Bab 13 - Kembalinya Masa Lalu & Lukanya

2388 Words
"Sayang...maafin aku, aku khilaf...maafin aku sayang...tapi jangan tinggalin aku...aku janji aku akan berubah" kata Johan dengan menangis dan berlutut disamping tempat tidur dimana Esther terbaring dengan lemah. Tangannya menggenggam tangan Esther yang langsung ditepis dengan kasar oleh Esther yang dengan tatapan benci kembali mengusir suaminya yang selama ini sudah dicintai dan diberikan kesempatan bertobat tapi kembali menyakitinya dengan mengkhianati cinta mereka entah untuk keseberapa kalinya. "Apa maksudnya ini? Cepat jelaskan Esther papa ga suka kalian menyembunyikan sesuatu dari papa" kata ayahnya Esther dengan marah. "Papa tanya aja sama menantu pilihan papa itu, Esther udah cape sama kelakuan dia yang ga berubah harusnya papa terima dulu lamaran Ali, dia jauh lebih baik dari laki-laki penjilat ini" teriak Esther frustasi. Kring.....Kring.... "Halo, iya betul saya mamanya Yuli, ada apa pak? apa? terus bagaimana keadaannya sekarang pak?" kata Esther tiba-tiba terputus dan air matanya kembali turun dan segera dia mencabut selang infus ditangan nya dan segera berlari keluar ruangan. Kedua orangtua Esther segera mengejar dan menyusul sedangkan Johan masih bengong dengan kejadian itu dan baru perlahan dia menyadari dan segera mengikuti mereka semua. "Ada apa nak? kata ayah Esther yang berhasil untuk mengejar putrinya yang masih mengenakan pakaian rumah sakit itu. "Yuli mencoba bunuh diri dipenjara pa! Esther harus lihat keadaannya" teriak Esther dengan panik dan memanggil supirnya untuk mengantarnya ke kantor polisi. "Bagaimana keadaan Yuli pak? apa dia berhasil untuk diselamatkan?" tanya Esther sesampainya di kantor polisi. "Saudari Yuli masih diperiksa dokter, keadaannya sangat kritis saat kami temukan dikamar mandi, mohon ibu dan bapak bisa menunggu diluar sampai dokter yang periksa bisa memberikan keterangan". jawab petugas polisi itu dengan sopan. "Pa, aku ga mau Yuli sampai kenapa-napa, lebih aku saja yang mati pa. aku ga mau dia sampai menderita pa!" isak Esther dipelukan ayahnya. "sabar sayang, semua pasti ada hikmahnya, mari kita doa kan saja agar keadaan Yuli baik-baik saja" ucap ayahnya Esther lagi menenangkan putrinya itu. Johan dan Sandy ibunya Esther baru datang karena tadi sempet terjebak macet, melihat putrinya menangis Sandy menghampiri dan bertanya pada suaminya. "Ada apa sih pa? kenapa Esther bisa tiba-tiba lari dan menangis kayak gini?" tanya bu Sandy dengan panik. "Yuli ma, dia mencoba bunuh diri dikamar mandi, menurut polisi wanita yang menemukannya dia terlihat sangat depresi dan banyak melamun sebelum kejadian ini". jelas suaminya. *** "halo selamat siang bisa saya berbicara dengan bapak Ali? saya Putra dari kepolisian Kebayoran Lama" "Iya betul ini dengan saya sendiri" jawab babeh Ali mengangkat handphonenya. "saya ingin menyampaikan bahwa tersangka untuk kasus kekerasan dan penguntitan anak bapak saat ini sedang berada dirumah sakit karena percobaan bunuh diri di kamar mandi penjara, apa bapak bersedia untuk datang?" tanya petugas polisi lagi. "Baik pak, dirumah sakit mana yah?" tanya babe Ali lagi. "Dirumah sakit Medika Permata Hijau pak, kebetulan orangtua tersangka meminta untuk anaknya dibawa ke sana, demikian info dari saya, saya nantikan kedatangan bapak dirumah sakit, terima kasih selamat siang" kata petugas itu dan mengakhiri percakapan itu. "Kenapa beh? sapa yang masuk rumah sakit?" tanya Arkan yang sedang berada diruangan kantor babenya untuk menemani babenya yang agak sedikit tidak enak badan. "Itu Kan, cewe yang nyakitin Lita, nyang demen ama lu" kekeh Ali dengan santai diiringi batuknya yang dalam. "lah napa dia? mati?" tanya Arkan cuek. "Hooh dia nyoba bunuh diri" kekeh Babeh Ali lagi. "Ah sepik itu beh, palingan akal-akalan dia biar dibebasin ama kite" kata Arkan lagi dengan cuek. "Kite liat aja dah, telepon Lita gih, biar dia ikut ama kite kerumah sakit" kata babeh lagi bersiap untuk keluar ruangan kantornya yang ada di Gedung yang sangat terkenal di daerah Sudirman Jakarta Selatan. "Halo sayang....... babeh ama aku otw kerumah kamu yah, mau ajakin kamu kerumah sakit katanya Yuli lagi dirawat karena mencoba bunuh diri, kamu siap-siap yah, aku otw dari kantor babeh sekarang" kata Arkan dengan mesra pada Lita via telepon. *** "Ma Neng mau kerumah sakit dijemput ama babeh dan Arkan boleh ga?" tanya Lita pada Rossa mamanyaaa. "siapa yang sakit neng?" tanya Rossa "Itu...si Yuli katanya mencoba bunuh diri karena depresi dipenjara, babeh bilang Neng disuruh ikut" jawab Lita lagi sambil berganti pakaian. "Ya ampun ada-ada aja sih tuh anak demen banget nyari perhatian" kata Rossa kesal. "Ya udah ati-ati yah, babeh ama Arkan jemput di rumah kan?" tanya Rossa lagi. "Iya ma, ini aku siap-siap dulu yah" jawab Lita. Saat Arkan, Lita dan juga babeh Ali sampai di rumah sakit sudah banyak media yang datang untuk meminta keterangan, mereka agak kesulitan untuk masuk, untuk bodyguard sekaligus supir mereka bisa membuka jalan sehingga mereka bisa masuk dengan aman. "Siang babeh, silahkan kesebelah sini" kata seorang petugas sambil menundukkan kepalanya memberi penghormatan pada babeh Arkan. Siapa yang tidak mengenal Ali, pengusaha yang sudah melalang di dunia bisnis property di Jakarta. Bahkan rumah sakit ini masih dia pegang sedikit sahamnya. Babeh Ali berhenti sejenak, saat dia melihat didepan ruang IGD dia melihat dua orangtua yang sangat ia ingat sampai sekarang, bahkaan sangat dia benci karena sudah menghinanya 20 tahun yang lalu. *** POV Ali (Babeh Arkan) "Kenapa dua orang sombong itu ada disini? apa hubungannya dengan Yuli?" tanyaku dalam hati. Mereka orang-orang dari masa laluku, mereka yang membuat aku jatuh sakit dan akhirnya aku putuskan untuk bangkit dan membuktikan bahwa aku bisa lebih baik dan aku juga bisa sukses kaya sekarang. Masih terekam dengan jelas bagaimana aku dimaki dan dihina didepan gadis yang aku cinta hanya karena aku seorang Betawi dan masih belum mempunyai pekerjaan yang tetap saat itu, aku masih bekerja serabutan disebuah proyek bangunan didekat rumah mereka saat itu. Siapa wanita yang menggunakan pakaian rumah sakit itu yah? batinku. Dari postur tubuh dan rambut nya mengingatkanku pada gadis yang dulu aku cintai, anak kedua orang jahat didepanku saat ini. Gadis yang mau menerimaku apa adanya, tapi karena baktinya kepada kedua orangtuanya membuat dia mundur dan memilih menerima dijodohkan dengan lelaki pilihan orangtuanya itu. "Ngapain kamu disini? apa kamu yang membuat cucuku menjadi seperti ini? kamu masih dendam dengan keluargaku? sehingga membuat anak dan cucu ku menjadi berantakan seperti ini?" tanya laki-laki tua di hadapanku ini. "Saya disini sebagai ayah dari korban penyiksaan yang dilakukan oleh Yuli, apa hubungan anda dengan Yuli kalau saya boleh tahu"? tanyaku dengan sopan bagaimanapun dia tetaplah orangtua. "Saya kakeknya, dia adalah anak dari Esther dan juga Johan menantu saya yang lebih baik dari kamu" jawab laki-laki tua itu masih dengan kesombongannya. "Jadi ibu Esther ini?" kataku pelan sambil melihat ke arah ibu Esther, wanita yang sempat aku ancam di sekolah Arkan karena menghina dan menyakiti Lita yang adalah pacar Arkan. Aku terdiam melihat Esther dan Johan bergantian. Jadi Johan dan Esther adalah orang dari masa laluku, mereka yang menjadikan aku menjadi seperti sekarang ini, Johan yang aku bantu investasi dana di perusahaannya yang bangkrut karena hobbynya yang suka judi ini adalah orang yang dijodohkan dengan Esther? gadis yang aku cintai, yang akhirnya ikut menyerah dengan keadaan? batinku. "Beh...babeh gapapa?" tanya Lita yang langsung menangkap tubuhku yang lemas beserta dengan Arkan yang segera meminta suster membawaku juga masuk ke ruangan IGD karena rasa sesak yang tiba-tiba ku rasakan. *** "Maaf saya tidak tahu