Janda Muda
“Jangan ganggu aku lagi! Pergi dari sini!" Isabela Faranisa menunjuk gerbang rumahnya dengan tangan gemetar menahan geram. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, Isabel mengira dirinya sudah kebal dari drama. Namun, berdiri di hadapannya Leonardo- pria yang mencoreng pernikahan lima tahun mereka dengan perselingkuhan- membuat darah jandanya kembali mendidih.
Pernikahannya dengan pria yang kini sedang berdiri di hadapannya itu kandas di usia pernikahan mereka yang menginjak ke lima. Padahal, mereka sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang saat ini sudah berusia empat tahun.
“Isabel, aku mohon sama kamu, maafkan semua kesalahanku dan kita kembali seperti dulu lagi. Kasihan Lingga, dia masih kecil, anak kita butuh peran ibu dan ayahnya,” tutur seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, pria itu berusia tiga puluh tahun dan ia adalah mantan suami Isabel.
“Tidak perlu, aku bisa menjadi peran ayah sekaligus ibu untuk Lingga,” balas Isabel dengan angkuh.
“Jawaban yang tepat, berarti kamu tidak ada niatan untuk mencarikan ayah yang baru untuk Lingga. Hmmm … baguslah, dengan begitu berarti kamu belum bisa melupakan aku.” Leonardo tersenyum devil dengan kedua mata yang menatap intens ke arah Isabel.
Isabel terdiam sejenak, sial sekali ia salah memberikan balasan untuk ucapan Leonardo.
“Kata siapa? Jangan terlalu percaya diri.” Wanita cantik itu menyingkap rambut panjangnya ke belakang, ia bersedekap d**a dengan wajah angkuh.
“Aku tahu Isabel, buktinya sudah hampir satu tahun kita berpisah, tapi kamu masih belum menikah. Itu artinya apa? Kamu belum bisa melupakan aku. Ayolah kembali padaku Isabel, aku akan memperlakukanmu seperti seorang ratu.” Leonardo tersenyum merekah, pria itu merentangkan kedua tangannya dengan penuh percaya diri.
“Kembali padamu? Hmmm … itu sebuah kemustahilan. Cepat pergi dari sini sebelum aku memanggil security!” usir Isabel sekali lagi sambil menunjuk ke arah gerbang rumahnya.
Saat ini, mereka sedang berada di teras rumah, karena Leo memaksa untuk masuk ke dalam rumah mewah yang ditempati Isabel.
Itu adalah rumah peninggalan orang tua Isabel, karena ketika menikah ia dan Leo tinggal di rumah yang berbeda, akan tetapi setelah mereka berpisah, Isabel kembali ke rumah peninggalan kedua orang tuanya.
“Baiklah, kali ini aku mengalah. Tapi aku mengalah bukan berarti aku kalah, Isabel. Aku akan kembali sambil membawa penghulu untuk kita rujuk kembali.” Leonardo tersenyum semrik, setelah itu ia membalikkan badan lalu berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di halaman rumah Isabel.
“Stres! Dia pikir aku masih mau kembali padanya. Dasar laki-laki tidak ada harga dirinya, sudah ku gugat cerai juga masih saja berani mengajak balikan. Dia pikir aku ini wanita yang paling membutuhkan dia? Aku bisa mendapatkan sepuluh laki-laki yang lebih baik dari kamu Leo,” gerutu Isabel sendiri yang benar-benar merasa kesal kepada mantan suaminya itu.
Ia memperhatikan mobil Leo yang keluar dari gerbang rumahnya dan perlahan semakin menjauh.
“Nyonya Isabel …” panggil seseorang dari belakang yang membuat Isabel terkejut karena tadi ia sedang melamun.
“Ya ampun, Bu Widi, ngagetin aja.” Isabel membalikkan badannya sambil mengelus d**a.
“Maaf, Non. Saya tidak tahu kalau Non sedang melamun,” ucap seorang wanita paruh baya yang bekerja di rumah itu.
Namanya bu Widi, buruh cuci gosok yang sudah beberapa bulan ini bekerja di rumah Isabel. Namun, wanita berusia lima puluh tahun itu tidak menginap di sana, ia datang pagi hari dan pulang disaat sore.
Itu juga tidak setiap hari, kadang bu Widi datang seminggu tiga kali, karena kerjaannya hanya mencuci dan gosok pakaian saja.
“Saya tidak melamun, Bu,” elak Isabel.
“Oalah, yang tadi itu siapa, Nyonya? Ganteng juga,” celetuk bu Widi yang membuat kedua mata Isabel langsung terbuka lebar setelah mendengar ucapan wanita paruh baya itu.
“Ganteng? Dia itu mantan suami saya, Bu. Percuma ganteng, kalau hobinya selingkuh,” jawab Isabel dengan nada kesal.
Ia bukan kesal pada bu Widi, akan tetapi Isabel kesal ketika mengingat mantan suaminya.
“Oalah, mantan suami Nyonya ternyata. Pantesan agak mirip Den Lingga. Maaf ya, Nyonya, soalnya saya gak tahu. Baru kali ini saya melihat papanya Den Lingga secara langsung, Nyonya,” tutur wanita paruh baya itu lagi.
Isabel menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut. Ancaman Leo untuk membawa penghulu rujuk paksa bukan main-main. Pria itu licik.
"Bu Widi," panggilan Isabel tiba-tiba, matanya menatap hampa ke halaman.
"Ibu punya kenalan pria yang bisa saya sewa jadi suami kontrak? Saya butuh tameng instant sebelum si b*****t Leo itu datang lagi. Uang bukan masalah, yang penting dia setia dan ... kalau bisa masih perjaka, biar tidak merepotkan."
Bu Widi terkesiap, hampir menjatuhkan keranjang cuciannya.
“Loh, kok minta dicarikan ke saya, Nyonya. Wong saya juga janda.” Bu Widi terkekeh di akhir kalimatnya.
“Hmmm … gak majikan, gak pekerjanya, sama saja nasibnya jadi janda. Ya pokoknya Ibu bantu saya carikan calon suami, karena saya sudah tidak betah terus diganggu sama mantan suami saya.” Isabel terdengar memaksa.
“Walah … walah, Nyonya. Yang benar saja Nyonya minta dicarikan calon suami sama saya. Saya ini cuma buruh cuci gosok, Nyonya. Paling kenalannya juga sama tukang kebun, tukang sapu jalan, tukang jagal, tukang gali kubur ….”
“Ya gak tukang gali kubur juga kali Bu, bisa-bisa kalau ada masalah, saya dikubur hidup-hidup. Gak ada yang lebih okehan dikit gitu?”
“Lagian kenapa Nyonya gak mencari sendiri aja? Pasti banyak yang mau lah sama Nyonya. Kan Nyonya cantik, kaya, pasti di luar sana banyak laki-laki yang ganteng dan juga kaya yang mau sama Nyonya, bahkan mungkin banyak yang antri juga. Kalau nikah sama orang biasa, gak ada duitnya Nyonya, emang Nyonya mau, pagi dikasih makan kangkung, sorenya makan genjer sama sambel,” tutur bu Widi.
“Saya gak butuh uang dari laki-laki, Bu. Saya sudah pernah menikah sama laki-laki yang mapan, kaya, tapi tingkahnya kayak setan. Lebih baik saya menikah dengan laki-laki biasa saja, tapi dia bisa memperlakukan saya dengan sangat baik. Gak papa dia gak kerja juga, Bu, yang penting orangnya baik, bisa menghargai saya, bisa menerima saya dan juga anak saya. Terus bonusnya kalau bisa, dia itu perjaka, hahaha ….” Isabel tertawa di akhir kalimatnya.
“Walah … walah, saya juga mau dapat Perjaka, Nyonya.” Bu Widi ikut tertawa karena Isabel sangat ramah.
Deru motor besar memotong kepanikan mereka. Seorang pria turun, melepas helm, menyisir rambutnya yang basah oleh keringat dengan jari. Jaket maroon-nya kontras dengan kulit putih dan rahang tegas yang memikat.
Isabel terpaku. Sial, pemuda ini luar biasa tampan. Tatapan mata pemuda itu tajam, langsung terkunci pada Isabel, membuat jantung Isabel berdesir aneh.
"Kurir? Atau ... suruhan Leo?" selidik Isabel defensif, mencoba menyembunyikan kekagumannya.
Pemuda itu melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Isabel bisa mencium aroma maskulin bercampur angin jalanan.
Dia tersenyum tipis, tatapannya turun ke Isabel.
"Bukan keduanya, Nyonya," bisik pemuda itu dengan suara berat yang seksi.
"Saya ke sini untuk menjemput milik saya."