Kondisi Lita semakin hari makin
membaik, kasus yang diproses oleh
pihak kepolisian akhirnya mendapat
titik terang, penyebab dan orang lain
yang memberi info pada Yuli hingga
Yuli bisa menyakiti Lita di area
sekolah tanpa ada kemungkinan
gagal atau dipergoki oleh orang lain,
adalah karena ada orang yang
memberikan berita update soal
keberadaan Lita dan Arkan.
Pihak kepolisian mengirimkan
surat panggilan kepada Anik yang
masih dirawat dirumah sakit. Walau
kondisinya yang sangat parah, tapi
dia dapat bekerjasama dengan baik
dan tentu saja dibawa tekanan oleh
Arkan yang marah padanya saat dia
pertama kali sadarkan diri.
***
POV Anik
"Nih orang keren banget yah, udah
kaya, pinter maen basket, maen gitar
hahahahaa...duduk sebelah gue pula
ih seneng deh" batinku melihat
kakak kelas Manajemen Bisnis yang
duduk di sebelahku.
"Halo kak, nama aku Anik, kakak
kelas MB 1 yah? kakak bukannya
yang waktu itu manggung di 17
Agustusan kan yah?" tanyaku lagi
menyodorkan tangan pada cowo
ganteng disamping tapi hanya
dicuekin dan dia malah tidur.
"Loh kok ujian malah tidur sih
kak?" kataku lagi tanpa merasa malu
walau sudah dicuekin oleh cowo itu,
ternyata walau dia cuek, tapi cowo
ini baik loh. Dia ngasih jawaban soal
ujian buat aku, lumayan bangetlah
buat aku yang males banget belajar,
daripada nyontek mending nadah
aja kunci jawaban.
"Lu dikerjain kali, palingan juga
jawaban nya salah semua" kata Lita
mengejekku saat kuceritakan soal
Arkan saat kita lagi istirahat dikantin.
"Iya juga yah Nik, lu yakin bener ga
tuh? lah dia aja sering dihukum gara
gara males ngerjain tugas masa bisa
ngerjain tugas lu?" tambah Atik juga.
"Ah emang lu pada iri aja sama
gue". sahutku kesal kepada mereka
berdua. Heran mereka kok kayaknya
ga seneng banget kalau aku deket
sama Arkan, jangan-jangan mereka
iri, apa cemburu? batinku.
Seminggu berlalu, ujian sudah
selesai, aku yang baru saja dapat
kesempatan menganggumi wajah
tampan Arkan menjadi senewen
karena dia emang jarang terlihat
dikantin maupun di acara-acara
sekolah kecuali acara olah raga dan
musik. Dia seperti hilang ditelan
bumi, karena bete tidak mendapat
pemandangan yang bagus saat
classmeeting aku akhirnya ikut Lita
yang katanya mau tidur diperpus.
Brukkk...."B aja keles" teriak Lita
yang kaget karena ada seorang pria
menjatuhkan kepala dan tubuhnya
disebrang meja Lita berhadap -
hadapan saat aku lihat siapa
orangnya betapa kaget ternyata dia
adalah Arkan, cowo yang selama
aku cari tapi tidak kunjung ketemu
dan baru saja malah ada dihadapan
kami. Petugas perpustakaan yang
marah mengancam pada Lita untuk
keluar ruangan kalau masih tidak
dapat tenang akhirnya pun terdiam.
"Ta....bangun Ta." kataku pada
Lita agak keras,
"ehmmm.. napa sih?" tanya Lita
padaku. ku senggol dia dan kasih
kode ke arah depannya yaitu orang
yang sudah bikin dia kaget tadi
adalah cowo yang aku suka. Aku
menawarkan traktiran untuk Lita
walau ga tau uang dari mana, asal
dia mau menjodohkan aku dan
Arkan.
"Ah masa? tapi gue maunya lu
yang jadi cewe.gue" kata Arkan saat
Lita memberitahukan Arkan tentang
perasaanku...iya aku yang suka dia,
tapi kenapa cowo ini malah suka
sama Lita yang jadi mak comblangku?
batinku makin kesal rasa sakit yang
menusuk dadaku, Shit....kenapa harus
Lita yang harus disukain Arkan.
Aku yang duluan suka sama Arkan,
tapi kenapa cowo ini malah suka ama
Lita. Aku berlari ke kelas karena ga
terima kejadian tadi, entah kenapa aku
mendadak benci sekali mendengar Arkan
suka pada Lita, padahal belum tentu juga
Lita suka sama Arkan.
"Lah Nik ..kenapa lu pergi? ada
juga lu deketin terus napa jadi pergi
gue kan cuma niat bantuin doang,
kalau dia ga mau kudu gimana lagi?"
kata Lita ikutan bete disampingku.
"Eh ga kok ta...iya gapapa...yuk
kita.ke kantin yuk" ajak ku sambil
keluar kelas menuju kantin lantai 1.
Seperti biasa Lita nyuruh aku
untuk memesan makanan dan
minuman sedangkan dia bertugas
cari tempat duduk untuk kami.
Karena dia judes jadi orang juga ga
berani lawan dia, ada untungnya sih.
he he...
Saat sedang mengantri makan
aku melihat Arkan mengintip dari
jendela kelasnya yang kebetulan ada
disamping kantin, dia melihat ke
arah kantin hendak memesan juga
sebelum dia melihat ada Lita disana
Entah apa yang merasukiku,
sampai aku menghampiri dia dan
berkata padanya dibalik jendela itu,
"Kalau kakak mau pdkt ama Lita, tuh
dia ada dikantin...kakak traktir dia
aja, pasti dia seneng" kataku sambil
menunjuk ke arah Lita yang duduk
menjaga bangku untuk kami. Aku
masih dengan tidak tahu malu tetap
memasang wajah memuja padanya.
Walau sedikit kesal, aku tahan
saat Arkan menghampiri Lita dan
mengumumkan ke semua orang di
kantin kalau Lita adalah pacarnya,
bahkan dia mengancam kalau ada
orang yang nyakitin atau gangguin
Lita akan berhadapan sama dia.
"ish...lebay....kenapa juga dia
harus ngomong kayak gitu sih? kaya
cewe cuma ada Lita doang!" kataku
lagi menahan rasa cemburu akibat
sikap Arkan yang sangat perhatian
pada Lita.
Sudah sebulan sejak Lita dan
Arkan jadian, mereka masih seperti
semula, Arkan jemput dan ajak Lita
ke sekolah sampai sekolah makan di
kantin, antar Lita ke kelas, istirahat
dijemput terus selesai diantar lagi,
pulang diantar pulang dengan motor
mewah, diajak jalan jalan sebelum
pulang sekolah.
Dan aku hanya jadi tempat
curhat Lita aja, pernah suatu ketika
saat liburan semester, Lita dan band
Arkan latihan dan disana Lita ikut
juga, yang ternyata Lita sakit dan
juga pingsan saat bertemu dengan
penjahat yang pernah merusaknya.
Bingung kenapa aku bisa tahu?
ya tentu saja dari Lita lah yang kasih
tahu, bahkan kejadian 3 tahun yang
lalu diceritakannya semua padaku
karena dia sangat percaya padaku.
Tapi karena aku cemburu, aku tidak
merasa perlu berteman lagi dengannya
hanya untuk mencari manfaat saja,
secara Lita adalah teman yang rajin,
dia sering traktir makan. Apalagi
setelah berpacaran sama Arkan yang
adalah anak orang kaya, dia juga
pinter jadi berteman dengannya
tidak terlalu rugi selain rasa cemburu
saja.
Suatu hari ada seorang gadis
yang kuperhatikan sering kali bolak
balik ke sekolah kami, dengan
pakaian bebas, dia sering kali
melihat dan mengawasi Arkan.
Sebenarnya aku tidak terlalu
peduli, bahkan senang senang saja
melihat Arkan disukai cewe lain
yang artinya Lita pasti sakit hati,
dan aku akan dapat kesempatan
dekat lagi dengan Arkan. Karena
penasaran segera saja aku tegor,
"Woi, lu gue perhatiin kok
sering banget lewat depan
sekolahan gue yah? mindik- mindik
udah kayak maling!" teriakku
padanya yang kaget melihatku
menegornya.
"Ga kok, gue cuma lagi lewat
aja". jawab cewe itu tanpa melepas
pandangannya dari sosok yang aku
kenal, yaitu Arkan dan Lita yang
bersiap pulang dengan motornya.
"Lu kenal sama Arkan dan
Lita?" tanyaku lagi.
"Kenal lah!" "eh ga kok" jawab
nya lagi tapi dari mukanya aku tahu
dia berbohong.
"Udah cerita aja, lu kenal dia
dimana? lu cewenya?" pancingku.
"Ga kok, bukan enak aja, pernah
tapinya" jawabnya lagi.
"pas kapan lu jadian? lu anak
sini juga?" tanyaku lagi.
"Bukan kok, gue dulu jadian
pas waktu smp bukan sekarang ini.
Lagian dia sekarang udah banyak
berubah, dulu mana pernah dia mau
bonceng cewe kayak gitu" jelasnya
lagi padaku yang tiba-tiba merasa
ada teman komplotan yang baik
untuk membalaskan kesalku pada
Lita yang adalah sahabatku.
Namanya Yuli, dia sangat
menyukai Arkan sepertiku, tapi
dia mencintai dalam cara yang
ekstrim menurutku, sedangkan
aku menyukai dan ingin
memanfaatkan, rasa benci dan
kesal ketika dia memilih Lita
daripadaku membuatku gelap mata.
Aku bahkan mengorbankan teman
sendiri yang sedang berbahagia.
Setelah pertemuan pertama
dengan Yuli, aku terbakar emosi
yang berapi-api sehingga dengan
tega membuat rencana kejahatan
untuk mereka berdua bersama
dengan Yuli yang merasa cintanya
sudah banyak pengorbanan pada
Arkan, mulai dari mencari informasi
tempat tinggal, sekolah, bahkan
hubungan Lita dan Arkan yang
membuat dia semakin kesal pada Lita.
Dia mempunyai keluarga yang
sangat memanjakannya, orangtua
Yuli adalah pengusaha cuma sayang
mereka kurang perhatian terhadap
Yuli sehingga putri mereka sangat
haus akan kasih sayang hingga
membuatnya menjadi sosok egois
dan ambisius demi mencapai yang
dia mau, salah satunya adalah Arkan.
Yuli bahkan meminta anak buah
papanya, anak muda yang putus
sekolah karena tidak ada biaya, dia
yang awalnya adalah pekerja kasar,
bisa mendapat jabatan yang lumayan
basah, karena menjadi bodyguard
sekaligus pemantau gerak gerik
Arkan dari semenjak 2 tahun yang
lalu.
Seperti mendapat lotre, saat
Yuli mendapat informasi dari Andi
anak buah papanya itu bahwa dia
adalah orang dari masa lalu Lita
yang membuat Lita mempunyai
trauma yang mendalam, bahkan
dulu beberapa kali Lita mencoba
membunuh dirinya sendiri.
Andi laki-laki yang menoreh
luka dalam kehidupan Lita, ikut
membantu proses pencarian info
tentang Arkan dan Lita, dia juga
yang membututi Arkan dan Lita
selama ini.
1 minggu setelah pertemuan
aku dan Yuli untuk kedua kalinya
kami sepakat untuk membuat orang
orang yang sudah menyakiti kami
untuk merasakan apa yang kami
berdua rasakan.
Andi sosok yang dulu sempet
aku benci karena menyakiti Lita
sekarang menjadi sekutuku untuk
membantuku dan Yuli membalas
sakit hati karena Arkan tak kunjung
menerima perasaan kami berdua,
untuk Lita hanya sebagai korban
karena kami berdua lebih fokus
untuk meminta hati Arkan lebih
tepatnya.
Hari yang aku dan Yuli tunggu
datang juga, Yuli berhasil masuk
sekolahku, dia berhasil membuat
dirinya diterima disekolah ini di
tengah tahun pelajaran.
Aku yang sudah menginfokan
semua kebiasaan dan jadwal
sepasang sejoli harus berpura pura
tidak mengenal Yuli didepan Arkan
maupun Lita.
"Mereka tuh kalau pagi gini
suka datang ke kantin buat makan,
trus Arkan anterin Lita ke kelas
dan belajar, jam istirahat dia bakal
jemput lagi Lita ke kelas dan makan
bareng lagi dikantin, gitu aja terus
sampai jam pulang mereka pulang
bareng lagi" jelasku pada Yuli.
Yuli yang sudah tidak sabaran
mengangguk tanda mengerti, dia
merencanakan akan mencari gara
gara dengan Lita sehingga dia jadi
marah dan membuat mereka kesal,
dan bertengkar, sesuai dengan info
yang aku berikan kalau Arkan tuh
paling ga bisa kalau liat Lita marah
pasti dia akan memarahi dan ujung
ujungnya mereka akan diam-diaman.
Bruk......"Woi kalau jalan tuh
liat-liat dong! seenaknya aja lu
nabrak gue" terdengar suara Lita
marah pada Yuli yang kentar sekali
kalau dia menabrak Lita dilorong
depan ruang kepala sekolah menuju
kantin.
Aku yang sembunyi di tembok arah
tangga melihat kalau Lita sangat
emosi tapi langsung di tahan oleh
Arkan dan menariknya ke lantai 2
menuju kantin satunya lagi.
Beruntung mereka tidak jalan
ke arah tangga tempat aku sembunyi
Yuli makin marah melihat sikap cowo
yang selama ini dicarinya malah mesra
pada Lita, sedangkan aku tidak jauh
berbeda dengannya.
Yuli masuk ruangan kelas kami
dengan mengikuti arahan dari bu Nur
wali kelas kami yang humble dan
sangat gaul itu, ku lihat reaksi Lita
yang marah melihat Yuli berdiri di
depan kelas dan diperkenalkan oleh
bu Nur sebagai murid baru dikelas
kami.
"Nik, lu tau ga? tuh anak cari
masalah ama gue, tadi pagi dia masa
nabrak gue depan kantin, tapi malah
pergi bukannya minta maaf, udah
gitu mukanya songong gitu, eh dia
malah anak baru juga dikelas kita".
keluh Lita dengan muka kesalnya.
"Trus biasanya lu bisa lawan
kenapa sekarang lu diem aja?"
tanyaku kemudian.
"Nah tuh dia ada Arkan, lu tau
sendiri Arkan mana ngasih gue
berantem sih, katanya malu nanti
kalau punya pacar bar-bar". jawab
Lita lagi padaku.
Bel pelajaran bu Nur sudah
berakhir, dengan gayanya yang
khas dia kembali mengingatkan
bahwa menjadi sekretaris dan
sederet kewajiban yang harus di
miliki oleh seorang sekretaris
karena dia adalah guru stenografi
sekaligus wali kelas kami.
Pelajaran berikutnya adalah
olah raga, aku memberi kode pada
Yuli agar segera turun dan bertemu
di tangga lantai 2 dimana ada kamar
mandi lain selain di lantai 3.
"Pokoknya dilapangan nanti kalau
gue udah kasih jempol artinya lu
udah boleh timpuk dia pake bola"
kataku pada Yuli.
"Sekalian kita tes apa dia itu bener
kepala batu atau keras kepala sih"
kekeh Yuli bersama denganku.
Pengambilan nilai volley
sudah berakhir, aku dan Lita duduk
beristirahat sejenak sambil bicara
soal Penerimaan Tamu Penegak
disekolah kami yang wajib diikuti
oleh anak-anak kelas 1 saja.
Ketika anak-anak mulai beranjak
pergi ke kantin karena waktunya
istirahat, aku memberi kode pada
Yuli dengan jempolku.
Dan...................Lita pingsan
Aku dan Yuli pura-pura menolong
Lita yang pingsan setelah terkena
bola volley dikepalanya, sengaja
aku usulkan untuk melakukannya
hari ini, karena kelas 3 sedang ada
latihan untuk praktek dilantai 3
harusnya sih Arkan tidak dapat
infonya, batinku dengan yakin.
Aku mendengar suara teriak
Lita ke arah Yuli saat dia kembali
ke kelas dengan muka yang masih
memerah kena bola volley yang
dilempar oleh Yuli.
"Maksud lu apaan sih? perasaan
gue ga ada masalah ama lu, tapi
kenapa kesannya lu cari-cari
masalah ya ama gue?" kata Lita
dengan judes.
Aku yang pura-pura peduli
pada Lita ikut berteriak pada Yuli
bermaksud untuk memojokkannya,
karena Yuli tanpa peduli dia berjalan
keluar kelas dengan santai, dan Arkan
segera mengejarnya dan menarik
tangannya untuk kembali ke kelas untuk
memberikan penjelasan.
Aku tegang melihat reaksi Arkan
yang begitu marah melihat Yuli pergi,
dan bahkan lebih marah lagi saat Yuli
mengatakan yang sebenarnya pada Arkan.
sikap pura-pura tidak tahuku kuteruskan
bahkan saat akhirnya Yuli melukai Lita
dengan gunting kecil yang entah kapan
dibawa oleh Yuli diluar kesepatan kami.
Dan ketika akhirnya Yuli ditahan
oleh polisi, aku dengan takut segera
menghubunginya dan memintanya agar
aku tidak dilibatkan dalam masalah ini,
tapi naas bagiku saat ingin mencari tahu
tentang kelanjutan kasus itu, aku malah
secara tidak langsung malah membuka
sendiri kedokku didepan Arkan dan
kedua sahabatku yang lain, dan juga
menyebabkan diriku kecelakaan dan
terluka sangat parah hingga sekarang.