apa yang terjadi dengan babeh saya dengan keluarga anda, tapi untuk saat ini mari kita fokus saja dengan kesehatan Yuli dan juga babeh saya saat ini, saya permisi melihat babeh saya" kata Arkan dengan sopan sambil memegang tangan Lita dan menariknya dari sana menuju ke depan ruang IGD untuk menunggu dokter yang sedang memeriksa keadaan babeh Ali yang tiba-tiba saja lemas. "Esther itu beneran Ali? orang yang sama? yang pernah ngelamar kamu? dia anak buahnya mandor di samping rumah kita dulu? orang yang nekat suka sama kamu padahal dia cuma buruh kasar?" tanya ayah Esther dengan pelan. "Iya pa, dia orangnya, aku juga baru sadar waktu Lita dibawa kerumah sakit ini juga saat aku sama Yuli menyebutkan orang yang membuat dia trauma". isak Esther dengan pelan. "Apa hubungannya dengan Yuli? siapa dia?" tanya ayahnya masih bingung. "Ali itu adalah ayah dari anak yang diawasi oleh Yuli dan juga yang pacarnya disakitin sama Yuli disekolah pa". Johan ikut menanggapi. "Dia juga investor terbesar untuk proyek yang sedang aku jalani sekarang" kata Johan lagi dengan lemas. "Dia sudah hebat sekarang?" "Fiuh ternyata kita membuang berlian untuk emas sepuhan" sindir ayah Esther pada Johan yang masih menunduk dan sesekali melihat pada istrinya yang masih dalam pelukan ibunya. "Wi, jagain Lita bae-bae yah..... orang didepan tadi adalah orang jahat, mereka bisa menghalalkan segala cara agar keinginan mereka terpenuhi" kata babeh dengan lemas infus terpasang ditangannya dan juga beberapa alat kontrol jantung dan tekanan darah dijarinya. "Mereka dulu merendahkan babeh saat babeh dengan nekat melamar anak gadisnya yang ternyata adalah Yuli" kata babeh lagi. "udah ga usah dipikirin beh, lagian ngapain takut lah kita ga ada urusan ama mereka?" kata Arkan memegang tangan babe yang terlihat lemas itu. "Iya beh, udah ga usah mikir macem-macem, niat mau liat orang napa babeh yang masuk sini sih?" tanya Lita pada babeh yang langsung ditepuk dengan lembut kepalanya oleh Arkan. "hus..namanya juga orang lagi syok mantan Kisah belum kelar yah beh...." ledek Arkan pada babehnya. "Bodo amat dah yah wi, Ta, pea lu berdua gue lagi sakit diledek mulu, cinta gue udah buat nyak lu doangan, kagak ada yang laen, salah sendiri mereka nolak gue dulu, karma mah cepet" jawab babeh dengan senyumnya. "udah ah tidur aja dah, biar Arkan yang cari tahu jadinya kondisi tuh anak pea gimana?" kata Arkan merapihkan selimut babenya. "sayang kamu disini dulu yah temenin babeh, oh iya beh pinjem handphonenya kasih Lita biar dia hubungin orang tuanya takut pulangnya kemaleman", kata Arkan pada babenya sebelum keluar ruangan rawat babehnya. "Nih Neng, telepon mama lu dah, biar nanti babeh yang ngomong" kata babe pada Lita. "iya beh, pinjem yak" kata Lita manja. "iye, lagian emak lu pelit bener, padahal babeh yang mau beliin lu handphone, pake bilang ga enak lah, takut ngerepotin lah, ribet tau" keluh babeh sambil memejamkan matanya sejenak. Dokter keluar dari ruang IGD dan menemui Esther dan Johan suaminya yang masih saja duduk berjauhan, Esther sudah berganti pakaian karena risih diperhatikan oleh orang yang lalu lalang di rumah sakit tersebut. "Bagaimana kondisi cucu saya dok?" tanya ayah Esther. "Kondisinya cukup mengkhawatirkan pak, lukanya cukup dalam entah darimana dia mendapat senjata untuk menusuk lehernya itu tapi yang pasti ada beberapa alat fital yang terluka dan membuat nya harus menjalankan operasi", jelas dokter pada mereka. "Kami sedari tadi mencoba menghentikan pendarahannya, bahkan kami membutuhkan golongan darah A untuk menggantikan yang pasien alami, tolong ditanda tangani formulir persetujuannya dan kami minta pihak keluarga untuk mencarikan donor darah agar kami bisa segera melakukan operasi" tambah dokter lagi. "Baik dok, lakukan yang terbaik untuk putri saya", kata Johan pada dokter yang memeriksa Yuli. "golongan darah Yuli kok A yah?" tanya Sandy ibunya Esther. suasana ruangan itu menjadi agak tegang, Esther yang sudah tidak peduli lagi dengan suaminya tidak mau menjawab dan lebih sibuk untuk mencari donor darah untuk putrinya. "Johan bukannya kalian berdua golongan darahnya O yah? kok Yuli bisa golongan darah A?" tanya mamanya Esther lagi. "Eeee itu ma, e... aku juga kurang tahu ma, aku ga ngerti soal golongan darah gitu, sekarang aku cari donor darah dulu ya ma" kata Johan sembari pergi melarikan diri dari pertanyaan mama mertuanya. Diam-diam Arkan disana dan mendengar semua itu dari balik tembok dan mencoba berpikir keras karena golongan darahnya dan babeh adalah A. *** Lita diijinkan menginap dirumah sakit karena kebetulan besok dia libur karena hari Minggu, pakaiannya diantar oleh Lundi yang kebetulan juga ingin menengok Babeh Ali yang masuk rumah sakit karena syok. "Beh, Arkan mau nanya tapi babeh jangan tersinggung yak" tanya Arkan pelan pada babenya malam hari saat Lita sudah tidur diranjang khusus penunggu pasien karena kamar tempat babeh di rawat adalah kamar VIP. "Napa tong, mau nanya apa lu?" tanya babeh Ali masih lemas. "Mawi bingung dah, tadi didepan ruang IGD Mawi dengar kalau Yuli tuh keabisan banyak darah, trus dokter minta dicariin donor darah, masalahnya adalah kedua orangtua Yuli golongan darahnya O dan Yuli golongan darahnya A, kok bisa ya beh?" tanya Arkan bingung. "yang bikin bingung lagi adalah golongan darah kita kan A ya beh" kata Arkan sekali lagi dengan pelan takut babenya kesal. "Lah mana babeh tau, emang dia anak babeh?" jawab Babe cuek. "Gue ga mikirin itu Mawi, kalau lu pikir gue babe kandungnya Yuli lu salah, gue ama Esther kagak pernah ngapa-ngapain, gue biar bar-bar begini masih tau aturan kampret!" kata Babeh lagi. "yeh...yang nuduh babeh sapa? orang Mawi cuma nanya, apa itu artinya salah satu dari mereka selingkuh gitu beh" kata Arkan ketawa. "Bodo amat ga mikirin gue mah, gue tau kalau Yuli anak nya Esther aja udah syok, terus tahu kalau mereka keluarga yang udah ngehina gue aja udah males suruh mikir lagi gue" kata babeh dengan emosi. Krieeekkkk....suara pintu bergeser. Arkan dan babenya melihat ke arah pintu bersamaan, disana sudah berdiri Esther dan Johan dengan tatapan mengiba mereka mendekat ke ranjang tempat babeh dirawat, dengan menunduk Esther mendampingi Johan yang masih berstatus sebagai suaminya itu. "Ada apa ya kalian berdua kesini?" tanya Arkan dengan tegas, yang langsung ditepuk lengannya oleh Babeh Ali. "pak Ali, maafkan kami berdua yang tidak punya malu ini, anak kami Yuli sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, dan membutuhkan donor darah A secepatnya, barusan Esther kasih tahu saya kalau golongan darah bapak adalah A, apakah bapak bersedia untuk mendonorkan darah untuk Yuli?" kata Johan menahan air mata dan suaranya yang serak. "Hmmmm.... golongan darah saya memang A, tapi seperti yang sedang anda lihat sekarang, saya sedang dalam keadaan tidak sehat bagaimana mungkin saya bisa menjadi pendonor darah untuk anak anda". kata babeh Ali dengan santai. "tolonglah aku bang, aku mohon lupakan segala dendam di antara kita, tolonglah anakku" kata Esther dengan terisak. "Aku tidak menaruh dendam padamu, aku sudah melupakan semua kisah tentang kita, bahkan aku bersyukur kalau saja aku tidak ditolak oleh ayahmu yang sombong itu, mungkin saja aku tidak bertemu dengan Nyaknya Arkan yang aku cintai walau dia sudah meninggal sekarang" jawab Babeh Ali lagi. Babeh Arkan melihat ke arah Arkan dan menanyakan pada nya lewat tatapan matanya apakah dia bersedia berdonor atau tidak, dan dari tatapan matanya sepertinya Arkan juga bersedia untuk mendonorkan darahnya atas dasar kemanusiaan. "Biar anakku saja yang mendonorkan darahnya untuk anak kalian, kamu tenang saja kami bukanlah orang-orang yang suka menyimpan dendam" kata Babeh Ali yang disambut dengan isakan tangis dari Esther dan mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD