“Oh, ya, sebentar, aku panggilkan Kania biar bawa sayurnya ke sini.” “Kania! Kania tolong bawakan—“ “Ma.” Hanggara menyela cepat. Tangannya terangkat ke udara, mencegah Ranti memanggil Kania yang masih di dapur. “Sebenarnya, saya manggil kalian semua ke sini bukan untuk makan malam, makannya nanti saja. Kita bahas soal pernikahan Biantara dan Melati.” Ranti menatap sang suami, lalu duduk di sebelahnya. “Mama suka pembahasan ini,” ujarnya dengan senyuman merekah. “Kami selaku orang tua tentu akan melibatkan kalian dalam merundingkan pernikahan Biantara untuk yang kedua kalinya.” Hans mengembuskan napas berat. Ia menggelengkan kepala melihat tingkah mama dan papanya yang sangat antusias dengan pernikahan adiknya. “Jadi, sudah pasti tanggalnya, Pa?” “Belum. Tapi kita sudah bicara

