Bab X - Kejujuran

2178 Words
Kondisi Lita semakin hari makin membaik, kasus yang diproses oleh pihak kepolisian akhirnya mendapat titik terang, penyebab dan orang lain yang memberi info pada Yuli hingga Yuli bisa menyakiti Lita di area sekolah tanpa ada kemungkinan gagal atau dipergoki oleh orang lain, adalah karena ada orang yang memberikan berita update soal keberadaan Lita dan Arkan. Pihak kepolisian mengirimkan surat panggilan kepada Anik yang masih dirawat dirumah sakit. Walau kondisinya yang sangat parah, tapi dia dapat bekerjasama dengan baik dan tentu saja dibawa tekanan oleh Arkan yang marah padanya saat dia pertama kali sadarkan diri. *** POV Anik "Nih orang keren banget yah, udah kaya, pinter maen basket, maen gitar hahahahaa...duduk sebelah gue pula ih seneng deh" batinku melihat kakak kelas Manajemen Bisnis yang duduk di sebelahku. "Halo kak, nama aku Anik, kakak kelas MB 1 yah? kakak bukannya yang waktu itu manggung di 17 Agustusan kan yah?" tanyaku lagi menyodorkan tangan pada cowo ganteng disamping tapi hanya dicuekin dan dia malah tidur. "Loh kok ujian malah tidur sih kak?" kataku lagi tanpa merasa malu walau sudah dicuekin oleh cowo itu, ternyata walau dia cuek, tapi cowo ini baik loh. Dia ngasih jawaban soal ujian buat aku, lumayan bangetlah buat aku yang males banget belajar, daripada nyontek mending nadah aja kunci jawaban. "Lu dikerjain kali, palingan juga jawaban nya salah semua" kata Lita mengejekku saat kuceritakan soal Arkan saat kita lagi istirahat dikantin. "Iya juga yah Nik, lu yakin bener ga tuh? lah dia aja sering dihukum gara gara males ngerjain tugas masa bisa ngerjain tugas lu?" tambah Atik juga. "Ah emang lu pada iri aja sama gue". sahutku kesal kepada mereka berdua. Heran mereka kok kayaknya ga seneng banget kalau aku deket sama Arkan, jangan-jangan mereka iri, apa cemburu? batinku. Seminggu berlalu, ujian sudah selesai, aku yang baru saja dapat kesempatan menganggumi wajah tampan Arkan menjadi senewen karena dia emang jarang terlihat dikantin maupun di acara-acara sekolah kecuali acara olah raga dan musik. Dia seperti hilang ditelan bumi, karena bete tidak mendapat pemandangan yang bagus saat classmeeting aku akhirnya ikut Lita yang katanya mau tidur diperpus. Brukkk...."B aja keles" teriak Lita yang kaget karena ada seorang pria menjatuhkan kepala dan tubuhnya disebrang meja Lita berhadap - hadapan saat aku lihat siapa orangnya betapa kaget ternyata dia adalah Arkan, cowo yang selama aku cari tapi tidak kunjung ketemu dan baru saja malah ada dihadapan kami. Petugas perpustakaan yang marah mengancam pada Lita untuk keluar ruangan kalau masih tidak dapat tenang akhirnya pun terdiam. "Ta....bangun Ta." kataku pada Lita agak keras, "ehmmm.. napa sih?" tanya Lita padaku. ku senggol dia dan kasih kode ke arah depannya yaitu orang yang sudah bikin dia kaget tadi adalah cowo yang aku suka. Aku menawarkan traktiran untuk Lita walau ga tau uang dari mana, asal dia mau menjodohkan aku dan Arkan. "Ah masa? tapi gue maunya lu yang jadi cewe.gue" kata Arkan saat Lita memberitahukan Arkan tentang perasaanku...iya aku yang suka dia, tapi kenapa cowo ini malah suka sama Lita yang jadi mak comblangku? batinku makin kesal rasa sakit yang menusuk dadaku, Shit....kenapa harus Lita yang harus disukain Arkan. Aku yang duluan suka sama Arkan, tapi kenapa cowo ini malah suka ama Lita. Aku berlari ke kelas karena ga terima kejadian tadi, entah kenapa aku mendadak benci sekali mendengar Arkan suka pada Lita, padahal belum tentu