Kania. Tiba-tiba nama gadis itu seperti sebuah cambuk keras yang memecut isi kepalanya. Biantara bahkan tidak tahu kenapa nama itu tiba-tiba muncul dan membuat perasaannya mulai berkecamuk. “Minum dulu, Mas.” Melati menyodorkan segelas air putih dan mulai meminumkannya pada Biantara. Pria itu meneguknya pelan. Hanya beberapa tegukan, sampai akhirnya gelas yang ada di tangan Melati ia dorong untuk menjauh. “Cukup.” Melati mengangguk paham. Ia letakkan gelas itu di meja pantri. Tatapannya kembali beralih pada Biantara yang kondisinya terlihat kacau. “Kita lanjut makan lagi?” Biantara menggeleng. Ia meraih ponsel di saku. Satu pesan dari Yasmin menghias jendela berandanya. [“Tolong anterin Kania pulang. Besok dia harus berangkat sekolah lebih awal karena ada les pagi.”] Rahan

