Mrs. Erika menoleh. Di belakangnya berdiri Biantara—tegak, dingin, dengan mata tajam di balik kacamata yang bertengger rapih di hidung. Ia lekas beranjak dari duduknya. “Pak Bian.” Mrs. Erika menyapa hangat. Namun, sapaan itu sama sekali tidak digubris oleh Biantara. Pria tersebut tetap menatap lurus ke arah Kania; wajahnya datar, tetapi cara menatapnya begitu menekan. “Saya ingin bicara berdua dengan Kania.” Mrs. Erika menatap Kania, yang sejak tadi tampak tidak nyaman dengan kehadiran Biantara. “Maaf, Pak Bian, tapi sepertinya Kania butuh banyak istirahat untuk kali ini.” Mrs. Erika mencoba mencegah. “Saya bicara dengan Kania atas izin Bia-nya.” Biantara menimpali tegas. Sampai di titik ini, Mrs. Erika tidak lagi bisa menahan. Ia berdiri, memberi ruang untuk Biantara. Namun sebelu

