“Kania, ‘kan?” Lelaki itu menebak dengan senyum yang langsung mengembang. Matanya berbinar menatap Kania tanpa berkedip. Kania mengangguk ragu. Wajah lelaki itu terasa familiar, meski ia belum pernah melihatnya di lingkungan sekolah saat ini. “Maaf, apa kita pernah kenal atau ketemu sebelumnya?” tanyanya hati-hati. Lelaki itu mengangguk mantap. “Kamu nggak inget? Aku Naren. Kita satu sekolah waktu SD. Satu kelas malah.” Kania membelalak kecil. Ia mengulang nama itu dalam kepala, mencoba merunut kembali memori yang lama terkubur. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya sosok bocah laki-laki dengan rambut sedikit acak-acakan dan tawa lebar muncul di ingatannya. “Ah! Iya. Aku inget sekarang,” ucap Kania antusias. “Kok bisa kamu di sini?” Naren tersenyum bangga melihat Kania akhirnya me

