Seusai itu, Kania langsung mendorong tubuh Biantara hingga pria itu terduduk di sisi ranjang. Tatapan Kania mengunci wajahnya, penuh makna yang sulit diterjemahkan. Gadis itu kemudian naik ke atas pangkuan Biantara, meraih tengkuk pria tersebut. Jari-jarinya menyusup ke rambut hitam tebal itu, sedikit meremas seolah menahan sesuatu yang selama ini tertahan. Detik berikutnya, bibir Kania menghantam bibir Biantara. Tanpa ragu, tanpa aba-aba. Ia melumat bibir pria itu, bertindak sepenuhnya atas kemauannya sendiri. Biarlah ia dianggap gila dan l.i.a.r kali ini. Bukankah sejak awal ia memang sudah dicap demikian oleh keluarga besar papanya? Tidak ada lagi yang perlu ia jaga. Bibir Kania bergerak pelan, memberi l.u.m.a.t.a.n kecil yang justru terasa kejam karena kelembutannya. Sorot matanya

