Kania terkesiap. Tubuhnya kaku seketika, seolah ada sesuatu yang menahan seluruh aliran darahnya. Napasnya patah-patah. Jemari yang saling menggenggam di pangkuan mulai berkeringat dingin. Wajah cantik itu pucat—bukan karena lelah, tapi karena ketakutan yang ia sembunyikan sebaik mungkin. Hanggara menatapnya tajam dari seberang meja. Tatapan laki-laki sepuh itu bukan sekadar mengintimidasi—melainkan menelanjangi seluruh pertahanan mental Kania sampai habis. Pada usia yang sudah menua, karisma Hanggara justru makin memuncak. Kekuasaan dan namanya terlalu besar untuk ditandingi siapa pun. Sekali ia bicara, dunia di sekelilingnya seakan harus tunduk. Bagi Kania, pria itu bukan hanya opa—melainkan penguasa hidup yang nasibnya sepenuhnya ada di genggaman tangan Hanggara. Ia menunduk. Mata

