Hans tidak merespons. Namun, ia sempat melihat wajah istrinya yang penuh harap agar ia mau menanggapi Kania. Gadis itu perlahan melepaskan dekapan Yasmin, lalu melangkah mendekati Hans. Ia berdiri di antara kedua orang tuanya, mencoba tampak tenang meski napasnya tak stabil. Yasmin menatap manik mata cokelat putrinya, lalu berganti memandang Hans. Keduanya seperti saling menguji, saling berdiri di dalam ego masing-masing. Belum sempat Kania membuka suara, kehadiran Elang dan Biantara memecah ketegangan itu sejenak. “Bang.” Biantara menyapa kakaknya. Suaranya dalam, terkontrol. “Izin bawa Elang sebentar. Ada sesuatu yang keliru dan harus diperbaiki sekarang.” Hans yang belum sempat memberi ucapan selamat kepada putranya, terpaksa mengangguk. Ia menghela napas singkat, berat. “Oke. Jan

