Kania buru-buru memalingkan wajah. Ia tidak ingin terlibat lebih jauh. Apa yang sudah terjadi sudah cukup menjadi peringatan. Tidak. Ia tidak ingin mengulang. Seandainya waktu bisa diputar kembali, ia tetap akan memilih menjauh. Selama ini Kania sudah berusaha menjaga jarak. Namun entah bagaimana, Biantara selalu menemukan celah untuk menariknya kembali. Seolah pria itu tahu titik lemahnya dan sengaja menjeratnya dalam situasi yang membuat langkahnya terkunci. Dari sisi lain, Biantara menutup mata sejenak. Gerakan kecil Kania barusan membuat aroma parfum gadis itu menguar halus—aroma yang terlalu mudah ia kenali. Wangi itu sama. Tepat sama dengan gadis malam itu. Tidak ada yang berbeda. “Kamu sengaja goda saya dengan bau ini, ya?” Ucapan itu meluncur tepat di telinga Kania. Spontan

