Melati lantas menggeser tubuhnya. Ia menatap ke arah depan dan mendapati sosok Kania tengah bersandar di tembok dengan tatapan kosong. “Dia ....” Ucapannya menggantung. Tatapannya terpaku pada Kania. Melihat kondisi gadis yang malang itu, hati Melati tergerak untuk mendekati. Namun, baru beberapa langkah, panggilan Biantara membuatnya berhenti. “Dia perlu hukuman supaya tau.” “Hukuman?” Melati mundur. Ia menatap Biantara. “Apa ini cara untuk kamu memaksanya memberi desain itu?” Biantara tidak menjawab. Ia tetap diam dengan tatapan tajamnya yang terus mengawasi Kania. “Mas. Aku nggak apa-apa kalo dia nggak kasih desain itu. Kita bisa cari gaun lain.” “Tidak bisa, Melati!” Biantara menentang keras. Suaranya menggema di ruang luas itu. “Apa yang kamu mau, akan saya berikan. Semuan

