Kabar tentang putri mereka yang mengalami perkosaan sudah dimuat di media massa dan juga beredar di internet, jejak digital itu yang akhirnya mengantarkannya untuk melihat langsung kedua orang yang dia pikir sudah menyakiti dan melukai hatinya.
Flash back 20 tahun yang lalu
"Aku takut ko, nanti kalau papa tau gimana?" tanya seorang gadis saat pacarnya menjemput di depan rumahnya dengan menggunakan motor. Dengan santai dan disertai senyuman manis, lelaki itu malah menarik tangan gadis itu untuk naik ke boncengan motornya dan bergegas pergi dari depan rumah gadis itu.
"Kamu mah nekat banget!. Nanti yang kena tuh aku, kamu mah enak abis anterin aku pulang kamu bebas langsung pulang lagi dan aku yang
bakalan ngadepin papa dan mama nanti". kata gadis itu cemberut terlihat oleh pria itu dari kaca spion motornya yang hasil dari pinjam dari teman nya yang ada dikota dimana kekasihnya tinggal itu.
"Kagak Non, aku akan anterin kamu sampai rumah dan akan temuin papa, aku akan bilang minta maaf sama papa dan mama, aku akan lamar kamu malam ini juga". jawab pria itu sembari menarik tangan gadis itu untuk melingkar di pinggangnya. Gadis itu hanya menuruti lelaki itu dan bersender di bahu lelaki itu.
Sepasang muda mudi itu sering terlihat di gedung bioskop satu- satunya yang ada di kota Cikampek tersebut, hampir setiap minggu mereka pasti datang ke tempat itu, bukan untuk menonton karena lelaki itu adalah orang yang pas-pasan.
Tapi nongkrong di warung kopi sebelah bioskop tersebut yang sangat murah meriah dan terjangkau untuk kantong kaum menengah ke bawah seperti mereka.
"abis ini kita pulang kan ko? jangan nginep lagi ah. Ga enak tau, si Isah juga jadi kena omel ama papa gara-gara bukain pintu buat aku diam diam". kata Evi pada kekasihnya yang tinggal di kota Jakarta dan berkunjung seminggu sekali di hari sabtu yang dibilang malam minggu.
"Iya sayang, kita pulang, koko juga lagi ga ada duit. hehehehehe belum gajian lagi, si bos lagi pelit ga mau minjemin duit". jawab lelaki itu pada
Evi kekasihnya yang langsung melihatnya dengan sedih.
"nih Evi ada duit, koko bawa aja buat pegangan dan ongkos, nih ganti bensin juga motor si Jaka, ga enak make motor dia terus" kata Evi mengeluarkan uang lima puluh ribuan dan memberikannya pada
lelaki disampingnya itu.
Bukannya menerima uang itu, lelaki itu malah memeluk kekasihnya itu dan mengecup bibirnya. Evi yang tidak siap dengan serangan dadakan itu hanya bisa terdiam dan menikmati ciuman dari kekasihnya, dia hanya bisa berbahagia di hari ini
dimana kekasihnya bisa ada dan menemaninya semalaman.
"Kita numpang dirumah Jaka aja yuk...koko kepengen cium kamu nih, rayu lelaki itu pada Evi sambil menarik tangan Evi dan naik ke atas motornya dan bergegas pergi ke rumah sahabatnya Jaka yang juga
tinggal dikota Cikampek ini.
Sesampainya di rumah Jaka, keadaan rumah itu kosong, karena dari sore saat dia datang lelaki itu sudah meminta ijin pada Jaka untuk meminjam rumah dan juga kamar nya agar bisa memadu kasih dengan Evi kekasihnya.
"kok sepi ko? Jaka kemana?" tanya Evi pada kekasihnya yang langsung mengajaknya ke kamar Jaka yang sudah rapi itu. Evi hanya mengikuti tanpa bisa menolak karena memang dirinya juga rindu pada lelaki yang menarik tangannya ini.
"Hmmfuff.....ko...ah...ko.....duh si koko ga sabaran amat sih, sabar dong" kata Evi yang sudah terjatuh di.pinggir ranjang kayu.
Rangsangan demi rangsangan diberikan lelaki itu agar Evi mau memberikan sentuhan pada bagian
tubuh bawahnya yang sudah tegang dan menjadi keras. Evi yang sudah terangsang akhirnya pasrah saat lelaki itu membuka satu persatu pakaiannya dan akhirnya dia dalam keadaan yang b***l. Lelaki itu masih saja mencium dan meraba seluruh bagian tubuh dari Evi.
"Ko...duh....Evi ga tahan ko, tapi takut.... tapi ko.... aduh....kok enak banget sih yah?" desahan Evi terdengar sampai diseluruh kamar itu, lelaki yang masih mencium dan menjilat ujung p******a, Evi tidak berhenti tapi semakin menggila ditambah dengan menghisap p****g p******a Evi yang makin menantang.
"Sayang...koko mau...boleh ga?" tanya lelaki itu dengan tatapan yang penuh gairah, dikepalanya dipenuhi bayangan m***m dan perasaan ingin dipuaskan walaupun pacarnya masih perawan, dia terlena dalam situasi yang sering dia ciptakan agar dapat mencumbu kekasihnya yang mempunyai badan yang sangat putih dan mulus itu.
Evi yang juga mulai b*******h hanya bisa melihat dengan tatapan meminta pada kekasihnya dan mulai
menyerahkan tubuhnya dengan pasrah, gesekan lidah dan tangan kekasihnya dipucuk p******anya sangat berpengaruh besar pada tubuhnya yang sudah b***l, lelaki itu memanfaatkan suasana itu dan meminta Evi untuk menyentuh bagian tubuhnya yang sudah keras.
"Itu apa ko? kok keras banget?" tanya Evi kaget karena selama ini mereka b******u hanya Evi yang
selalu digoda dan diraba dan lelaki itu hanya mencium dan meraba saja tanpa pernah lelaki itu juga meminta untuk disentuh. Evi yang masih polos dan selalu dikerjain oleh pacar nya jadi penasaran dan kembali menyentuh benda keras yang ada ditubuh kekasihnya itu, yang bikin lelaki itu semakin gila dan langsung menyerang tanpa ampun tubuh Evi.
"sakit ko...ampun ko.. sakit... ah... ah...eh...kok jadi enak?" kok jadi kayak gini sih ko?" tanya Evi masih tidak percaya perpaduan rasa yang sedang dia alami sekarang, rasa sakit yang baru saja dia alami saat lelaki itu memasuki dirinya dan menembus selaput yang selama ini dia jaga untuk suaminya kelak.
Cakaran yang dia berikan pada lelaki itu membekas dipunggung dan d**a lelaki itu tapi terlihat seperti luka bakar karena warna kulit lelaki itu yang gelap berbanding terbalik dengan tubuhnya yang putih dan mulus. Mereka bergerak berirama tubuh mereka menyatu, melengkung mengikuti desakan birahi yang sudah memenuhi pikiran dan didukung dengan suasana sepi di ruangan itu yang menyisakan lelehan keringat yang terus mengucur hingga......
"ah.... ko........ aku mau pipis.... ga kuat...... ah.... enak..... ah ah ko...geli...aa.h " teriak Evi melengking dibarengi dengan keluarnya cairan kenikmatan dari dalam tubuhnya. Bukannya berhenti bergerak dari tubuh Evi yang lemas, lelaki itu malah meneruskan gerakannya yang naik turun dan mendorong agar mencapai puncak kenikmatan yang hampir dia capai.
"ah.... non.... m***k kamu enak banget, makasih yah kamu udah kasih aku keperawanan kamu. Aku sungguh beruntung dapetin kamu" kata lelaki itu sambil memeluk tubuh b***l Evi yang masih lemas hingga keduanya tertidur lelap.
"Halo ko, kok kamu kemarin ga kerumah?" tanya Evi pada kekasihnya saat hari senin dia menelpon ke kantor tempat pacarnya bekerja, yang kebetulan masih saudara lelaki itu juga.
"Eh iya vi, koko lagi ada kerjaan banyak banget, diajakin ama ko Peter buat keliling keluar kota jadi ada rencana mau nyales ke daerah lain selain Jakarta dan Bandung" elak lelaki itu dengan nada yang terdengar sekali agak segan menjawab.
"oh gitu, ya udah minggu depan aku tunggu yah". kata Evi lagi masih dengan nada manjanya. tut...tut...tut..... belum selesai Evi bicara telepon itu sudah ditutup tanpa menunggu Evi selesai bicara.
Dua minggu sudah Evi murung, dia tidak dapat menghubungi pacarnya di tempat kerjanya, karena sudah 2 minggu tidak bekerja juga disana, Evi yang tidak tahu alamat pacarnya di Jakarta menghampiri rumah Jaka sahabat dari pacarnya itu dan menanyakan kabar pacarnya tersebut yang menghilang tanpa jejak.
"Jak, lu tau si koko kenapa ga datang-datang, gue takut dia kenapa-napa, terakhir dia bilang lagi keluar kota tapi kok tempat kerjanya bilang dia ga kerja-kerja. Tolong kasih tahu gue dong dia ada dimana? ga masalah dia mau putusin gue, gue cuma mau tahu keadaannya aja, sumpah!" kata Evi dibarengi dengan isakan tangisnya yang sudah tidak dapat dia bendung lagi. Hatinya gelisah dan takut karena kehilangan kekasihnya yang sudah menodainya tapi karena malu pada Jaka dia tidak menyebutkan hal tersebut, dia hanya bisa menangis dan menangis terus. Sedangkan Jaka yang memang tidak tahu keberadaan lelaki itu juga hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda dia sungguh tidak tahu keberadaan dan kabar lelaki itu.
Dua bulan berlalu, Evi pasrah dengan keadaannya, pacarnya yang tidak ada kabar bahkan tempat kerjanya juga sudah meminta dia untuk memberikan jawaban apakah dia mau untuk dimutasi ke Jakarta atau tidak, karena banyak karyawan yang lain juga mengincar kesempatan itu. Dengan sedikit harapan yang dia miliki untuk bisa bertemu dengan pacarnya, lelaki yang sudah merusak dan menodai masa depannya, dia menyanggupi tawaran dari kantornya dan dia bersedia untuk ditempatkan dikota Jakarta.
"Selamat datang di ibukota bu Evi, saya harap keputusan ibu Evi ke Jakarta bukan karena menghindari perjodohan yah?" ledek manager pemasaran tempat Evi bekerja yang kebetulan juga adalah sahabat lamanya di SMA dulu.
"Sue lu Ton, gue udah berbaik hati menerima tawaran untuk ngebantuin lu, eh malah lu ledekin. Awas lu yang bakalan jadi jodoh gue loh" Evi berbalik meledek Toni yang adalah teman seangkatannya waktu di SMA, dia yang dulu terkenal sangat dekil dan kumal sekarang menjelma jadi manager pemasaran yang tampan dan juga sukses.
"Amin kalau itu mah!!!! kapan lagi gue jadi jodoh lu, awas lu yah kalau cuma PHP doang" katanya Toni balik meledek Evi yang segera mengikuti langkah Toni yang ingin mengajaknya berkeliling dan melihat situasi kantor cabang ini.
"Mau lu pea" jawab Evi lagi dengan pelan karena mereka sudah sampai di depan ruangan direktur pemasaran. Dengan pelan Toni mengetuk pintu untuk meminta ijin agar mereka dapat masuk dan Evi bisa diperkenalkan ke direktur pemasaran tersebut.
"Tuk....Tok..... permisi pak apa boleh saya masuk? saya Toni pak" kata Toni di depan pintu.
"Ya Ton, masuk aja .... " jawab dari dalam pintu yang langsung dibuka oleh Toni dengan mengajak Evi juga untuk masuk.
"Kenalin pak ini Evi, dia adalah salah staf pemasaran yang sangat berprestasi di kantor pusat kita di Cikampek, dia dipromosikan karena banyak sekali ide - ide cemerlang yang dia miliki untuk memajukan penjualan produk kita dipasaran, dan dia dirujuk oleh direktur di sana untuk ke Jakarta untuk membantu kita untuk lebih baik lagi". ucap Toni sambil sedikit mendorong Evi masuk dan berkenalan dengan direktur mereka.
"Saya Evi pak, betul saya dari kantor Cikampek. Tapi soal prestasi saya mah di lebih-lebihkan saja oleh Toni karena kebetulan dia adalah sahabat saya dari SMA" jawab Evi sambil menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Halo Evi, saya Burhan, semoga kehadiran kamu memberikan warna baru dalam kantor cabang kita. saya sudah bosan lihat pemandangan basi karena yang saya lihat adalah cowo semua di kantor ini. Lumayan buat cuci mata jadi semangat berkreatifitas" senyum Burhan sambil bersalaman dengan Evi.
Evi hanya menundukkan kepalanya dan tersenyum, senang hati karena dipuji walau dalam hatinya menjadi teringat kembali dengan kata-kata rayuan yang pernah dia dengar dari kekasihnya dulu.
Sudah hampir 2 minggu Evi di Jakarta, karena kesibukannya Evi sampai lupa dengan sakit hatinya, ditambah dengan sikap Burhan dan Toni yang tidak pernah membiarkan dia kesepian dan melamun, jadilah mereka team yang solid dan membanggakan. Terbukti dengan prestasi yang mereka capai saat pengumuman pencapaian target bulan ini didalam rapat besar gabungan semua cabang yang diadakan hari ini di Jakarta. Sebagai salah satu staff pemasaran Evi juga dituntut untuk membantu kelancaran acara reward ini sebagai bentuk apresiasi pada para staff yang sudah menunjukkan dedikasinya pada perusahaan.
Ditengah keramaian akan datangnya para wakil dari masing cabang di seluruh Indonesia, mata Evi seperti menangkap bayangan yang tidak asing di pandangannya, sosok tubuh yang sering dia rindukan dan tangisi selama 2 bulan terakhir karena tidak ada kabar beritanya. Takut sosok itu hilang lagi segera Evi mengejar dan menghampiri lelaki itu yang hampir memasuki lift ke arah bawah untuk keluar dari gedung tersebut.
"Ko ...... tunggu ......" teriak Evi membahana di lorong depan lift. Tapi tidak ada seorang pun yang menyadari apa yang Evi lakukan, karena suara sedang bising sekali karena sedang test sound untuk acara yang dalam hitungan menit lagi.
Tidak menyerah dia berlari menuju lift dan menekan tombolnya yang akhirnya membuat pintu lift itu terbuka, dan didalamnya ada orang yang selama ini dia cari, dia rindukan, dia tangisi sedang menggandeng wanita lain yang masih keliatan muda sekali, dengan postur tubuh yang mungil dan wajah yang cantik dengan kulit putih pucat dan rambut yang bergelombang, semua orang dalam lift sontak melihat ke depan lift karena hanmpir saja mereka turun tapi pintu terbuka kembali.
"Ko.... kamu ngapain ada disini? siapa wanita ini?" tanya Evi tidak dapat menyembunyikan kemarahan dan kecemburuannya.
"Evi .... kok kamu ada di Jakarta?, kapan datang?" tanya lelaki itu dengan gugup dan perlahan melepaskan genggaman tangannya dari wanita yang ada disampingnya.
"Aku kerja sekarang di Jakarta, bisa kita bicara ko?" tanya Evi lagi masih dengan menahan emosinya.
"udah sana keluar lift aja.... bikin gue jadi telat aja lu pada" teriak salah seorang yang ada di dalam lift tersebut, sehingga lelaki itu menjadi tidak enak hati, dia memegang pundak dari wanita mungi itu dan berpesan agar dia menunggunya di lobby gedung tersebut, dan setelah sudah selesai mereka akan pulang bersama.
"Siapa dia ko? kenapa sikap koko mesra sekali sama dia? ada hubungan apa kalian? dan kenapa koko ga bisa dihubungi dan juga tidak datang kerumah yang katanya koko mau ngelamar aku di malam saat kamu merenggut kesucianku". tanya Evi pelan tapi sangat menusuk d**a lelaki itu.
Bukannya menjawab lelaki itu malah memeluk Evi tapi sebelumnya dia menarik tangan Evi ke arah pantry dimana suasana disana sangatlah sepi.
"Dia adalah salah satu karyawan disini, yang baru saja lulus magang, koko disini hanya jadi supir dari pak Burhan aja Vi, koko baru aja masuk kerja jadi masih training dan belum punya penghasilan tetap karena masih kontrak, jadi ga berani keluar duit karena butuh juga untuk modal kerja". jawab lelaki itu masih memeluk Evi.
"terus kenapa pake acara pegang-pegangan tangan segala?" tanya Evi lagi galak dan mencoba untuk melepaskan pelukan lelaki itu, rasa rindu dan sayangnya berubah jadi kecewa dan benci.
"Ga ah kamu salah lihat kali" jawab lelaki itu tanpa merasa bersalah malah semakin mendekati Evi dan mencoba untuk menciumnya, tapi ditolak oleh Evi yang masih kesal. Dia tidak mau menerima lelaki itu lagi sebelum diberikan penjelasan lebih lengap tentang wanita yang ada dilift tadi.
"Udah deh ko, ga usah dekat-dekat aku lagi, aku masih mencari kamu selama 2 bulan ini, tapi apa yang aku dapat? pengkhianatan, kamu yang udah merusak masa depan aku, menodai aku, beruntung aku tidak hamil anak kamu, kalau tidak rasanya aku ingin bunuh diri saja" isak Evi mulai tidak bisa menahan emosinya, dan mulai menangis.
"Ya ampun sayang, kok ngomongnya gitu, koko masih sayang sama kamu ini semu akan untuk kita juga sayang. Buat apa koko rela pindah kerja ya karena ingin memberikan yang terbaik untuk kamu dan masa depan kita nantinya" bujuk rayu dilancarkan oleh lelaki itu yang kembali memeluk Evi dan menariknya dalam sehingga Evi tidak dapat melarikan dirinya lagi dari lelaki tersebut.
"Koko ga akan pernah lupa malam indah itu sayang. justru itu yang membuat koko jadi semangat kerja" katanya lagi dengan wajah penuh pesona yang akhirnya meruntuhkan hati Evi kembali dan akhirnya menerima pelukan dari kekasihnya yang masih sangat disayanginya itu.
Sejak kejadian pertemuan itu hubungan mereka kembali terjalin, bahkan mereka tinggal bareng di kost-an Evi yang bebas agar bisa bersama setiap hari, di kantor mereka harus bersikap profesional dengan berpura-pura tidak saling kenal agar tidak melanggar peraturan dikantor yang menegaskan agar tidak ada yang berpacaran dalam lingkungan kantor yang akan berpengaruh pada suasana tidak kondusif di lingkungan kantor.
Selama itu juga mereka kembali mengulang perbuatan terkutuk dan nikmat tersebut, bahkan tanpa pengaman, sikap Evi yang sangat mendewakan pacarnya itu membuat lelaki itu memanfaatkannya dan mengambil keuntungan dari sikap Evi tersebut. Hingga 4 bulan kemudian, Evi dengan muka pucat mencari keberadaan lelaki yang jadi pacarnya itu dengan terang-terangan di kantor karena sudah tidak pulang selama 2 hari.
Dengan tidak bisa menahan muka panik dan takutnya dia menarik tangan lelaki itu agar mau mengikuti langkahnya, lelaki itu yang tidak nyaman dengan sikap Evi menepis tangan Evi dan berkata, "apa-apaan sih kamu? ini kan kantor main tarik-tarik aja, ga enak tau malu" katanya agak kesal.
"Malu? justru aku yang malu.... kamu seenaknya pergi dan datang sesuka hati kamu. kamu pikir aku tuh apa?" tanya nya dengan marah.
"saat kamu butuh uang, butuh makan, butuh kehangatan aku selalu ada, tapi saat aku lagi butuh kamu, dimana kamu" tanya Evi sambil menarik kerah baju lelaki itu.
"Apaan sih? jangan gila deh, pake narik-narik baju segala" kata lelaki itu tidak kalah marah dari Evi, pasalnya saat ditarik tadi dia sedang merayu anak baru yang sangat cantik di golongan Office girl baru aja kenalan sudah gagal karena dia terlihat dengan Evi.
"Aku minta pertanggungan jawab kamu ko, aku hamil!!!!" kata Evi dengan marah.
"Lah, kamu hamil kenapa aku yang tanggung jawab?" tanya lelaki itu lagi dengan tidak mau kalah melotot pada Evi.
"ya kamu yang hamilin aku, siapa lagi yang sudah nidurin aku selama ini kalau bukan kamu" , teriak Evi kesal makim menjadi.
"Jangan ngada-ngada deh, becanda ga gini juga kali Vi, pake ngaku-ngaku hamil segala". kata lelaki itu mencoba untuk menghindar dari tarikan kerah baju yang masih dilakukan oleh Evi.
"enak aja kamu ko, kamu pikir aku cewe murahan? yang bisa tidur dengan sembarangan orang?" tanya Evi makin emosi. "lu juga tau keperawanan gue siapa yang nyobain, lu kan ko? jangan belaga gila lu pake nuduh gue segala, ada juga lu yang gila, ngaku cuma teman doang tapi dibelakang gue, lu ngerayu semua cewe dikantor ini, dasar cowo penjahat kelamin" teriak Evi makin tak terkendali.
"Lu lupa kalau gue pernah mergokin lu lagi digodain dan dirayu sama Burhan dan Toni, mereka mabok dan megang-megang badan lu, dasar cewe kegatelan" teriak lelaki itu lagi sembari memutar badannya ingin pergi dari sana.
"Eits jangan lari lu, enak aja lu, lu lupa siapa yang selama ini kasih lu makan, kasih lu tinggal gratis, kasih lu kepuasan, sialan lu..sialan" teriak Evi dan kemudian dia tidak sadarkan diri