“Desain ... gaun itu, Bia?” Kania bertanya, memastikan. Jujur saja, desain gaun itu yang membuatnya sedari kemarin tidak nafsu makan. Ia ingin tetap mempertahankan desain tersebut sebagai list dream wedding-nya kelak. Tapi, mengingat kondisinya yang tengah hamil, rasanya dream wedding itu hanya akan menjadi mimpi belaka. Dunia tidak sebaik itu untuk gadis yang tidak lagi suci. Apalagi posisi Kania sebentar lagi tidaklah sendiri. Ia tetap akan melahirkan bayi itu dan mengasuhnya sebagaimana seorang ibu yang memberikan kasih sayang penuh pada anaknya. Tidak peduli bagaimana jalannya nanti, tapi Kania akan tetap memperjuangkan hak anak itu untuk tetap bisa menikmati masa anak-anaknya dengan layak. Sekalipun harus keluar dari rumah itu, Kania rasa tidak masalah. Ia masih punya uang d

