Enam (Flashback 3)

1092 Words
Lluvia dan Cheris jalan beriringan meninggalkan Royal Opera House setelah berlatih siang hingga menjelang malam. Melihatnya, Charles segera memerintah supir Cadillac Escalade mendekat ke pintu masuk. Saat itu orang-orang yang baru keluar berlatih, Cheris bahkan Lluvia heran mengapa ada mobil mewah menghampiri mereka. Charles turun menyapa sekedar basa-basi pada Cheris kemudian membukakan pintu untuk Lluvia, "Tuan meminta saya menjemput Anda" Mata biru Cheris mengamati lekat penuh ingin tahu, "Kau ada janji dengan seseorang?" Lluvia memulas senyum, bibirnya terkunci. "Aku mungkin akan pulang terlambat, pulanglah dulu" ia pergi begitu saja meninggalkan Cheris bingung. Lluvia berhasia membuatnya penasaran, siapa orang yang sepertinya cukup kaya yang ia temui, tapi tak ingin ia ceritakan itu. Apakah dia Albert? Taman mawar yang mengelilingi rumah Luce segera menyita perhatian Lluvia. Ia mengintip dari jendela, rumah bergaya Georgian itu tampak sederhana namun luas dengan jendela-jendela lebar dan dua balkon besar untuk minum teh sore yang menyenangkan. Mobil melaju hingga pintu masuk. Charles turun membukakan pintu untuk Lluvia lalu menyilahkannya berjalan lebih dulu. Lelaki tua itu memencet bel. Tak lama pintu terbuka, dua pelayan menyambut membawa dua sendal rumah dan meletakkan sepatu Lluvia di lemari kayu di belakang pintu. Lluvia melongo, rumah itu indah seperti istana. Di depan pintu masuk dua lukisan besar beraliran klasik menggantung di sisi kanan dan kiri, sementara lantainya tertutup permadani merah. Ia meniti tangga utama di tuntun Charles melewati ruang tamu, lalu memasuki ruang makan yang mejanya hampir mencapai 3 meter panjangnya berhias lilin, dan bunga-bunga segar dalam vas. Di atas meja coklat sudah tertata makanan yang masih hangat. Charles mendorong kursi untuk Lluvia menyilahkannya duduk, "Tuan meminta saya menjamu Anda. Silahkan makan lebih dulu" gadis itu menengok penasaran. "Lalu di mana Luce?" "Beliau masih ada sedikit urusan dan meminta saya menyediakan semua yang Anda butuhkan" Lluvia hanya makan sayur, sepotong kecil d**a ayam panggang, sedikit roti dan segelas jus. Selesai makan ia berkata ingin berganti pakaian dan menghias diri. Charles membawanya ke lantai dua melewati tangga melingkar coklat menuju ruang musik. Piano besar di sudut ruangan membuat Lluvia sekilas menoleh. Langkah Charles berhenti di samping ruang musik. Ia membuka pintu menyilahkan Lluvia masuk. "Silahkan Anda gunakan ruangan ini. Setelah Anda selesai, Anda bisa menunggu tuan di ruang musik" ia menunjuk ke ruang di mana piano tadi berada. "Terima kasih" kata Lluvia. Kamar yang di sediakan untuknya sangat luas. Ada jendela besar dengan sebuah balkon yang disinari cahaya dari sudut-sudut tembok yang pemandangannya mengarah.ke taman mawar. Ia sempat penasaran mengintip ke sana tapi merasa ragu dan malu-malu. Akhirnya ia urung dan lebih memilih bersiap. Ia melepas pakaiannya, memakai stoking, lalu kostum leotard putih dan rok tutu warna senada. Setelah selesai ia menghias wajah dan mengikat rambutnya kemudian untuk persiapan terakhir ia memakai sepatu pointe shoes yang khusus digunakan untuk menari. Setelah semua persiapan selesai ia menuju ruang musik, duduk di sofa besar menghadap piano. Tatapannya menjelajah jendela besar di samping piano yang tertutup tirai keemasan dan sebuah lemari di sudut tembok tempat sebuah biola dan beberapa penghargaan di tata dengan rapi serta dua tempat lilin keemasan yang sengaja di letakkan di kedua sisi tembok membuatnya indah. Interior ruangan itu lebih sederhana, seolah lebih menekankan keberadaan piano besar itu. Waktu berlalu, Lluvia sudah satu jam menunggu. Ia sedikit cemas lelaki itu datang terlambat, sementara ia harus mengejar jadwal kereta terakhir pukul 10 malam. Ia mengintip ponselnya sudah pukul 9. Ia mulai sedikit resah, berusaha menemukan Charles tapi tak melihatnya di manapun,  juga tak menemukan seorang pelayan pun di rumah itu membuatnya merasa sendiri dan tak bisa berbuat apapun selain menunggu, mustahil pergi tanpa pamit. Lluvia hampir menangis sekarang sudah pukul 11 malam dan ia belum pulang. Anne mungkin sudah tidur dan rumah sudah terkunci, ia tak tahu menginap di mana malam ini. Suara letupan sepatu mendentum dari tangga di belakang punggungnya. Lluvia berdiri kemudian berbalik, Luce baru pulang. Lelaki itu melepas mantel birunya yang diserahkan pada Charles. "Aku menyesal sudah membuatmu menunggu lama. Ada beberapa urusan mendadak hari ini yang tidak bisa kutinggalkan. Aku minta maaf" Lluvia merasa lega berusaha menahan tangisnya, "Aku tahu kalau Anda pasti sibuk" Luce tersenyum, "Tidak perlu terlalu formal" ia menengok pada Charles, "Sediakan white wine untukku" lelaki tua itu mengangguk patuh meninggalkan mereka. "Jika kau tidak keberatan menunggu sedikit lagi, aku ingin berganti pakaian" "Ya, silahkan" Beberapa menit berselang setelah Charles meletakkan wine dalam ember pendingin bersama dua gelas ke atas meja, Luce muncul. Ia mengenakan kimono tidur sutra berwarna coklat keemasan, lalu duduk di depan piano dan menggubah concerto Tchaikovsky. Mendengar piece Dance of the Sugar Plum Fairy Lluvia menari. Kakinya yang panjang berjinjit membentuk en pointe. Wajahnya yang muram berubah senyum. Ia melompat rendah, menggoyangkan tangan ke atas, ke bawah seperti sayap burung. Kakinya menghentak lantai, berjinjit tinggi seperti bangau lalu menapak lagi dengan cepat dan anggun. Kepalanya, mendongak, menunduk bergantian seperti angsa anggun berenang. Luce bertepuk tangan, lalu membungkuk ke arah Lluvia. Gadis itu tersenyum pertunjukannya dinikmati. "Tarian yang indah" pujinya, membuat gadis itu menunduk malu-malu. "Aku punya hadiah untuk tarian indah itu, silahkan duduk" Lluvia duduk di sofa besar menghadap Luce. Lelaki itu menuang wine putih ke dalam gelasnya. "Silahkan dinikmati" ia mengambil biola dari lemari, menggesek dawai hingga irama Serenade no 13 Mozart mengalun mengisi sunyi. Lluvia hanyut dalam tiap nada yang ia mainkan begitu baik dan cekatan selama hampir 3 menit. Sebuah pertunjukan singkat yang membuatnya terkagum-kagum. "Kau sepertinya tahu banyak concerto klasik" ucap gadis itu sembari bertepuk tangan riuh. Luce meletakkan biola kembali ke tempatnya, "Aku sering pergi ke Opera, teater dan orkestra. Karena tertarik aku mempelajari musik-musik itu" ucap lelaki itu duduk di depan Lluvia, melipat kaki panjangnya sambil menenggak wine. Mereka diam, dan seperti ketika awal bertemu, Luce menatapnya sedemikian rupa seolah akan memakan Lluvia. Gadis itu diam,  mengalihkan perhatian. Tatapan mata sering mengganggunya. "Sejujurnya bagiku kau begitu berbakat. Sayang kalau hanya menjadi first solois" Luce meletakkan gelas anggurnya. Ia melangkah ke belakang Lluvia, meraba pundaknya berulang kali. Awalnya Lluvia tak bereaksi namun tangan Luce bergerak tak terkendali. Ia membelai lehernya lalu menjamah punggungnya turun perlahan-lahan disertai tekanan halus yang menyiratkan hasratnya yang tersembunyi. Ia menghirup aroma rambut Lluvia lekat-lekat. Bibirnya menjelajah leher jenjangnya mendekati kupingnya yang ia lumat penuh nafsu. Lluvia ketakutan, ingin mendorong tubuh Luce menjauh tapi tubuhnya beku tak bereaksi, mulutnya terkunci. Ia bukan tak mau pergi atau melawan tapi ketakutan membuat seluruh syarafnya mati dan ia tak tahu mengapa. "Aku bisa menjadikanmu seorang Principal Character Artist, jika kau mau menjadi milikku" tangan besar Luce turun menggerayangi p******a Lluvia dan meremasnya keras hingga gadis itu mengerang dan gelas wine yang belum ia minum jatuh mendenting keras, memberinya respons menggerakkan tubuh hingga mampu menjauhi Luce dengan badam gemetar ketakutan. Wajah Luce masam dan dingin, tak ada rasa bersalah, sementara Lluvia berkaca-kaca. Ia menatapnya sebentar lalu pergi dari sana terburu-buru tanpa mengganti pakaian
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD