"Sayang...maafin aku, aku khilaf...maafin
aku sayang...tapi jangan tinggalin aku...aku janji
aku akan berubah" kata Johan dengan menangis
dan berlutut disamping tempat tidur dimana Esther
terbaring dengan lemah. Tangannya menggenggam
tangan Esther yang langsung ditepis dengan kasar
oleh Esther yang dengan tatapan benci kembali
mengusir suaminya yang selama ini sudah dicintai
dan diberikan kesempatan bertobat tapi kembali
menyakitinya dengan mengkhianati cinta mereka
entah untuk keseberapa kalinya.
"Apa maksudnya ini? Cepat jelaskan Esther
papa ga suka kalian menyembunyikan sesuatu dari
papa" kata ayahnya Esther dengan marah.
"Papa tanya aja sama menantu pilihan papa itu,
Esther udah cape sama kelakuan dia yang ga berubah
harusnya papa terima dulu lamaran Ali, dia jauh lebih
baik dari laki-laki penjilat ini" teriak Esther frustasi.
Kring.....Kring....
"Halo, iya betul saya mamanya Yuli, ada apa pak?
apa? terus bagaimana keadaannya sekarang pak?"
kata Esther tiba-tiba terputus dan air matanya kembali
turun dan segera dia mencabut selang infus ditangan
nya dan segera berlari keluar ruangan.
Kedua orangtua Esther segera mengejar dan menyusul
sedangkan Johan masih bengong dengan kejadian itu
dan baru perlahan dia menyadari dan segera mengikuti
mereka semua.
"Ada apa nak? kata ayah Esther yang berhasil untuk
mengejar putrinya yang masih mengenakan pakaian
rumah sakit itu.
"Yuli mencoba bunuh diri dipenjara pa! Esther harus lihat
keadaannya" teriak Esther dengan panik dan memanggil
supirnya untuk mengantarnya ke kantor polisi.
"Bagaimana keadaan Yuli pak? apa dia berhasil untuk
diselamatkan?" tanya Esther sesampainya di kantor polisi.
"Saudari Yuli masih diperiksa dokter, keadaannya sangat
kritis saat kami temukan dikamar mandi, mohon ibu dan
bapak bisa menunggu diluar sampai dokter yang periksa
bisa memberikan keterangan". jawab petugas polisi itu
dengan sopan.
"Pa, aku ga mau Yuli sampai kenapa-napa, lebih aku
saja yang mati pa. aku ga mau dia sampai menderita pa!"
isak Esther dipelukan ayahnya.
"sabar sayang, semua pasti ada hikmahnya, mari kita doa
kan saja agar keadaan Yuli baik-baik saja" ucap ayahnya
Esther lagi menenangkan putrinya itu.
Johan dan Sandy ibunya Esther baru datang karena
tadi sempet terjebak macet, melihat putrinya menangis
Sandy menghampiri dan bertanya pada suaminya.
"Ada apa sih pa? kenapa Esther bisa tiba-tiba lari dan
menangis kayak gini?" tanya bu Sandy dengan panik.
"Yuli ma, dia mencoba bunuh diri dikamar mandi,
menurut polisi wanita yang menemukannya dia terlihat
sangat depresi dan banyak melamun sebelum kejadian
ini". jelas suaminya.
***
"halo selamat siang bisa saya berbicara dengan
bapak Ali? saya Putra dari kepolisian Kebayoran Lama"
"Iya betul ini dengan saya sendiri" jawab babeh Ali
mengangkat handphonenya.
"saya ingin menyampaikan bahwa tersangka untuk
kasus kekerasan dan penguntitan anak bapak saat ini
sedang berada dirumah sakit karena percobaan bunuh
diri di kamar mandi penjara, apa bapak bersedia untuk
datang?" tanya petugas polisi lagi.
"Baik pak, dirumah sakit mana yah?" tanya babe
Ali lagi.
"Dirumah sakit Medika Permata Hijau pak, kebetulan
orangtua tersangka meminta untuk anaknya dibawa ke
sana, demikian info dari saya, saya nantikan kedatangan
bapak dirumah sakit, terima kasih selamat siang" kata
petugas itu dan mengakhiri percakapan itu.
"Kenapa beh? sapa yang masuk rumah sakit?"
tanya Arkan yang sedang berada diruangan kantor
babenya untuk menemani babenya yang agak sedikit
tidak enak badan.
"Itu Kan, cewe yang nyakitin Lita, nyang demen
ama lu" kekeh Ali dengan santai diiringi batuknya yang
dalam.
"lah napa dia? mati?" tanya Arkan cuek.
"Hooh dia nyoba bunuh diri" kekeh Babeh Ali lagi.
"Ah sepik itu beh, palingan akal-akalan dia biar
dibebasin ama kite" kata Arkan lagi dengan cuek.
"Kite liat aja dah, telepon Lita gih, biar dia ikut ama
kite kerumah sakit" kata babeh lagi bersiap untuk
keluar ruangan kantornya yang ada di Gedung yang
sangat terkenal di daerah Sudirman Jakarta Selatan.
"Halo sayang....... babeh ama aku otw kerumah
kamu yah, mau ajakin kamu kerumah sakit katanya
Yuli lagi dirawat karena mencoba bunuh diri, kamu
siap-siap yah, aku otw dari kantor babeh sekarang"
kata Arkan dengan mesra pada Lita via telepon.
***
"Ma Neng mau kerumah sakit dijemput ama
babeh dan Arkan boleh ga?" tanya Lita pada Rossa
mamanyaaa.
"siapa yang sakit neng?" tanya Rossa
"Itu...si Yuli katanya mencoba bunuh diri karena
depresi dipenjara, babeh bilang Neng disuruh ikut"
jawab Lita lagi sambil berganti pakaian.
"Ya ampun ada-ada aja sih tuh anak demen
banget nyari perhatian" kata Rossa kesal.
"Ya udah ati-ati yah, babeh ama Arkan jemput di
rumah kan?" tanya Rossa lagi.
"Iya ma, ini aku siap-siap dulu yah" jawab Lita.
Saat Arkan, Lita dan juga babeh Ali sampai
di rumah sakit sudah banyak media yang datang
untuk meminta keterangan, mereka agak kesulitan
untuk masuk, untuk bodyguard sekaligus supir
mereka bisa membuka jalan sehingga mereka bisa
masuk dengan aman.
"Siang babeh, silahkan kesebelah sini" kata
seorang petugas sambil menundukkan kepalanya
memberi penghormatan pada babeh Arkan.
Siapa yang tidak mengenal Ali, pengusaha yang
sudah melalang di dunia bisnis property di Jakarta.
Bahkan rumah sakit ini masih dia pegang sedikit
sahamnya.
Babeh Ali berhenti sejenak, saat dia melihat
didepan ruang IGD dia melihat dua orangtua yang
sangat ia ingat sampai sekarang, bahkaan sangat
dia benci karena sudah menghinanya 20 tahun
yang lalu.
***
POV Ali (Babeh Arkan)
"Kenapa dua orang sombong itu ada disini?
apa hubungannya dengan Yuli?" tanyaku dalam
hati.
Mereka orang-orang dari masa laluku, mereka
yang membuat aku jatuh sakit dan akhirnya aku
putuskan untuk bangkit dan membuktikan bahwa
aku bisa lebih baik dan aku juga bisa sukses kaya
sekarang.
Masih terekam dengan jelas bagaimana aku
dimaki dan dihina didepan gadis yang aku cinta
hanya karena aku seorang Betawi dan masih belum
mempunyai pekerjaan yang tetap saat itu, aku masih
bekerja serabutan disebuah proyek bangunan didekat
rumah mereka saat itu.
Siapa wanita yang menggunakan pakaian rumah
sakit itu yah? batinku. Dari postur tubuh dan rambut
nya mengingatkanku pada gadis yang dulu aku cintai,
anak kedua orang jahat didepanku saat ini. Gadis yang
mau menerimaku apa adanya, tapi karena baktinya
kepada kedua orangtuanya membuat dia mundur dan
memilih menerima dijodohkan dengan lelaki pilihan
orangtuanya itu.
"Ngapain kamu disini? apa kamu yang membuat
cucuku menjadi seperti ini? kamu masih dendam
dengan keluargaku? sehingga membuat anak dan cucu
ku menjadi berantakan seperti ini?" tanya laki-laki tua
di hadapanku ini.
"Saya disini sebagai ayah dari korban penyiksaan
yang dilakukan oleh Yuli, apa hubungan anda dengan
Yuli kalau saya boleh tahu"? tanyaku dengan sopan
bagaimanapun dia tetaplah orangtua.
"Saya kakeknya, dia adalah anak dari Esther dan
juga Johan menantu saya yang lebih baik dari kamu"
jawab laki-laki tua itu masih dengan kesombongannya.
"Jadi ibu Esther ini?" kataku pelan sambil melihat ke
arah ibu Esther, wanita yang sempat aku ancam di
sekolah Arkan karena menghina dan menyakiti Lita
yang adalah pacar Arkan. Aku terdiam melihat Esther
dan Johan bergantian.
Jadi Johan dan Esther adalah orang dari masa
laluku, mereka yang menjadikan aku menjadi seperti
sekarang ini, Johan yang aku bantu investasi dana di
perusahaannya yang bangkrut karena hobbynya yang
suka judi ini adalah orang yang dijodohkan dengan
Esther? gadis yang aku cintai, yang akhirnya ikut
menyerah dengan keadaan? batinku.
"Beh...babeh gapapa?" tanya Lita yang langsung
menangkap tubuhku yang lemas beserta dengan Arkan
yang segera meminta suster membawaku juga masuk
ke ruangan IGD karena rasa sesak yang tiba-tiba ku
rasakan.
***
"Maaf saya tidak tahu apa yang terjadi dengan
babeh saya dengan keluarga anda, tapi untuk saat ini
mari kita fokus saja dengan kesehatan Yuli dan juga
babeh saya saat ini, saya permisi melihat babeh saya"
kata Arkan dengan sopan sambil memegang tangan
Lita dan menariknya dari sana menuju ke depan ruang
IGD untuk menunggu dokter yang sedang memeriksa
keadaan babeh Ali yang tiba-tiba saja lemas.
"Esther itu beneran Ali? orang yang sama? yang
pernah ngelamar kamu? dia anak buahnya mandor di
samping rumah kita dulu? orang yang nekat suka sama
kamu padahal dia cuma buruh kasar?" tanya ayah Esther
dengan pelan.
"Iya pa, dia orangnya, aku juga baru sadar waktu
Lita dibawa kerumah sakit ini juga saat aku sama Yuli
menyebutkan orang yang membuat dia trauma". isak
Esther dengan pelan.
"Apa hubungannya dengan Yuli? siapa dia?" tanya
ayahnya masih bingung.
"Ali itu adalah ayah dari anak yang diawasi oleh Yuli dan
juga yang pacarnya disakitin sama Yuli disekolah pa".
Johan ikut menanggapi.
"Dia juga investor terbesar untuk proyek yang sedang
aku jalani sekarang" kata Johan lagi dengan lemas.
"Dia sudah hebat sekarang?" "Fiuh ternyata kita
membuang berlian untuk emas sepuhan" sindir ayah
Esther pada Johan yang masih menunduk dan sesekali
melihat pada istrinya yang masih dalam pelukan ibunya.
"Wi, jagain Lita bae-bae yah..... orang didepan tadi
adalah orang jahat, mereka bisa menghalalkan segala cara
agar keinginan mereka terpenuhi" kata babeh dengan lemas
infus terpasang ditangannya dan juga beberapa alat kontrol
jantung dan tekanan darah dijarinya.
"Mereka dulu merendahkan babeh saat babeh dengan
nekat melamar anak gadisnya yang ternyata adalah Yuli" kata
babeh lagi.
"udah ga usah dipikirin beh, lagian ngapain takut lah kita ga
ada urusan ama mereka?" kata Arkan memegang tangan babe
yang terlihat lemas itu.
"Iya beh, udah ga usah mikir macem-macem, niat mau
liat orang napa babeh yang masuk sini sih?" tanya Lita pada
babeh yang langsung ditepuk dengan lembut kepalanya oleh
Arkan.
"hus..namanya juga orang lagi syok mantan Kisah belum kelar
yah beh...." ledek Arkan pada babehnya.
"Bodo amat dah yah wi, Ta, pea lu berdua gue lagi sakit diledek
mulu, cinta gue udah buat nyak lu doangan, kagak ada yang laen,
salah sendiri mereka nolak gue dulu, karma mah cepet" jawab
babeh dengan senyumnya.
"udah ah tidur aja dah, biar Arkan yang cari tahu jadinya
kondisi tuh anak pea gimana?" kata Arkan merapihkan selimut
babenya.
"sayang kamu disini dulu yah temenin babeh, oh iya beh pinjem
handphonenya kasih Lita biar dia hubungin orang tuanya takut
pulangnya kemaleman", kata Arkan pada babenya sebelum keluar
ruangan rawat babehnya.
"Nih Neng, telepon mama lu dah, biar nanti babeh yang
ngomong" kata babe pada Lita.
"iya beh, pinjem yak" kata Lita manja.
"iye, lagian emak lu pelit bener, padahal babeh yang mau beliin
lu handphone, pake bilang ga enak lah, takut ngerepotin lah, ribet
tau" keluh babeh sambil memejamkan matanya sejenak.
Dokter keluar dari ruang IGD dan menemui Esther dan Johan
suaminya yang masih saja duduk berjauhan, Esther sudah berganti
pakaian karena risih diperhatikan oleh orang yang lalu lalang di
rumah sakit tersebut.
"Bagaimana kondisi cucu saya dok?" tanya ayah Esther.
"Kondisinya cukup mengkhawatirkan pak, lukanya cukup dalam
entah darimana dia mendapat senjata untuk menusuk lehernya itu
tapi yang pasti ada beberapa alat fital yang terluka dan membuat
nya harus menjalankan operasi", jelas dokter pada mereka.
"Kami sedari tadi mencoba menghentikan pendarahannya,
bahkan kami membutuhkan golongan darah A untuk menggantikan
yang pasien alami, tolong ditanda tangani formulir persetujuannya
dan kami minta pihak keluarga untuk mencarikan donor darah
agar kami bisa segera melakukan operasi" tambah dokter lagi.
"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk putri saya", kata Johan
pada dokter yang memeriksa Yuli.
"golongan darah Yuli kok A yah?" tanya Sandy ibunya Esther.
suasana ruangan itu menjadi agak tegang, Esther yang sudah tidak
peduli lagi dengan suaminya tidak mau menjawab dan lebih sibuk
untuk mencari donor darah untuk putrinya.
"Johan bukannya kalian berdua golongan darahnya O yah? kok
Yuli bisa golongan darah A?" tanya mamanya Esther lagi.
"Eeee itu ma, e... aku juga kurang tahu ma, aku ga ngerti soal
golongan darah gitu, sekarang aku cari donor darah dulu ya ma"
kata Johan sembari pergi melarikan diri dari pertanyaan mama
mertuanya. Diam-diam Arkan disana dan mendengar semua itu
dari balik tembok dan mencoba berpikir keras karena golongan
darahnya dan babeh adalah A.
***
Lita diijinkan menginap dirumah sakit karena kebetulan besok
dia libur karena hari Minggu, pakaiannya diantar oleh Lundi yang
kebetulan juga ingin menengok Babeh Ali yang masuk rumah sakit
karena syok.
"Beh, Arkan mau nanya tapi babeh jangan tersinggung yak"
tanya Arkan pelan pada babenya malam hari saat Lita sudah tidur
diranjang khusus penunggu pasien karena kamar tempat babeh di
rawat adalah kamar VIP.
"Napa tong, mau nanya apa lu?" tanya babeh Ali masih lemas.
"Mawi bingung dah, tadi didepan ruang IGD Mawi dengar
kalau Yuli tuh keabisan banyak darah, trus dokter minta dicariin
donor darah, masalahnya adalah kedua orangtua Yuli golongan
darahnya O dan Yuli golongan darahnya A, kok bisa ya beh?"
tanya Arkan bingung.
"yang bikin bingung lagi adalah golongan darah kita kan A ya
beh" kata Arkan sekali lagi dengan pelan takut babenya kesal.
"Lah mana babeh tau, emang dia anak babeh?" jawab Babe
cuek.
"Gue ga mikirin itu Mawi, kalau lu pikir gue babe kandungnya
Yuli lu salah, gue ama Esther kagak pernah ngapa-ngapain, gue
biar bar-bar begini masih tau aturan kampret!" kata Babeh lagi.
"yeh...yang nuduh babeh sapa? orang Mawi cuma nanya, apa
itu artinya salah satu dari mereka selingkuh gitu beh" kata
Arkan ketawa.
"Bodo amat ga mikirin gue mah, gue tau kalau Yuli anak
nya Esther aja udah syok, terus tahu kalau mereka keluarga
yang udah ngehina gue aja udah males suruh mikir lagi gue"
kata babeh dengan emosi.
Krieeekkkk....suara pintu bergeser. Arkan dan babenya melihat
ke arah pintu bersamaan, disana sudah berdiri Esther dan Johan
dengan tatapan mengiba mereka mendekat ke ranjang tempat
babeh dirawat, dengan menunduk Esther mendampingi Johan
yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Ada apa ya kalian berdua kesini?" tanya Arkan dengan
tegas, yang langsung ditepuk lengannya oleh Babeh Ali.
"pak Ali, maafkan kami berdua yang tidak punya malu ini,
anak kami Yuli sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja, dan
membutuhkan donor darah A secepatnya, barusan Esther kasih
tahu saya kalau golongan darah bapak adalah A, apakah bapak
bersedia untuk mendonorkan darah untuk Yuli?" kata Johan
menahan air mata dan suaranya yang serak.
"Hmmmm.... golongan darah saya memang A, tapi seperti
yang sedang anda lihat sekarang, saya sedang dalam keadaan
tidak sehat bagaimana mungkin saya bisa menjadi pendonor
darah untuk anak anda". kata babeh Ali dengan santai.
"tolonglah aku bang, aku mohon lupakan segala dendam di
antara kita, tolonglah anakku" kata Esther dengan terisak.
"Aku tidak menaruh dendam padamu, aku sudah melupakan
semua kisah tentang kita, bahkan aku bersyukur kalau saja aku
tidak ditolak oleh ayahmu yang sombong itu, mungkin saja aku
tidak bertemu dengan Nyaknya Arkan yang aku cintai walau dia
sudah meninggal sekarang" jawab Babeh Ali lagi.
Babeh Arkan melihat ke arah Arkan dan menanyakan pada
nya lewat tatapan matanya apakah dia bersedia berdonor atau
tidak, dan dari tatapan matanya sepertinya Arkan juga bersedia
untuk mendonorkan darahnya atas dasar kemanusiaan.
"Biar anakku saja yang mendonorkan darahnya untuk anak
kalian, kamu tenang saja kami bukanlah orang-orang yang suka
menyimpan dendam" kata Babeh Ali yang disambut dengan isakan
tangis dari Esther dan mengucapkan terima kasih kepada mereka
berdua.