Hendrik, sang asisten, menggeleng lemah. “Belum, Tuan. Sangat sulit mendapatkan informasi tentang gadis itu. Terlebih, tidak ada jejak sedikit pun yang bisa dilacak.” Tatapan Biantara naik perlahan. Sorot matanya tajam, menusuk, cukup untuk membuat udara di sekitarnya menegang. Bibirnya melengkung tipis, tapi bukan senyum—lebih mirip guratan dingin yang mengintimidasi. “Bodoh.” Satu kata itu meluncur tenang, namun terasa seperti cambuk. Hendrik menunduk makin dalam. “Sekali lagi, saya minta maaf, Tuan. Tapi, akan saya usahakan.” Tak ada respons. Biantara hanya menghela napas pelan, menarik isapan rokoknya dalam. Asap putih keluar perlahan, berpilin di udara, mengaburkan wajahnya yang gelap oleh bayangan lampu gantung. Sejurus kemudian, ia mengibaskan tangan—gerakan kecil, namun teg

