Bibir itu ia usap menggunakan tisu. Minumannya juga dihabiskan dalam waktu singkat. Semua gerakannya lembut, teratur. Namun, dari semua itu, satu hal yang bisa Nala lihat—pandangan Kania yang kosong. Bahkan, beberapa kali sahabatnya itu menatap ke arah Biantara yang fokus dengan makanan dan perhatian wanita tersebut. “Kita pulang aja, ya? Lo butuh istirahat kayaknya.” Kania mengangguk. Ia menggendong ranselnya lalu gegas melangkah lebih dulu. Nala pun menyusul, menggandeng lengan sahabatnya. “Kania.” Suara itu berat, tegas, dan dalam—panggilan yang seketika membuat langkah Kania terhenti. Suara yang terlalu dikenalnya untuk bisa diabaikan begitu saja. Tumitnya berputar perlahan. Tubuh rampingnya berbalik, dan di hadapannya berdiri Biantara dengan tatapan tajam khasnya. Udara d

