Hans mengambil ponsel, lalu menyalakan layar. Jemarinya yang tegang menggulir beberapa foto sebelum akhirnya menodongkannya ke wajah Yasmin. Sementara itu, tatapannya tetap terpaku pada Kania—gadis yang kini berjongkok di lantai, menggenggam es batu dan menempelkannya pada luka bakar di pipi. Urat-urat di tangan Hans menegang; jelas, amarah pria itu belum surut sedikit pun. “Banyak tingkah kamu! Sampai kapan kamu mau bikin ulah di keluarga ini, Kania?!” Suara Hans meledak, membentur dinding-dinding rumah yang seketika terasa semakin sempit. Makian itu menusuk seperti sembilu, menghantam telinga Kania berkali-kali. Gadis itu hanya mengepal bibir, berjuang menahan air mata agar tidak mengalir. Ia tahu—menangis hanya akan memancing kemarahan baru. Di sisi lain, Yasmin memegangi mulutnya de

