“Alasan yang buruk.” Biantara menutup file tersebut, cukup kasar. Gadis tersebut memaksa menahan senyuman tipisnya. “Jadi, masih boleh lanjut?” “Menurut kamu?” Ia bertanya datar, lalu menegakkan punggung. “Kamu masih punya kesempatan belajar. Selama kamu tidak menyia-nyiakan waktu saya.” Di tengah rasa tegang itu, entah kenapa perut Kania kembali kram. Akhir-akhir ini keluhan itu terjadi tanpa bisa dikendalikan. “Om, boleh izin ke belakang?” Biantara mendengkus kesal. “Jangan lebih dari lima menit.” Kania beranjak dari tempat duduk. “Oke, Om.” Gadis itu berlari, keluar dari ruang praktik itu menuju ruang depan—letak kamar mandi yang ada di laboratorium. Ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Perutnya kini tidak hanya kram, tapi mual pun dirasakan tanpa jeda sedikit pun.

