Usia Kania masih muda, tapi tubuhnya begitu matang. Dari luar dan terbungkus seragam saja, gadis itu tampak menggoda. Apalagi ... Kania kali ini masih memakai seragam yang agak kekecilan. Hal tersebut tanpa sadar mengganggu pikiran Biantara. Gadis di depannya terlalu molek. Terlalu indah untuk ia lepas tatapannya dalam waktu cepat. Jakunnya bahkan naik-turun dengan ritme pelan, terkesan menahan. Gila! Benar-benar gila! Beberapa wanita saja yang datang untuk memuaskan nafsu, tapi kenapa pikiran Biantara justru tertuju pada Kania? “O–Om?” Kania memanggil ketika melihat keterdiaman Biantara. Bahkan, jari pamannya masih betah menyentuh bibirnya. Hal tersebut jelas membuat Kania merasa heran sendiri. Terenyak, Biantara seperti dilempar ke jurang kenyataan yang pahit. Kenyataan ba

