"Biar anakku saja yang
mendonorkan darahnya untuk anak
kalian, kamu tenang saja kami
bukanlah orang-orang yang suka
menyimpan dendam" kata Babeh Ali
yang disambut dengan isakan tangis
dari Esther dan mengucapkan terima
kasih kepada mereka berdua.
>>>
"Papa kecewa sama sikap kamu
Johan, papa menjodohkan kamu dan
Esther karena kamu adalah anak
sahabat papa. Kamu haruslah lebih
baik dari Ali orang yang pernah papa
tolak lamarannya karena dia orang
Betawi dan tidak punya pekerjaan
yang tetap" keluh Ayah dari Esther.
"Sekarang malah dia juga yang
sudah menolong kehidupan kalian,
kamu sadar ga betapa malunya".
katanya lagi.
"Jadi sebenernya siapa Yuli?
apa dia adalah anak kamu dan gadis
selingkuhan kamu?" tanya Sandy
pada Johan yang masih tertunduk.
"Iya ma, sebenarnya Sherly
bukan selingkuhan aku, aku sudah
menikahinya walau pada awalnya
Esther tidak mengetahui, kami sudah
menunggu selama 5 tahun tapi tidak
juga mendapatkan anak". kata
Johan pelan.
"Kalau dari awal kamu cerita
pasti papa dan mama ga akan mau
terima Yuli sebagai cucu kami,
bagaimanapun dia bukan darah
daging kami Esther". kata Sandy
mamanya Esther dengan gemetar
menahan amarahnya.
"Maafin aku pa, ma, aku emang
salah! harusnya aku tidak menerima
dan mengurus Yuli waktu itu, tapi
aku merasakan itu adalah hukuman
untukku karena belum bisa memberi
anak untuk mas Johan". "Yang baru
aku tahu ternyata bukan aku yang
mandul selama ini. Tetapi dia, Yuli
juga bukan anak kandungnya, dia
juga telah tertipu dengan wanita itu"
isak tangis Esther akhirnya keluar
bersamaan dengan rahasia yang
selama ini dia pendam sendiri.
Kedua orang tua Esther segera
memeluk anak perempuan mereka
satu-satunya itu, dalam tangisan
mereka juga ikut menyadari kalau
selama ini sikap mereka juga salah,
karena mempermasalahkan status
dan kekayaan seseorang dari luar
saja, tidak melihat dari sifat dan
ketulusan bahkan potensi orang itu.
Menantu yang mereka pilihkan
untuk menjadi pendamping putrinya
ternyata tidak lebih baik dari Ali yang
pernah mereka rendahkan 21 tahun
yang lalu. Bahkan menantunya juga
tidak setia, dan ternyata juga orang
yang pemalas yang bisanya hanya
berjudi dan main perempuan.
~~~
"Beh, menurut babe apa yang
harus kita lakuin sama Yuli? apa kita
cabut tuntutan kita sama dia?" tanya
Arkan pada babehnya yang baru
selesai sarapan. Kondisinya pagi ini
sudah lebih baik, dokter mengatakan
pada mereka kalau Babeh Ali jatuh
sakit karena kelelahan mengurusi
pekerjaannya dan syok.
"Kalau soal itu babeh serahin
sama si botoh aja Wi, dia yang jadi
korban ama lu berdua. Kalau lu ama
Lita kira-kira iklas maafin dia, itu
terserah kalian. Babeh menempuh
jalur hukum karena Lita sampai drop
dan kehilangan ingatan sementara
akibat ulah Yuli yang kasar dan juga
melukai Lita" kata babeh Ali lagi
dengan tenang.
"Coba nanti Mawi ngomong ya
sama Lita, jujur beh liat keluarganya
yang berantakan gitu bikin Mawi ga
tega, papanya penjudi mamanya juga
yang sosialita terlalu sibuk sama
urusan dunianya sehingga Yuli bisa
jadi kayak sekarang. Dia bisa kayak
sekarang mungkin karena kesepian
dan butuh perhatian" kata Arkan lagi
Dirumah Lita hari itu Rossa
kembali kedatangan Parmi dan juga
suaminya Tardi yang memohon agar
Andi bisa dibebaskan atau minimal
dijadikan tahanan rumah saja, tubuh
Andi masih seringkali babak belur
karena kekerasan dalam penjara.
"Parmi mohon nci, kasih Andi
kesempatan untuk berubah sekali
lagi, kemarin mungkin kesalahan
Parmi ama Tardi juga karena kami
ga bisa ngasih kesempatan dia bisa
nerusin sekolahnya, dia jadi brutal
dan bergaul dengan orang yang ga
bener kayak pak Johan, ngajarin judi
dan juga jadiin dia preman hanya
karena dia kelaparan" kata Parmi
disela isak tangisnya.
"Jujur aja Mi, gue juga maunya
gitu, cuma sekarang yang laporin
Andi ke polisi tuh bukan gue ama
bang Lundi tapi orangtua Arkan yaitu
babeh Ali. Dia marah karena sikap
Andi waktu itu pernah mengancam
Lita ditengah jalan dan juga kasih
tahu ke Yuli soal aibnya selama ini.
Lita mengalami masa-masa sulit
akibat kelakuan Andi dulu". jawab
Rossa yang juga ikut menangis.
"Hampir 6 bulan dilakui sama
Lita dengan mimpi buruk setiap
malamnya, dia juga menjadi tertutup
bahkan selama itu dia ga mau liat
dan ketemu laki-laki sekalipun itu
papa dan adeknya". cerita Rossa
lagi.
"Maafin Parmi nci, emang Andi
jahatin Lita, Parmi juga udah gagal
jadi orangtua yang baik buat Andi
dan adek-adeknya". jawab Parmi
akhirnya menundukkan kepalanya.
Dia merasa malu setelah mendengar
akibat dari kejahatan anaknya di
masa lalu membuat gadis cantik
yang selama ini selalu baik dan juga
sayang padanya kehilangan masa
depan dan trauma yang ditanamkan
sungguh parah.
"Makasih ya nci, bang dan
maafin kalau permintaan saya dan
Parmi kelewatan, saya sadar kalau
penderitaan Lita jauh lebih parah
dari yang Andi alami dipenjara". kata
Tardi akhirnya ikut bicara.
"Saya ga akan minta sama nci
dan abang untuk bebasin Andi lagi,
setidaknya biar dia menerima akibat
dari perbuatannya di masa lalu".
kata Tardi sekaligus berpamitan
pada Rossa dan juga Lundi.
***
"Aku ga masalah kalau babeh
dan kamu mau bebasin Yuli, aku
juga kasian sama dia sampai saat
ini belum sadar juga akibat coba
bunuh diri kemarin". kata Lita saat
Arkan dan babehnya menanyakan
soal kemungkinan tuntutan pada
Yuli akan dicabut.
"Kalau kamu ga mau juga ga
papa Ta, kata babeh semuanya kita
serahin ke kamu, kamu yang paling
dirugikan disini, kalau soal aku dicari
dan di uber sama cewe mah emang
karena aku keren". kata Arkan lagi
sambil menyombongkan dirinya dan
tersenyum meledek Lita.
"Kelakuan Lu Wi, gue kemplang
pala lu modar", kata Babeh sambil
melempar bantalnya pada Arkan dan
langsung ditangkap oleh Arkan
dengan mudahnya.
"Hmmm pede bener yak? emang
lupa kalau dulu pernah aku tolak dan
terus-terusan uber aku karena aku
jutek dan penasaran?" Lita balik
meledek Arkan yang disambut oleh
tawa babeh Ali yang bahagia melihat
Lita bisa tertawa lagi dan melupakan
masalahnya.
"Kata babeh mah Ta, biar aja
dulu hukum berjalan. Bagaimanapun
kelakuan Yuli emang sudah kelewat
batas, apalagi Andi. Babeh heran
sama mama dan papa kamu yang
tidak melaporkan hal itu ke polisi
waktu itu. Tapi ya sudahlah yang
penting cara dia mengintimidasi dan
membuka aib kamu ke orang lain
bahkan menjadikan itu sebagai
senjata untuk balas dendam sudah
pasti salah". kata Babeh dengan
tenang. Dia tidak mau terkesan
membuat Lita tertekan tapi juga dia
ingin Lita memaafkan dan berdamai
dengan dirinya sendiri.
"Ta ikutin saran babe aja, Ta
ga mau nyimpen itu sendirian dan
bikin Ta sakit kepala lagi". Kata Lita
sambil memegang kepalanya yang
mulai pusing lagi.
***
"Horee.....akhirnya gue lulus
juga. Beh...berhasil juga...walau pas
pasan tapi lumayan lah buat ukuran
Mawi bisa lulus ya beh". teriak
Arkan pada babehnya yang datang
saat pengumuman kelulusan anak
kelas 3. Bu Sri memandang dari
kejauhan dan menganggukan kepala
tanda sapaan kepada babeh yang
hanya sampai gerbang sekolah.
"Semoga lu makin berhasil
ya Tong, buktiin sama orang-orang
yang udah hina kita selama ini, juga
ama Nyak lu dan juga adek lu, kalau
lu emang ngebanggain babeh" batin
Babeh Ali sambil mengusap ujung
matanya yang berair.
"Selamat ya bang, Arkan lulus
ya?" tanya Esther yang entah sejak
kapan sudah ada disebelah Ali.
"Eh iya makasih, sejak kapan kamu
disitu? perasaan tadi ga ada orang".
kata babeh kaget.
"Baru aja dateng bang, mungkin
abang ga denger saya datang". kata
Esther lagi.
"Gimana keadaan lu sama Yuli
saya sengaja ga datang ke sidang
kemarin itu karena ga enak sama
mama dan papa kamu, saya ga mau
mereka jadi terus merasa bersalah
pada saya". jelas babeh Arkan.
"Iya gapapa bang, Yuli sudah
mulai menerima keadaannya, dia
juga sudah mau berdamai dengan
dirinya, saya sadar dia ga salah
sepenuhnya dia cuma kesepian dan
mau mencari perhatian dari saya
dan mas Johan yang selalu sibuk
dan tidak ada waktu untuk dia". kata
Esther lagi.
"Saya juga minta maaf dan mau
ngucapin terima kasih lagi ke abang
dan juga Arkan yang udah diijinin
untuk mendonorkan darahnya buat
Yuli, walau Yuli sudah menyakiti
kalian, tapi kalian sungguh baik
masih mau menolong kami, biar
Tuhan saja yang membalass semua
kebaikan Abang dan juga Arkan"
kata Esther lagi sambil menunduk.
"Udah-udah..... saya dan Arkan
iklas, semoga kamu sehat-sehat saja
yah" kata Babeh Ali dan pergi ke
arah mobil dimana supirnya sudah
menunggu untuk mengantarnya
kembali ke kantornya.
Suasana coret-coretan menjadi
ajang untuk anak kelas 3 untuk
sedikit bar-bar dan menampilkan
keliaran dan kebrutalan mereka,
tapi tentu saja masih terarah karena
sudah dipesankan oleh Kepala
Sekolah yaitu bu Sri dan juga pak
Agus sebagai wakilnya.
"Ta, baju gue kok ga dicoret
juga" teriak salah satu kakak kelas
yang masih satu kelas dengan Arkan
Lita menengok dan segera memberi
tanda tangan di bagian punggung
kakak kelasnya itu dan kembali lagi
dipelukan Arkan yang bajunya sudah
tidak ada lagi bentuknya.
"Ya ampun belum juga pergi,
udah sedih gitu, gimana nanti kalau
Arkan kuliah dan sibuk, mewek mulu
bakalan cewe jutek kita" Ledek Atik
pada Lita yang tidak mau melepaskan
pelukannya dari Arkan.
"Eh iya Anik gimana kabarnya
yah?" apa dia masih bisa masuk ke
sekolah lagi yah? dengar-dengar dia
ga dapat hukuman lama karena cuma
sebagai saksi aja, tidak sampai ikut
melukai Lita". tanya Ipeh sambil
tangannya coret-coret kakak kelas
yang lain.
"Hmm...ah bodo ah, gue ga mau
mikir lagi, Yank kita hari ini jadi kan
nontonnya?" tanya Lita sambil lihat
ke arah Arkan.
"jadi dong, yuk makanya siap-siap,
genks.....woi...gue balik dulu yah
mau nyenengin tuan putri sebelum
berpisah kuliah sibuk" kata Arkan
mengajak Lita pergi tapi masih
memeluknya.
"Kita pulang kerumah aku ya
aku ganti baju, trus ganti mobil baru
kita jalan". kata Arkan yang langsung
disetujui dengan anggukan kepala dari
Lita.
"Ta, mau mandi dulu apa ganti
baju aja?" tanya Arkan dari kamarnya
dilantai 2. Dia bebas berteriak karena
memang rumahnya sepi kalau siang
hari.
"Bebas sih, kamu gerah ga? kalau
gerah ya mending mandi dulu aja".
jawab Lita sambil minum softdrink
yang disediakan untuknya oleh asisten
rumah tangga Arkan.
"Ta.... aku pakai baju apa ya?"
teriak Arkan dari lantai 2 dan saat dia
menyadari ternyata Lita sudah terlelap
dikursi ruang tamu, dengan gemas dia
turun ke ruang tamu dengan memakai
kaos couple yang pernah dia belikan
untuk moment mereka kalau pergi berdua
dan mendekati Lita. Terdengar suara
nafas Lita yang teratur, dengan pelan dia
merapihkan rambut Lita yang mengganggu
disekitar mata dan keningnya.
"Ya ampun kasian amat ayank gue,
kelamaan nunggu yah ampe ketiduran gini
hehehehe...." kekeh Arkan sambil duduk
di sebrang kursi ruang tamunya dan ikutan
terlelap.
"Hoaaam....ya ampun aku ketiduran"
kata Lita yang bangun dan kaget melihat ke
kaca jendela rumah sudah gelap, dia melihat
ke depan kursi tempat dia tidur dan melihat
Arkan juga ikut tertidur.
"Yank....kok kamu ikutan tidur sih?"
keluh Lita kesal sambil menghampiri Arkan
yang masih belum bangun.
"Assalammualaikum.... Eh Botoh ada dimari
aja", sapa Babeh ke Lita yang langsung datang
menghampiri babeh dan mencium tangannya.
"Iya beh, tadi siang abis coret-coretan,
itu anak babeh ngajakin Lita nonton, katanya
mau bikin Lita senang seharian, aku ketiduran
eh dia ikut ketiduran dong...aish..sebel...."
keluh Lita cemberut, Babeh yang menghampiri
anaknya kontan tertawa mendengar cerita Lita.
"Ada-ada aja lu berdua....lucu" kata Babeh
"Eh Mawi...itu anak orang udah bete itu, lu pake
acara tidur lagi. Diambekin gue ga ikutan yah!!"
kata babeh Ali membangunkan Arkan yang masih
menutup matanya tidur dengan pulas.
"Lah iyak...kok tiduran yah?" tanya Arkan
aneh, dan dilihatnya wajah gadis juteknya yang
jutek didepannya makin merasa bersalahlah dia
dan menghampirinya dan memeluknya.
"Sayang, maaf yah....aku lihat kamu kecapean
jadi aku bantuin kamu tidur deh" kekeh Arkan
yang disambut tawa keras dari babeh Ali.
###
"Sudah puas? apa dengan melihat anak
kandung gue lupa semua kenangan sama gue
dan keluarga gue, bikin lu udah puas?" tanya
seorang wanita sambil menatap selembar foto
dalam genggamannya.
Tampak seorang gadis tersenyum manis
dengan tahi lalat di ujung matanya membuat
dia semakin cantik, tergambar jelas dalam foto
tersebut. Gadis yang sudah dia lukai karena
laki-laki yang jadi suaminya sekarang harus
menikahinya karena hubungan mereka tidak di
restui oleh orangtua gadis itu dan membuat sang
lelaki akhirnya memutuskan menikah dengannya
sekarang.
Terbayang semua rekam kejadian saat itu,
saat gadis itu memohon untuk mengembalikan
lelaki itu tapi bagaimana lagi mereka berdua
sudah menikah dan gadis itu tidak dapat berbuat
apa-apa karena memang dirinya sedang hamil
anaknya yang kedua yang kini menjadi seperti
hukuman karma untuknya dimasa ini untuk
kejadian dimasa lalu.
Rossa masih menangis saat Lundi masuk
kamar dan melihatnya memegang foto orang
dari masa lalunya itu. Dia menghampiri istrinya
dan memeluknya, mengucapkan beberapa kata
penyesalan yang tidak akan pernah tergantikan
walau dirinya sudah berulang kali meminta
maaf pada perempuan yang dia cintai itu.
"Lita cuma jadi korban keegoisan kita,
harusnya dia tidak mengalami apa yang dia
alami sekarang, aku ga rela kalau dia terus
terusan dijadikan korban dari karma kita
berdua pa", kata Rossa sambil sesegukan di
dada suaminya.
"Iya ma, papa juga minta maaf lagi,
seandainya dulu dia tidak menyumpahi kita
mungkin kita tidak akan mengalami semua
kesialan ini ditambah korbannya adalah putri
bungsu kita" jawab Lundi ikut meneteskan
air mata dan memeluk istrinya.
***
"Semua sudah kau alami sekarang ya
Rossa...Lundi, akibat kalian melukai perasaan
ku sekarang putri kesayangan kalian merasakan
juga apa yang alami, setelah kau rampas dan
nodai tubuh ini seenaknya kamu meninggalkan
aku dan menikah dengan Rossa, perempuan
manja yang hanya bisa mengandalkan orangtua
nya yang kaya". kata seorang perempuan cantik
yang sudah tidak lagi muda didalam mobil yang
berhenti di depan sebuah rumah yang adalah
rumah dari Rossa dan Lundi.
Kabar tentang putri mereka yang mengalami
perkosaan sudah dimuat di media massa dan juga
beredar di internet, jejak digital itu yang akhirnya
mengantarkannya untuk melihat langsung kedua
orang yang dia pikir sudah menyakiti dan melukai
hatinya.