Bab 19-4

848 Words

Tanpa sadar, tangannya bergerak, mengusap pelan perutnya yang terasa sedikit kram. Sentuhan itu memancing ingatan pahit—malam terlarang yang masih meninggalkan luka dalam, juga kejadian sore itu, ketika ia mendengar dengan jelas bagaimana Biantara melampiaskan nafsu pada wanita bayaran tanpa sedikit pun belas kasih. “Bumil nggak boleh ngelamun, Kania.” Nada ringan dari Nala membuyarkan lamunannya. Kekeh kecil menyusul, mencoba mencairkan suasana. Kania tersenyum samar, meski terasa kaku di bibir. “Nggak. Lagi bingung aja.” “Gue anter ke mansion aja, ya?” Nala menawarkan, nada suaranya lembut tapi antusias. “Gue temenin sampe Si Om dateng, deh. Ya, sekalian liat laboratorium milik si Om yang kata lo modern itu.” “Nggak semudah itu, Nala.” Selanjutnya, Nala memberi penjelasan jika labo

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD