Secara refleks, Biantara mengikuti arah pandangan kakaknya itu—dan tanpa sengaja, pandangan mereka bertaut. Hanya sekejap, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa berat. Setiap kali menatap mata gadis itu, ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang membuat hatinya gelisah, seolah ada rahasia yang menuntut untuk diingat. Namun, Biantara tetaplah Biantara. Pria yang selalu pandai menyembunyikan gejolak di balik wajah tenangnya. Ia memilih bersikap masa bodoh, meski pikirannya mulai berputar tak karuan. “Malam ini jadwalnya Elang, Bang. Jadi, saya hanya melakukan bimbingan ke Elang.” Jawaban Biantara membuat Yasmin merasa menang dalam perdebatannya kali ini. Ia menatap sang suami lalu menampilkan senyum penuh arti. "Oke, Bian. Silakan ke lantai atas." Yasmin berujar tanpa menat

