Bab III - Meruntuhkan Hati Preman

3221 Words
Masa SMP yang ga indah buat Lita berlalu, walau dengan nilai pas-pas-an akhirnya dia bisa lulus juga, dan ga nanggung-nanggung dia nyari sekolah lanjutan yang jauh dari rumah, kebayang dong reaksi mama Rossa kayak gimana? Yup Rossa dengan berbagai macam alasan menolak, mengancam, mengintimidasi....hahaha semua tentang itulah pokoknya. Tapi karena Lita merasa dirinya, hidupnya udah ga berguna lagi dia masa bodo dengan itu semua dan tetap ngotot untuk melanjutkan ke sekolah yang jauh dari rumahnya tersebut. Padahal mah dibilang jauh-jauh banget ga kali, orang sekolah Feby lebih jauh dari sekolah Lita tapi sekali lagi kalian tahu kan kenapa Rossa bisa melarang Lita? iyaa......karena Lita masih nyimpan dendam, Lita masih punya ketakutan yang belum bisa didamaikan oleh dirinya sendiri dan juga orang sekitar. Rossa khawatir kalau dia tidak bisa menjaga karena Rossa pun lagi-lagi harus tetap bekerja untuk keluarganya. "Cie yang udah SMEA.... " ledek Feby didepan kamar Lita yang mencoba seragamnya, Lita hanya senyum aja diledek oleh Feby. Walau usia mereka tidak terlalu jauh hanya 2 tahun tapi tidak membuat Lita dan Feby akrab ya karena Lita lebih sering dirumah dan Feby lebih sering keluar rumah setelah pulang sekolah, sebelum pergi sekolah, dll banyak kegiatan yang dilakukan Feby iyaaaang di beri ijin oleh Rossa dan Lundi orangtua mereka berdua. "Iya akhirnya SMEA juga, mau buru-buru sekolah biar nyobain liat dunia luar". sindir Lita pada Feby yang langsung terdiam dan mengalihkan pandangannya dan berlalu dari kamar Lita menuju kamarnya sendiri. Tanpa merasa bersalah Lita meneruskan mencoba pakaian seragamnya dan melihat tubuhnya dicermin, "Ih nih badan kenapa jadi gede begini? tapi makin semok sih jadinya... fiuh akhirnya Andi pergi juga dari rumah. Tapi kok jadi kepengen ngerasain itu lagi yah". batin Lita membayangkan beberapa kejadian yang sebenernya membuat dia trauma tapi juga membuat dia ketagihan denga sentuhan-sentuhan dari pria. Secara psikologi dia terluka dan trauma tapi reaksi tubuhnya juga bisa mengkhianati dengan merindukan itu semua. Bingung? sering terjadi dibeberapa korban perkosaan kok, yang pelakunya adalah orang-orang terdekat. Dan Andi merupakan salah satu orang terdekat disekitar lingkungan Lita, dan itulah yang membuat Lita merasakan kerinduan itu. Tahun Ajaran Baru dimulai, Lita sudah memakai pakaian abu- abunya. setelah seminggu masih memakai pakaian smpnya yang sudah kekecilan. dan wuih abu-abu loh. dan Lita tersenyum melihat dirinya sendiri didepan cermin, Rossa keluar kamar dan melihat Lita yang masih didalam kamarnya membuat Rossa mengamati anaknya itu. " Ya Tuhan, anakku sudah besar. kuatkan dia ya Tuhan dan jaga dia dalam masa traumanya ini. semoga dia bisa menjadi kembali normal dengan kehidupan sekolah yang baru dan bisa punya teman banyak supaya tidak terpuruk lagi". batin Rossa sambil memanggil Lita untuk keluar kamar dan mengingatkan agar segera berangkat sekolah karena jaraknya yang lumayan jauh dari rumah mereka. "Iya ma, ini neng juga udah siap. Dianter ga?" tanya Lita sambil menyiapkan bekal makan siang dan juga minuman agar dia bisa bawa untuk disekolah, karena dia belum tahu apakah makanan dikantin sekolah itu aman atau tidak. (sebenernya itu maunya Rossa alasannya takut Lita sakit perut,dll. padahal aslinya karena biar irit uang jajan). " yah ga bisa dianter neng. papa ama mama mau urusin surat motor tetangga depan rumah jadi mau pake motor ke Komdak" jawab Rossa berteriak karena dia mau kamar mandi. Dan akhirnya hari pertama sekolah dijalani Lita dengan berjalan kaki kedepan gang dan naik angkot menuju sekolahnya di daerah Kebayoran Lama. "ini bangku gu..." belum selesai ucapan Lita bangku yang selama seminggu ini dia duduki semasa Masa Orientasi Sekolah diambil paksa oleh seorang anak perempuan yang diantar oleh kedua laki-laki. Satu orang berbadan kecil putih dan berwajah tampan, dan satu lagi tinggi tampan sih tapi badannya agak gelap. "Tapi kan saya udah duduk dibangku ini selama masa MOS kemarin" bela ku sambil tidak mau beranjak dari bangku yang sangat strategis itu, ga terlalu didepan, nomor 3 dari belakang, pas ditengah. "Trus lu mau apa?" kata laki-laki yang berbadan Gelap sambil maju menghadang Lita. Lita yang tidak siap dihadang seperti itu akhirnya terjungkal kebelakang dan langsung ditahan oleh temannya bernama Anik yang duduk dibelakang bangku Lita selama ini. "Udah lu dibelakang Atik aja, ini bangku dia mulai sekarang. Paham lu?" kata laki-laki berbadan gelap itu yang bernama Roni anak kelas 2 jurusan Sekretaris yang adalah adik kelas dari kakak kandung Atik yang sedang memperebutkan kursi dimeja yang selama ini aku duduki. "Udah ah, diem lu Ron, udah gue mau dibelakang dia juga gapapa" jawab Atik yang berbalik jadi sungkan setelah melihat Roni bersikap seperti arogan. "udah lu berdua balik kekelas gih, bikin gue malu aja". kata Atik lagi sambil mendorong kedua laki-laki tersebut, sedangkan Udin teman Roni yang satunya lagi beranjak keluar kelas sambil masih memandangi Atik dalam diamnya. " Udah lu duduk disitu aja". kata Atik santai. "Mereka emang suka lebay, mentang-mentang adik seperguruan abang gue dipencak silat jadi ngerasa sok ngelindungin gue kayak tadi, sorry yah" kata Atik lagi dan dia langsung duduk di kursi belakang Lita dan Anik yang akhirnya memutuskan duduk bersama. Semenjak kejadian Itu Atik, Anik dan Lita malah jadi teman akrab. ditambah Ipeh yang duduk dengan Atik sedangkan Lita dan Anik duduk berdua. Gaya Atik yang seperti bos didukung oleh teman-teman abangnya yang masih bersekolah di sekolah mereka tersebut , seperti salah satunya adalah dua kakak kelas yang mengambil jurusan di Akuntansi dan sudah duduk dikelas 3 tahun ini. Tiga bulan berlalu dan Lita senang dengan kehidupan baru yang sedang dijalaninnya sekarang, sekolah yang jauh dan punya teman sekolah yang kompak, kebetulan Atik, Ipeh dan Lita bisa menggunakan angkutan umum yang sama jadi setiap hari mereka pulang sekolah berbarengan, sedangkan Anik harus naik minibus ke arah yang lain. Selama itu pun Lita pelan- pelan menjadi semakin percaya diri dan bisa menerima keadaannya tanpa merasa rendah diri lagi. Ujian Catur Wulan Pertama (yang baca pasti bisa nebak ini kejadian tahun berapa), dilalui oleh Lita dengan semangat, gimana ga, ternyata sistem disekolah ini setiap kali ujian anak kelas 1 akan duduk bersebelahan dengan anak kelas 3 jurusan apapun kecuali yang sama jurusannya, seperti contohnya kali ini Lita duduk dengan anak kelas 3 jurusan Manajemen Bisnis sedangkan Lita jurusan Sekretaris, sesuai dengan nomor urut absen ya begitu mereka duduk berdampingan. Sebenernya Lita pengennya kalau dia bisa sebangku dengan kakak kelas yang pintar jadi dia bisa minta diajarin, secara dengan modal tubuh yang montok dan wajah yang cantik pastilah orang-orang akan membantunya pikir Lita waktu itu, namun sayang ternyata dia duduk dengan Hamzah, kakak kelas manajemen yang terkenal dengan seringnya bolos sekolah alias malas. Nasib!!! Walau sekelas Anik dan Lita berjarak jauh sekali pada saat ujian tersebut, dan Anik duduk tepat disamping kakak kelas yang paling terkenal di angkatannya, ganteng? pintar? jago basket? jago main gitar? hmmmmm 2 diantaranya betul, tapi jelas bukan 2 yang pertama, cuma ya lumayan lah untuk ukuran kakak kelas yang jago main basket itu sudah hebat sekali di sekolah ini. Dan kakak kelas itu pula yang selalu ngasih jawaban bantuan ke Anik, padahal.......belum tentu bener..... Seminggu setelah ujian selesai, diadakan classmeeting dimana masing-masing angkatan dikasih kesempatan untuk lomba olah raga pastinya, semua anak-anak cewe udah pasti berdiri berjejer dibalkon depan kelas masing-masing untuk melihat cowo gebetan dan cowo incarannya main ditengah lapangan, karena sensasi cowo ganteng dengan keringat bercucuran dan senyum manis menandakan kemenangan merupakan pemandangan yang indah untuk angkatan sekolah waktu itu. Berbeda dengan Lita yang malah memanfaatkan waktu itu dengan mengasingkan diri dan tidur di ruang perpustakaan, dia dan Anik berjalan dengan dengan santai ke arah perpustakaan sementara yang lain sibuk berjajar melihat incarannya. Bruk....suara badan dihentakkan ke atas meja perpustakaan mengagetkan Lita yang baru saja mau pulas. Lita mengangkat kepalanya dan terlihat matanya yang memerah menatap pria yang tiba-tiba merebahkan kepalanya dimeja itu. "B aja keles bikin kaget aja lu!" teriak Lita dengan muka jutek. "Suuuuutt!!!!!. Lita kalau mau berisik mendingan diluar aja yah kata penjaga perpustakaan yang kaget dengar teriakan Lita. "Iya sorry...sorry..." jawab Lita sambil melotot ke arah pria itu dan kembali mau menaruh kepalanya dan melanjutkan tidurnya yang terbangun tadi. Baru mau naro kepalanya tangannya malah disenggol lagi oleh Anik. Bangun lagi dan sambil mendengus kesal Lita mengangkat kepalanya seakan bertanya, nape lu? "Ta, itu cowo yang gue ceritain kemarin. itu kakak kelas yang bantuin gue pas ujian kemarin. Jangan-jangan dia naksir ama gue kali ya Ta" kata Lita dengan tertawa pelan melihat keadaan sekitar yang sunyi senyap. "Jangan gila lu Nik, udah ayo buruan kita balik ke kelas apa ke kita ke kantin, tiba-tiba gue laper ngeliat kelakuan cowo idaman lu itu". kata Lita bersiap bangun dari kursinya dan melangkah pergi. Tapi tangan Lita ditahan oleh Anik dan berkata, "Ya Ta....comblangin gue dong, gue naksir nih ama dia". Kata Anik lagi. "Ih ogah .... lu tempat aja sono sendiri, ogah gue ngadepin dia lagi gara-gara dia gue jadi ga bisa tidur. Dan gara-gara dia juga kan gue jadi malu ditegur petugas perpus. Ah sue kata Lita lagi sambil melotot kesal. "Ayo dong Ta, tar gue traktir indomie pake baso dan es mas Gito dikantin deh, kalau perlu seminggu full kalau gue bisa jadian ama dia. Dia tuh cool banget Ta. emang sih mukanya biasa aja ..tapi kharismanya itu loh.. apalagi pas dia maen basket...beuh." kata Anik terdiam karena Lita udah duduk didepan cowo incaran Anik dan mencoba bangunin itu kakak kelas tersebut. "Woi bangun kak...ini ada yang kenalan dan jadi pacar lu nih, mau yah?" Tanya Lita santai. Sudah terbayang rasanya makan indomie gratis selama seminggu plus dapat minuman es teh manis dari mas Gito wah luar biasa pikir Lita lagi. "heem...apaan sih lu. gangguin gue lagi tidur aja" kata cowo itu sambil melihat temannya yang masih tidur agak jauh dari bangku tempat dia tidur. "Nih kak, namanya Anik...dia naksir ama lu dan dia juga mau jadi pacar lu. Gimana?" tanya Lita dengan mata berkedip-kedip seperti anak kecil meminta sesuatu. "Nah loh.....seriusan dia mau jadi pacar gue? tapi gue maunya jadi pacar lu gimana dong?" jawab senior itu didepan Lita yang langsung diam dan menengok pada Anik yang juga melihatnya pucat. Anik menunduk dan langsung berlari keluar ruangan. Arkan .....ya itu adalah nama senior jurusan Manajemen Bisnis yang disukai oleh Anik. Dia senior yang selama ujian catur wulan satu kemarin berhasil merebut perhatian dan dunia Anik teman sebangku Lita, dan sekarang senior itu juga yang menyatakan kalau dia lebih mau Lita yang jadi pacarnya daripada Anik. Padahal Lita hanya mau jadi mak comblang dari mereka berdua. Lita yang juga kaget akan ucapan senior itu menyusul Anik keluar ruangan dan segera berlari ke kelas mereka. Dilihatnya Anik yang duduk diam dikursinya. "Nik, lu kenapa ninggalin gue sih gue kan ngomong tentang lu disitu kenapa ga lu terusin aja sih? napa lu pake pergi?" cecar Lita pada Anik menutupi kegugupan dan kekagetan nya ditembak sama kakak kelas itu. "Ya mau gimana lagi? dianya suka ama lu. ya kali gue jadi kambing congek disana liat lu berduaan". sahut Anik terlihat kesal. "Lah napa lu jadi bete ama gue...kan gue cuma nyampein perasaan lu aja kalau masalah dia suka ama gue, ya mana gue tau...ah jadi bete, gue mau ke kantin aja lah. kata Lita beranjak dari bangkunya dan mulai keluar kelas. Ta ..ta..sorry iya gue yang salah... sorry ya..bukan salah lu kok, emang gue aja kali yang kebaperan padahal emang dia sebenernya biasa aja. he he he...udah ya Ta..maafin gue. Gue seneng kok lu bisa jadian ama dia, jangan jutek mulu lu jadi cewe". kata Anik lagi sambil nyusul Lita dan ikut juga ke kantin. "Buset penuh aja nih kantin..Nik lu pesenin mie ayam ama es yak, gue yang cari tempat duduk". teriak Lita sambil memantau ke seluruh penjuru kantin untuk menemukan bangku yang kosong. "Yoi...lu tungguin dan cari bangku aja sono". Jawab Anik sambil jalan ke arah tukang mie ayam yang pas bersebelahan sama es teh manis mas Gito yang terkenal. "yes dapat bangku juga, kosong kan nih?" tanya Lita sama kedua orang meja pojok itu. Setelah dapat jawaban kosong Lita buru-buru duduk dan menginjak bangku yang ada didepannya agar Anik langsung bisa duduk nanti. "Akhirnya ketemu juga pacar gue!!!" teriak seorang cowo yang terdengar lebay. Lita menengok untuk melihat siapa cowo tersebut dan membulat matanya ketika tahu siapa orangnya yang sedang berjalan menghampiri meja Lita dan duduk disampingnya yang tiba-tiba kosong karena yang duduk diusir oleh Arkan sebagai senior. "Ngapain lu duduk disitu.....? pake acara ngusir-ngusir orang lain, udah kaya jagoan aja lu? kata Lita judes pada Arkan yang dengan tidak peduli bahkan pindah ke bangku depan Lita dan memegang kedua tangan Lita dan berteriak, "Woi semuanya...nih pacar gue yah...barang siapa yang berani ganggu, urusan ama gue". teriaknya santai tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Lita. "Cie....cie.....Arkan.....preman slanker bisa jatuh cinta juga!!!!!" suara teriakan bersahutan di kantin membuat Lita memerah dan segera mencari Anik yang pesan makanan. "eh buset mana tuh Anik..lama amat pesen makannya" batin Lita sambil cemberut dan melepaskan tangan yang dipegang oleh Arkan dari tadi. "Duh sorry ya Ta, ngantri ban... belum selesai Anik menjelaskan matanya sudah melotot dan melihat ada Arkan yang duduk di depan Lita. Cowo yang baru saja mematahkan hatinya diperpustakaan tadi. Tapi Anik tidak bersikap mendukung Lita yang terlihat seperti orang yang sedang meminta bantuan pun tidak dihiraukan oleh Anik yang langsung duduk dan memberikan semangkok mie ayam pesanan Lita dan senyum pada Arkan yang juga tersenyum tanpa rasa bersalah pada Anik. "Makan yang banyak ya sayang, aku yang bayar." kata Arkan mencoba menarik perhatian Lita yang seperti tidak peduli dengan keberadaannya. Suara bel berbunyi membuat Lita dan Anik buru-buru makan agar bisa langsung masuk kelas. Mahlum mereka siswa baru jadi tidak tahu kalau bel di jadwal classmeeting itu artinya hanya jam wajib disekolah sudah habis. Jadi sisa jam berikut bisa diisi dengan acara bebas. "Buruan Nik, et dah....makan lu lama banget, tuh udah bell tau." kata Lita sambil mengelap mulutnya dengan tissue sambil berdiri yang langsung ditahan oleh Arkan. "ya ampun sayang....makanan juga belum turun mau kemana sih? itu bel cuma buat ngasih tahu kalau jam berikutnya udah bebas, mau pulang boleh mau disekolah juga bebas". jelas Arkan sambil menyuruh Lita untuk duduk kembali. Lita terdiam dan menurut saat tangan Arkan menyuruhnya duduk kembali, sambil cemberut dia ngeliatin Anik yang masih dengan santai makan tanpa merasa terganggu dengan tatapan Lita yang meminta tolong padanya. Lita kembali ke kelas mereka yang ada dilantai 3 dengan di antar oleh Arkan yang membuat semua penghuni lantai 1 alias kelas 3 dan juga lantai 2 alias kelas 2 heboh. Karena Arkan terkenal sebagai cowo yang dibilang nakal sih ga...cuma suka banget nyeleneh kalau bahasa kerennya. Selain jago basket, volly, sepak bola dan juga maen gitar. Jadi dibalik nilai minusnya lebih banyak plusnya lah sebenernya yang dimiliki oleh Arkan. Sesampainya di lantai 3 kebetulan kelas Lita pas banget di ujung tangga belok kanan.. kelas pertama, Arkan dengan sedih melepas Lita dan Anik masuk ke dalam kelas dan berjanji menunggu Lita pulang dibawah katanya. "Gile Ta...lu pacara ama Arkan? serangan pertanyaan meneror Lita yang dengan cuek menjawab tanpa suara melainkan dengan gerakan di bahunya yang berarti "entahlah". "Gue juga bingung" kata Lita sedih. "Niat nyomblangin nih anak, kenapa jadi gue yang ditembak...arggghhhh suee......bete gueeee.." keluh Lita. Serempak anak sekelas dibuat riuh dengan jawaban Lita yang lucu, tak terkecuali Sri Budi ketua kelasnya. " Shuuuut...udah udah jangan berisik mending kita omongin soal jadwal tanding volly besok siapa yang mau turun?" kata Sri menenangkan teman-temannya. Lita yang masih galau hanya bisa pasrah ketika teman-temannya memilihnya untuk tanding besok karena sudah tidak punya tenaga untuk berdebat. Lita terbangun ketika terdengar suara ribut temannya di arah depan kelas mereka, berdesakan mereka masuk dan membangunkan Lita yang meneruskan tidurnya dikelas setelah tertunda dan terganggu diperpustakaan tadi. Dia melihat sosok Arkan di depan kelasnya dan tersenyum memanggil nya dengan melongokkan kepalanya saja. "Ta ..ayo pulang ...aku udah jemput kamu loh... kata Arkan lagi manis sambil tersenyum ke arah teman-teman Lita yang keluar kelas untuk bersiap pulang. "Hoaaaamm...lah ngapain juga lu kemari? gue pulang bareng Atik ama Ipeh..lu pulang aja sendiri. napa ajak gue lagi...rumah lu aja mungkin ga searah ama gue". sahut Lita yang kembali jutek. ya namanya juga baru bangun tidur. hehehehehe... "Lita sayang...kan kita udah pacaran. jadi kita harus pulang bareng-bareng." katanya lagi tidak peduli dengan kejutekan Lita. Lita membereskan tasnya dan baru menyadari bahwa kedua temannya Atik dan Ipeh udah ga ada di meja mereka. "sue, gue ditinggal" batin Lita. Dengan di iringi pandangan dari warga lantai 3 lanjut lantai 2 dan diakhiri lantai 1 Lita turun bersama Arkan yang berjalan mencoba menyamakan langkah mereka, karena Lita sengaja buru-buru agar Arkan tertinggal. Hari ini akhirnya Lita pulang diantar oleh Arkan dengan motor kawasaki nya yang membuat Lita nungging, karena bangku penumpangnya yang begitu tinggi dan menjadikan Lita pusat perhatian seluruh warga sekolah tersebut. *** Pov Arkan "cewe itu sebenernya cantik loh asal dia mau sedikit senyum aja, tapi dasar cewe jutek....hahaha...tapi kenapa jadi gue yang deg-degan yah batinku. Kaget banget pas tuh cewe nyatain perasaan temannya yang dulu pernah duduk bareng gue pas ujian kemarin, tapi muka juteknya yang malah menarik buat gue bukan muka temannya yang suka sok cari perhatian itu. Cinta tidak bisa dipaksa kan?" batinku memberi pembelaan untuk diriku sendiri. Matanya yang mengandung aura misterius membuatku penasaran. "Kak, Lita lagi ke kantin sama aku, kalau kakak mau deketin dia gih sana samperin dia disana." Kata Anik cewe yang baru saja kutolak di ruang perpustaaan tadi. Tak ada rasa kesal dan sedih selayaknya orang yang sedang patah hati, bikin aku yakin dan tidak merasa salah. "eh sayang...dicariin ternyata ada di sini rupanya...." teriakku tanpa peduli semua orang dikantin melihat padaku. Ya mereka juga pasti tidak akan merasa aneh dengan kegilaan yang sering kulakukan disekolah ini. Dan gadis itu....Lita.....dengan muka juteknya kembali bengong dan siap untuk menghindar setelah dengan halus aku usir semua orang yang di sampingnya agar aku bisa duduk di depan bangku yang ada didepan Lita yang walau merasa terpaksa dia juga tidak pergi dari kantin karena udah kadung memesan mie ayam yang kulihat sudah dibawakan oleh Anik temannya tadi. "Makan yang banyak ya cantik aku yang bayar semua" kataku lagi tanpa berfikir, entah kenapa semua tentang dia membuat aku sangat peduli dan penasaran. Bahkan usai makan ku antar dia sampai ke kelas nya dan disoraki oleh teman - teman sekelas di lantai 1 dan adik kelas di lantai 2 tidak membuatku jengah dan tetap bersemangat nganterin Pacarku itu...Hahaha baru aja jadian tapi entah kenapa aku udah ga mau jauh-jauh darinya. Bel pulang yang walaupun sebenarnya tidak berfungsi di saat classmeeting seperti ini berbunyi, aku menunggu dengan gelisah tapi hampir setengah jam bel berbunyi tidak ada tanda kalau cewe jutek, yang cantik dan seksi itu turun dari kelasnya di lantai 3. Karena tidak sabar akhirnya aku pun naik ke lantai 3 dan menemukan dia malah tertidur di mejanya. "Ta, yuk kita pulang aku udah nungguin kamu dari tadi loh dibawah "aish...Ngapain sih lu....Arah kita juga beda ngapain juga lu anterin." Lagi-lagi jutek mukanya...Ish gemes "kita kan udah pacaran sayang, jadi kamu adalah tanggung jawab aku. Yuk kita pulang, kataku lagi sambil membantunya membereskan tasnya dan menggandeng tangannya untuk turun tangga sampai ke parkiran dimana Kawasakiku diparkir. Dengan tubuhnya yang semok dan mungil agak kesulitan dia naik motorku yang tinggi, dengan sabar kumiringi motorku agar dia leluasa untuk naik dan yes....Kurasakan juga bongkahan d**a yang ku incar dari tadi itu...Empuk....He he he..He. Rejeki anak soleh...Batinku Dan ku akui aku jatuh cinta padanya gadis judes adik kelasku dan dunia ku berubah semenjak hari ini. Ya...Semua karena dia... Lita cewe jutek yang sudah meruntuhkan hati Preman sepertiku. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD