Suasana di kantor polisi hari
ini terlihat ramai, teriakan bersautan
terdengar dari sebuah ruangan di
kantor polisi tersebut.
"Mama kenapa ga ngomong kalau
orang yang diganggu itu adalah pak
Ali salah satu pemegang saham di
kantor papa?" teriak Johan panik ke
pada istrinya.
"Kan mama udah bilang, papa
aja kali yang ga denger". jawab ibu
Esther tidak kalah panik dari suami
nya.
"Lagian kenapa sih Yul? emang ga
ada laki laki laen yang bisa kamu
cari tahu atau deketin, kenapa harus
anak pak Ali. Kamu tau..... kantor
dia dibandingin kantor papa mah ga
ada apa apanya..papa tuh berhutang
budi dan uang yang banyak sama
sama beliau...dia orang penting di
kantor papa dan tanpa dia kita bisa
bangkrut" seru Johan meringis takut
dia membayangkan bisnis yang dia
bangun selama ini baik yang legal
dan ilegal akan terancam ditutup jika
dirinya dan keluarganya berani usik
ketenangan big boss tersebut.
Babeh Ali memang terlihat lugu
dan polos, tapi untuk orang yang tau
siapa dia sebenarnya, pasti tidak
mau mencari masalah dengan orang
tersebut.
Perusahaan yang dibangun olehnya
dari nol sampai sebesar sekarang
sudah membantu beberapa kantor
kecil yang membutuhkan suntikan
dana dan dukungan untuk terus bisa
bertahan di kerasnya kota Jakarta
ini. Dan salah satunya adalah milik
keluarga Yuli.
"Eheem ...... oh lu Johan? gue
pikir siapa papanya Yuli yang udah
neror dan stalking anak gue si Mawi
apa tujuan dan maksudnya sih bisa
sampai segitunya ama anak gue."
kata Babe Ali yang baru datang ke
kantor polisi setelah urusannya di
rumah sakit sudah selesai.
"Emang Arkan ada salah apa
ama anak lu Han? perasaan gue tuh
anak biar sebangor bangornya kaga
pernah nyakitin perempuan, nah lu
liat aja gimane sayangnya die ama
Lita, biar kata kasar gitu perawakan
yang gue tau dia kagak pernah jail
dan nyakitin orang laen". kata babe
Ali lagi yang datang bersama Arkan.
"Selamat siang babeh....mari
silahkan masuk ruang pemeriksaan"
ujar seorang polisi muda dengan
ramah pada babeh Ali.
"Oh iye pak...aduh aye ampe
malu ini pake disambut segale, nyok
dah ah kemane kite ini jalannya"
kata babeh Ali yang mulai kembali
dengan gaya jenakanya.
Dalam ruangan tersebut sudah
ada Andi yang merasa pusing dan
baru saja sadar dari pingsannya
setelah dapat hadiah dari polisi yang
menangkapnya tadi.
"Oh lu yang namanya Andi,
brengsek ya lu. orang sejahat lu ga
boleh bebas dengan gampang ...
lu udah ngerusak masa depan orang
enak aja kalau lu bisa bebas" kata
Arkan ketus.
****
Di ruangan lainnya tampak Yuli
dan kedua orangtuanya diperiksa,
pak Johan terlihat beberapa kali
meneteskan keringat dingin karena
beberapa pertanyaan yang mulai
menjurus ke bisnis dan penghasilan
nya selama ini.
Arkan dan babehnya telah
selesai menjalankan pemeriksaan
karena memang sebagai saksi dan
korban saja, dari keterangan yang
Arkan berikan polisi menyimpulkan
bahwa selain Andi yang memberikan
informasi tentang kondisi Lita juga
masih ada narasumber lainnya yang
mana dia yang memberikan akses
agar Yuli mengetahui jadwal masuk
dan tempat mana saja yang Lita
datangi di sekolah sehingga selalu
saja bisa memberikan celah agar
Yuli bisa mencelakai Lita disaat
tidak banyak orang yang ada disana.
Orang itu juga yang memberi
lebih rinci lagi tentang rumah Arkan
juga hubungannya dengan Lita.
Karena info Andi hanya tentang soal
Lita yang tidak perawan saja, soal
kasus perkosaan di tutupi oleh Andi
karena tidak mau masalahnya jadi
melebar nanti.
Tengah malam Johan dan istri
nya bisa keluar dari ruang
pemeriksaan karena mereka juga
sebagai saksi, lain hal dengan Yuli
yang menjadi tersangka kekerasan
dan penganiayaan kepada Lita dan
juga perbuatan tidak menyenangkan
dalam hal menyebarkan rahasia
sehingga korban terserang secara
psikis dan masih belum sadarkan
diri.
***
"Nik, kalau gue liat liat dari
kemaren, lu keliatan gelisah, takut,
ad apaan sih? kita kan temen, lu bisa
cerita ama kita kalo lu ada masalah
jangan lu pendem sendiri" kata Atik
pada Anik ke esokan harinya dikelas
mereka.
"Lu bahkan ga peduli sama
apa yang terjadi sama Lita padahal
dia temen sebangku lu" tambah Ipeh
juga. Mereka berdua bingung sama
sikap Anik yang tiba tiba menjadi
cuek dan menghindar dari mereka
bertiga bahkan sebelum kejadian
Lita terjadi.
"Ah itu cuma perasaan lu aja
kali Tik, Peh. gue mah biasa aja tuh"
jawab Anik mencoba tersenyum tapi
malah terlihat seperti menyeringai
dan menakutkan.
"What ever lah ya, pokoknya lu ga
boleh nyembunyiin apa apa dari kita
kasian Lita kemarin saat dirumah
sakit dia masih belum sadarin diri,
nyokapnya juga nangis terus dan
masih dirawat di ruangan sama,
untung Arkan dan babehnya yang
nanggung semuanya kalau ga bokap
nya pasti bingung lagi gimana bayar
nya itu." kata Atik lagi pada mereka
berdua.
Atik memperhatikan gesture
tubuh Anik yang benar benar tidak
peduli bahkan saat Atik cerita soal
Lita yang belum sadarin diri, dia jadi
makin heran dan memutuskan untuk
mencari tahu ada apa dengan Anik.
Suasana sekolah sedikit beda
hari ini, beberapa polisi masih bolak
balik mencari keterangan dari versi
yang berbeda dari kasus Lita dan
Yuli. Arkan yang mau masuk kelas
dihadang oleh Atik dan Ipeh yang
sengaja menunggu di depan kelas.
"Kan bentar....kita berdua mau
ngomong!" kata Atik menahan Arkan
"Kenapa Tik? ada info apa?" tanya
Arkan.
Tanpa mereka sadari ada sepasang
mata yang mencoba mengintip dan
menguping pembicaraan mereka.
"Kata polisi sih ada 1 orang
lagi kayaknya yang jadi mata mata
Yuli disekolah, dan juga yang ikut
bikin situasi dimana Lita bisa kena
terus dikerjain Yuli...karena selalu
saat dia sendirian kan Yuli bisa
melukai dia, nabrak? saat gue masih
diparkiran motor. Trus bola juga pas
kalian lagi latihan volley kan dan Lita
sendiri. pokoknya terlalu banyak
kebetulan deh" jelas Arkan lagi.
"Trus Yuli udah ngaku kalau
emang ada yang bantuin dia?" tanya
Atik sedikit emosi.
"Yuli masih ga mau buka suara, dan
dia malah bilang kalau dia ga kenal
sebenernya sama Andi yang perkosa
Lita padahal jelas jelas Andi adalah
salah seorang preman yang ada di
Tanah abang yang kerja disalah
satu kantor di sana bahkan menjadi
anak buah kepercayaan bokapnya
untuk urusan kekerasan dan yang
kotor kotor lah" jelas Arkan lagi.
"hmm .....aneh juga ya? gue
kok jadi curiga ya... kalau ampe ada
orang lain yang bantu harusnya dia
salah satu murid sekolah kita." kata
Atik lagi
"Soalnya orang luar belum tentu tau
jadwal kita sampai ke tempat yang
sepi yang sering kita datengin, ya ga
sih?" tambah Ipeh.
Bruk...." aduh lu kalau jalan liat
liat dong?" terdengar suara murid
perempuan dari balik tangga yang
tersembunyi.
"Lah lu juga ngapain disitu, nguping
lu yah?" kata anak lain yang tidak
sengaja menabrak perempuan itu.
"eh...kagak..kagak...gue mau naik ke
kelas gue kok, abis dari kantin" kata
anak perempuan itu lagi dan berlari
menaiki tangga menuju kelasnya.
Di ujung tangga bawah berdiri
Arkan, Ipeh dan Atik yang melihat ke
arah tangga menuju ke atas, mereka
masih bisa melihat bayangan anak
perempuan yang naik buru buru
barusan.
" Bener kan kecurigaan gue, dia
lagi aneh dari kemarin" kata Atik ke
kedua orang temannya itu. Ternyata
sebelum menghadang Arkan, Atik
sudah mengirimkan pesan agar dia
bisa menjelaskan soal kemungkinan
ada orang lain yang membantu Yuli
dengan keras agar bisa mengetahui
apakah benar orang yang sedang
mereka curigai mencari tahu atau
tidak informasi tersebut, dan mereka
sudah tau jawabannya.
"Nik gue ama Ipeh mau ke
rumah sakit lagi, lu masih ga mau
ikut juga?" tanya Atik kali ini agak
jutek pada Anik.
" E....itu ...apa ...e...Gue tadi pagi di
suruh nyokap buat pulang cepet
mau disuruh jagain adek gue yang
bontot" jawab Anik dengan gugup.
"Oh...ya ud deh gapapa. Tadi Arkan
bilang mau sekalian ke rumah sakit
mau kasih tahu kalau yang bantuin
Yuli disekolah udah ketauan orang
nya katanya lagi polisi sudah buat
surat penangkapan" kata Atik lagi.
"eh gimana maksudnya Tik?"
tanya Anik panik.
"Siapa lagi lu bilang yang udah
ketauan?" tanyanya lagi.
"eh gue lupa harusnya ga boleh
bilang siapa siapa dulu, yuk Peh kita
pergi biar keburu jam besuknya"
kata Atik yang menarik tangan Ipeh.
"Eh Tik gue ikut deh! gue juga mau
nengokin Lita" kata Anik menyusul
kedua temannya.
"Eh tumben lu ikut Nik, dari
kemarin baru keliatan lu" tanya
Arkan dilantai 1 tempat mereka janji
an ke rumah sakit dijemput oleh
supir Arkan yang diutus oleh babeh
Ali.
"Eh... e..eh iya nih Kan, kemarin tuh
gue lagi ada ekskul PMR jadi ga bisa
ikutan nengokin Lita". jawab Anik
gugup.
"Ekskul? lah Eka ngabarin gue
katanya sementara penyelidikan
berlangsung tidak boleh ada acara
atau ekskul melebihi jam 12 siang
dan itu sudah mulai dari kemarin."
pancing Arkan lagi.
"Eh iya masa sih? gue ada kok
disekolahan dari kemarin, mungkin
ga semua kali" masih dengan gugup
Anik jawab.
Tak lama mobil mewah tiba didepan
sekolahan dan seorang bapak yang
sudah paruh baya turun dari mobil
menjemput Arkan agar masuk ke
dalam mobil bersama ketiga teman
Lita.
"Pa, Feby bisa jagain Adi ga ya
dirumah? dia sekolah ga tuh? mama
kepikiran nih ama mereka dirumah."
kata Rossa yang masih terlihat
lemas diatas ranjangnya disamping
Lita yang masih tidak sadarkan diri
alias koma.
"Papa udah coba telepon ke
rumah, Feby bilang udah nitipin Adi
kerumah omanya sebelum sekolah,
jadi nanti papa pulang kerumah
sekalian jemput Adi aja dari rumah
oma ya ma". "udah mama jangan
mikir macem macem biar anak anak
di rumah papa yang urus". Jawab
Lundi menenangkan Rossa istrinya.
"Selamat siang om...tante..."
kata Arkan, Atik, Ipeh dan Anik.
"Eh kalian datang, sini masuk
baru pulang sekolah yah?" tanya
Lundi melihat teman anaknya masih
memakai seragam.
"Iya om, kami baru saja pulang
sekolah, gimana keadaan tante dan
Lita hari ini om?" tanya Arkan sambil
menghampiri gadis cantik yang ada
disamping ranjang Rossa yang
masih terlihat lemas.
"Sayang....aku datang nih sama Atik
Anik, juga Ipeh sahabat kamu, kamu
senang kan mereka ada disini?"
ucap Arkan pelan sambil mengelus
dahi dan merapikan anak rambut
yang menutupi mata yang belum
juga membuka.
Sambil menemani teman anak
nya yang datang menjenguk, Lundi
juga menerima pesan di handphone
nya dari Arkan yang memintanya
untuk ikut bersandiwara menjebak
seseorang yang dicurigai. Lundi
mengangkat kepalanya dan melihat
Arkan dan mengganggukan kepala
tanda mengerti.
"oh ya om, gimana kelanjutan
kasus Lita? apa Yuli sudah memberi
pengakuan?" pancing Arkan pada
Lundi.
"eh iya Kan, justru itu sebab
nya om nyuruh kamu datang, jadi
menurut polisi ada lagi orang yang
ikut mengompori tindakan Yuli, baru
saja om dapat info nama dan foto
nya, kita cek sama sama yuk diluar"
kata Lundi sambil mengajak Arkan
keluar ruangan.
Atik dan Arkan saling memberi
kode untuk saling memperhatikan
setiap tingkah laku atau gerakan
yang mencurigakan dari teman
mereka.
Tak lama dari Lundi dan Arkan
keluar dari ruangan, Anik berpamitan
dengan alasan takut orangtuanya
mencarinya apabila terlalu sore.
"Loh Om ini kan" teriak Arkan
sengaja dibuat menggantung agar
membuat siapapun yang ingin
mencari tahu info itu menjadi
penasaran, Arkan pura pura kaget
sambil mengedarkan pandangannya
ke sekelilingnya dan melihat ada
gerakan dari arah pintu kamar rawat
Lita yang langsung bersembunyi di
balik tembok ruangan.
"Om ga nyangka Kan, padahal
mereka kan berteman", jawab Lundi
semakin membuat penguping itu jadi
makin penasaran. Dan .......
krek......"lu kok belum pulang Nik?
katanya mau buru buru pulang takut
dicariin, eh lu nguping yah?" teriak
Atik membuat Anik gemetaran takut.
Dan dia berlari kencang menjauhi
mereka dan keluar dari rumah sakit
dengan terburu buru, sampai tidak
melihat ada motor yang sedang
berjalan kencang disampingnya.
"Anik aaaaawaasss" teriak Atik
tapi sudah terlambat, Anik tertabrak
motor dan tubuhnya terlempar jauh
dari tempat dia tertabrak, untung
keadaan jalanan tidak terlalu ramai
sehingga tidak mengenai kendaraan
yang lain.
*****
"Lu lupa udah bikin keluarga
gue jadi hancur, kalau aja nyokap lu
yang bego itu ga ngusir keluarga gue
gue ga bakalan susah gini, gonta
ganti kontrakan karena bokap gue
ga sanggup bayar kontrakan yang
mahal, sementara lu enak enakan
idup tanpa beban, cuma kehilangan
keperawanan doang...sialan lu tau
ga!!!!!!!"
."Gaaaaaaa....pergi lu...pergiiii"
teriakan Lita mengagetkan sekaligus
bersyukur akhirnya Lita tersadar
setelah 3 hari dia koma. Keringat
mengucur dari kening dan kepalanya
membuat orangtuanya panik dan
memanggil dokter dan suster untuk
memeriksa keadaan Lita.
Arkan segera berangkat ke
rumah sakit bersama babehnya saat
pak Lundi mengabarinya kalau Lita
sudah sadar dari komanya. Dalam
perjalanan keduanya tak hentinya
bersyukur untuk keadaan Lita yang
sudah mengkhawatirkan sejak 3 hari
terakhir dirumah sakit.
Disalah satu ruangan di rumah
sakit yang sama terbaring juga Anik
dengan kondisi yang mengenaskan.
3 tulang rusuknya patah karena
benturan kencang di dadanya pada
troktoar setelah dia di tabrak oleh
motor di hari saat dia takut ketahuan
oleh Arkan dan pak Lundi.
Dia sudah sadarkan diri tapi
masih belum bisa dimintai informasi
oleh pihak kepolisian, kepada kedua
temannya Atik dan Ipeh, Anik minta
maaf karena dia sudah membohongi
mereka berdua dan mengakui kalau
dia adalah orang yang sudah
memberikan info kepada Yuli soal
Arkan dan juga Lita.
Arkan yang walaupun marah
pada Anik tidak dapat berbuat lebih
karena masih khawatir dengan Lita
yang saat itu belum sadarkan diri.
"Sayang..akhirnya kamu sadar
mama takut kamu kenapa napa lagi,
jangan tinggalin mama ya Neng".
isak Rossa saat Lita yang terlihat
bingung melihat orang ramai di
kamarnya. Dokter yang datang
memeriksanya meminta Rossa dan
suaminya untuk keluar agar bisa
dilakukan pemeriksaan menyeluruh
tentang kondisi Lita.
"ibu bapak...tolong beri waktu
untuk Lita menyesuaikan diri dulu ya
sepertinya rasa syok yang diterima
nya kali ini lebih fatal dari sebelum
nya, sehingga dia melupakan sedikit
memorynya yang pernah dia alami
baru baru ini." jelas dokter kepada
Orangtua Lita didampingi oleh babe
Ali dan juga Arkan yang setia dalam
setiap keadaan Lita.
"Maksud dokter? Lita amnesia
gitu? hilang ingatan? ya Tuhan kok
bisa jadi kayak gini dok?" tanya ibu
Rossa sambil menahan air matanya
"Iya bu, tapi sifatnya tidak permanen
atau hanya sementara" jelas dokter
lagi.
"Hal ini disebabkan oleh trauma
yang sangat mendalam pak..bu..
jadi alam bawah sadar Lita menutup
diri dari ketakutan yang selama ini
dia rasakan sehingga melupakan hal
tersebut" jelas dokter lagi.
"Kira kira berapa lama dia bisa
kembali dok?" tanya Arkan kali ini.
"semua itu tergantung dari kondisi
fisik dan mental pasien, apabila dia
masih merasa tidak nyaman, akan
tetap dia tutup ingatannya, begitu
juga sebaliknya saat dia sudah
merasa nyaman baru dia bisa ingat
kembali." jawab dokter.
Mereka semua kembali ke
ruangan setelah mendengar
penjelasan dari dokter, Arkan dan
babenya tidak berani mendekat
takut Lita tidak nyaman. Tapi yang
terjadi justru Lita malah tidak kenal
dengan kedua orangtuanya dan
malah memanggil Arkan dan babe
yang menurut Lita tidak asing untuk
nya saat ini.
"Lita ga kenal sama mama?"
isak Rossa pelan melihat Lita justru
takut dekat dengannya.
"kalian siapa? aku ga kenal...Arkan
kamu kenal siapa mereka? babeh?
Lita takut...sayang...kamu jangan
kemana mana temani aku ya" kata
Lita lagi sambil memegang ujung
baju Arkan yang perlahan mendekat
pada Lita.
"Sudah ma, yang penting Lita
udah sadar." jawab Lundi yang ikut
sedih karena Lita juga tidak kenal
dengannya. Dia menyadari bahwa
saat kejadian dulu Lita bisa terluka
adalah saat Rossa begitu percaya
kepada orang yang ternyata justru
menyakiti Lita, mungkin trauma itu
yang terekam oleh Lita membuat
dia melupakan kedua orangtuanya.