Monolog itu Biantara ucapkan dengan penuh keyakinan. Ia kembali memaku tatapannya pada Kania. Bahu gadis itu terlihat bergetar. Biantara tahu, Kania tengah menangis. Dan, lagi-lagi hatinya seperti ikut perih. Seolah-olah gadis itu tengah di depannya. Kania seperti tengah bicara padanya lewat hati. Ia seperti dijerat keponakannya melalui kontak mata tadi. Mata bulat itu seakan mengadu kesedihan. Kania meminta pengertian. Gadis tersebut seperti hendak bicara, tapi tertahan. Dan, satu hal yang paling tidak Biantara pahami, apa pun tentang Kania, hatinya berbisik untuk peduli. Entah sejak kapan. Entah sebab apa. Dan, entah kenapa semua bisa begini. Kepala Biantara seperti dijejali tentang gadis itu terus-menerus. Sialan! Pikiran macam apa yang membuatnya sampai semuak ini? Kania

