Kania segera menutupinya menggunakan tangan. Refleks itu muncul begitu saja, seperti ingin membangun tembok terakhir yang tersisa agar tak ada satu pun yang melihat rapuhnya. Ia menunduk, menghindari tatapan Naren—tatapan yang sejak tadi begitu kuat menekan dadanya, bukan karena menakutkan, tetapi karena terlalu tulus. Lelaki itu kini berdiri tepat di depannya. Tubuhnya sedikit membungkuk hanya demi bisa melihat lebih jelas apa yang coba Kania sembunyikan. Kedekatan itu membuat Kania bisa merasakan hembusan napas hangat Naren yang kontras dengan kulitnya yang terasa perih oleh luka bakar. Namun, ia tahu betul. Tatapan itu bukan ancaman. Bukan tatapan yang biasa ia dapatkan di rumah—yang menindas, meremehkan, atau memojokkan. Yang ini berbeda. Ada kekhawatiran yang begitu nyata, seperti

