Kania terperanjat. Mata bulatnya terbuka lebih lebar, seakan paksaannya untuk kembali sadar berhasil membuat tubuhnya kembali siaga. Gadis itu mendongak. Langit-langit kamar bercat putih dengan lampu kristal yang menggantung tampak menyilaukan. Setiap sisi tembok dihiasi lukisan abstrak; furnitur mewah bernuansa klasik tertata sempurna—bersih, rapi, dan tidak menyisakan celah berantakan. Tubuh Kania menegang. Ia menatap kedua tangannya sendiri. Benarkah ia masih hidup? Pamannya tidak benar-benar berusaha membunuhnya? Ia menampar pipinya pelan. Perih. Sakit. Nyata. Ini bukan mimpi buruk—ia memang berada di ruangan asing dengan aroma kemewahan yang menusuk. “Tadi itu… apa, ya? Kenapa aku bisa sampai di sini?” Gadis itu bermonolog lirih. Tangannya terangkat, memegangi kepala yang masih b

