Bab 14 - Putus Karma

2220 Words
"Biar anakku saja yang mendonorkan darahnya untuk anak kalian, kamu tenang saja kami bukanlah orang-orang yang suka menyimpan dendam" kata Babeh Ali yang disambut dengan isakan tangis dari Esther dan mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua. >>> "Papa kecewa sama sikap kamu Johan, papa menjodohkan kamu dan Esther karena kamu adalah anak sahabat papa. Kamu haruslah lebih baik dari Ali orang yang pernah papa tolak lamarannya karena dia orang Betawi dan tidak punya pekerjaan yang tetap" keluh Ayah dari Esther. "Sekarang malah dia juga yang sudah menolong kehidupan kalian, kamu sadar ga betapa malunya". katanya lagi. "Jadi sebenernya siapa Yuli? apa dia adalah anak kamu dan gadis selingkuhan kamu?" tanya Sandy pada Johan yang masih tertunduk. "Iya ma, sebenarnya Sherly bukan selingkuhan aku, aku sudah menikahinya walau pada awalnya Esther tidak mengetahui, kami sudah menunggu selama 5 tahun tapi tidak juga mendapatkan anak". kata Johan pelan. "Kalau dari awal kamu cerita pasti papa dan mama ga akan mau terima Yuli sebagai cucu kami, bagaimanapun dia bukan darah daging kami Esther". kata Sandy mamanya Esther dengan gemetar menahan amarahnya. "Maafin aku pa, ma, aku emang salah! harusnya aku tidak menerima dan mengurus Yuli waktu itu, tapi aku merasakan itu adalah hukuman untukku karena belum bisa memberi anak untuk mas Johan". "Yang baru aku tahu ternyata bukan aku yang mandul selama ini. Tetapi dia, Yuli juga bukan anak kandungnya, dia juga telah tertipu dengan wanita itu" isak tangis Esther akhirnya keluar bersamaan dengan rahasia yang selama ini dia pendam sendiri. Kedua orang tua Esther segera memeluk anak perempuan mereka satu-satunya itu, dalam tangisan mereka juga ikut menyadari kalau selama ini sikap mereka juga salah, karena mempermasalahkan status dan kekayaan seseorang dari luar saja, tidak melihat dari sifat dan ketulusan bahkan potensi orang itu. Menantu yang mereka pilihkan untuk menjadi pendamping putrinya ternyata tidak lebih baik dari Ali yang pernah mereka rendahkan 21 tahun yang lalu. Bahkan menantunya juga tidak setia, dan ternyata juga orang yang pemalas yang bisanya hanya berjudi dan main perempuan. ~~~ "Beh, menurut babe apa yang harus kita lakuin sama Yuli? apa kita cabut tuntutan kita sama dia?" tanya Arkan pada babehnya yang baru selesai sarapan. Kondisinya pagi ini sudah lebih baik, dokter mengatakan pada mereka kalau Babeh Ali jatuh sakit karena kelelahan mengurusi pekerjaannya dan syok. "Kalau soal itu babeh serahin sama si botoh aja Wi, dia yang jadi korban ama lu berdua. Kalau lu ama Lita kira-kira iklas maafin dia, itu terserah kalian. Babeh menempuh jalur hukum karena Lita sampai drop dan kehilangan ingatan sementara akibat ulah Yuli yang kasar dan juga melukai Lita" kata babeh Ali lagi dengan tenang. "Coba nanti Mawi ngomong ya sama Lita, jujur beh liat keluarganya yang berantakan gitu bikin Mawi ga tega, papanya penjudi mamanya juga yang sosialita terlalu sibuk sama urusan dunianya sehingga Yuli bisa jadi kayak sekarang. Dia bisa kayak sekarang mungkin karena kesepian dan butuh perhatian" kata Arkan lagi Dirumah Lita hari itu Rossa kembali kedatangan Parmi dan juga suaminya Tardi yang memohon agar Andi bisa dibebaskan atau minimal dijadikan tahanan rumah saja, tubuh Andi masih seringkali babak belur karena kekerasan dalam penjara. "Parmi mohon nci, kasih Andi kesempatan untuk berubah sekali lagi, kemarin mungkin kesalahan Parmi ama Tardi juga karena kami ga bisa ngasih kesempatan dia bisa nerusin sekolahnya, dia jadi brutal dan bergaul dengan orang yang ga bener kayak pak Johan, ngajarin judi dan juga jadiin dia preman hanya karena dia kelaparan" kata Parmi disela isak tangisnya. "Jujur aja Mi, gue juga maunya gitu, cuma sekarang yang laporin Andi ke polisi tuh bukan gue ama bang Lundi tapi orangtua Arkan yaitu babeh Ali. Dia marah karena sikap Andi waktu itu pernah mengancam Lita ditengah jalan dan juga kasih tahu ke Yuli soal aibnya selama ini. Lita mengalami masa-masa sulit akibat kelakuan Andi dulu". jawab Rossa yang juga ikut menangis. "Hampir 6 bulan dilakui sama Lita dengan mimpi buruk setiap malamnya, dia juga menjadi tertutup bahkan selama itu dia ga mau liat dan ketemu laki-laki sekalipun itu papa dan adeknya". cerita Rossa lagi. "Maafin Parmi nci, emang Andi jahatin Lita, Parmi juga udah gagal jadi orangtua yang baik buat Andi dan adek-adeknya". jawab Parmi akhirnya menundukkan kepalanya. Dia merasa malu setelah mendengar akibat dari kejahatan anaknya di masa lalu membuat gadis cantik yang selama ini selalu baik dan juga sayang padanya kehilangan masa depan dan trauma yang ditanamkan sungguh parah. "Makasih ya nci, bang dan maafin kalau permintaan saya dan Parmi kelewatan, saya sadar kalau penderitaan Lita jauh lebih parah dari yang Andi alami dipenjara". kata Tardi akhirnya ikut bicara. "Saya ga akan minta sama nci dan abang untuk bebasin Andi lagi, setidaknya biar dia menerima akibat dari perbuatannya di masa lalu". kata Tardi sekaligus berpamitan pada Rossa dan juga Lundi. *** "Aku ga masalah kalau babeh dan kamu mau bebasin Yuli, aku juga kasian sama dia sampai saat ini belum sadar juga akibat coba bunuh diri kemarin". kata Lita saat Arkan dan babehnya menanyakan soal kemungkinan tuntutan pada Yuli akan dicabut. "Kalau kamu ga mau juga ga papa Ta, kata babeh semuanya kita serahin ke kamu, kamu yang paling dirugikan disini, kalau soal aku dicari dan di uber sama cewe mah emang karena aku keren". kata Arkan lagi sambil menyombongkan dirinya dan tersenyum meledek Lita. "Kelakuan Lu Wi, gue kemplang pala lu modar", kata Babeh sambil melempar bantalnya pada Arkan dan langsung ditangkap oleh Arkan dengan mudahnya. "Hmmm pede bener yak? emang lupa kalau dulu pernah aku tolak dan terus-terusan uber aku karena aku jutek dan penasaran?" Lita balik meledek Arkan yang disambut oleh tawa babeh Ali yang bahagia melihat Lita bisa tertawa lagi dan melupakan masalahnya. "Kata babeh mah Ta, biar aja dulu hukum berjalan. Bagaimanapun kelakuan Yuli emang sudah kelewat batas, apalagi Andi. Babeh heran sama mama dan papa kamu yang tidak melaporkan hal itu ke polisi waktu itu. Tapi ya sudahlah yang penting cara dia mengintimidasi dan membuka aib kamu ke orang lain bahkan menjadikan itu sebagai senjata untuk balas dendam sudah pasti salah". kata Babeh dengan tenang. Dia tidak mau terkesan membuat Lita tertekan tapi juga dia ingin Lita memaafkan dan berdamai dengan dirinya sendiri. "Ta ikutin saran babe aja, Ta ga mau nyimpen itu sendirian dan bikin Ta sakit kepala lagi". Kata Lita sambil memegang kepalanya yang mulai pusing lagi. *** "Horee.....akhirnya gue lulus juga. Beh...berhasil juga...walau pas pasan tapi lumayan lah buat ukuran Mawi bisa lulus ya beh". teriak Arkan pada babehnya yang datang saat pengumuman kelulusan anak kelas 3. Bu Sri memandang dari kejauhan dan menganggukan kepala tanda sapaan kepada babeh yang hanya sampai gerbang sekolah. "Semoga lu makin berhasil ya Tong, buktiin sama orang-orang yang udah hina kita selama ini, juga ama Nyak lu dan juga adek lu, kalau lu emang ngebanggain babeh" batin Babeh Ali sambil mengusap ujung matanya yang berair. "Selamat ya bang, Arkan lulus ya?" tanya Esther yang entah sejak kapan sudah ada disebelah Ali. "Eh iya makasih, sejak kapan kamu disitu? perasaan tadi ga ada orang". kata babeh kaget. "Baru aja dateng bang, mungkin abang ga denger saya datang". kata Esther lagi. "Gimana keadaan lu sama Yuli saya sengaja ga datang ke sidang kemarin itu karena ga enak sama mama dan papa kamu, saya ga mau mereka jadi terus merasa bersalah pada saya". jelas babeh Arkan. "Iya gapapa bang, Yuli sudah mulai menerima keadaannya, dia juga sudah mau berdamai dengan dirinya, saya sadar dia ga salah sepenuhnya dia cuma kesepian dan mau mencari perhatian dari saya dan mas Johan yang selalu sibuk dan tidak ada waktu untuk dia". kata Esther lagi. "Saya juga minta maaf dan mau ngucapin terima kasih lagi ke abang dan juga Arkan yang udah diijinin untuk mendonorkan darahnya buat Yuli, walau Yuli sudah menyakiti kalian, tapi kalian sungguh baik masih mau menolong kami, biar Tuhan saja yang membalass semua kebaikan Abang dan juga Arkan" kata Esther lagi sambil menunduk. "Udah-udah..... saya dan Arkan iklas, semoga kamu sehat-sehat saja yah" kata Babeh Ali dan pergi ke arah mobil dimana supirnya sudah menunggu untuk mengantarnya kembali ke kantornya. Suasana coret-coretan menjadi ajang untuk anak kelas 3 untuk sedikit bar-bar dan menampilkan keliaran dan kebrutalan mereka, tapi tentu saja masih terarah karena sudah dipesankan oleh Kepala Sekolah yaitu bu Sri dan juga pak Agus sebagai wakilnya. "Ta, baju gue kok ga dicoret juga" teriak salah satu kakak kelas yang masih satu kelas dengan Arkan Lita menengok dan segera memberi tanda tangan di bagian punggung kakak kelasnya itu dan kembali lagi dipelukan Arkan yang bajunya sudah tidak ada lagi bentuknya. "Ya ampun belum juga pergi, udah sedih gitu, gimana nanti kalau Arkan kuliah dan sibuk, mewek mulu bakalan cewe jutek kita" Ledek Atik pada Lita yang tidak mau melepaskan pelukannya dari Arkan. "Eh iya Anik gimana kabarnya yah?" apa dia masih bisa masuk ke sekolah lagi yah? dengar-dengar dia ga dapat hukuman lama karena cuma sebagai saksi aja, tidak sampai ikut melukai Lita". tanya Ipeh sambil tangannya coret-coret kakak kelas yang lain. "Hmm...ah bodo ah, gue ga mau mikir lagi, Yank kita hari ini jadi kan nontonnya?" tanya Lita sambil lihat ke arah Arkan. "jadi dong, yuk makanya siap-siap, genks.....woi...gue balik dulu yah mau nyenengin tuan putri sebelum berpisah kuliah sibuk" kata Arkan mengajak Lita pergi tapi masih memeluknya. "Kita pulang kerumah aku ya aku ganti baju, trus ganti mobil baru kita jalan". kata Arkan yang langsung disetujui dengan anggukan kepala dari Lita. "Ta, mau mandi dulu apa ganti baju aja?" tanya Arkan dari kamarnya dilantai 2. Dia bebas berteriak karena memang rumahnya sepi kalau siang hari. "Bebas sih, kamu gerah ga? kalau gerah ya mending mandi dulu aja". jawab Lita sambil minum softdrink yang disediakan untuknya oleh asisten rumah tangga Arkan. "Ta.... aku pakai baju apa ya?" teriak Arkan dari lantai 2 dan saat dia menyadari ternyata Lita sudah terlelap dikursi ruang tamu, dengan gemas dia turun ke ruang tamu dengan memakai kaos couple yang pernah dia belikan untuk moment mereka kalau pergi berdua dan mendekati Lita. Terdengar suara nafas Lita yang teratur, dengan pelan dia merapihkan rambut Lita yang mengganggu disekitar mata dan keningnya. "Ya ampun kasian amat ayank gue, kelamaan nunggu yah ampe ketiduran gini hehehehe...." kekeh Arkan sambil duduk di sebrang kursi ruang tamunya dan ikutan terlelap. "Hoaaam....ya ampun aku ketiduran" kata Lita yang bangun dan kaget melihat ke kaca jendela rumah sudah gelap, dia melihat ke depan kursi tempat dia tidur dan melihat Arkan juga ikut tertidur. "Yank....kok kamu ikutan tidur sih?" keluh Lita kesal sambil menghampiri Arkan yang masih belum bangun. "Assalammualaikum.... Eh Botoh ada dimari aja", sapa Babeh ke Lita yang langsung datang menghampiri babeh dan mencium tangannya. "Iya beh, tadi siang abis coret-coretan, itu anak babeh ngajakin Lita nonton, katanya mau bikin Lita senang seharian, aku ketiduran eh dia ikut ketiduran dong...aish..sebel...." keluh Lita cemberut, Babeh yang menghampiri anaknya kontan tertawa mendengar cerita Lita. "Ada-ada aja lu berdua....lucu" kata Babeh "Eh Mawi...itu anak orang udah bete itu, lu pake acara tidur lagi. Diambekin gue ga ikutan yah!!" kata babeh Ali membangunkan Arkan yang masih menutup matanya tidur dengan pulas. "Lah iyak...kok tiduran yah?" tanya Arkan aneh, dan dilihatnya wajah gadis juteknya yang jutek didepannya makin merasa bersalahlah dia dan menghampirinya dan memeluknya. "Sayang, maaf yah....aku lihat kamu kecapean jadi aku bantuin kamu tidur deh" kekeh Arkan yang disambut tawa keras dari babeh Ali. ### "Sudah puas? apa dengan melihat anak kandung gue lupa semua kenangan sama gue dan keluarga gue, bikin lu udah puas?" tanya seorang wanita sambil menatap selembar foto dalam genggamannya. Tampak seorang gadis tersenyum manis dengan tahi lalat di ujung matanya membuat dia semakin cantik, tergambar jelas dalam foto tersebut. Gadis yang sudah dia lukai karena laki-laki yang jadi suaminya sekarang harus menikahinya karena hubungan mereka tidak di restui oleh orangtua gadis itu dan membuat sang lelaki akhirnya memutuskan menikah dengannya sekarang. Terbayang semua rekam kejadian saat itu, saat gadis itu memohon untuk mengembalikan lelaki itu tapi bagaimana lagi mereka berdua sudah menikah dan gadis itu tidak dapat berbuat apa-apa karena memang dirinya sedang hamil anaknya yang kedua yang kini menjadi seperti hukuman karma untuknya dimasa ini untuk kejadian dimasa lalu. Rossa masih menangis saat Lundi masuk kamar dan melihatnya memegang foto orang dari masa lalunya itu. Dia menghampiri istrinya dan memeluknya, mengucapkan beberapa kata penyesalan yang tidak akan pernah tergantikan walau dirinya sudah berulang kali meminta maaf pada perempuan yang dia cintai itu. "Lita cuma jadi korban keegoisan kita, harusnya dia tidak mengalami apa yang dia alami sekarang, aku ga rela kalau dia terus terusan dijadikan korban dari karma kita berdua pa", kata Rossa sambil sesegukan di dada suaminya. "Iya ma, papa juga minta maaf lagi, seandainya dulu dia tidak menyumpahi kita mungkin kita tidak akan mengalami semua kesialan ini ditambah korbannya adalah putri bungsu kita" jawab Lundi ikut meneteskan air mata dan memeluk istrinya. *** "Semua sudah kau alami sekarang ya Rossa...Lundi, akibat kalian melukai perasaan ku sekarang putri kesayangan kalian merasakan juga apa yang alami, setelah kau rampas dan nodai tubuh ini seenaknya kamu meninggalkan aku dan menikah dengan Rossa, perempuan manja yang hanya bisa mengandalkan orangtua nya yang kaya". kata seorang perempuan cantik yang sudah tidak lagi muda didalam mobil yang berhenti di depan sebuah rumah yang adalah rumah dari Rossa dan Lundi. Kabar tentang putri mereka yang mengalami perkosaan sudah dimuat di media massa dan juga beredar di internet, jejak digital itu yang akhirnya mengantarkannya untuk melihat langsung kedua orang yang dia pikir sudah menyakiti dan melukai hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD