Beberapa saat sebelumnya Ia baru saja menemui seseorang di luar setelah beberapa menit sebelumnya berada di hotel bersama Adrian dan dua keponakannya. Mobil hitam yang dikemudikannya melaju pelan di antara padatnya jalan malam Beijing. Namun, pandangannya tiba-tiba tertarik pada sosok di trotoar—seorang gadis yang berjalan limbung, seolah kehilangan keseimbangan. Langkahnya tak terarah, nyaris menabrak tiang pembatas. Biantara menyipitkan mata, mencoba memastikan pandangannya. Begitu lampu jalan menyorot wajah gadis itu, tubuhnya menegang di balik kemudi. Kania. Untuk beberapa detik, waktu seakan berhenti. Ia memaku tatapannya ke arah luar, d.a.da bergemuruh antara kaget dan tak percaya. Bibirnya mengeras, lalu perlahan membentuk seringai tipis—bukan senyum, tapi luapan amarah yang

