yang berani berada diluar kelas. "Gimana keadaannya Lita ya?" kata Atik pada kedua sahabatnya yang hanya ditanggapi oleh Ipeh. "Iya yak...gue ga nyangka loh kalau Lita punya trauma parah padahal tuh anak keliatannya santai banget tanpa beban. iya ga Nik?" tanya Ipeh pada Anik yang terlihat bengong dan pucat. "Nik woi...napa dah lu?" kata Atik dengan nada betawinya yang kental "Gue liat liat lu dari tadi diem aja, biasanya kalau soal Lita lu nomor satu kan lu temen sebangkunya" kata Atik lagi yang langsung dijawab oleh Anik "Ga Tik, Peh gue ga napa napa cuma kaget aja liat kejadian tadi" jawab Anik tapi terlihat sekali dia seperti menyembunyikan sesuatu. Atik yang penasaran melihat ke arah Ipeh dan memberi kode yang artinya menanyakan apakah Ipeh tahu apa yang terjadi dan dijawab oleh Ipeh dengan tidak tahu. Bel sekolah berbunyi tanpa sekolah selesai, guru matematika pak Amad membereskan buku dan menunggu ketua kelas memimpin doa dan mengajak teman teman untuk memberi salam dan bergegas keluar kelas ke ruang guru di lantai 2. "Nik lu ga balik?" tanya Atik ke Anik yang hanya dijawab dengan gelengan kepalanya. "Gue mau latihan PMR dulu, soalnya minggu kemarin gue udah ga latihan jawaban Anik membuat Atik makin curiga karena Ipeh yang anggota PMR tidak ada latihan hari ini. "Oh ya udah, gue ama Ipeh mau nengokin Lita di rumah sakit, lu ga mau ikutan?" masih berupaya untuk mengajak si Atik ke Anik dan tetap pada jawaban yang sama sehingga Atik dan Ipeh berangkat berdua saja ke rumah sakit yang kebetulan tidak jauh dari sekolah. ***** "Yul....pokoknya apapun yang terjadi lu ga boleh kasih tau siapa siapa kalau gue yang kasih tau soal info Arkan ya. Lu udah janji sama gue, gue ga mau nanti gue keseret seret masalah lu padahal gue cuma niat bantu aja karena gue benci ama Arkan" suara seorang gadis kencang disebrang telepon dari Yuli yang lagi keluar ruangan untuk menunggu papanya yang akan menyusul ke rumah sakit untuk membantu dia dan mamanya agar bisa bebas. "Ya ga bisa gitulah, gue juga kan nolongin lu balasin dendam lu, ya lu ga bisa gitu aja ninggalin gue dong". jawab Yuli pada penelponnya. Masih dengan emosi Yuli mengedarkan pandangannya di lobby rumah sakit mencari keberadaan papanya yang tak kunjung datang. "Oh ternyata komplotan lu ga cuma satu yah? tapi banyak rupanya kata Arkan sambil merebut telepon milik Yuli dari telinganya. "Kembaliin hape gue, woi.....balikin ga?" teriak Yuli takut dan khawatir lawan bicaranya ditelepon bicara dan terdengar oleh Arkan. "Ga akan gue kembaliin sampai lu nyerahin diri ke polisi biar lu masuk penjara" kata Arkan membawa hape Yuli masuk keruangan dan memberi kan kepada babenya yang langsung membuat Ibu Esther makin tegang. "Selamat siang...kami dari kepolisian Kebayoran lama ingin bertemu dengan babe Ali yang telah memberikan laporan dan tuntutan kepada ibu Esther dan anaknya Yuli terkait kasus penganiayaan yang menyebabkan korban terluka dan koma, apa betul laporan itu babeh?" tanya seorang polisi dengan sopan. "Betul pak..saya Arkan anak dari babeh Ali yang sekaligus adalah saksi dari kejadian tersebut, saya juga adalah korban dari tindakan pengintaian dan perbuatan tidak menyenangkan saudari Yuli yang membuat saya seperti di awasi dan dibuntuti" tambah Arkan lagi. "Apakah korban sudah bisa di mintai keterangan?" tanya polisi itu lagi. "Sepertinya belum pak, seperti bisa bapak lihat sendiri, mungkin dalam penglihatan fisiknya dia hanya luka dibagian leher karena goresan senjata tajam milik Yuli, tapi dalam psikisnya dia terganggu bahkan dia juga terluka batin dan mentalnya akibat perkataan dan sikap dari Yuli tambah Arkan lagi. "Jadi kalau memang boleh silahkan bapak bisa membawanya ke kantor untuk dimintain keterangan, dan lagi saya mendengar barusan dia habis menelpon seseorang yang mungkin bisa membantu penyelidikan bapak". lanjut Arkan sambil memberikan telepon genggam milik Yuli kepada polisi tersebut. "Baik agar masalah ini bisa di selesaikan dengan cepat dan baik, saya meminta kerjasamanya ibu dan juga saudari Yuli bisa ikut kami ke kantor untuk dimintai keterangan". kata polisi itu lagi "Tapi pak, saya mau menunggu suami saya datang, bagaimanapun saya tidak mengerti hukum jadi biar saya didampingi oleh suami saya, boleh kan pak?" rayu bu Esther pada salah satu polisi itu. "Maaf bu, tapi lebih cepat lebih baik ibu bisa minta suami ibu menyusul ke kantor kami di Kebayoran Lama. jawab polisi itu lagi. Rossa melihat Esther dan Yuli yang dibawa oleh kedua petugas itu dengan lemah, sesekali dia melihat Lita yang masih belum membuka matanya. Pak Lundi menghampiri babeh Ali dan Arkan dan mengajak mereka untuk berbicara di luar ruangan rawat istri dan anaknya. "Babeh dan Arkan, saya ga tau harus bilang apa sama kalian, saya berterima kasih sekali karena kalian mau membantu keluarga saya, saya berdoa semoga Tuhan saja yang membalas kebaikan kalian dengan berkat yang melimpah..amin" kata Lundi dengan suara bergetar lalu memeluk Arkan dan babenya bergantian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD