Seorang gadis turun dari Motor dengan membawa buku pelajaran tambahan di kedua tangannya, dengan tubuh yang lelah dia
berjalan menyusuri rumahnya yang selalu saja kosong disiang hari. Gadis itu adalah Lita sebagai anak kedua dari 3 bersaudara
harusnya membuat Lita menjadi anak perempuan bungsu yang harusnya selalu dimanja, tapi ternyata dalam kenyataannya sering kali
dia malah lebih lelah dalam mengurus dan membersihkan rumah juga menjaga adik laki-lakinya daripada Feby kakak sulungnya,
padahal kondisi fisik Lita seringkali membuat dia sakit karena kelelahan tapi tidak membuat Feby berinsiatif untuk
menggantikannya.
Seperti hari ini, harusnya jadwal mencuci baju dibagi menjadi seminggu masing-masing sebanyak 3 kali, jadi tiga hari Feby dan
tiga hari Lita, tapi sampai dihari ke empat ini semua dikerjakan sendiri oleh Lita tanpa dibantu oleh Feby, bahkan basa basinya juga
tidak ada. Dengan tubuh yang lelah Lita mencuci baju sepulang sekolah bahkan belum sempat dia makan siang, karena hari ini dia
ada tugas banyak sekali dari sekolah sehingga dia memutuskan untuk menyelesaikan dulu pekerjaan rumahnya baru mengerjakan
tugas sekolahnya dengan tenang di malam hari.
Dibantu dengan air hujan yang datang membuat pekerjaan mencuci menjadi cepat karena suasana lebih sejuk dan tenang,
sesekali Lita menutup telinganya saat terdengar suara petir yang mengingatkannya akan hari dimana Andi memperkosa dan
menyiksanya dalam kamar mandi. "Fiuh, harus kuat neng. harus kuat jangan cengeng. itu cuma suara petir bukan apa-apa. Andi ga
mungkin lagi berbuat aneh-aneh karena dia lagi ga dirumah. pasti aman". batin Lita memberi penghiburan untuk dirinya sendiri
yang sedang dilanda ketakutan ketika peristiwa itu melintas dalam bayangannya, "Sambil dengerin lagu enak kali yah". kata Lita
lagi dalam hati, segera dia mengambil walkman dikamarnya mencari kaset Project Pop yang lucu agar dapat menghibur hatinya
yang sedang kesal dan lelah.
Karena volume musik yang didengar ditelinga Lita sengaja dibuat keras sehingga Lita tidak menyadari bahwa sudah ada orang
dibelakangnya. "Neng lagi nyuci sendirian?" suara bu Parmi ibunya Andi menyapa Lita dan dia tidak menyadarinya juga, bu Parmi
hanya tersenyum dan kembali mengambil air di pompa dekat dengan tempat Lita mencuci dan akhirnya Lita sadar ada orang lain dan
menengok. "eh ada ibu, maaf bu tadi manggil neng yah? neng lagi pake walkman jadi ga denger apa-apa". kata Lita dengan
senyuman manis menghiasi bibirnya. "duh si eneng kalau lagi senyum cantik banget, ibu suka lihatnya". kata bu Parmi membuat
Lita tersipu malu. "ah ibu bisa aja, neng jadi malu", jawab Lita lagi sambil menundukkan kepalanya. Melihat bu Parmi berlalu
sambil membawa air dalam ember hasil dari pompa tadi, Lita kembali memasang Walkmannya dan lanjut mencuci pakaiannya yang
masih menumpuk.
"Wah sasaran empuk nih, rejeki emang ga kemana, baru aja kebayang t***tnya Lita eh orangnya ada di depan mata, malah
maen-maen aer lagi, nyetak ketat euy". batin Andi yang baru saja pulang sekolah dan ingin mandi karena kegerahan. Dilihatnya Lita
masih dengan sibuk tanpa mempedulikan kehadiran Lita karena memang Lita tidak mendengar sama sekali kalau ada langkah orang
dibelakangnya.
"ah kenyal banget nih t****t", kata Andi sambil meremas p******a Lita dari belakang dan mencium punggung Lita yang
berkeringat karena kelelahan mencuci pakaian. Lita yang kaget melihat Andi langsung gemetaran karena takut dan kedinginan akibat
bajunya yang basah karena sedang main air sambil mencuci pakaian. Dibaliknya tubuh Lita agar menghadap ke Andi dan dengan
cepat Andi segera menghisap kedua p******a Lita dengan suara seperti orang yang sedang mengunyah sesuatu.
Lita yang masih bingung dengan yang terjadi membuat dia bengong dan tanpa sadar mendesah geli dan segera menutup
mulutnya sendiri karena reaksi yang berlawanan dengan hatinya yang ketakutan. "hihihi ah mulai doyan n*****t dia, udah
ketagihan yah?" tanya Andi yang meneruskan hisapan dan jilatan pada pucuk p*****g p*******a Lita yang mulai basah dengan air
liur Andi yang banyak. Mata Lita melotot ketakutan saat Andi dengan kasar mulai membuka kaos yang dipakai oleh Lita dan
langsung menghisap dan membuat tanda disekitar p******a Lita sebagai tanda kepemilikannya. Saat hendak menurunkan celana
pendek yang Lita yang sudah basah, Lita berontak dan berhasil melepaskan diri lalu berlari ke arah kamarnya. Tapi naas sebelum
Lita bisa mengunci kamarnya Andi sudah masuk dan mendorong tubuh Lita yang basah ke atas tempat tidur, dia membuka celana
pendek yang dia pakai dan mengarahkan p***snya ke arah s**********n Lita dan akhirnya " arghhhhh enak banget Ta," ceracau
Andi ditelinga Lita sambil sesekali menjilat daun telinga Lita yang sudah memerah, gerakan penolakan Lita justru terlihat seperti
orang yang sedang menerima hujaman p***s Andi dengan penuh sukacita, padahal ada air mata yang meleleh dipipinya yang putih
mulus itu. Andi tanpa lelah terus bergerak dengan kasar sambil terus meremas p******a Lita yang menggantung sempurna, putih,
bulat dan menggoda siapapun yang melihatnya. Andi tidak peduli tangan Lita yang terus menerus memukul dadanya yang bidang
dan tegap. Dia malah menangkapnya dan menjilatnya seperti menjilat ice cream, seluruh jari Lita dimasukkan ke dalam mulutnya
yang terus saja menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh Lita yang mulai kelelahan karena Andi tidak kunjung berhenti, ketika tak
sanggup lagi menahan ketakutan dan kesakitan akhirnya Lita kembali tak sadarkan diri, bukannya berhenti saat melihat Lita pingsan
Andi malah semakin kencang bergoyang mengejar puncak kepuasannya dan akhirnya dia melenguhkan nafas penuh kepuasan dan
kemesumannya.
Lita terbangun dengan keadaan bajunya yang masih terbuka, disamping duduk Andi dengan menyandarkan tubuhnya yang
kelelahan sambil menghisap sebatang rokok yang terselip diantara jarinya, dia memainkan anak rambut yang ada didahi Lita sambil
sesekali menyenggol ujung p****g yang masih terbuka. "Kenapa lu selalu nyakitin gue kayak gini Ndi?" tanya Lita sambil menangis
dan memakai pakaian seadanya. "Apa salah gue sih ke lu?"tanyanya lagi sambil mencoba untuk bangun tapi karena kakinya sangat
lemas akhirnya Lita pun terduduk kembali di atas tempat tidurnya. "Lu yang salah Ta, lu tau kalau gue suka sama lu tapi lu ga
pernah ngasih gue kesempatan untuk menjadi orang baik. Lu selalu membenci gue, menolak kebaikan gue setiap kali gue mau antar
lu sekolah, jemput lu, bahkan mengantar kemanapun lu pergi". kata Andi santai. "Gue cuma pengen milikin tubuh lu yang seksi dan
semok dan juga pengen jadiin lu bini gue nanti. tapi lu sombong, lu selalu merasa gue ga pantas sama lu. padahal kedua orang tua
kita berhubungan baik, semua salah lu begooo!!!!". teriak Andi, ya itu memang isi hatinya yang selama ini dia pendam. Lita yang
selalu dipujanya, tapi tidak pernah memberikan kesempatan untuk Andi menyatakan cintanya malah terus berdekatan dengan pria
lain seperti Akbar, padahal Andi sudah memberikan kode kalau dia suka sama Lita sudah sejak pertama kali Lita datang dari
Bandung untuk tinggal dirumah kontrakan yang dimiliki oleh neneknya bersama dengan keluarganya.
Dan lagi-lagi Andi meninggalkan Lita setelah rokok ditangannya habis dan melanjutkan mengisi air dengan pompa air disebelah
tumpukan cucian milik Lita yang belum selesai karena terpotong dengan paksaan Andi agar Lita melayani Andi lagi, dalam diam
Lita kembali melanjutkan pekerjaannya karena hari sudah sore dan mungkin sedikit lagi papanya Lundi, Feby dan Adi adiknya akan
kembali sedangkan dia belum sempat memasak untuk makan malam mereka nanti.
Sayup-sayup terdengar teriakan Rossa memanggil Lita dari tokonya, Lita bergegas mengganti bajunya yang basah dan
mencetak p****g dadanya dan menghampiri mamanya di toko tak jauh dari rumahnya, melewati rumah kontrakan Andi dan dia
melihat Andi tersenyum manis padanya, tak mau melihat Andi, Lita langsung berlari padahal dis**********nnya masih terasa
perih akibat perbuatan Andi tadi.
" Ya ma, kenapa?" tanya Lita ngos-ngosan karena berlari menghampiri Rossa. "Neng, beliin makan gih, lauk maksudnya mama
kayaknya malas masak dikit lagi papa sama cici dan Adi bakalan pulang, nanti ngoceh-ngoceh lagi kalau ga ada makanan. Lu udah
kelar nyuci belum? kok bajunya udah kering?" tanya. Rossa memperhatikan pakaian Lita yang kering padahal dia tahu kalau Lita
sedang mencuci pakaian. "Belum ma, tadi kedinginan makanya neng ganti baju dulu takut malah nanti jadi masuk angin," jawab
Lita sambil menunduk takut mamanya bisa lihat kalau dia sedang berbohong. " Ya elah nyuci baju segitu aja lama banget, maen aer
kali yah?" kata Rossa lagi ketus, ya Lita memang mewarisi kejutekkannya dari Rossa mamanya. "Udah sana beli lauk di warteg
depan, awas lama-lama. Ndi...Andi.....sini anterin Lita beli lauk di warteg, ntar dia keganjenan sama abang-abang warteg lagi."
teriak Rossa yang langsung mendapat respon dari Andi yang terlihat berlari pelan menghampiri Rossa dan Lita.
***
Pov Lita
"Duh kok kepala gue puyeng banget yah, mual banget lagi nih perut, apa salah makan yah? batinku sambil memijat-mijat
kepalaku yang sangat sakit ini. "Andi kurang ajar seenaknya aja dia nidurin gue kayak p*****r, kapan aja dia mau, kapan aja dia
suka. Sampai kapan semua derita ini gue rasain". batinku lagi.
Tiba-tiba Andi yang baru saja aku keluhkan dalam hati menunjukkan mukanya yang sebenarnya tampan, hanya saja sikapnya
yang kasar membuat aku membencinya, apalagi trauma yang dia goreskan dalam benakku yang sering kali membuat aku terbangun
dalam mimpi buruk. Ya walaupun aku kadang-kadang merindukan belaian Akbar tapi kalau harus dia yang memberi sungguh
membuat aku ketakutan dan mau mati rasanya.
Kalau boleh aku membenci diriku sendiri yang terkadang tidak bisa menahan erangan kenikmatan yang keluar dari bibirku saat
dia mulai menjilat dan meremas kedua p******aku ini, karena semua itu terjadi begitu saja. spontan tanpa aku sadari bahkan aku
sendiri malu rasanya. Seperti hari ini tiba-tiba dia meremas p******aku dari belakang saat aku sedang mencuci pakaian yang
menumpuk, sudah lelah tapi kalau bagian itu disentuh siapalah yang bisa menolaknya. karena harus kuakui memang lah enak dan
nikmat rasanya. Mungkin karena Akbar dulu mengenalkanku s*x kepadaku setengah-setengah sehingga ilmu yang aku dapat juga
hanya membuat aku penasaran, sehingga aku merasa bingung dengan semua itu. Tapi sungguh sikap Andi memang sangat b******k
dia terus melakukan tanpa penuh kelembutan, hanya mencari kepuasannya sendiri. sedangkan aku karena ketakutan lagi-lagi hanya
bisa pingsan dan menangis saat tersadar.
Seminggu setelah kejadian ditempat cuci itu aku merasa kepalaku semakin sering sakit, dan perutku mual. Aku menanyakan
kepada mamaku tapi jawabannya hanya mungkin masuk angin dan tidak melakukan apa-apa untuk mengobatinya. Kadang aku
berfikir sebenarnya aku ini anak siapa sih? kenapa sikap mama dan papa berbeda dengan dan juga Feby dan Adi saudara ku yang
lain. Mereka dengan bebas melakukan tugas, kadang dikerjakan kadang tidak dan semua itu akhirnya menjadi beban tanggung
jawabku sendiri.
Sore ini hujan mengguyur Jakarta dengan sangat deras, aku yang pikir kalau jarak sekolah dan rumah bisa ku tempuh dengan
cepat agar tidak terkena hujan ternyata meleset, sampai dirumah dengan baju basah kuyub membuatku menggigil kedinginan dan
segera mandi agar lebih terasa hangat. Mama sudah ku beritahu kalau aku kehujanan dan sepertinya badanku sakit, tapi lagi-lagi
reaksinya biasa saja, bahkan sambil main nintendo di toko dia hanya menyuruhku tidur dan selimutan. Tanpa menanyakan apakah
aku sudah makan atau belum, mau minum obat atau tidak. Sedih? ya sedikit tapi mau bagaimana lagi, inilah keluargaku, dia mamaku
aku tahu bagaimana perjuangannya membesarkan aku, Feby dan Adi dengan semangat tanpa rasa lelah, padahal sebagai seorang istri
harusnya dia bisa lebih santai dibanding dengan papaku, yang hanya bisa bolak balik kerumah temannya, bermain musik,
membetulkan barang-barang elektronik yang tidak ku tau apakah menghasilkan uang atau tidak, dan tidur.
Ditengah tidurku, aku bermimpi bahwa Akbar datang dan memelukku dengan sangat erat, dalam mimpi itu dia meminta maaf
karena sudah pergi meninggalkanku tanpa kabar berita, dan dia meminta agar aku kembali menjadi kekasihnya seperti dulu lagi,
karena rasa sedih dan rindu yang begitu besar aku meneteskan air mata dan memeluknya dengan erat. Seakan tidak ingin dipisahkan
lagi darinya, aku mendengar detak jantung Akbar semakin kencang, mungkin dia deg-degan karena aku baru saja memeluknya
dengan erat, perlahan dia melepas pelukanku dan mencium keningku dengan lembut. Dia memainkan anak rambut yang ada
didahiku sambil sesekali mengecupnya lagi lembut, aku yang merasa senang dengan kehadirannya menatap matanya dan
memeluknya lagi, perlahan Akbar mengangkat daguku dan ....cup...dikecupnya bibirku dengan lembut dan aku merasakan kupu-
kupu ber terbangan diperutku yang mendadak panas itu. Dia mengecup kembali bibirku dan menekannya agak dalam, memaksa aku
membuka mulutku dan menerima gesekan lidahnya yang mulai menari didalam rongga mulutku. Terasa hisapan bibirnya di lidahku
membuat badanku menjadi panas, sehingga aku tanpa sengaja membuka kaos yang aku pakai dan kembali ke pelukannya, Akbar
tanpa melepaskan ciuman dibibirku mengangkat tangannya yang sedari tadi meremas jariku menuju ke dadaku, jarinya bergerak ke
pucuk p******aku dan memilinnya dengan lembut, membuat aku merasa seperti tersengat aliran listrik. arrrghh desahan keluar juga
dari bibir mungilku yang masih saja dikulum oleh bibir seksi Akbar yang jarinya sekarang ikut menari ditubuhku.
Desahan demi desahan terdengar dalam kamar membuat suasana dan atmosfer berubah menjadi hangat dengan percintaan kami.
Lidah Akbar sudah terlepas dari bibirku dan sekarang beranjak turun ke belahan d**a, menuju perutku yang rata dan
menggelitik perut dengan lidah dan langsung meluncur ke bawah dimana ada rimbunan yang tipis dan rapi karena kurawat dengan
baik.
Desahanku semakin menjadi ketika lidah Akbar sudah hampir sampai ke atas bibir v****aku dan karena refleks dia
merapatkan kedua kakiku dan segera dibuka kembali oleh Akbar tanpa banyak perlawanan yang berarti karena memang aku sangat
merindukan belaian dari Akbar kekasihku ini.
"aw...aduh sayang, geli" kataku dengan memejamkan matanya merasakan kenikmatan saat lidah Akbar sudah menari diatas
k******s yang menonjol dan memberikan kenikmatan tinggi. "Ayo sayang masukin sekarang, aku udah ga tahan lagi" ceracauku
dengan kerasnya karena desakan libidoku yang sangat liar. "iya sayang", Akbar mencium dan memasukkan senjatanya ke v****aku
dengan perlahan, mengecup dahiku dan mengusap dadaku tegak sempurna melengkung seakan menyambut p***s Akbar yang sangat
kurindukan itu. "Argh...terus sayang. ayo terus aku rindu belaian dan sodokanmu didalam ku". kata-kataku semakin liar dan binal
terdengar ditelingaku sendiri. Malu tapi apa daya itulah yang sedang aku rasakan saat ini, kehausan akan belaian laki-laki yang
sangat aku sayangi yaitu Akbar, yang tanpa lelah bergerak liar di atas tubuhku.
Hampir 1 jam kami b******u dan bercinta dengan panas di tempat tidurku, aku yang baru saja mendapatkan kenikmatan dari
sebuah hubungan s*x serasa tidak merasakan lelah, hanya ingin lagi dan lagi. Bahkan Akbar sepertinya mengerti kondisiku dan dia
juga melayani hasrat s*xku yang tinggi dengan baik. sampai akhirnya.....
"aku sampai sayang...aaahhhhh enaaaak bangeeeet!!!!!". jeritku tak peduli keadaan yang disusul dengan lenguhan Akbar yang juga
sampai puncak kenikmatannya dan tumbang di atas tubuhku.. Aku tersenyum dengan sangat puas, ya...sangat puas....enak sekali
yang kurasakan. Ga nahan aku untuk merasakannya kembali secepatnya, dan aku membuka mataku..
"Kyaaaa...apa-apaan lu Ndi? ngapain lu disini? teriakku panik sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku yang
telanjang bulat. Dengan santainya Andi memeluk tubuhku dan berkata, "Ih lu aneh banget, lu yang ngajakin gue ng****t lah lu juga
yang teriak-teriak. Mending lu teriak puas kayak tadi aja deh, enak didengerinnya seksi sayang." kata Andi lagi sambil membelai
p******aku yang masih menggantung bebas karena terkejut dengan ucapannya Andi.
"Hah? gue yang ML sama Andi? lah itu bukannya Akbar barusan? loh gue kan lagi tidur dan mimpi tadi. kok jadi gini sih". batinku
sambil diam dan mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru saja terjadi. Cairan lengket disekitar s********nku menyadarkanku
bahwa aku baru saja ML dengan pria, bau amis campur bau m***m tercium kuat. Dan aku pun tertunduk lemas bahkan menangis
perlahan. Ya ... lagi- lagi aku harus melayani kebutuhan s*x Andi walau kali ini kemungkinan besar aku yang memintanya.
***
Sore itu kejadian terkutuk versi Lita dan peristiwa memuaskan untuk Andi baru saja selesai terjadi, dengan segala kepuasan
yang dirasakan Andi setelah selama ini dia menunggu respon hangat dari cewe yang selama ini dia dambakan membalas cinta dan
melayani kebutuhan s*xnya yang tergolong tinggi terjawab sudah. Ya... walau usia Andi masih remaja tapi karena situasi ekonomi
dan pergaulannya membuat Andi mengenal kehidupan s*x lebih cepat dari teman sebayanya yang lain, bagaimana tidak tinggal di
kamar kontrakan berukuran 3 x 3 m dengan ke 2 adiknya dan ke 2 orang tuanya total mereka ber 5 dalam satu ruangan yang sempit
didalamnya ada lemari pakaian 3 susun 2 buah dan juga 1 tempat tidur besar, plus 1 meja makan yang bergabung dengan dapur kecil.
Andi yang setiap malam disuguhi tontonan s*x live antara kedua orangtuanya yang tidak tahu waktu walau masih sore sudah masuk
kamar dan bercinta membuat Andi penasaran dan ingin mencobanya langsung dan korbannya adalah Lita, gadis semok dan seksi
dengan kedua p******a yang membusung besar ukuran 36D termasuk besar untuk ukuran anak perempuan usia 14 tahun yang rata
rata masih memakai miniset dan dia sudah menggunakan bra karena p*****gnya yang sering kali membentuk sempurna dan terlihat
walau dia sudah memakai kaos dalaman sekalipun, pemandangan yang sangat sayang apabila dilewatkan oleh remaja seusia Andi.
Andi lagi-lagi mengancam Lita akan menyiksanya kalau dia mengatakan dan mengadu kepada orangtua Lita akan kejadian
yang barusan terjadi, dengan perasaan puas setelah memberi ancaman, dia mencium kembali p*******a Lita yang masih tidak
diperbolehkan untuk ditutup oleh Andi, karena dia masih ingin mempermainkan p****gnya seakan miliknya sendiri. Tidak puas
hanya mencium Andi kembali menjilat p****g tersebut dan gairahnya kembali naik, dengan kasar dia membuka kembali selimut
yang menutupi tubuh Lita bagian bawah dan kembali mengelusnya, walau lembut terlihat tapi dengan permukaan tangannya yang
kasar tetap saja suatu siksaan yang dirasakan oleh Lita, tidak hanya mengelusnya Andi juga mulai memasukkan jari telunjuknya
kedalam bibir v****a Lita dan menyentuh k******snya lembut, biji kecil yang terselip tersembunyi itu seperti menantang Andi
untuk menjilatnya karena sentuhan Andi membuat dia keluar sempurna menantang agar dijilat, dihisap dan disentuh oleh p***s
Andi yang besar. Secara tidak langsung respon itu menunjukkan bahwa Lita pun terangsang dengan sentuhan Andi dan
mengeluarkan cairan pelumas dalam v*****anya, walau ketakutan tapi tubuhnya merespon alami untuk itu.
Andi yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu langsung berbalik menghampiri Lita dan mulai menciumi semua permukaan muka
Lita dengan lidahnya, dan turun ke lehernya sampai ke ujung p****g dadanya menghisapnya dan menjilat memberikan sensasi hot
dan menjilat k******s yang sudah menantangnya dari tadi, hanya sebentar dan Lita mulai mengeluarkan erangannya, penolakan
tangan dan suara yang bertolak belakang membuat Andi melakukannya kali ini dengan pelan, karena dia yakin Lita juga sudah mulai
merasakan kenikmatan berhubungan badan dengan laki-laki akibat terlalu sering mereka bercinta. Dan sekali lagi mereka bercinta
Andi yang terlalu bernafsu mulai memasukkan senjatannya dalam lubang kenikmatan Lita dan mulai menggoyangnya dengan cepat
Lita juga yang masih dalam ketakutan hanya bisa diam walau dalam mulutnya mulai keluar desisan seperti orang keenakan, tempo
permainan yang lembut membuat Lita ikut menikmati permainan cinta ini hanya saja tangannya masih mencoba memberontak dan
tubuhnya yang memberi penolakan yang hanya dianggap sebagai penyambutan saja buat Andi yang merasakan bahwa di p***snya
seperti dicengkeram oleh otot v****a yang sangat kencang, membuat dia tidak tahan lagi untuk menyemburkan lahar panas hasil
dari luapan kepuasan batin akibat goyangannya barusan. Lita yang menyusul mencapai o*****e setelah Andi baru saja melenguh
puas dan keduanya akhirnya terbaring kelelahan.
***
2 minggu setelah kejadian terakhir Lita dan Andi bercinta, Lita merasakan kesakitan di daerah sensitifnya apabila dipegang
saat membersihkan diri setelah buang air kecil atau saat dia mandi, hal itu dia katakan kepada mamanya Rossa karena memang Lita
sepolos itu tidak mengerti soal tersebut.
"Ma, itunya neng kok sakit ya ma, setiap neng cebok dan mandi kan neng bersihin tapi kok sakit ya ma, kayak ada luka gitu".
kata Lita menghampiri mamanya di toko suatu sore ketika dia baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk dengan tubuh
yang masih basah. Bukannya menjawab dan mencari tahu tentang anak perempuannya yang memiliki keluhan Rossa malah marah
dan menyuruh Lita untuk memakai baju terlebih dahulu.
"eh kok keluar-keluar pake handuk doang sih neng, sono pake baju dulu. nanya-nanya gituan ama mama mana mama ngerti coba?"
jawab Rossa tanpa rasa bersalah. Mendengar jawaban Rossa yang singkat membuat Lita bingung mau bertanya siapa lagi, akhirnya
dia putuskan untuk bertanya pada bu Parmi ibunya Andi yang sangat baik dan sangat menyayanginya bahkan menjaganya saat mama
nya sedang sibuk bekerja selama ini.
"bu Mi...bu.....ibu dimana yah? Lita mau nanya nih". teriak Lita didepan kamar bu Parmi yang tertutup pintunya. Tidak ada sahutan
Lita kembali mengetuk dan berteriak memanggil bu Parmi sambil sedikit mendorong pintu kamarnya karena sering kali keluarga itu
tidak menguncinya tapi kali ini pintu itu tertutup. "tumben pintunya rapet pada pergi apa yah?" pikir Lita lagi. Semakin kuat Lita
mendorong pintu itu akhirnya terbuka dan Lita melihat ibu Parmi dan pak Tardi sedang bergulat diatas tempat tidur mereka, mereka
bergoyang dengan penuh napsu sampai tidak menyadari kalau pintu sudah terbuka dan Lita berdiri disana melihat dengan mata yang
melotot tak berkedip.
Hampir saja Lita berteriak saat ada tangan yang membungkam mulutnya dan menariknya menutup pintu kamar tersebut dan
menarik Lita untuk menjauh, orang itu adalah Andi. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya saat baru pulang dan melihat Lita
berdiri didepan kamar nya dan saat dia melihat lebih jelas ternyata Lita baru saja melihat kedua orang tuanya yang sedang bercinta
dengan sangat b*******h, daripada Lita nanti malah mengganggu mereka akhirnya Andi menyeret Lita sambil terus menutup mulut
Lita dengan tangannya dan membawanya kerumah Lita dan masuk kedalam kamar Lita yang kosong.
"ngapain lu didepan rumah gue?" tanya Andi pada Lita yang masih terkejut dengan pemandangan yang baru saja dia lihat, dia
melihat kalau Pak Tardi yang telanjang sedang menggoyangkan tubuh bu Parmi yang ada di atasnya dengan cara menaik turunkan
tubuh istrinya itu dengan cara memegang pinggang istrinya, goyangan bu Parmi yang terus berteriak keenakan juga membuat Lita
syok bahkan terbayang-bayang, apa betul seenak itu hubungan s*x itu. karena selama ini yang dia rasakan sangat menyakitkan
walau ada 1 yang enak itupun karena Lita berpikir bahwa yang bercinta dengannya adalah Akbar orang yang sangat dirindukan.
Tubuh Lita langsung berkeringat ditambah tubuh basahnya habis mandi membuat Lita tidak menjawab pertanyaan Andi dan terus
saja membayangkan goyangan dan jeritan nikmat dari kedua orang tua Andi yang dia lihat dikamar tadi.
Andi yang melihat Lita bengong tersenyum nakal dan menarik handuk yang masih Lita kenakan dari tadi, Lita yang tersadar
menjerit dan mencoba menariknya kembali, tenaga keduanya sama-sama besar. Dan yang lucunya lagi adalah Andi menarik sambil
tertawa karena melihat Lita yang menarik handuk itu dengan telanjang sehingga membuat pemandangan yang dilihat Andi sangat
indah untuk dilewatkan, bayangkan tubuh telanjang menarik-narik handuk sehingga seluruh tubuh telanjang itu terbuka, kedua
p******a Lita yang cukup besar bergoyang-goyang seakaan menantang, dan bulu-bulu tipis di bagian bawahnya juga sangat indah
dalam pemandangan Andi. Sengaja menggoda Lita yang masih tidak sadar kalau tubuhnya jadi sasaran empuk penglihatan, Andi
melepas genggamannya di handuk dan membuat Lita jatuh terjungkal di atas tempat tidur dan membuat tubuh telanjangnya terbuka
sepenuhnya telentang di atas kasur. Saat Lita hendak bangun tanpa pikir panjang Andi langsung menduduki tubuh Lita dan mulai
meremas p******a Lita dengan keras membuat Lita kembali menjerit kesakitan, dia mendorong tubuh Andi dengan keras sekuat
tenaga tapi tubuh Andi tidak berpindah sedikitpun, malah dia yang kelelahan dan mulai kedinginan karena memang dia masih
telanjang setelah habis mandir tadi.
Andi membuka pakaian sekolahnya dan celana dalamnya dan memasukkan senjatanya kedalam lubang kenikmatan Lita, tapi
karena masih belum siap dan masih kering membuat Lita menjerit kesakitan, yang segera dibungkam kembali oleh mulut Andi yang
mencium bibir Lita dengan sangat ganas dan kedua tangannya yang mencoba membuka kedua paha Lita agar memudahkan senjata
nya untuk masuk memenuhi bagian bawah Lita, kasar...ya lagi lagi Lita mendapat serangan kasar pada tubuhnya, Andi tidak peduli
tangisan dan jeritan Lita saat senjatanya menghujam masuk keluar dengan cepat. dia hanya memikirkan agar dirinya sendiri bisa
puas dengan tubuh Lita, kesakitan Lita kali ini sungguh tak tertahankan olehnya. Masih mencoba untuk mendorong dan memukul
mukul tubuh diatasnya gerakan Lita malah membuat p******anya bergoyang-goyang dan menjadi sasaran tangan Andi untuk
meremasnya kasar. dan akhirnya Lita merasakan semprotan hangat di lubang v****anya begitu banyak cairan yang disemprotkan
oleh Andi dengan kasar tadi membuat Lita kembali kehilangan kesadaran dirinya untuk kesekian kalinya.
Bau obat-obatan tercium saat Lita baru tersadar dari pingsannya, perlahan dia membuka mata dan mencoba melihat sekitar
dan menemukan mamanya Rossa sedang menangis dibangku disampin tempat tidurnya dipeluk oleh bu Parmi yang juga sedang
menangis, Lita tidak tahu apa yang terjadi dia hanya merasakan bahwa seluruh badannya sakit dan juga sakit di s********nnya
semakin menjadi, dia mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tubuhnya seperti mati rasa. Terutama tubuh bagian bawahnya, hanya
ada rasa sakit tapi Lita tidak bisa menggerakan kaki bahkan pinggulnya untuk menggeser tubuhnya sedikit.
bu Parmi melihat gerakan dari tempat tidur segera memberitahukan kepada Rossa bahwa Lita sudah sadar dan melihat mereka.
"Lita anak mama, maafin mama yah selama ini ga peduli sama kesakitan yang kamu rasain. mama terlalu cuek bahkan ga
peduli sama kamu. Mama minta maaf ya neng. maafin mama". ujar Rossa berulang-ulang sambil menggenggam kedua tangan Lita.
"Emang ada apa ma? kenapa neng bisa disini? ada apaan sebenernya?" tanya Lita lagi masih kebingungan.
"Maafin bu Parmi juga ya neng, maafin Andi karena selama ini dia udah nyakitin kamu. kenapa neng ga cerita sama ibu neng kalau
Andi udah jahatin neng dari dulu" kata bu Parmi menangis juga disamping Rossa.
"kamu hamil anggur neng, ternyata kejadian perkosaan kamu waktu itu karena Andi yah, kamu kenapa ga ngomong sama mama?
selama ini mama nyuruh orang yang salah untuk jagain kamu. Dan ternyata dia juga yang udah perkosa kamu waktu itu, pantesan
setiap kali kamu denger nama dia kamu jadi histeris. mama mikir karena kamu nyesel ga dengerin mama ngomong soal dia yang
akan selalu jagain kamu. ternyata karena Andi emang b******k dia udah ngerusak masa depan kamu neng" . kata Rossa disela
isak tangisnya.
Dan meraunglah Lita mendengar perkataan Rossa barusan, beban trauma , ketakutan yang selama ini dia tutupin karena
merasa takut akibat ancaman dan ketakutan akan kejadian yang terus berulang akhirnya diketahui oleh mamanya. Dia menangis
mengeluarkan semua beban yang selama ini dia pendam sendiri.
"Dan akibat perkosaan kamu dulu ternyata kamu hamil anggur dan akhirnya pas kemarin mama nemuin kamu dikamar dalam
keadaan pingsan dan mengeluarkan banyak darah dari v****a kamu, Andi mengakui itu senua. Dan barusan aja kamu dicuret
agar membuat sisa-sisa janin yang terpaksa digugurkan karena tidak seharusnya bisa tumbuh dalam tubuh kamu". "maafin mama
sekali lagi ya neng, kita hadapin ini sama-sama yah. mama janji akan perbaikin semuanya mulai dari sekarang". janji Rossa pada
Lita yang tidak terdengar lagi karena Lita kembali tak sadarkan diri.
TBC