Bab VI - Yakin Pilih Dia?

2867 Words
Bruk..... tampak seorang gadis jatuh setelah tubuhnya ditabrak oleh seorang gadis lainnya yang berjalan sambil melihat kebelakang dan tidak menyadari dirinya sudah menabrakl gadis lain, tapi bukannya meminta maaf gadis itu malah berlari ke arah kantin membuat gadis yang ditabraknya menjadi kesal dan menyusulnya dan mencarinya untuk membuat perhitungan dengannya walau masih pagi sekali disekolah hari ini. "Woi...jangan lari lu...enak aja abis nabrak bukan minta maaf malah kabur. " teriak Lita sambil berlari ke arah kantin yang akhirnya terhenti karena ditahan oleh Arkan kekasihnya. "Sayang...hus ..masih pagi ..jangan cari masalah ya" kata Arkan sambil menarik tangan Lita menjauh dari kantin dan menuju lantai 2 dimana ada kantin kecil juga disana. " Sini duduk sayang...udah kita sarapan disini aja ya...maaf ya aku tadi telat bangun jadi cuma bisa jemput kamu aja ga ajak kamu sarapan di jalan, kamu mau pesen apa sayang?" tanya Arkan masih memegang tangan Lita yang terlihat masih emosi karena kejadian tadi. Aku mau bihun goreng aja deh yank, jadi males makan sebenernya tapi kan pacar aku bawel banget kalau aku ga makan, ya mau gimana lagi?". kata Lita mengangkat bahu tanda meledek Arkan. "He he he...kamu harus makan dong sayang..nanti kalau kamu kurus, aku ga bisa ngerasain goyangan kamu yang seksi lagi dong". kata Arkan sambil berbisik di kuping Lita dan langsung dapat hadiah cubitan dari tangan Lita yang sadis. "Dasar kamu tuh ya.....aku kan jadi malu". muka Lita seketika jadi merah karena ucapan Arkan itu. "Ya elah...cuma aku sama kamu yang denger ..ngapain malu" ledek Arkan lagi. Bel masuk berbunyi Arkan ikut mengantar kesayangannya ke lantai 3 dan kembali ke kelasnya dilantai 1. Di dalam kelasnya Lita merasa kesal lagi karena ternyata buku prnya lupa terbawa, dan gurunya itu adalah wali kelasnya Ibu Nuraini Harapan yang mengajar stenografi. "Mateng gue .....tuh buku ngapa pake acara ketinggalan sih..". gerutu Lita dalam hatinya. Baru saja sosok wali kelasnya masuk diikuti oleh murid baru yang akan belajar dikelas itu. Saat Lita mengangkat kepalanya di lihatnya orang yang menabraknya tadi dilorong kantin berdiri di depan kelas dengan muka yang terlihat sombong sekali. "Dia kan yang tadi pagi nabrak gue". kata Lita pada Anik teman sebangkunya. Anik mencolek Atik dan Ipeh yang ikut melihat ke arah anak baru tersebut, tatapan tidak bersahabat mereka berikan pada sosok anak gadis didepan kelas dan di balas dengan senyuman penuh ejekan dari bibirnya. "Wah...songong nih anak, belum tau gue siapa kali!...". kata Atik yang bertubuh kecil tapi mempunyai banyak dekingan tersebut. Wali kelas mereka mempersilahkan Yuli nama anak baru tersebut duduk di sebrang barisan kanan Ipeh dan Atik dan ketika dia duduk dibangku itu Ipeh dan Atik menyambut dengan tatapan mata tak santai mereka. Selama pelajaran berlangsung Lita tidak dapat menutupi perubahan raut wajahnya yang kesal, hal itu juga disadari oleh bu Nuraini yang langsung meminta Lita untuk maju dan menulis catatan di white board kelas karena Lita adalah sekretaris 1 dikelasnya dan masih ada 1 orang lagi. Selagi Lita menulis di white board ketiga sahabatnya masih menunjuk kan wajah tidak bersahabat mereka pada Yuli anak baru tersebut. Neeeet........suara bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, jam pelajaran berikutnya adalah olah raga, seluruh murid bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan juga memakai topi agar tidak kepanasan. Lita dan ketiga sahabatnya juga ikut keluar kelas menuju kamar mandi lantai 2 karena lantai 3 sudah penuh dengan teman teman mereka yang lain. "Woi, santai dong.....teriak Atik pada seorang gadis berkuncir kuda yang menabrak dirinya saat hendak memasuki kamar mandi, lagi lagi anak yang menabrak Atik juga tidak meminta maaf malah meloyor ke luar kamar mandi untuk turun ke lapangan dilantai 1. Suara godaan dan teriakan para senior pria dilantai 1 membuat suasana olah raga kelas Lita jadi sedikit berisik, mereka berteriak dan menggoda anak baru yang terlihat sombong sampai memakai payung dan juga kipas angin portable untuk menghilangkan rasa kepanasannya. "Woi ada anak baru cakep eui", teriak salah satu senior di lantai 1 yang adalah kakak kelas 3, para pria tersebut menggoda karena memang Yuli memiliki wajah yang cantik dan ayu, dengan warna kulit yang putih pucat membuat dia terlihat menonjol di antara teman teman sekelasnya yang rata rata berkulit sawo matang. "Boleh nih kenalan, caem anget cih amoh...." kata Dennis senior accounting yang terkenal playboy dan sedang berjalan di lorong ke arah lapangan olah raga. "wah playboy sedang menuai umpan nih kayaknya" kata Eka sang ketua kelas yang kebetulan melintas melewati lapangan olah raga dan ternyata menghampiri Lita yang baru saja selesai mengambil bola volley untuk pengambilan nilai hari itu. "Selamat siang Ta, maaf boleh ganggu waktunya sebentar?" tanya Eka dengan sopan. Lita menengok dan mendapati ketua OSIS mereka dan segera menganggukan kepala setelah sebelumnya menyerahkan bola kepada teman temannya dan meminta ijin kepada pak Agus guru olah raga mereka. "Ta, kata Arkan kamu mau ikut acara PerSaMi minggu depan?". tanya Eka yang langsung mendapat anggukan kepala dari Lita yang sangat antusias.... Secara tidak mudah baginya untuk mendapatkan ijin tersebut dari mamanya. "Gini Ta...setelah acara senam pagi dihari minggu akan ada beberapa penampilan seni untuk melepas dan menyambut penerimaan tamu penegak, dan rencananya kita mau minta kamu untuk ikut dalam acara itu bersama Arkan yang akan main band disana, saya denger juga kamu dan Arkan kan sering ngeband, jadi harusnya udah kompak deh yak". kata Eka lanjut. "Oh Iya kak...Arkan juga sempet bilang dan udah mulai ajakin aku untuk latihan sih mulai siang ini pas pulang sekolah, dan katanya juga dia mau pake alat musik yang dia punya juga jadi ga terlalu banyak kalian keluar uang untuk sewa alat musik". jawab Lita dengan lancar dan tidak menyadari ada sepasang mata yang melihatnya dengan kesal. "Oh gitu...syukurlah..wah titip salam buat Arkan ya...untung kamu yang pacaran sama dia, kalau ga susah deh dapet duet maut kayak kalian". ledek Eka sambil berpamitan kembali ke kelasnya. "Ayo anak anak kita mulai ambil nilai volley hari ini yah!...Saya panggil berdasarkan urutan absen yah." kata pak Agus bersiap dengan buku absennya. Satu persatu anak dipanggil untuk pengambilan nilai cara servis, passing, block dan lain nya dalam permainan bola volley. Buk..... "Aduh....."..... "Woi...lu tuh ..kalau lempar bola liat liat dong....Ta....woi...Ta..bangun Ta teriak anak anak sekelas memanggil nama Lita yang pingsan setelah terkena lemparan bola volley dari teman temannya yang sedang bermain volley. Lita yang baru saja selesai ambil nilai terduduk untuk beristirahat sebelum dia terkena bola dikepalanya dan akhirnya pingsan. ***** "Duh pala gue kok sakit amat". kata Lita saat membuka matanya dan mendapati dirinya sudah berada diruang UKS yang berada dekat lapangan. Bau minyak kayu putih tercium di hidungnya dan terasa agak panas, Arkan yang melihat Lita sudah bangun segera membantunya untuk duduk di ranjang UKS agar dia bisa menyenderkan kepalanya. "Loh ...kok kamu ada disini?" tanya Lita pada Arkan yang masih memijat lembut kening Lita yang masih terasa pening. "Iya sayang, tadi tuh kamu pingsan karena terkena lemparan bola volley untung ga gegar otak". "Huft...kalau ampe ada apa apa sama kamu, ga akan aku maafin dia". gerutu Arkan. "Emang siapa sih yang lempar bolanya Kan?" tanya Lita penasaran "Kata anak anak kelas kamu sih anak baru yank, siapa tau namanya" jawab Arkan. "Eh sialan, dia lagi orangnya? ada masalah apa sih dia ama gue?" tanya Lita murka. Dia meminta turun dari ranjang UKS tersebut, setelah memakai sepatunya dia meminta agar Arkan mengantarnya ke kelas. "Woi anak baru....masalah lu sama gue apaan? perasaan dari tadi lu cari masalah aja ama gue?" tanya Lita sambil melabrak tempat duduk Yuli yang tanpa beban sedang make up di dalam kelas, tanpa menghirau kan teriakan Lita dia malah dengan santai merapihkan peralatan make upnya dan bergegas keluar dari kelas. Saat berpas pasan dengan Atik yang baru selesai dari makan di kantin lantai 1, Yuli malah dengan songongnya menabrak tubuh Atik yang memang mungil sekali dan biasa di ledek anak kecil itu sampai Atik mundur dari langkahnya. Arkan yang kebetulan juga ada didepan kelas langsung menahan tangan Yuli yang hendak pergi dan menyeretnya masuk lagi ke dalam kelas dan membiarkan Lita menerus kan ocehannya yang sempat tidak diacuhkan oleh Yuli. "Kalau orang lagi ngomong tuh didengerin, jangan maen tinggal aja lu lemparan dari sekolah mana sih? kok ga ada sopan santunnya...salah kok songong....salah kok ga mau minta maaf" celoteh Arkan yang ga mau terima kekasihnya disakitin. "Lu lupa siapa gue Kan? gue Yuli mantan lu waktu di SMP....masa lu lupa?" jawab Yuli yang malah balik bertanya pada Arkan. Mendengar hal itu dahi Lita sedikit mengernyit dan melihat ke arah Arkan. "Eeits sorry yay...gue ga pernah tuh pacaran ama cewe bar bar kaya lu? mana ada?...jangan ngaku-ngaku ya lu". kata Arkan langsung lepas tangannya yang menarik Yuli barusan dengan jijik. "Ya emang sih lu pasti lupa, kan abis itu gue langsung pindah ikut bonyok gue ke Bandung dan yang gue denger lu patah hati banget kan waktu itu?" senyuman Yuli memberi arti mengejek pada Arkan dan juga pada Lita yang ikut melihat aksi mereka berdua "Emang SMP lu dimana?" kata Arkan mulai melunak dan mencoba untuk mengingat ingat dan melihat wajah Yuli yang seperti ditengadah kan agar bisa dilihat dengan jelas oleh Arkan. "SMP 88 Slipi kan? gue cewe yang lu bikin nangis saat lu jadi panitia MOS dan lu juga bahkan nembak gue karena perasaan salah lu yang bikin gue pingsan 3 tahun yang lalu." kata Yuli tanpa merubah intonasi suaranya yang keras. "Kamu kenal yank ama cewe ini beneran dia mantan kamu?" tanya Lita dengan muka memucat, selama ini yang dia tahu Arkan hanya nakal dengan keisengannya saja, tidak pernah dia dengar kenakalan dalam hal percintaan...bahkan beberapa teman sekelasnya ada yang naksir sama dia juga tidak digubris karena dia memang tidak suka berpacaran. "Perasaan gue ga pernah jadi panitia OSIS, apalagi ikutan MOS segala....lu yakin ga salah orang? tanya Arkan ragu. "Mana mungkin gue lupa bahkan ampe sekarang gue masih nyimpen surat cinta dari lu dan gue juga mau masuk sekolah ini juga karena gue mau ketemu lu lagi". kata Yuli lagi dengan entengnya.. Dia bahkan tak menyadari akibat dari ucapannya ada 1 hati yang sedih dan sakit hati. *** Pov Yuli Rasanya senang banget akhirnya gue mendapatkan informasi kalau Arkan sekolah disini.... dan dengan segala kemampuan gue juga memaksa kepada kedua orangtua gue untuk memindahkan sekolah gue biar bisa sekolah lagi dengan Arkan. Gue ketemu dia saat kita SMP waktu itu gue adalah adik kelasnya. yang sedang ketakutan di bentak dan dipelototin oleh senior kami di sekolah dan ketika permainan mulai menjadi tidak terkontrol datanglah dia ...Arkan Asmawi Hidayat...itu adalah nama lengkapnya dulu, entah kenapa sekarang di sekolah ini dia terdaftar sebagai Arkan Hidayat saja sehingga membuat orang yang membantuku mencari info tentang Arkan jadi kesulitan. "Woi ngapain lu pada kayak gini.....inget...MOS tuh buat ngenalin sekolah sama anak baru, bukan buat ngerjain mereka. pada gila kali lu pada yah". teriak Arkan saat itu sambil melepaskan topi dari karton yang ada dikepala gue, dan memberi payung untuk menutupi kepala gue dari derasnya hujan hari itu. Sikapnya yang membela gue saat itu sepertinya sudah jelas menggambarkan bahwa dia seperti nya suka sama gue. Iyalah gimana ga?.... gue anak orang kaya...bokap gue orang yang memimpin hampir ratusan perusahaan besar yang ada di Jakarta ini, ga mungkin sampai ada orang yang ga suka dan kagum sama gue. Tapi Arkan emang berbeda, dia ga sama kayak cowo cowo yang terang terangan nyatain suka sama gue dan menunjukkannya didepan semua orang. Dia bahkan melepas kan payung yang dia kasih dan pergi ninggalin gue seolah nolongin gue tuh hal yang biasa, dia ga nunjukin ketertarikannya sama gue, bahkan dia terang terangan menghindar saat gue ngembaliin payung dan say thank you ke dia. keselnya lagi yaitu payungnya dikasihin ke anak cewe yang lain yang juga membutuhkan. Semua cara udah gue coba untuk menunjukkan perhatian gue ke dia, tapi dia lagi lagi tanpa peduli bahkan saat masa MOS berakhir dia juga menjauh dari kegiatan kegiatan yang berhubungan dengan juniornya Dengan julukan senior tercool yang bisa membuat junior jatuh cinta dia malah menghilang dan lebih memilih untuk meneruskan hobbynya bermain musik bersama band sekolahnya. Bahkan segala cara sudah gue lakukan untuk menarik perhatian cowo itu tapi nol besar. Sampai pada suatu hari gue yang segitu maksimal cari perhatian ke Arkan membuahkan hasil dan bikin sikap Arkan membaik, yaitu saat gue kena jambret saat ngikutin dia lewat jalur belakang sekolah yang memang sepi dan tidak banyak yang tahu, tapi karena rasa ingin tahu gue nekat dan akhirnya terjadi lah kejadian itu. Dari balik semak semak dan rumput yang menjulang tinggi di jalan itu, muncul beberapa anak pria yang kira kira seusia dengan gue mereka mengelilingi gue dan tangan mereka merampas tas yang gue bawa, gue berteriak mempertahan kan tas gue dan saat itu juga Arkan datang dan lagi lagi dia menolong dan menjadi super hero buat gue. Sikapnya yang dingin setelah berhasil merebut tas gue dari para berandalan tersebut tidak membuat gue patah semangat, dengan pura pura masih ketakutan akhirnya bikin cowo incaran gue ini mau nganterin juga gue pulang, dengan semangat gue terima ajakannya dengan motor RX kingnya waktu itu dan dengan sengaja memeluknya dari belakang. "Nih ada surat buat lu". Gue inget banget tampang Arkan yang bete banget saat ngasih surat ke gue, yang ga gue pikirin walau sempet bingung juga kok bisa ya dia kirimin gue surat. "Gue suka sama lu, mau ga lu jadi cewe gue" begitu isi surat itu dan gue liat ada insial AH disana. Gue yakin ini surat dari Arkan cowo jutek yang selalu bikin gue blingsatan liat senyumnya yang manis saat main gitar atau sekedar maen bola aja di lapangan. "Iya gue mau, dan gue harap lu bakal terus sayang sama gue". isi surat jawaban udah gue titipin ke teman sekelasnya, tapi semenjak hari itu gue ga lihat lagi dia disekolahan, dan gosip yang gue denger dia sakit cacar air dan sebulan kemudian bonyok gue pindah ke Bandung dan gue hilang kontak sama Arkan. Sejak saat itu gue terus cari info tentang dia dengan bantuan anak buah bokap tentunya dan sama sekali ga ada kabar, baru 2 minggu yang lalu usaha gue berhasil dan info yang gue dapat dia sekolah di sini.....yup ..sekolah gue sekarang ini dengan nama Arkan Hidayat tanpa Asmawi yang menjadi nama tengah nya yang membuat orang suruhan gue kesulitan mencari dia. Dia masih suka main bola, juga basket, dan masih juga suka main gitar. Beberapa hal yang membuat dia jadi terlihat keren di mata cewe cewe, info yang gue dapat malah dia sudah punya cewe sekarang..... Dan orang itulah yang ada di depan gue sekarang. *** "Lu jangan ngada ngada yeh!" gue bilangin sama lu, gue ga mau kasar ama cewe, tapi kalau itu nyangkut Lita cewe gue .....lu nyalain api perang ama gue .......ga peduli lu cewe" kata kata Arkan membuat Yuli memerah mukanya dan tangan nya mau melayang ke pipir Arkan yang langsung dihentikan oleh Lita. "Enak aja lu mau tampar laki gue, mau cari perkara ama gue lu?" kata Lita sambil mendorong tangan dan tubuh Yuli mundur. Ketiga sahabat Lita tidak diam mereka mencari bantuan ke kakak kelas yang mereka kenal yaitu Roni dan Udin yang kebetulan lewat sana. "Gue ga ada urusan sama lu yah, jadi lu ga usah ikut campur". kata Yuli sambil mendorong kedua kakak kelas itu sampai mundur. "Dan lu Kan....lu ga usah ngelak, gue tau naksir ama gue, lu yang ngasih surat cinta lu nembah gue kok". kata Yuli makin emosi. "Bentar.......gue inget inget... lu Yuli anak kelas 1 yang sering di bully dan ke jambret waktu itu?" tanya Arkan. "iya....... kan inget juga kan lu.." jawab Yuli dan maju untuk memeluk Arkan yang langsung dihadang oleh Lita. "Ga usah pake peluk peluk juga keles, dia laki gue." kata Lita lagi dengan jutek. "Sorry nih yah....duh kayaknya lu udah salah paham, gue waktu itu cuma nganterin surat titipan temen gue aja yang naksir katanya ama lu namanya Aswandi Hakim, dia itu emang pemalu jadi ga berani kasih surat ke lu. Jadi bukan surat dari gue." jawab Arkan santai. Seketika muka Yuli pucat tapi dia yang sudah kadung malu malah berbuat nekat. Dia mengeluarkan gunting lipat dari kantong roknya, dan menarik Lita dan menempelkan gunting lipat itu ke lehernya Lita. Suasana menjadi tegang dan terdengar suara jeritan dari anak anak yang melihat kejadian itu, beberapa ada yang langsung pergi tak peduli, tapi ada juga yang pergi mencari bantuan. "Woiiiiii....apa apaan lu?" teriak Arkan gusar. "Lepasin Lita atau lu bakalan mati ama gue!!!!" teriaknya lagi. Semua kaget melihat reaksi Arkan termasuk Yuli yang berpikir Arkan akan luluh dan merayunya, dia kaget karena melihat betapa Arkan sayang pada Lita, hatinya sakit karena dia sudah berjuang mencari Arkan selama ini dan ternyata apa yang dia pikir kalau Arkan mencintai dia cuma salah paham. "Sialan lu...... harusnya lu bilang kalau surat itu bukan punya lu harusnya lu ga nolong gue waktu gue dijambret, kenapa lu anterin gue pulang?". ceracau Yuli seperti orang linglung. Kesempatan itu digunakan oleh Roni yang ada dibelakang Yuli untuk menarik tangan Yuli yang memegang gunting dileher Lita dan menguncinya ke belakang. "Aduh sakit....... lepasin gue, gue ga terima.....gue tuh orang kaya gue bisa dapatin semua yang gue mau.....termasuk Arkan....kenapa lu malah milih cewe miskin itu? Dia ga pantes buat lu, dia cuma cewe kere yang bakalan morotin lu doang, dia juga udah ga perawan lagi....lu yakin mau pilih dia?" teriak Yuli sebelum dia dibuat pingsan dengan tamparan dari Arkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD