Bruk..... tampak seorang gadis jatuh
setelah tubuhnya ditabrak oleh
seorang gadis lainnya yang berjalan
sambil melihat kebelakang dan tidak
menyadari dirinya sudah menabrakl
gadis lain, tapi bukannya meminta
maaf gadis itu malah berlari ke arah
kantin membuat gadis yang
ditabraknya menjadi kesal dan
menyusulnya dan mencarinya untuk
membuat perhitungan dengannya
walau masih pagi sekali disekolah
hari ini.
"Woi...jangan lari lu...enak aja
abis nabrak bukan minta maaf
malah kabur. " teriak Lita sambil
berlari ke arah kantin yang akhirnya
terhenti karena ditahan oleh Arkan
kekasihnya.
"Sayang...hus ..masih pagi ..jangan
cari masalah ya" kata Arkan sambil
menarik tangan Lita menjauh dari
kantin dan menuju lantai 2 dimana
ada kantin kecil juga disana.
" Sini duduk sayang...udah kita
sarapan disini aja ya...maaf ya aku
tadi telat bangun jadi cuma bisa
jemput kamu aja ga ajak kamu
sarapan di jalan, kamu mau pesen
apa sayang?" tanya Arkan masih
memegang tangan Lita yang terlihat
masih emosi karena kejadian tadi.
Aku mau bihun goreng aja deh
yank, jadi males makan sebenernya
tapi kan pacar aku bawel banget
kalau aku ga makan, ya mau gimana
lagi?". kata Lita mengangkat bahu
tanda meledek Arkan.
"He he he...kamu harus makan dong
sayang..nanti kalau kamu kurus, aku
ga bisa ngerasain goyangan kamu
yang seksi lagi dong". kata Arkan
sambil berbisik di kuping Lita dan
langsung dapat hadiah cubitan dari
tangan Lita yang sadis.
"Dasar kamu tuh ya.....aku kan
jadi malu". muka Lita seketika jadi
merah karena ucapan Arkan itu.
"Ya elah...cuma aku sama kamu
yang denger ..ngapain malu" ledek
Arkan lagi.
Bel masuk berbunyi Arkan ikut
mengantar kesayangannya ke lantai
3 dan kembali ke kelasnya dilantai 1.
Di dalam kelasnya Lita merasa kesal
lagi karena ternyata buku prnya lupa
terbawa, dan gurunya itu adalah wali
kelasnya Ibu Nuraini Harapan yang
mengajar stenografi.
"Mateng gue .....tuh buku ngapa
pake acara ketinggalan sih..". gerutu
Lita dalam hatinya. Baru saja sosok
wali kelasnya masuk diikuti oleh
murid baru yang akan belajar dikelas
itu.
Saat Lita mengangkat kepalanya di
lihatnya orang yang menabraknya
tadi dilorong kantin berdiri di depan
kelas dengan muka yang terlihat
sombong sekali.
"Dia kan yang tadi pagi nabrak
gue". kata Lita pada Anik teman
sebangkunya. Anik mencolek Atik
dan Ipeh yang ikut melihat ke arah
anak baru tersebut, tatapan tidak
bersahabat mereka berikan pada
sosok anak gadis didepan kelas dan
di balas dengan senyuman penuh
ejekan dari bibirnya.
"Wah...songong nih anak, belum
tau gue siapa kali!...". kata Atik yang
bertubuh kecil tapi mempunyai
banyak dekingan tersebut. Wali
kelas mereka mempersilahkan Yuli
nama anak baru tersebut duduk di
sebrang barisan kanan Ipeh dan Atik
dan ketika dia duduk dibangku itu
Ipeh dan Atik menyambut dengan
tatapan mata tak santai mereka.
Selama pelajaran berlangsung
Lita tidak dapat menutupi perubahan
raut wajahnya yang kesal, hal itu
juga disadari oleh bu Nuraini yang
langsung meminta Lita untuk maju
dan menulis catatan di white board
kelas karena Lita adalah sekretaris
1 dikelasnya dan masih ada 1 orang
lagi.
Selagi Lita menulis di white board
ketiga sahabatnya masih menunjuk
kan wajah tidak bersahabat mereka
pada Yuli anak baru tersebut.
Neeeet........suara bel tanda
pelajaran berakhir berbunyi, jam
pelajaran berikutnya adalah olah
raga, seluruh murid bergegas ke
kamar mandi untuk berganti pakaian
dan juga memakai topi agar tidak
kepanasan.
Lita dan ketiga sahabatnya juga ikut
keluar kelas menuju kamar mandi
lantai 2 karena lantai 3 sudah penuh
dengan teman teman mereka yang
lain.
"Woi, santai dong.....teriak Atik
pada seorang gadis berkuncir kuda
yang menabrak dirinya saat hendak
memasuki kamar mandi, lagi lagi
anak yang menabrak Atik juga tidak
meminta maaf malah meloyor ke
luar kamar mandi untuk turun ke
lapangan dilantai 1.
Suara godaan dan teriakan para
senior pria dilantai 1 membuat
suasana olah raga kelas Lita jadi
sedikit berisik, mereka berteriak dan
menggoda anak baru yang terlihat
sombong sampai memakai payung
dan juga kipas angin portable untuk
menghilangkan rasa kepanasannya.
"Woi ada anak baru cakep eui",
teriak salah satu senior di lantai 1
yang adalah kakak kelas 3, para pria
tersebut menggoda karena memang
Yuli memiliki wajah yang cantik dan
ayu, dengan warna kulit yang putih
pucat membuat dia terlihat menonjol
di antara teman teman sekelasnya
yang rata rata berkulit sawo matang.
"Boleh nih kenalan, caem anget
cih amoh...." kata Dennis senior
accounting yang terkenal playboy
dan sedang berjalan di lorong ke
arah lapangan olah raga.
"wah playboy sedang menuai
umpan nih kayaknya" kata Eka sang
ketua kelas yang kebetulan melintas
melewati lapangan olah raga dan
ternyata menghampiri Lita yang
baru saja selesai mengambil bola
volley untuk pengambilan nilai hari
itu.
"Selamat siang Ta, maaf boleh
ganggu waktunya sebentar?" tanya
Eka dengan sopan. Lita menengok
dan mendapati ketua OSIS mereka
dan segera menganggukan kepala
setelah sebelumnya menyerahkan
bola kepada teman temannya dan
meminta ijin kepada pak Agus guru
olah raga mereka.
"Ta, kata Arkan kamu mau ikut
acara PerSaMi minggu depan?".
tanya Eka yang langsung mendapat
anggukan kepala dari Lita yang
sangat antusias.... Secara tidak
mudah baginya untuk mendapatkan
ijin tersebut dari mamanya.
"Gini Ta...setelah acara senam pagi
dihari minggu akan ada beberapa
penampilan seni untuk melepas dan
menyambut penerimaan tamu
penegak, dan rencananya kita mau
minta kamu untuk ikut dalam acara
itu bersama Arkan yang akan main
band disana, saya denger juga kamu
dan Arkan kan sering ngeband, jadi
harusnya udah kompak deh yak".
kata Eka lanjut.
"Oh Iya kak...Arkan juga sempet
bilang dan udah mulai ajakin aku
untuk latihan sih mulai siang ini pas
pulang sekolah, dan katanya juga dia
mau pake alat musik yang dia punya
juga jadi ga terlalu banyak kalian
keluar uang untuk sewa alat musik".
jawab Lita dengan lancar dan tidak
menyadari ada sepasang mata yang
melihatnya dengan kesal.
"Oh gitu...syukurlah..wah titip
salam buat Arkan ya...untung kamu
yang pacaran sama dia, kalau ga
susah deh dapet duet maut kayak
kalian". ledek Eka sambil berpamitan
kembali ke kelasnya.
"Ayo anak anak kita mulai
ambil nilai volley hari ini yah!...Saya
panggil berdasarkan urutan absen
yah." kata pak Agus bersiap dengan
buku absennya. Satu persatu anak
dipanggil untuk pengambilan nilai
cara servis, passing, block dan lain
nya dalam permainan bola volley.
Buk.....
"Aduh.....".....
"Woi...lu tuh ..kalau lempar bola liat
liat dong....Ta....woi...Ta..bangun Ta
teriak anak anak sekelas memanggil
nama Lita yang pingsan setelah
terkena lemparan bola volley dari
teman temannya yang sedang
bermain volley. Lita yang baru saja
selesai ambil nilai terduduk untuk
beristirahat sebelum dia terkena
bola dikepalanya dan akhirnya
pingsan.
*****
"Duh pala gue kok sakit amat".
kata Lita saat membuka matanya
dan mendapati dirinya sudah berada
diruang UKS yang berada dekat
lapangan. Bau minyak kayu putih
tercium di hidungnya dan terasa
agak panas, Arkan yang melihat Lita
sudah bangun segera membantunya
untuk duduk di ranjang UKS agar dia
bisa menyenderkan kepalanya.
"Loh ...kok kamu ada disini?"
tanya Lita pada Arkan yang masih
memijat lembut kening Lita yang
masih terasa pening.
"Iya sayang, tadi tuh kamu pingsan
karena terkena lemparan bola volley
untung ga gegar otak". "Huft...kalau
ampe ada apa apa sama kamu, ga
akan aku maafin dia". gerutu Arkan.
"Emang siapa sih yang lempar
bolanya Kan?" tanya Lita penasaran
"Kata anak anak kelas kamu sih
anak baru yank, siapa tau namanya"
jawab Arkan.
"Eh sialan, dia lagi orangnya?
ada masalah apa sih dia ama gue?"
tanya Lita murka. Dia meminta turun
dari ranjang UKS tersebut, setelah
memakai sepatunya dia meminta
agar Arkan mengantarnya ke kelas.
"Woi anak baru....masalah lu
sama gue apaan? perasaan dari tadi
lu cari masalah aja ama gue?" tanya
Lita sambil melabrak tempat duduk
Yuli yang tanpa beban sedang make
up di dalam kelas, tanpa menghirau
kan teriakan Lita dia malah dengan
santai merapihkan peralatan make
upnya dan bergegas keluar dari
kelas.
Saat berpas pasan dengan Atik
yang baru selesai dari makan di
kantin lantai 1, Yuli malah dengan
songongnya menabrak tubuh Atik
yang memang mungil sekali dan
biasa di ledek anak kecil itu sampai
Atik mundur dari langkahnya.
Arkan yang kebetulan juga ada
didepan kelas langsung menahan
tangan Yuli yang hendak pergi dan
menyeretnya masuk lagi ke dalam
kelas dan membiarkan Lita menerus
kan ocehannya yang sempat tidak
diacuhkan oleh Yuli.
"Kalau orang lagi ngomong tuh
didengerin, jangan maen tinggal aja
lu lemparan dari sekolah mana sih?
kok ga ada sopan santunnya...salah
kok songong....salah kok ga mau
minta maaf" celoteh Arkan yang ga
mau terima kekasihnya disakitin.
"Lu lupa siapa gue Kan? gue
Yuli mantan lu waktu di SMP....masa
lu lupa?" jawab Yuli yang malah
balik bertanya pada Arkan.
Mendengar hal itu dahi Lita sedikit
mengernyit dan melihat ke arah
Arkan.
"Eeits sorry yay...gue ga pernah
tuh pacaran ama cewe bar bar kaya
lu? mana ada?...jangan ngaku-ngaku
ya lu". kata Arkan langsung lepas
tangannya yang menarik Yuli
barusan dengan jijik.
"Ya emang sih lu pasti lupa, kan
abis itu gue langsung pindah ikut
bonyok gue ke Bandung dan yang
gue denger lu patah hati banget kan
waktu itu?" senyuman Yuli memberi
arti mengejek pada Arkan dan juga
pada Lita yang ikut melihat aksi
mereka berdua
"Emang SMP lu dimana?" kata
Arkan mulai melunak dan mencoba
untuk mengingat ingat dan melihat
wajah Yuli yang seperti ditengadah
kan agar bisa dilihat dengan jelas
oleh Arkan.
"SMP 88 Slipi kan? gue cewe
yang lu bikin nangis saat lu jadi
panitia MOS dan lu juga bahkan
nembak gue karena perasaan salah
lu yang bikin gue pingsan 3 tahun
yang lalu." kata Yuli tanpa merubah
intonasi suaranya yang keras.
"Kamu kenal yank ama cewe ini
beneran dia mantan kamu?" tanya
Lita dengan muka memucat, selama
ini yang dia tahu Arkan hanya nakal
dengan keisengannya saja, tidak
pernah dia dengar kenakalan dalam
hal percintaan...bahkan beberapa
teman sekelasnya ada yang naksir
sama dia juga tidak digubris karena
dia memang tidak suka berpacaran.
"Perasaan gue ga pernah jadi
panitia OSIS, apalagi ikutan MOS
segala....lu yakin ga salah orang?
tanya Arkan ragu.
"Mana mungkin gue lupa bahkan
ampe sekarang gue masih nyimpen
surat cinta dari lu dan gue juga mau
masuk sekolah ini juga karena gue
mau ketemu lu lagi". kata Yuli lagi
dengan entengnya.. Dia bahkan tak
menyadari akibat dari ucapannya
ada 1 hati yang sedih dan sakit hati.
***
Pov Yuli
Rasanya senang banget akhirnya
gue mendapatkan informasi
kalau Arkan sekolah disini.... dan
dengan segala kemampuan gue juga
memaksa kepada kedua orangtua
gue untuk memindahkan sekolah
gue biar bisa sekolah lagi dengan
Arkan.
Gue ketemu dia saat kita SMP
waktu itu gue adalah adik kelasnya.
yang sedang ketakutan di bentak
dan dipelototin oleh senior kami di
sekolah dan ketika permainan mulai
menjadi tidak terkontrol datanglah
dia ...Arkan Asmawi Hidayat...itu
adalah nama lengkapnya dulu, entah
kenapa sekarang di sekolah ini dia
terdaftar sebagai Arkan Hidayat
saja sehingga membuat orang yang
membantuku mencari info tentang
Arkan jadi kesulitan.
"Woi ngapain lu pada kayak
gini.....inget...MOS tuh buat ngenalin
sekolah sama anak baru, bukan buat
ngerjain mereka. pada gila kali lu
pada yah". teriak Arkan saat itu
sambil melepaskan topi dari karton
yang ada dikepala gue, dan memberi
payung untuk menutupi kepala gue
dari derasnya hujan hari itu.
Sikapnya yang membela gue
saat itu sepertinya sudah jelas
menggambarkan bahwa dia seperti
nya suka sama gue. Iyalah gimana
ga?.... gue anak orang kaya...bokap
gue orang yang memimpin hampir
ratusan perusahaan besar yang ada
di Jakarta ini, ga mungkin sampai
ada orang yang ga suka dan kagum
sama gue.
Tapi Arkan emang berbeda, dia
ga sama kayak cowo cowo yang
terang terangan nyatain suka sama
gue dan menunjukkannya didepan
semua orang. Dia bahkan melepas
kan payung yang dia kasih dan pergi
ninggalin gue seolah nolongin gue
tuh hal yang biasa, dia ga nunjukin
ketertarikannya sama gue, bahkan
dia terang terangan menghindar
saat gue ngembaliin payung dan say
thank you ke dia. keselnya lagi yaitu
payungnya dikasihin ke anak cewe
yang lain yang juga membutuhkan.
Semua cara udah gue coba
untuk menunjukkan perhatian gue
ke dia, tapi dia lagi lagi tanpa peduli
bahkan saat masa MOS berakhir dia
juga menjauh dari kegiatan kegiatan
yang berhubungan dengan juniornya
Dengan julukan senior tercool
yang bisa membuat junior jatuh
cinta dia malah menghilang dan
lebih memilih untuk meneruskan
hobbynya bermain musik bersama
band sekolahnya. Bahkan segala
cara sudah gue lakukan untuk
menarik perhatian cowo itu tapi nol
besar.
Sampai pada suatu hari gue
yang segitu maksimal cari perhatian
ke Arkan membuahkan hasil dan
bikin sikap Arkan membaik, yaitu
saat gue kena jambret saat ngikutin
dia lewat jalur belakang sekolah
yang memang sepi dan tidak banyak
yang tahu, tapi karena rasa ingin
tahu gue nekat dan akhirnya terjadi
lah kejadian itu.
Dari balik semak semak dan
rumput yang menjulang tinggi di
jalan itu, muncul beberapa anak pria
yang kira kira seusia dengan gue
mereka mengelilingi gue dan tangan
mereka merampas tas yang gue
bawa, gue berteriak mempertahan
kan tas gue dan saat itu juga Arkan
datang dan lagi lagi dia menolong
dan menjadi super hero buat gue.
Sikapnya yang dingin setelah
berhasil merebut tas gue dari para
berandalan tersebut tidak membuat
gue patah semangat, dengan pura
pura masih ketakutan akhirnya bikin
cowo incaran gue ini mau nganterin
juga gue pulang, dengan semangat
gue terima ajakannya dengan motor
RX kingnya waktu itu dan dengan
sengaja memeluknya dari belakang.
"Nih ada surat buat lu".
Gue inget banget tampang Arkan
yang bete banget saat ngasih surat
ke gue, yang ga gue pikirin walau
sempet bingung juga kok bisa ya dia
kirimin gue surat.
"Gue suka sama lu, mau ga lu jadi
cewe gue" begitu isi surat itu dan
gue liat ada insial AH disana. Gue
yakin ini surat dari Arkan cowo jutek
yang selalu bikin gue blingsatan liat
senyumnya yang manis saat main
gitar atau sekedar maen bola aja di
lapangan.
"Iya gue mau, dan gue harap lu bakal
terus sayang sama gue". isi surat
jawaban udah gue titipin ke teman
sekelasnya, tapi semenjak hari itu
gue ga lihat lagi dia disekolahan, dan
gosip yang gue denger dia sakit
cacar air dan sebulan kemudian
bonyok gue pindah ke Bandung dan
gue hilang kontak sama Arkan.
Sejak saat itu gue terus cari
info tentang dia dengan bantuan
anak buah bokap tentunya dan sama
sekali ga ada kabar, baru 2 minggu
yang lalu usaha gue berhasil dan
info yang gue dapat dia sekolah di
sini.....yup ..sekolah gue sekarang ini
dengan nama Arkan Hidayat tanpa
Asmawi yang menjadi nama tengah
nya yang membuat orang suruhan
gue kesulitan mencari dia.
Dia masih suka main bola, juga
basket, dan masih juga suka main
gitar. Beberapa hal yang membuat
dia jadi terlihat keren di mata cewe
cewe, info yang gue dapat malah dia
sudah punya cewe sekarang.....
Dan orang itulah yang ada di
depan gue sekarang.
***
"Lu jangan ngada ngada yeh!"
gue bilangin sama lu, gue ga mau
kasar ama cewe, tapi kalau itu
nyangkut Lita cewe gue .....lu nyalain
api perang ama gue .......ga peduli lu
cewe" kata kata Arkan membuat
Yuli memerah mukanya dan tangan
nya mau melayang ke pipir Arkan
yang langsung dihentikan oleh Lita.
"Enak aja lu mau tampar laki gue,
mau cari perkara ama gue lu?" kata
Lita sambil mendorong tangan dan
tubuh Yuli mundur.
Ketiga sahabat Lita tidak diam
mereka mencari bantuan ke kakak
kelas yang mereka kenal yaitu Roni
dan Udin yang kebetulan lewat sana.
"Gue ga ada urusan sama lu
yah, jadi lu ga usah ikut campur".
kata Yuli sambil mendorong kedua
kakak kelas itu sampai mundur.
"Dan lu Kan....lu ga usah ngelak, gue
tau naksir ama gue, lu yang ngasih
surat cinta lu nembah gue kok".
kata Yuli makin emosi.
"Bentar.......gue inget inget...
lu Yuli anak kelas 1 yang sering di
bully dan ke jambret waktu itu?"
tanya Arkan.
"iya....... kan inget juga kan lu.."
jawab Yuli dan maju untuk memeluk
Arkan yang langsung dihadang oleh
Lita.
"Ga usah pake peluk peluk
juga keles, dia laki gue." kata Lita
lagi dengan jutek.
"Sorry nih yah....duh kayaknya
lu udah salah paham, gue waktu itu
cuma nganterin surat titipan temen
gue aja yang naksir katanya ama lu
namanya Aswandi Hakim, dia itu
emang pemalu jadi ga berani kasih
surat ke lu. Jadi bukan surat dari
gue." jawab Arkan santai.
Seketika muka Yuli pucat tapi
dia yang sudah kadung malu malah
berbuat nekat. Dia mengeluarkan
gunting lipat dari kantong roknya,
dan menarik Lita dan menempelkan
gunting lipat itu ke lehernya Lita.
Suasana menjadi tegang dan
terdengar suara jeritan dari anak
anak yang melihat kejadian itu,
beberapa ada yang langsung pergi
tak peduli, tapi ada juga yang pergi
mencari bantuan.
"Woiiiiii....apa apaan lu?" teriak
Arkan gusar. "Lepasin Lita atau lu
bakalan mati ama gue!!!!" teriaknya
lagi.
Semua kaget melihat reaksi Arkan
termasuk Yuli yang berpikir Arkan
akan luluh dan merayunya, dia kaget
karena melihat betapa Arkan sayang
pada Lita, hatinya sakit karena dia
sudah berjuang mencari Arkan
selama ini dan ternyata apa yang dia
pikir kalau Arkan mencintai dia
cuma salah paham.
"Sialan lu...... harusnya lu
bilang kalau surat itu bukan punya lu
harusnya lu ga nolong gue waktu
gue dijambret, kenapa lu anterin gue
pulang?". ceracau Yuli seperti orang
linglung. Kesempatan itu digunakan
oleh Roni yang ada dibelakang Yuli
untuk menarik tangan Yuli yang
memegang gunting dileher Lita dan
menguncinya ke belakang.
"Aduh sakit....... lepasin gue,
gue ga terima.....gue tuh orang kaya
gue bisa dapatin semua yang gue
mau.....termasuk Arkan....kenapa lu
malah milih cewe miskin itu? Dia ga
pantes buat lu, dia cuma cewe kere
yang bakalan morotin lu doang, dia
juga udah ga perawan lagi....lu yakin
mau pilih dia?" teriak Yuli sebelum
dia dibuat pingsan dengan tamparan
dari Arkan.