Bab 154

4148 Words

“Mas! Kamu ini bicara apa? Kania terluka begini, tapi kamu malah menuduhnya yang nggak-nggak.” Yasmin berteriak, suaranya pecah oleh amarah dan ketidakpercayaan. Dadanya naik turun cepat, matanya menatap tajam ke arah suaminya seolah tidak terima dengan tuduhan yang baru saja keluar dari mulut Hans. Hans tidak terpancing oleh emosi Yasmin. Dengan gerakan tenang namun tegas, ia langsung mengangkat tangannya dan menunjuk lurus ke arah perut Kania yang tampak jelas di balik kardigan longgar yang dikenakannya. “Lihat, Yasmin,” ucapnya datar, suaranya dingin tanpa sedikit pun keraguan. “Itu bukti dari ucapanku tadi.” Seketika pandangan Yasmin mengikuti arah telunjuk Hans. Matanya membesar perlahan ketika menyadari apa yang dimaksud oleh suaminya. Tangannya refleks menutup mulutnya sendiri, s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD