Masa SMP yang ga indah buat
Lita berlalu, walau dengan nilai
pas-pas-an akhirnya dia bisa lulus
juga, dan ga nanggung-nanggung
dia nyari sekolah lanjutan yang jauh
dari rumah, kebayang dong reaksi
mama Rossa kayak gimana? Yup
Rossa dengan berbagai macam
alasan menolak, mengancam,
mengintimidasi....hahaha semua
tentang itulah pokoknya. Tapi karena
Lita merasa dirinya, hidupnya udah
ga berguna lagi dia masa bodo
dengan itu semua dan tetap ngotot
untuk melanjutkan ke sekolah yang
jauh dari rumahnya tersebut.
Padahal mah dibilang jauh-jauh
banget ga kali, orang sekolah Feby
lebih jauh dari sekolah Lita tapi
sekali lagi kalian tahu kan kenapa
Rossa bisa melarang Lita?
iyaa......karena Lita masih nyimpan
dendam, Lita masih punya ketakutan
yang belum bisa didamaikan oleh
dirinya sendiri dan juga orang
sekitar. Rossa khawatir kalau dia
tidak bisa menjaga karena Rossa
pun lagi-lagi harus tetap bekerja
untuk keluarganya.
"Cie yang udah SMEA.... " ledek
Feby didepan kamar Lita yang
mencoba seragamnya, Lita hanya
senyum aja diledek oleh Feby. Walau
usia mereka tidak terlalu jauh hanya
2 tahun tapi tidak membuat Lita dan
Feby akrab ya karena Lita lebih
sering dirumah dan Feby lebih sering
keluar rumah setelah pulang
sekolah, sebelum pergi sekolah, dll
banyak kegiatan yang dilakukan
Feby iyaaaang di beri ijin oleh Rossa
dan Lundi orangtua mereka berdua.
"Iya akhirnya SMEA juga, mau
buru-buru sekolah biar nyobain liat
dunia luar". sindir Lita pada Feby
yang langsung terdiam dan
mengalihkan pandangannya dan
berlalu dari kamar Lita menuju
kamarnya sendiri. Tanpa merasa
bersalah Lita meneruskan mencoba
pakaian seragamnya dan melihat
tubuhnya dicermin,
"Ih nih badan kenapa jadi gede
begini? tapi makin semok sih
jadinya... fiuh akhirnya Andi pergi
juga dari rumah. Tapi kok jadi
kepengen ngerasain itu lagi yah".
batin Lita membayangkan beberapa
kejadian yang sebenernya membuat
dia trauma tapi juga membuat dia
ketagihan denga sentuhan-sentuhan
dari pria. Secara psikologi dia
terluka dan trauma tapi reaksi
tubuhnya juga bisa mengkhianati
dengan merindukan itu semua.
Bingung? sering terjadi dibeberapa
korban perkosaan kok, yang
pelakunya adalah orang-orang
terdekat. Dan Andi merupakan
salah satu orang terdekat disekitar
lingkungan Lita, dan itulah yang
membuat Lita merasakan kerinduan
itu.
Tahun Ajaran Baru dimulai,
Lita sudah memakai pakaian abu-
abunya. setelah seminggu masih
memakai pakaian smpnya yang
sudah kekecilan. dan wuih abu-abu
loh. dan Lita tersenyum melihat
dirinya sendiri didepan cermin,
Rossa keluar kamar dan melihat
Lita yang masih didalam kamarnya
membuat Rossa mengamati anaknya
itu.
" Ya Tuhan, anakku sudah besar.
kuatkan dia ya Tuhan dan jaga dia
dalam masa traumanya ini. semoga
dia bisa menjadi kembali normal
dengan kehidupan sekolah yang baru
dan bisa punya teman banyak supaya
tidak terpuruk lagi". batin Rossa sambil
memanggil Lita untuk keluar kamar dan
mengingatkan agar segera berangkat
sekolah karena jaraknya yang lumayan
jauh dari rumah mereka.
"Iya ma, ini neng juga udah siap.
Dianter ga?" tanya Lita sambil
menyiapkan bekal makan siang dan
juga minuman agar dia bisa bawa
untuk disekolah, karena dia belum
tahu apakah makanan dikantin sekolah
itu aman atau tidak. (sebenernya itu
maunya Rossa alasannya takut Lita
sakit perut,dll. padahal aslinya karena
biar irit uang jajan).
" yah ga bisa dianter neng. papa ama
mama mau urusin surat motor
tetangga depan rumah jadi mau pake
motor ke Komdak" jawab Rossa berteriak
karena dia mau kamar mandi. Dan
akhirnya hari pertama sekolah dijalani
Lita dengan berjalan kaki kedepan gang
dan naik angkot menuju sekolahnya
di daerah Kebayoran Lama.
"ini bangku gu..." belum selesai ucapan
Lita bangku yang selama seminggu
ini dia duduki semasa Masa Orientasi
Sekolah diambil paksa oleh seorang
anak perempuan yang diantar oleh
kedua laki-laki. Satu orang berbadan
kecil putih dan berwajah tampan,
dan satu lagi tinggi tampan sih tapi
badannya agak gelap.
"Tapi kan saya udah duduk dibangku
ini selama masa MOS kemarin"
bela ku sambil tidak mau beranjak
dari bangku yang sangat strategis itu,
ga terlalu didepan, nomor 3 dari
belakang, pas ditengah.
"Trus lu mau apa?" kata laki-laki
yang berbadan Gelap sambil maju
menghadang Lita. Lita yang tidak
siap dihadang seperti itu akhirnya
terjungkal kebelakang dan langsung
ditahan oleh temannya bernama Anik
yang duduk dibelakang bangku Lita
selama ini.
"Udah lu dibelakang Atik aja, ini
bangku dia mulai sekarang. Paham
lu?" kata laki-laki berbadan gelap
itu yang bernama Roni anak kelas
2 jurusan Sekretaris yang adalah
adik kelas dari kakak kandung Atik
yang sedang memperebutkan kursi
dimeja yang selama ini aku duduki.
"Udah ah, diem lu Ron, udah
gue mau dibelakang dia juga gapapa"
jawab Atik yang berbalik jadi
sungkan setelah melihat Roni bersikap
seperti arogan. "udah lu berdua balik
kekelas gih, bikin gue malu aja".
kata Atik lagi sambil mendorong kedua
laki-laki tersebut, sedangkan Udin teman
Roni yang satunya lagi beranjak keluar
kelas sambil masih memandangi Atik dalam
diamnya.
" Udah lu duduk disitu aja". kata Atik santai.
"Mereka emang suka lebay, mentang-mentang
adik seperguruan abang gue dipencak silat
jadi ngerasa sok ngelindungin gue kayak
tadi, sorry yah" kata Atik lagi dan dia
langsung duduk di kursi belakang Lita dan
Anik yang akhirnya memutuskan duduk bersama.
Semenjak kejadian Itu Atik, Anik dan
Lita malah jadi teman akrab. ditambah Ipeh
yang duduk dengan Atik sedangkan Lita dan
Anik duduk berdua. Gaya Atik yang seperti
bos didukung oleh teman-teman abangnya
yang masih bersekolah di sekolah mereka
tersebut , seperti salah satunya adalah dua
kakak kelas yang mengambil jurusan di
Akuntansi dan sudah duduk dikelas 3 tahun
ini.
Tiga bulan berlalu dan Lita senang
dengan kehidupan baru yang sedang
dijalaninnya sekarang, sekolah yang jauh dan
punya teman sekolah yang kompak, kebetulan
Atik, Ipeh dan Lita bisa menggunakan
angkutan umum yang sama jadi setiap hari
mereka pulang sekolah berbarengan,
sedangkan Anik harus naik minibus ke
arah yang lain. Selama itu pun Lita pelan-
pelan menjadi semakin percaya diri dan
bisa menerima keadaannya tanpa merasa
rendah diri lagi.
Ujian Catur Wulan Pertama (yang
baca pasti bisa nebak ini kejadian tahun
berapa), dilalui oleh Lita dengan semangat,
gimana ga, ternyata sistem disekolah ini
setiap kali ujian anak kelas 1 akan duduk
bersebelahan dengan anak kelas 3 jurusan
apapun kecuali yang sama jurusannya,
seperti contohnya kali ini Lita duduk
dengan anak kelas 3 jurusan Manajemen Bisnis
sedangkan Lita jurusan Sekretaris, sesuai
dengan nomor urut absen ya begitu
mereka duduk berdampingan. Sebenernya
Lita pengennya kalau dia bisa sebangku
dengan kakak kelas yang pintar jadi dia
bisa minta diajarin, secara dengan modal
tubuh yang montok dan wajah yang cantik
pastilah orang-orang akan membantunya
pikir Lita waktu itu, namun sayang ternyata
dia duduk dengan Hamzah, kakak kelas
manajemen yang terkenal dengan seringnya
bolos sekolah alias malas. Nasib!!!
Walau sekelas Anik dan Lita berjarak
jauh sekali pada saat ujian tersebut, dan
Anik duduk tepat disamping kakak kelas
yang paling terkenal di angkatannya, ganteng?
pintar? jago basket? jago main gitar? hmmmmm
2 diantaranya betul, tapi jelas bukan 2 yang
pertama, cuma ya lumayan lah untuk ukuran
kakak kelas yang jago main basket itu
sudah hebat sekali di sekolah ini.
Dan kakak kelas itu pula yang selalu ngasih
jawaban bantuan ke Anik, padahal.......belum
tentu bener.....
Seminggu setelah ujian selesai,
diadakan classmeeting dimana masing-masing
angkatan dikasih kesempatan untuk lomba
olah raga pastinya, semua anak-anak cewe
udah pasti berdiri berjejer dibalkon depan
kelas masing-masing untuk melihat cowo
gebetan dan cowo incarannya main ditengah
lapangan, karena sensasi cowo ganteng
dengan keringat bercucuran dan senyum
manis menandakan kemenangan merupakan
pemandangan yang indah untuk angkatan
sekolah waktu itu. Berbeda dengan Lita
yang malah memanfaatkan waktu itu
dengan mengasingkan diri dan tidur di
ruang perpustakaan, dia dan Anik
berjalan dengan dengan santai ke arah
perpustakaan sementara yang lain sibuk
berjajar melihat incarannya.
Bruk....suara badan dihentakkan
ke atas meja perpustakaan mengagetkan
Lita yang baru saja mau pulas. Lita mengangkat
kepalanya dan terlihat matanya yang memerah
menatap pria yang tiba-tiba merebahkan
kepalanya dimeja itu.
"B aja keles bikin kaget aja lu!" teriak Lita
dengan muka jutek.
"Suuuuutt!!!!!. Lita kalau mau berisik
mendingan diluar aja yah kata penjaga
perpustakaan yang kaget dengar teriakan Lita.
"Iya sorry...sorry..." jawab Lita sambil
melotot ke arah pria itu dan kembali
mau menaruh kepalanya dan melanjutkan
tidurnya yang terbangun tadi. Baru mau
naro kepalanya tangannya malah
disenggol lagi oleh Anik. Bangun lagi
dan sambil mendengus kesal Lita
mengangkat kepalanya seakan
bertanya, nape lu?
"Ta, itu cowo yang gue ceritain
kemarin. itu kakak kelas yang
bantuin gue pas ujian kemarin.
Jangan-jangan dia naksir ama
gue kali ya Ta" kata Lita dengan
tertawa pelan melihat keadaan
sekitar yang sunyi senyap.
"Jangan gila lu Nik, udah ayo
buruan kita balik ke kelas apa ke kita
ke kantin, tiba-tiba gue laper ngeliat
kelakuan cowo idaman lu itu". kata
Lita bersiap bangun dari kursinya
dan melangkah pergi. Tapi tangan
Lita ditahan oleh Anik dan berkata,
"Ya Ta....comblangin gue dong, gue
naksir nih ama dia". Kata Anik lagi.
"Ih ogah .... lu tempat aja sono
sendiri, ogah gue ngadepin dia lagi
gara-gara dia gue jadi ga bisa tidur.
Dan gara-gara dia juga kan gue jadi
malu ditegur petugas perpus. Ah sue
kata Lita lagi sambil melotot kesal.
"Ayo dong Ta, tar gue traktir indomie
pake baso dan es mas Gito dikantin
deh, kalau perlu seminggu full kalau
gue bisa jadian ama dia. Dia tuh cool
banget Ta. emang sih mukanya
biasa aja ..tapi kharismanya itu loh..
apalagi pas dia maen basket...beuh."
kata Anik terdiam karena Lita udah
duduk didepan cowo incaran Anik
dan mencoba bangunin itu kakak
kelas tersebut.
"Woi bangun kak...ini ada yang
kenalan dan jadi pacar lu nih, mau
yah?" Tanya Lita santai. Sudah
terbayang rasanya makan indomie
gratis selama seminggu plus dapat
minuman es teh manis dari mas Gito
wah luar biasa pikir Lita lagi.
"heem...apaan sih lu. gangguin gue
lagi tidur aja" kata cowo itu sambil
melihat temannya yang masih tidur
agak jauh dari bangku tempat dia
tidur.
"Nih kak, namanya Anik...dia naksir
ama lu dan dia juga mau jadi pacar
lu. Gimana?" tanya Lita dengan mata
berkedip-kedip seperti anak kecil
meminta sesuatu.
"Nah loh.....seriusan dia mau
jadi pacar gue? tapi gue maunya jadi
pacar lu gimana dong?" jawab senior
itu didepan Lita yang langsung diam
dan menengok pada Anik yang juga
melihatnya pucat. Anik menunduk
dan langsung berlari keluar ruangan.
Arkan .....ya itu adalah nama
senior jurusan Manajemen Bisnis
yang disukai oleh Anik. Dia senior
yang selama ujian catur wulan satu
kemarin berhasil merebut perhatian
dan dunia Anik teman sebangku Lita,
dan sekarang senior itu juga yang
menyatakan kalau dia lebih mau Lita
yang jadi pacarnya daripada Anik.
Padahal Lita hanya mau jadi mak
comblang dari mereka berdua. Lita
yang juga kaget akan ucapan senior
itu menyusul Anik keluar ruangan
dan segera berlari ke kelas mereka.
Dilihatnya Anik yang duduk diam
dikursinya.
"Nik, lu kenapa ninggalin gue sih
gue kan ngomong tentang lu disitu
kenapa ga lu terusin aja sih? napa lu
pake pergi?" cecar Lita pada Anik
menutupi kegugupan dan kekagetan
nya ditembak sama kakak kelas itu.
"Ya mau gimana lagi? dianya suka
ama lu. ya kali gue jadi kambing
congek disana liat lu berduaan".
sahut Anik terlihat kesal.
"Lah napa lu jadi bete ama gue...kan
gue cuma nyampein perasaan lu aja
kalau masalah dia suka ama gue, ya
mana gue tau...ah jadi bete, gue mau
ke kantin aja lah. kata Lita beranjak
dari bangkunya dan mulai keluar
kelas.
Ta ..ta..sorry iya gue yang salah...
sorry ya..bukan salah lu kok, emang
gue aja kali yang kebaperan padahal
emang dia sebenernya biasa aja.
he he he...udah ya Ta..maafin gue.
Gue seneng kok lu bisa jadian ama
dia, jangan jutek mulu lu jadi cewe".
kata Anik lagi sambil nyusul Lita dan
ikut juga ke kantin.
"Buset penuh aja nih kantin..Nik
lu pesenin mie ayam ama es yak,
gue yang cari tempat duduk". teriak
Lita sambil memantau ke seluruh
penjuru kantin untuk menemukan
bangku yang kosong.
"Yoi...lu tungguin dan cari bangku
aja sono". Jawab Anik sambil jalan
ke arah tukang mie ayam yang pas
bersebelahan sama es teh manis
mas Gito yang terkenal.
"yes dapat bangku juga, kosong
kan nih?" tanya Lita sama kedua
orang meja pojok itu. Setelah dapat
jawaban kosong Lita buru-buru
duduk dan menginjak bangku yang
ada didepannya agar Anik langsung
bisa duduk nanti.
"Akhirnya ketemu juga pacar gue!!!"
teriak seorang cowo yang terdengar
lebay. Lita menengok untuk melihat
siapa cowo tersebut dan membulat
matanya ketika tahu siapa orangnya
yang sedang berjalan menghampiri
meja Lita dan duduk disampingnya
yang tiba-tiba kosong karena yang
duduk diusir oleh Arkan sebagai
senior.
"Ngapain lu duduk disitu.....? pake
acara ngusir-ngusir orang lain, udah
kaya jagoan aja lu? kata Lita judes
pada Arkan yang dengan tidak peduli
bahkan pindah ke bangku depan Lita
dan memegang kedua tangan Lita
dan berteriak, "Woi semuanya...nih
pacar gue yah...barang siapa yang
berani ganggu, urusan ama gue".
teriaknya santai tanpa melepaskan
pegangan tangannya pada Lita.
"Cie....cie.....Arkan.....preman
slanker bisa jatuh cinta juga!!!!!"
suara teriakan bersahutan di kantin
membuat Lita memerah dan segera
mencari Anik yang pesan makanan.
"eh buset mana tuh Anik..lama amat
pesen makannya" batin Lita sambil
cemberut dan melepaskan tangan
yang dipegang oleh Arkan dari tadi.
"Duh sorry ya Ta, ngantri ban...
belum selesai Anik menjelaskan
matanya sudah melotot dan melihat
ada Arkan yang duduk di depan Lita.
Cowo yang baru saja mematahkan
hatinya diperpustakaan tadi. Tapi
Anik tidak bersikap mendukung Lita
yang terlihat seperti orang yang
sedang meminta bantuan pun tidak
dihiraukan oleh Anik yang langsung
duduk dan memberikan semangkok
mie ayam pesanan Lita dan senyum
pada Arkan yang juga tersenyum
tanpa rasa bersalah pada Anik.
"Makan yang banyak ya sayang, aku
yang bayar." kata Arkan mencoba
menarik perhatian Lita yang seperti
tidak peduli dengan keberadaannya.
Suara bel berbunyi membuat
Lita dan Anik buru-buru makan agar
bisa langsung masuk kelas. Mahlum
mereka siswa baru jadi tidak tahu
kalau bel di jadwal classmeeting itu
artinya hanya jam wajib disekolah
sudah habis. Jadi sisa jam berikut
bisa diisi dengan acara bebas.
"Buruan Nik, et dah....makan lu lama
banget, tuh udah bell tau." kata Lita
sambil mengelap mulutnya dengan
tissue sambil berdiri yang langsung
ditahan oleh Arkan.
"ya ampun sayang....makanan juga
belum turun mau kemana sih? itu
bel cuma buat ngasih tahu kalau jam
berikutnya udah bebas, mau pulang
boleh mau disekolah juga bebas".
jelas Arkan sambil menyuruh Lita
untuk duduk kembali. Lita terdiam
dan menurut saat tangan Arkan
menyuruhnya duduk kembali, sambil
cemberut dia ngeliatin Anik yang
masih dengan santai makan tanpa
merasa terganggu dengan tatapan
Lita yang meminta tolong padanya.
Lita kembali ke kelas mereka
yang ada dilantai 3 dengan di antar
oleh Arkan yang membuat semua
penghuni lantai 1 alias kelas 3 dan
juga lantai 2 alias kelas 2 heboh.
Karena Arkan terkenal sebagai cowo
yang dibilang nakal sih ga...cuma
suka banget nyeleneh kalau bahasa
kerennya. Selain jago basket, volly,
sepak bola dan juga maen gitar.
Jadi dibalik nilai minusnya lebih
banyak plusnya lah sebenernya yang
dimiliki oleh Arkan. Sesampainya di
lantai 3 kebetulan kelas Lita pas
banget di ujung tangga belok kanan..
kelas pertama, Arkan dengan sedih
melepas Lita dan Anik masuk ke
dalam kelas dan berjanji menunggu
Lita pulang dibawah katanya.
"Gile Ta...lu pacara ama Arkan?
serangan pertanyaan meneror Lita
yang dengan cuek menjawab tanpa
suara melainkan dengan gerakan
di bahunya yang berarti "entahlah".
"Gue juga bingung" kata Lita sedih.
"Niat nyomblangin nih anak, kenapa
jadi gue yang ditembak...arggghhhh
suee......bete gueeee.." keluh Lita.
Serempak anak sekelas dibuat riuh
dengan jawaban Lita yang lucu, tak
terkecuali Sri Budi ketua kelasnya.
" Shuuuut...udah udah jangan berisik
mending kita omongin soal jadwal
tanding volly besok siapa yang mau
turun?" kata Sri menenangkan
teman-temannya. Lita yang masih
galau hanya bisa pasrah ketika
teman-temannya memilihnya untuk
tanding besok karena sudah tidak
punya tenaga untuk berdebat.
Lita terbangun ketika terdengar
suara ribut temannya di arah depan
kelas mereka, berdesakan mereka
masuk dan membangunkan Lita
yang meneruskan tidurnya dikelas
setelah tertunda dan terganggu
diperpustakaan tadi.
Dia melihat sosok Arkan di depan
kelasnya dan tersenyum memanggil
nya dengan melongokkan kepalanya
saja. "Ta ..ayo pulang ...aku udah
jemput kamu loh... kata Arkan lagi
manis sambil tersenyum ke arah
teman-teman Lita yang keluar kelas
untuk bersiap pulang.
"Hoaaaamm...lah ngapain juga lu
kemari? gue pulang bareng Atik ama
Ipeh..lu pulang aja sendiri. napa ajak
gue lagi...rumah lu aja mungkin ga
searah ama gue". sahut Lita yang
kembali jutek. ya namanya juga baru
bangun tidur. hehehehehe...
"Lita sayang...kan kita udah
pacaran. jadi kita harus pulang
bareng-bareng." katanya lagi tidak
peduli dengan kejutekan Lita.
Lita membereskan tasnya dan baru
menyadari bahwa kedua temannya
Atik dan Ipeh udah ga ada di meja
mereka.
"sue, gue ditinggal" batin Lita.
Dengan di iringi pandangan dari
warga lantai 3 lanjut lantai 2 dan
diakhiri lantai 1 Lita turun bersama
Arkan yang berjalan mencoba
menyamakan langkah mereka,
karena Lita sengaja buru-buru agar
Arkan tertinggal.
Hari ini akhirnya Lita pulang diantar
oleh Arkan dengan motor kawasaki
nya yang membuat Lita nungging,
karena bangku penumpangnya yang
begitu tinggi dan menjadikan Lita
pusat perhatian seluruh warga
sekolah tersebut.
***
Pov Arkan
"cewe itu sebenernya cantik loh
asal dia mau sedikit senyum aja, tapi
dasar cewe jutek....hahaha...tapi
kenapa jadi gue yang deg-degan yah
batinku. Kaget banget pas tuh cewe
nyatain perasaan temannya yang
dulu pernah duduk bareng gue pas
ujian kemarin, tapi muka juteknya
yang malah menarik buat gue bukan
muka temannya yang suka sok cari
perhatian itu. Cinta tidak bisa
dipaksa kan?" batinku memberi
pembelaan untuk diriku sendiri.
Matanya yang mengandung aura
misterius membuatku penasaran.
"Kak, Lita lagi ke kantin sama
aku, kalau kakak mau deketin dia gih
sana samperin dia disana." Kata
Anik cewe yang baru saja kutolak
di ruang perpustaaan tadi. Tak ada
rasa kesal dan sedih selayaknya
orang yang sedang patah hati, bikin
aku yakin dan tidak merasa salah.
"eh sayang...dicariin ternyata ada di
sini rupanya...." teriakku tanpa
peduli semua orang dikantin melihat
padaku. Ya mereka juga pasti tidak
akan merasa aneh dengan kegilaan
yang sering kulakukan disekolah ini.
Dan gadis itu....Lita.....dengan muka
juteknya kembali bengong dan siap
untuk menghindar setelah dengan
halus aku usir semua orang yang di
sampingnya agar aku bisa duduk di
depan bangku yang ada didepan Lita
yang walau merasa terpaksa dia
juga tidak pergi dari kantin karena
udah kadung memesan mie ayam
yang kulihat sudah dibawakan oleh
Anik temannya tadi.
"Makan yang banyak ya cantik
aku yang bayar semua" kataku lagi
tanpa berfikir, entah kenapa semua
tentang dia membuat aku sangat
peduli dan penasaran. Bahkan usai
makan ku antar dia sampai ke kelas
nya dan disoraki oleh teman - teman
sekelas di lantai 1 dan adik kelas di
lantai 2 tidak membuatku jengah
dan tetap bersemangat nganterin
Pacarku itu...Hahaha baru aja jadian
tapi entah kenapa aku udah ga mau
jauh-jauh darinya.
Bel pulang yang walaupun
sebenarnya tidak berfungsi di saat
classmeeting seperti ini berbunyi,
aku menunggu dengan gelisah tapi
hampir setengah jam bel berbunyi
tidak ada tanda kalau cewe jutek,
yang cantik dan seksi itu turun dari
kelasnya di lantai 3.
Karena tidak sabar akhirnya aku pun
naik ke lantai 3 dan menemukan dia
malah tertidur di mejanya.
"Ta, yuk kita pulang aku udah
nungguin kamu dari tadi loh dibawah
"aish...Ngapain sih lu....Arah kita
juga beda ngapain juga lu anterin."
Lagi-lagi jutek mukanya...Ish gemes
"kita kan udah pacaran sayang, jadi
kamu adalah tanggung jawab aku.
Yuk kita pulang, kataku lagi sambil
membantunya membereskan tasnya
dan menggandeng tangannya untuk
turun tangga sampai ke parkiran
dimana Kawasakiku diparkir.
Dengan tubuhnya yang semok
dan mungil agak kesulitan dia naik
motorku yang tinggi, dengan sabar
kumiringi motorku agar dia leluasa
untuk naik dan yes....Kurasakan juga
bongkahan d**a yang ku incar dari
tadi itu...Empuk....He he he..He.
Rejeki anak soleh...Batinku
Dan ku akui aku jatuh cinta padanya
gadis judes adik kelasku dan dunia
ku berubah semenjak hari ini.
Ya...Semua karena dia... Lita cewe
jutek yang sudah meruntuhkan hati
Preman sepertiku.
Tbc