juga Lita suka sama Arkan. "Lah Nik ..kenapa lu pergi? ada juga lu deketin terus napa jadi pergi gue kan cuma niat bantuin doang, kalau dia ga mau kudu gimana lagi?" kata Lita ikutan bete disampingku. "Eh ga kok ta...iya gapapa...yuk kita.ke kantin yuk" ajak ku sambil keluar kelas menuju kantin lantai 1. Seperti biasa Lita nyuruh aku untuk memesan makanan dan minuman sedangkan dia bertugas cari tempat duduk untuk kami. Karena dia judes jadi orang juga ga berani lawan dia, ada untungnya sih. he he... Saat sedang mengantri makan aku melihat Arkan mengintip dari jendela kelasnya yang kebetulan ada disamping kantin, dia melihat ke arah kantin hendak memesan juga sebelum dia melihat ada Lita disana Entah apa yang merasukiku, sampai aku menghampiri dia dan berkata padanya dibalik jendela itu, "Kalau kakak mau pdkt ama Lita, tuh dia ada dikantin...kakak traktir dia aja, pasti dia seneng" kataku sambil menunjuk ke arah Lita yang duduk menjaga bangku untuk kami. Aku masih dengan tidak tahu malu tetap memasang wajah memuja padanya. Walau sedikit kesal, aku tahan saat Arkan menghampiri Lita dan mengumumkan ke semua orang di kantin kalau Lita adalah pacarnya, bahkan dia mengancam kalau ada orang yang nyakitin atau gangguin Lita akan berhadapan sama dia. "ish...lebay....kenapa juga dia harus ngomong kayak gitu sih? kaya cewe cuma ada Lita doang!" kataku lagi menahan rasa cemburu akibat sikap Arkan yang sangat perhatian pada Lita. Sudah sebulan sejak Lita dan Arkan jadian, mereka masih seperti semula, Arkan jemput dan ajak Lita ke sekolah sampai sekolah makan di kantin, antar Lita ke kelas, istirahat dijemput terus selesai diantar lagi, pulang diantar pulang dengan motor mewah, diajak jalan jalan sebelum pulang sekolah. Dan aku hanya jadi tempat curhat Lita aja, pernah suatu ketika saat liburan semester, Lita dan band Arkan latihan dan disana Lita ikut juga, yang ternyata Lita sakit dan juga pingsan saat bertemu dengan penjahat yang pernah merusaknya. Bingung kenapa aku bisa tahu? ya tentu saja dari Lita lah yang kasih tahu, bahkan kejadian 3 tahun yang lalu diceritakannya semua padaku karena dia sangat percaya padaku. Tapi karena aku cemburu, aku tidak merasa perlu berteman lagi dengannya hanya untuk mencari manfaat saja, secara Lita adalah teman yang rajin, dia sering traktir makan. Apalagi setelah berpacaran sama Arkan yang adalah anak orang kaya, dia juga pinter jadi berteman dengannya tidak terlalu rugi selain rasa cemburu saja. Suatu hari ada seorang gadis yang kuperhatikan sering kali bolak balik ke sekolah kami, dengan pakaian bebas, dia sering kali melihat dan mengawasi Arkan. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli, bahkan senang senang saja melihat Arkan disukai cewe lain yang artinya Lita pasti sakit hati, dan aku akan dapat kesempatan dekat lagi dengan Arkan. Karena penasaran segera saja aku tegor, "Woi, lu gue perhatiin kok sering banget lewat depan sekolahan gue yah? mindik- mindik udah kayak maling!" teriakku padanya yang kaget melihatku menegornya. "Ga kok, gue cuma lagi lewat aja". jawab cewe itu tanpa melepas pandangannya dari sosok yang aku kenal, yaitu Arkan dan Lita yang bersiap pulang dengan motornya. "Lu kenal sama Arkan dan Lita?" tanyaku lagi. "Kenal lah!" "eh ga kok" jawab nya lagi tapi dari mukanya aku tahu dia berbohong. "Udah cerita aja, lu kenal dia dimana? lu cewenya?" pancingku. "Ga kok, bukan enak aja, pernah tapinya" jawabnya lagi. "pas kapan lu jadian? lu anak sini juga?" tanyaku lagi. "Bukan kok, gue dulu jadian pas waktu smp bukan sekarang ini. Lagian dia sekarang udah banyak berubah, dulu mana pernah dia mau bonceng cewe kayak gitu" jelasnya lagi padaku yang tiba-tiba merasa ada teman komplotan yang baik untuk membalaskan kesalku pada Lita yang adalah sahabatku. Namanya Yuli, dia sangat menyukai Arkan sepertiku, tapi dia mencintai dalam cara yang ekstrim menurutku, sedangkan aku menyukai dan ingin memanfaatkan, rasa benci dan kesal ketika dia memilih Lita daripadaku membuatku gelap mata. Aku bahkan mengorbankan teman sendiri yang sedang berbahagia. Setelah pertemuan pertama dengan Yuli, aku terbakar emosi yang berapi-api sehingga dengan tega membuat rencana kejahatan untuk mereka berdua bersama dengan Yuli yang merasa cintanya sudah banyak pengorbanan pada Arkan, mulai dari mencari informasi tempat tinggal, sekolah, bahkan hubungan Lita dan Arkan yang membuat dia semakin kesal pada Lita. Dia mempunyai keluarga yang sangat memanjakannya, orangtua Yuli adalah pengusaha cuma sayang mereka kurang perhatian terhadap Yuli sehingga putri mereka sangat haus akan kasih sayang hingga membuatnya menjadi sosok egois dan ambisius demi mencapai yang dia mau, salah satunya adalah Arkan. Yuli bahkan meminta anak buah papanya, anak muda yang putus sekolah karena tidak ada biaya, dia yang awalnya adalah pekerja kasar, bisa mendapat jabatan yang lumayan basah, karena menjadi bodyguard sekaligus pemantau gerak gerik Arkan dari semenjak 2 tahun yang lalu. Seperti mendapat lotre, saat Yuli mendapat informasi dari Andi anak buah papanya itu bahwa dia adalah orang dari masa lalu Lita yang membuat Lita mempunyai trauma yang mendalam, bahkan dulu beberapa kali Lita mencoba membunuh dirinya sendiri. Andi laki-laki yang menoreh luka dalam kehidupan Lita, ikut membantu proses pencarian info tentang Arkan dan Lita, dia juga yang membututi Arkan dan Lita selama ini. 1 minggu setelah pertemuan aku dan Yuli untuk kedua kalinya kami sepakat untuk membuat orang orang yang sudah menyakiti kami untuk merasakan apa yang kami berdua rasakan. Andi sosok yang dulu sempet aku benci karena menyakiti Lita sekarang menjadi sekutuku untuk membantuku dan Yuli membalas sakit hati karena Arkan tak kunjung menerima perasaan kami berdua, untuk Lita hanya sebagai korban karena kami berdua lebih fokus untuk meminta hati Arkan lebih tepatnya. Hari yang aku dan Yuli tunggu datang juga, Yuli berhasil masuk sekolahku, dia berhasil membuat dirinya diterima disekolah ini di tengah tahun pelajaran. Aku yang sudah menginfokan semua kebiasaan dan jadwal sepasang sejoli harus berpura pura tidak mengenal Yuli didepan Arkan maupun Lita. "Mereka tuh kalau pagi gini suka datang ke kantin buat makan, trus Arkan anterin Lita ke kelas dan belajar, jam istirahat dia bakal jemput lagi Lita ke kelas dan makan bareng lagi dikantin, gitu aja terus sampai jam pulang mereka pulang bareng lagi" jelasku pada Yuli. Yuli yang sudah tidak sabaran mengangguk tanda mengerti, dia merencanakan akan mencari gara gara dengan Lita sehingga dia jadi marah dan membuat mereka kesal, dan bertengkar, sesuai dengan info yang aku berikan kalau Arkan tuh paling ga bisa kalau liat Lita marah pasti dia akan memarahi dan ujung ujungnya mereka akan diam-diaman. Bruk......"Woi kalau jalan tuh liat-liat dong! seenaknya aja lu nabrak gue" terdengar suara Lita marah pada Yuli yang kentar sekali kalau dia menabrak Lita dilorong depan ruang kepala sekolah menuju kantin. Aku yang sembunyi di tembok arah tangga melihat kalau Lita sangat emosi tapi langsung di tahan oleh Arkan dan menariknya ke lantai 2 menuju kantin satunya lagi. Beruntung mereka tidak jalan ke arah tangga tempat aku sembunyi Yuli makin marah melihat sikap cowo yang selama ini dicarinya malah mesra pada Lita, sedangkan aku tidak jauh berbeda dengannya. Yuli masuk ruangan kelas kami dengan mengikuti arahan dari bu Nur wali kelas kami yang humble dan sangat gaul itu, ku lihat reaksi Lita yang marah melihat Yuli berdiri di depan kelas dan diperkenalkan oleh bu Nur sebagai murid baru dikelas kami. "Nik, lu tau ga? tuh anak cari masalah ama gue, tadi pagi dia masa nabrak gue depan kantin, tapi malah pergi bukannya minta maaf, udah gitu mukanya songong gitu, eh dia malah anak baru juga dikelas kita". keluh Lita dengan muka kesalnya. "Trus biasanya lu bisa lawan kenapa sekarang lu diem aja?" tanyaku kemudian. "Nah tuh dia ada Arkan, lu tau sendiri Arkan mana ngasih gue berantem sih, katanya malu nanti kalau punya pacar bar-bar". jawab Lita lagi padaku. Bel pelajaran bu Nur sudah berakhir, dengan gayanya yang khas dia kembali mengingatkan bahwa menjadi sekretaris dan sederet kewajiban yang harus di miliki oleh seorang sekretaris karena dia adalah guru stenografi sekaligus wali kelas kami. Pelajaran berikutnya adalah olah raga, aku memberi kode pada Yuli agar segera turun dan bertemu di tangga lantai 2 dimana ada kamar mandi lain selain di lantai 3. "Pokoknya dilapangan nanti kalau gue udah kasih jempol artinya lu udah boleh timpuk dia pake bola" kataku pada Yuli. "Sekalian kita tes apa dia itu bener kepala batu atau keras kepala sih" kekeh Yuli bersama denganku. Pengambilan nilai volley sudah berakhir, aku dan Lita duduk beristirahat sejenak sambil bicara soal Penerimaan Tamu Penegak disekolah kami yang wajib diikuti oleh anak-anak kelas 1 saja. Ketika anak-anak mulai beranjak pergi ke kantin karena waktunya istirahat, aku memberi kode pada Yuli dengan jempolku. Dan...................Lita pingsan Aku dan Yuli pura-pura menolong Lita yang pingsan setelah terkena bola volley dikepalanya, sengaja aku usulkan untuk melakukannya hari ini, karena kelas 3 sedang ada latihan untuk praktek dilantai 3 harusnya sih Arkan tidak dapat infonya, batinku dengan yakin. Aku mendengar suara teriak Lita ke arah Yuli saat dia kembali ke kelas dengan muka yang masih memerah kena bola volley yang dilempar oleh Yuli. "Maksud lu apaan sih? perasaan gue ga ada masalah ama lu, tapi kenapa kesannya lu cari-cari masalah ya ama gue?" kata Lita dengan judes. Aku yang pura-pura peduli pada Lita ikut berteriak pada Yuli bermaksud untuk memojokkannya, karena Yuli tanpa peduli dia berjalan keluar kelas dengan santai, dan Arkan segera mengejarnya dan menarik tangannya untuk kembali ke kelas untuk memberikan penjelasan. Aku tegang melihat reaksi Arkan yang begitu marah melihat Yuli pergi, dan bahkan lebih marah lagi saat Yuli mengatakan yang sebenarnya pada Arkan. sikap pura-pura tidak tahuku kuteruskan bahkan saat akhirnya Yuli melukai Lita dengan gunting kecil yang entah kapan dibawa oleh Yuli diluar kesepatan kami. Dan ketika akhirnya Yuli ditahan oleh polisi, aku dengan takut segera menghubunginya dan memintanya agar aku tidak dilibatkan dalam masalah ini, tapi naas bagiku saat ingin mencari tahu tentang kelanjutan kasus itu, aku malah secara tidak langsung malah membuka sendiri kedokku didepan Arkan dan kedua sahabatku yang lain, dan juga menyebabkan diriku kecelakaan dan terluka sangat parah hingga sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD