Bab 31

2177 Words

“Nggak ada, kok.” “Jangan bohong kamu.” Kania bersedekap d.a.da. Helaan napasnya terdengar pelan. “Nggak, Om. Om Bian mending keluar, deh. Aku mau makan, terus tidur.” Biantara yang sudah dalam kondisi tidak stabil akhirnya memilih keluar dari kamar gadis tersebut. Di sisi lain, Kania mulai merasa sedikit lebih baik setelah minyak angin itu ia gosokkan ke telapak tangan, leher, dan telapak kaki. Tubuhnya perlahan menghangat, apalagi saat mantel kebesaran itu benar-benar menggantikan peran selimut. Kania memakan makanan yang dibawa Biantara. Obat dan vitamin pun ia telan. Jam di dinding menunjukkan pukul 21.00 waktu Beijing. Gadis tersebut kemudian berbaring tanpa melepas mantel itu. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya seluruhnya. ** Satu minggu kemudian .... Cahaya putih

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD