Bab 22-4

977 Words

Kania tidak lagi berucap. Ia memilih diam. Menelan rasa sedihnya dalam-dalam. Sebab, sekeras apa pun ia berteriak, Biantara pasti tidak akan pernah peduli. “Silakan keluar, tapi jangan pernah kembali ke mansion ini!” Suara Biantara menggema keras di ruangan besar itu, seperti petir yang membelah udara. Nada baritonnya menggetarkan dinding, memantul di antara perabot mahal yang seketika terasa dingin dan tak bersahabat. Kalimat pengusiran tegas itu jelas terdengar oleh telinga Kania. Tubuhnya seolah membeku di tempat. Jantungnya berdegup keras, tapi kakinya tak sanggup melangkah. Pandangannya naik perlahan, menatap wajah Biantara yang berdiri di hadapannya—garang, penuh wibawa, dan tidak terkalahkan. Sorot mata pria itu tajam, menusuk, membuat udara di d**a Kania serasa menipis. Ia sem

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD