Detik berikutnya, makanan itu telah masuk ke mulut. Ia mengunyah pelan, mendalami rasa hasil masakannya sendiri. Tidak ada yang aneh. Takarannya pas. Kadar garam normal, gula sedikit, tanpa MSG. Lalu, di mana letak tidak enaknya? Di mana kesalahannya? “Maaf, Tuan ... tapi, saya rasa semuanya sudah sesuai permintaan Tuan.” Bibir Biantara berdecak kesal. Ia menggeram tertahan. Pria tersebut menatap kesal ke arah koki mansionnya. “Kamu yakin?” “Yakin, Tuan.” “Silakan keluar.” Koki itu mengangguk, membungkuk. Setelahnya, ia keluar dari sana tanpa berucap sepatah kata pun. Kepergian sang koki berganti dengan datangnya Hendrik—asisten pribadinya. Pria tersebut membawa map berisi laporan perusahaan. “Tuan, ini laporan bulan ini.” Biantara menerima map itu. Ia memeriksanya singkat l

