Dengan gerakan refleks, jari-jarinya menyeka pipi kasar-kasar, seolah ingin menghapus bukan hanya jejak air mata, tapi juga seluruh kesedihan yang menempel di sana. Air keran kembali menyala otomatis ketika tangannya berada di depan sensor. Kania membasuh tangan pelan, mencoba menenangkan diri lewat gerakan sederhana itu. Setelahnya, ia mengambil selembar tisu lagi, mengeringkan tangan dengan perlahan. Hening. Hingga suara pintu yang terbuka memecah keheningan itu. Kania menoleh cepat. Sosok wanita yang tadi dilihatnya bersama Biantara kini berdiri di ambang pintu, dengan senyum manis dan sikap tenangnya. “Hai, ketemu lagi kita.” Nada suaranya ringan, ramah, dan terdengar begitu akrab. Senyum tipis terpaksa mengulas di bibir Kania. Senyum yang singkat, kaku, dan sama sekali tak sampa

