Bab 49

2942 Words

Kania hanya mampu merintih ketika tarikan di rambutnya semakin menjadi-jadi. Kulit kepalanya perih, seperti disayat setiap kali tangan Biantara menarik helai itu tanpa belas kasihan. Ia mencoba memberi perlawanan kecil—sekadar refleks tubuh yang ingin melindungi diri—namun usaha itu tak ubahnya angin lewat. Sia-sia. Sebab tenaga Biantara jauh lebih besar, dan rasa takutnya mengunci seluruh otot. Pipinya kembali basah. Kania memejam kuat-kuat, berharap rasa sakit itu menguap. Namun, air matanya justru mengalir semakin deras, menetes bagai hujan yang tak tertahan. Jeritan lirih lolos dari tenggorokannya—jeritan yang lebih mencerminkan kepedihan batin ketimbang sakit fisik. “Diam!” Suara Biantara meledak, mengguncang ruangan mewah itu. Nadanya geram penuh amarah. “Saya muak dengar kamu nang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD