“Sah!” Sorakan itu menggema, membelah ruangan seperti gelombang yang menghantam karang. Kania mendongak pelan, memaksa dirinya menatap layar televisi yang menampilkan momen akad itu. Dan tepat di detik itu—hatinya retak. Bukan retak yang pelan dan samar, melainkan retak yang terdengar sampai ke dasar jiwanya. Pertahanannya runtuh, luluh tanpa ampun. Ada dorongan kuat untuk meraung, menjerit, menangis sampai seluruh dadanya kosong dari sesak yang menumpuk. Harusnya aku nggak selemah ini… Ia mengutuk dirinya dalam hati. Apa mungkin ini reflek perasaan tidak rela yang berkembang sebab dasar akalnya sadar, bahwa seharusnya lelaki itu mempertanggungjawabkan anak yang dikandungnya ini--bukan malah menikahi wanita lain? Tapi, bukankah sejak awal ia yang memilih jalan penuh duri ini? Ia yan

