Bab 15-3

905 Words

Begitu jelas, tanpa perlu menajamkan pendengaran. Nama Melati disebut-sebut dengan nada kagum. Setiap kali nama itu keluar dari mulut Ranti, entah kenapa dadanya seperti ditikam perlahan. “Melati itu contoh yang baik. Lembut, sopan, tahu diri.” Suara neneknya itu menggema di sela denting sendok dan hujan yang mulai menetes di luar sana. “Kalau Maura belajar dari dia, Mama yakin masa depannya cemerlang.” Tidak ada bantahan ataupun sahutan dari Hans dan Yasmin seperti tadi. Semua orang di ruang tengah sama, setuju menanamkan harapan pada Maura setinggi itu. Kania berhenti memotong wortel. Matanya kosong, menatap permukaan talenan. Ia menelan ludah yang terasa getir. Napasnya berat, tersengal, meski dapur itu dingin karena udara hujan di luar sana, masuk melalui jendela yang masih ter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD