Bab IX - Musuh yang Sesungguhnya

2468 Words
Suasana di kantor polisi hari ini terlihat ramai, teriakan bersautan terdengar dari sebuah ruangan di kantor polisi tersebut. "Mama kenapa ga ngomong kalau orang yang diganggu itu adalah pak Ali salah satu pemegang saham di kantor papa?" teriak Johan panik ke pada istrinya. "Kan mama udah bilang, papa aja kali yang ga denger". jawab ibu Esther tidak kalah panik dari suami nya. "Lagian kenapa sih Yul? emang ga ada laki laki laen yang bisa kamu cari tahu atau deketin, kenapa harus anak pak Ali. Kamu tau..... kantor dia dibandingin kantor papa mah ga ada apa apanya..papa tuh berhutang budi dan uang yang banyak sama sama beliau...dia orang penting di kantor papa dan tanpa dia kita bisa bangkrut" seru Johan meringis takut dia membayangkan bisnis yang dia bangun selama ini baik yang legal dan ilegal akan terancam ditutup jika dirinya dan keluarganya berani usik ketenangan big boss tersebut. Babeh Ali memang terlihat lugu dan polos, tapi untuk orang yang tau siapa dia sebenarnya, pasti tidak mau mencari masalah dengan orang tersebut. Perusahaan yang dibangun olehnya dari nol sampai sebesar sekarang sudah membantu beberapa kantor kecil yang membutuhkan suntikan dana dan dukungan untuk terus bisa bertahan di kerasnya kota Jakarta ini. Dan salah satunya adalah milik keluarga Yuli. "Eheem ...... oh lu Johan? gue pikir siapa papanya Yuli yang udah neror dan stalking anak gue si Mawi apa tujuan dan maksudnya sih bisa sampai segitunya ama anak gue." kata Babe Ali yang baru datang ke kantor polisi setelah urusannya di rumah sakit sudah selesai. "Emang Arkan ada salah apa ama anak lu Han? perasaan gue tuh anak biar sebangor bangornya kaga pernah nyakitin perempuan, nah lu liat aja gimane sayangnya die ama Lita, biar kata kasar gitu perawakan yang gue tau dia kagak pernah jail dan nyakitin orang laen". kata babe Ali lagi yang datang bersama Arkan. "Selamat siang babeh....mari silahkan masuk ruang pemeriksaan" ujar seorang polisi muda dengan ramah pada babeh Ali. "Oh iye pak...aduh aye ampe malu ini pake disambut segale, nyok dah ah kemane kite ini jalannya" kata babeh Ali yang mulai kembali dengan gaya jenakanya. Dalam ruangan tersebut sudah ada Andi yang merasa pusing dan baru saja sadar dari pingsannya setelah dapat hadiah dari polisi yang menangkapnya tadi. "Oh lu yang namanya Andi, brengsek ya lu. orang sejahat lu ga boleh bebas dengan gampang ... lu udah ngerusak masa depan orang enak aja kalau lu bisa bebas" kata Arkan ketus. **** Di ruangan lainnya tampak Yuli dan kedua orangtuanya diperiksa, pak Johan terlihat beberapa kali meneteskan keringat dingin karena beberapa pertanyaan yang mulai menjurus ke bisnis dan penghasilan nya selama ini. Arkan dan babehnya telah selesai menjalankan pemeriksaan karena memang sebagai saksi dan korban saja, dari keterangan yang Arkan berikan polisi menyimpulkan bahwa selain Andi yang memberikan informasi tentang kondisi Lita juga masih ada narasumber lainnya yang mana dia yang memberikan akses agar Yuli mengetahui jadwal masuk dan tempat mana saja yang Lita datangi di sekolah sehingga selalu saja bisa memberikan celah agar Yuli bisa mencelakai Lita disaat tidak banyak orang yang ada disana. Orang itu juga yang memberi lebih rinci lagi tentang rumah Arkan juga hubungannya dengan Lita. Karena info Andi hanya tentang soal Lita yang tidak perawan saja, soal kasus perkosaan di tutupi oleh Andi karena tidak mau masalahnya jadi melebar nanti. Tengah malam Johan dan istri nya bisa keluar dari ruang pemeriksaan karena mereka juga sebagai saksi, lain hal dengan Yuli yang menjadi tersangka kekerasan dan penganiayaan kepada Lita dan juga perbuatan tidak menyenangkan dalam hal menyebarkan rahasia sehingga korban terserang secara psikis dan masih belum sadarkan diri. *** "Nik, kalau gue liat liat dari kemaren, lu keliatan gelisah, takut, ad apaan sih? kita kan temen, lu bisa cerita ama kita kalo lu ada masalah jangan lu pendem sendiri" kata Atik pada Anik ke esokan harinya dikelas mereka. "Lu bahkan ga peduli sama apa yang terjadi sama Lita padahal dia temen sebangku lu" tambah Ipeh juga. Mereka berdua bingung sama sikap Anik yang tiba tiba menjadi cuek dan menghindar dari mereka bertiga bahkan sebelum kejadian Lita terjadi. "Ah itu cuma perasaan lu aja kali Tik, Peh. gue mah biasa aja tuh" jawab Anik mencoba tersenyum tapi malah terlihat seperti menyeringai dan menakutkan. "What ever lah ya, pokoknya lu ga boleh nyembunyiin apa apa dari kita kasian Lita kemarin saat dirumah sakit dia masih belum sadarin diri, nyokapnya juga nangis terus dan masih dirawat di ruangan sama, untung Arkan dan babehnya yang nanggung semuanya kalau ga bokap nya pasti bingung lagi gimana bayar nya itu." kata Atik lagi pada mereka berdua. Atik memperhatikan gesture tubuh Anik yang benar benar tidak peduli bahkan saat Atik cerita soal Lita yang belum sadarin diri, dia jadi makin heran dan memutuskan untuk mencari tahu ada apa dengan Anik. Suasana sekolah sedikit beda hari ini, beberapa polisi masih bolak balik mencari keterangan dari versi yang berbeda dari kasus Lita dan Yuli. Arkan yang mau masuk kelas dihadang oleh Atik dan Ipeh yang sengaja menunggu di depan kelas. "Kan bentar....kita berdua mau ngomong!" kata Atik menahan Arkan "Kenapa Tik? ada info apa?" tanya Arkan. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mencoba mengintip dan menguping pembicaraan mereka. "Kata polisi sih ada 1 orang lagi kayaknya yang jadi mata mata Yuli disekolah, dan juga yang ikut bikin situasi dimana Lita bisa kena terus dikerjain Yuli...karena selalu saat dia sendirian kan Yuli bisa melukai dia, nabrak? saat gue masih diparkiran motor. Trus bola juga pas kalian lagi latihan volley kan dan Lita sendiri. pokoknya terlalu banyak kebetulan deh" jelas Arkan lagi. "Trus Yuli udah ngaku kalau emang ada yang bantuin dia?" tanya Atik sedikit emosi. "Yuli masih ga mau buka suara, dan dia malah bilang kalau dia ga kenal sebenernya sama Andi yang perkosa Lita padahal jelas jelas Andi adalah salah seorang preman yang ada di Tanah abang yang kerja disalah satu kantor di sana bahkan menjadi anak buah kepercayaan bokapnya untuk urusan kekerasan dan yang kotor kotor lah" jelas Arkan lagi. "hmm .....aneh juga ya? gue kok jadi curiga ya... kalau ampe ada orang lain yang bantu harusnya dia salah satu murid sekolah kita." kata Atik lagi "Soalnya orang luar belum tentu tau jadwal kita sampai ke tempat yang sepi yang sering kita datengin, ya ga sih?" tambah Ipeh. Bruk...." aduh lu kalau jalan liat liat dong?" terdengar suara murid perempuan dari balik tangga yang tersembunyi. "Lah lu juga ngapain disitu, nguping lu yah?" kata anak lain yang tidak sengaja menabrak perempuan itu. "eh...kagak..kagak...gue mau naik ke kelas gue kok, abis dari kantin" kata anak perempuan itu lagi dan berlari menaiki tangga menuju kelasnya. Di ujung tangga bawah berdiri Arkan, Ipeh dan Atik yang melihat ke arah tangga menuju ke atas, mereka masih bisa melihat bayangan anak perempuan yang naik buru buru barusan. " Bener kan kecurigaan gue, dia lagi aneh dari kemarin" kata Atik ke kedua orang temannya itu. Ternyata sebelum menghadang Arkan, Atik sudah mengirimkan pesan agar dia bisa menjelaskan soal kemungkinan ada orang lain yang membantu Yuli dengan keras agar bisa mengetahui apakah benar orang yang sedang mereka curigai mencari tahu atau tidak informasi tersebut, dan mereka sudah tau jawabannya. "Nik gue ama Ipeh mau ke rumah sakit lagi, lu masih ga mau ikut juga?" tanya Atik kali ini agak jutek pada Anik. " E....itu ...apa ...e...Gue tadi pagi di suruh nyokap buat pulang cepet mau disuruh jagain adek gue yang bontot" jawab Anik dengan gugup. "Oh...ya ud deh gapapa. Tadi Arkan bilang mau sekalian ke rumah sakit mau kasih tahu kalau yang bantuin Yuli disekolah udah ketauan orang nya katanya lagi polisi sudah buat surat penangkapan" kata Atik lagi. "eh gimana maksudnya Tik?" tanya Anik panik. "Siapa lagi lu bilang yang udah ketauan?" tanyanya lagi. "eh gue lupa harusnya ga boleh bilang siapa siapa dulu, yuk Peh kita pergi biar keburu jam besuknya" kata Atik yang menarik tangan Ipeh. "Eh Tik gue ikut deh! gue juga mau nengokin Lita" kata Anik menyusul kedua temannya. "Eh tumben lu ikut Nik, dari kemarin baru keliatan lu" tanya Arkan dilantai 1 tempat mereka janji an ke rumah sakit dijemput oleh supir Arkan yang diutus oleh babeh Ali. "Eh... e..eh iya nih Kan, kemarin tuh gue lagi ada ekskul PMR jadi ga bisa ikutan nengokin Lita". jawab Anik gugup. "Ekskul? lah Eka ngabarin gue katanya sementara penyelidikan berlangsung tidak boleh ada acara atau ekskul melebihi jam 12 siang dan itu sudah mulai dari kemarin." pancing Arkan lagi. "Eh iya masa sih? gue ada kok disekolahan dari kemarin, mungkin ga semua kali" masih dengan gugup Anik jawab. Tak lama mobil mewah tiba didepan sekolahan dan seorang bapak yang sudah paruh baya turun dari mobil menjemput Arkan agar masuk ke dalam mobil bersama ketiga teman Lita. "Pa, Feby bisa jagain Adi ga ya dirumah? dia sekolah ga tuh? mama kepikiran nih ama mereka dirumah." kata Rossa yang masih terlihat lemas diatas ranjangnya disamping Lita yang masih tidak sadarkan diri alias koma. "Papa udah coba telepon ke rumah, Feby bilang udah nitipin Adi kerumah omanya sebelum sekolah, jadi nanti papa pulang kerumah sekalian jemput Adi aja dari rumah oma ya ma". "udah mama jangan mikir macem macem biar anak anak di rumah papa yang urus". Jawab Lundi menenangkan Rossa istrinya. "Selamat siang om...tante..." kata Arkan, Atik, Ipeh dan Anik. "Eh kalian datang, sini masuk baru pulang sekolah yah?" tanya Lundi melihat teman anaknya masih memakai seragam. "Iya om, kami baru saja pulang sekolah, gimana keadaan tante dan Lita hari ini om?" tanya Arkan sambil menghampiri gadis cantik yang ada disamping ranjang Rossa yang masih terlihat lemas. "Sayang....aku datang nih sama Atik Anik, juga Ipeh sahabat kamu, kamu senang kan mereka ada disini?" ucap Arkan pelan sambil mengelus dahi dan merapikan anak rambut yang menutupi mata yang belum juga membuka. Sambil menemani teman anak nya yang datang menjenguk, Lundi juga menerima pesan di handphone nya dari Arkan yang memintanya untuk ikut bersandiwara menjebak seseorang yang dicurigai. Lundi mengangkat kepalanya dan melihat Arkan dan mengganggukan kepala tanda mengerti. "oh ya om, gimana kelanjutan kasus Lita? apa Yuli sudah memberi pengakuan?" pancing Arkan pada Lundi. "eh iya Kan, justru itu sebab nya om nyuruh kamu datang, jadi menurut polisi ada lagi orang yang ikut mengompori tindakan Yuli, baru saja om dapat info nama dan foto nya, kita cek sama sama yuk diluar" kata Lundi sambil mengajak Arkan keluar ruangan. Atik dan Arkan saling memberi kode untuk saling memperhatikan setiap tingkah laku atau gerakan yang mencurigakan dari teman mereka. Tak lama dari Lundi dan Arkan keluar dari ruangan, Anik berpamitan dengan alasan takut orangtuanya mencarinya apabila terlalu sore. "Loh Om ini kan" teriak Arkan sengaja dibuat menggantung agar membuat siapapun yang ingin mencari tahu info itu menjadi penasaran, Arkan pura pura kaget sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan melihat ada gerakan dari arah pintu kamar rawat Lita yang langsung bersembunyi di balik tembok ruangan. "Om ga nyangka Kan, padahal mereka kan berteman", jawab Lundi semakin membuat penguping itu jadi makin penasaran. Dan ....... krek......"lu kok belum pulang Nik? katanya mau buru buru pulang takut dicariin, eh lu nguping yah?" teriak Atik membuat Anik gemetaran takut. Dan dia berlari kencang menjauhi mereka dan keluar dari rumah sakit dengan terburu buru, sampai tidak melihat ada motor yang sedang berjalan kencang disampingnya. "Anik aaaaawaasss" teriak Atik tapi sudah terlambat, Anik tertabrak motor dan tubuhnya terlempar jauh dari tempat dia tertabrak, untung keadaan jalanan tidak terlalu ramai sehingga tidak mengenai kendaraan yang lain. ***** "Lu lupa udah bikin keluarga gue jadi hancur, kalau aja nyokap lu yang bego itu ga ngusir keluarga gue gue ga bakalan susah gini, gonta ganti kontrakan karena bokap gue ga sanggup bayar kontrakan yang mahal, sementara lu enak enakan idup tanpa beban, cuma kehilangan keperawanan doang...sialan lu tau ga!!!!!!!" ."Gaaaaaaa....pergi lu...pergiiii" teriakan Lita mengagetkan sekaligus bersyukur akhirnya Lita tersadar setelah 3 hari dia koma. Keringat mengucur dari kening dan kepalanya membuat orangtuanya panik dan memanggil dokter dan suster untuk memeriksa keadaan Lita. Arkan segera berangkat ke rumah sakit bersama babehnya saat pak Lundi mengabarinya kalau Lita sudah sadar dari komanya. Dalam perjalanan keduanya tak hentinya bersyukur untuk keadaan Lita yang sudah mengkhawatirkan sejak 3 hari terakhir dirumah sakit. Disalah satu ruangan di rumah sakit yang sama terbaring juga Anik dengan kondisi yang mengenaskan. 3 tulang rusuknya patah karena benturan kencang di dadanya pada troktoar setelah dia di tabrak oleh motor di hari saat dia takut ketahuan oleh Arkan dan pak Lundi. Dia sudah sadarkan diri tapi masih belum bisa dimintai informasi oleh pihak kepolisian, kepada kedua temannya Atik dan Ipeh, Anik minta maaf karena dia sudah membohongi mereka berdua dan mengakui kalau dia adalah orang yang sudah memberikan info kepada Yuli soal Arkan dan juga Lita. Arkan yang walaupun marah pada Anik tidak dapat berbuat lebih karena masih khawatir dengan Lita yang saat itu belum sadarkan diri. "Sayang..akhirnya kamu sadar mama takut kamu kenapa napa lagi, jangan tinggalin mama ya Neng". isak Rossa saat Lita yang terlihat bingung melihat orang ramai di kamarnya. Dokter yang datang memeriksanya meminta Rossa dan suaminya untuk keluar agar bisa dilakukan pemeriksaan menyeluruh tentang kondisi Lita. "ibu bapak...tolong beri waktu untuk Lita menyesuaikan diri dulu ya sepertinya rasa syok yang diterima nya kali ini lebih fatal dari sebelum nya, sehingga dia melupakan sedikit memorynya yang pernah dia alami baru baru ini." jelas dokter kepada Orangtua Lita didampingi oleh babe Ali dan juga Arkan yang setia dalam setiap keadaan Lita. "Maksud dokter? Lita amnesia gitu? hilang ingatan? ya Tuhan kok bisa jadi kayak gini dok?" tanya ibu Rossa sambil menahan air matanya "Iya bu, tapi sifatnya tidak permanen atau hanya sementara" jelas dokter lagi. "Hal ini disebabkan oleh trauma yang sangat mendalam pak..bu.. jadi alam bawah sadar Lita menutup diri dari ketakutan yang selama ini dia rasakan sehingga melupakan hal tersebut" jelas dokter lagi. "Kira kira berapa lama dia bisa kembali dok?" tanya Arkan kali ini. "semua itu tergantung dari kondisi fisik dan mental pasien, apabila dia masih merasa tidak nyaman, akan tetap dia tutup ingatannya, begitu juga sebaliknya saat dia sudah merasa nyaman baru dia bisa ingat kembali." jawab dokter. Mereka semua kembali ke ruangan setelah mendengar penjelasan dari dokter, Arkan dan babenya tidak berani mendekat takut Lita tidak nyaman. Tapi yang terjadi justru Lita malah tidak kenal dengan kedua orangtuanya dan malah memanggil Arkan dan babe yang menurut Lita tidak asing untuk nya saat ini. "Lita ga kenal sama mama?" isak Rossa pelan melihat Lita justru takut dekat dengannya. "kalian siapa? aku ga kenal...Arkan kamu kenal siapa mereka? babeh? Lita takut...sayang...kamu jangan kemana mana temani aku ya" kata Lita lagi sambil memegang ujung baju Arkan yang perlahan mendekat pada Lita. "Sudah ma, yang penting Lita udah sadar." jawab Lundi yang ikut sedih karena Lita juga tidak kenal dengannya. Dia menyadari bahwa saat kejadian dulu Lita bisa terluka adalah saat Rossa begitu percaya kepada orang yang ternyata justru menyakiti Lita, mungkin trauma itu yang terekam oleh Lita membuat dia melupakan kedua orangtuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD