Berhadapan dengan Kania, entah kenapa membuat bira.hinya tumbuh liar. Pria itu bahkan harus menahan sesak di bawah sana ketika tidak dapat menyalurkannya cepat. Biantara masuk ke dalam kamar, melepas ikat pinggang serta dasinya. Dua barang itu ia lempar sembarang ke atas ranjang king size bersprei putih. Wajah tampannya menengadah. Napas yang tidak teratur itu memburu cepat. Ia menahan hasrat yang tidak langsung tersalurkan. “Sial! Kenapa gadis itu membuatku begini? Argh!” Di laboratorium .... “Duh, soal nomer 90 gimana, ya, Elang?” Kania menggaruk kepalanya—bingung. Beberapa soal telah selesai dikerjakan. Namun, satu nomor itu membuatnya pusing. Sudah dua lembar HVS ia gunakan untuk mencari penyelesaian soal itu. Namun, sekali lagi, gadis itu seperti putus asa saat mendapat ha

