Kania hanya membuang napasnya, sedikit kasar. “Kania nggak cek ulang, Om.” Biantara tersenyum sinis. Ia ingin menertawakan sikap keponakannya yang bahkan tidak ada konsistennya sama sekali. “Jadi, kamu serahkan pekerjaan yang kamu sendiri tidak yakin benar?” Satu alis Biantara terangkat. Menunduk, Kania mengakui kelemahan sekaligus kesalahannya di sini. “Aku minta maaf, Om.” “Permintaan maaf tidak relevan.” Biantara mengetuk meja dua kali menggunakan bolpoin. “Perbaiki di sini.” Kania mengangkat kepala cepat. “Sekarang?” “Ya.” Bibir Kania berdecak kesal. Pria di depannya sungguh menyebalkan. “Bimbingan bukannya tambah ilmu malah tambah stres.” Gadis itu menggerutu lirih. “Bilang apa tadi?” Tanpa diduga, Biantara mendengar suara Kania. Ia menatap tajam ke arah gadis tersebut. “Ng

